Ozil, Rasialisme dan Pengakuan Identitas

Mesut Ozil Quits_Berpijar_Redaksi
Mesut Ozil Quits_Berpijar_Redaksi
Mesut Ozil (Foto: TheNational.ae)
Keputusan Ozil untuk “mengundurkan diri” dari Timnas Jerman dapat dibaca sebagai upaya perlawanan terhadap diskriminasi rasial dan upaya mengukuhkan kebanggaan identitas asli dirinya di tengah terpaan prasangka buruk.

Setelah menjadi kambing hitam akibat performa buruk Timnas Jerman di Piala Dunia kemarin, Mesut Ozil harus pula menanggung persepsi negatif publik di negaranya, yang mengaitkan kekalahan tersebut dengan beredarnya foto dirinya dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebelum Piala Dunia berlangsung. Dia bahkan dianggap sedang bermain politik yang berakibat pada tumbangnya Jerman sejak penyisihan grup.

Sebenarnya ia tidak sendirian berfoto dengan pemimpin tertinggi di Turki itu. Ada pemain Jerman lain yang berdarah Turki Ada Ilkay Gundogan dan Cenk Tosun, namun nama besar Ozil tetaplah menjadi sorotan utama.  

Kesan negatif atas foto Ozil dengan Erdogan tidak lepas dari hubungan antara Jerman dan Turki yang sedang memanas. Sebagian lagi beranggapan foto tersebut digunakan alat politik Erdogan untuk meraup dukungan dalam pemilihan mengingat warga negara Turki yang tinggal di Jerman mencapai 1,2 juta.

Semakin memanasnya bola liar dalam berbagai pemberitaan di media-media Jerman, Ozil memutuskan untuk “pensiun” dari Timnas Jerman  (entah secara resmi atau hanya tidak mau lagi bermain).

Pemain Arsenal tersebut menepis semua anggapan yang mengaitkan foto tersebut dengan persoalan politik. Alasan sikap rasialisme yang diterima dirinya sebagai orang berdarah Turki menjadi alasan utamanya memutuskan hengkang dari Timnas Jerman.

Dalam berbagai tweetnya, Ozil menyayangkan sikap masyarakat Jerman yang masih mempertanyakan loyalitasnya kepada negara. Lebih jauh dia menuding Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) telah berlaku rasial dan tidak adil mengingat latar belakangnya adalah keturunan Turki. Identitasnya tersebut selalu dikaitkan dengan kekalahan Jerman sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya.

Terlepas dari berbagai spekulasi politik yang berkembang, tulisan ini lebih menyoroti alasan pribadi yang diungkapkan Ozil sebagai bentuk perlawanan atas perlakuan diskriminasi yang ia alami. Mengapa rasialisme, jika ini memang benar-benar itu sebab mendasarnya, cukup kuat menjadi alasan dirinya meninggalkan Timnas Jerman?  

Rasialisme dan Identitas

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, rasialisme diartikan sebagai “perlakuan yang berat sebelah terhadap (suku) bangsa yang berbeda-beda”. Atau, “paham bahwa ras diri sendiri adalah ras yang paling unggul”. Dari penjelasan tersebut kita dapat menangkap makna sederhana dari sikap rasis bermuara pada perlakuan yang tidak adil bagi ras lain, dan menempatkan ras lain tersebut pada posisi inferior sekaligus mengukuhkan pandangan ras yang berlaku diskriminatif sebagai ras yang superior atau paling unggul.

Pertanyannya kemudian pada taraf apa sesuatu tindakan, baik meliputi ucapan, perbuatan maupun pandangan tertentu dikategorikan sebagai perilaku rasial? Saya memegang pendapat yang menyatakan bahwa, perlakuan ini pada dasarnya menimpa orang atau golongan tertentu dan mereka lah yang merasakan adanya ketimpangan persepsi, maka yang menilai rasial tidaknya adalah orang yang menjadi objek sikap rasial tersebut.

Sebagai contoh, jika kita mengatakan pada seseorang, misalnya, “Orang Tionghoa!” dan orang yang memang berdarah Tionghoa tersebut tidak tersinggung, maka itu bukanlah sikap rasial. Namun, jika ucapan itu dilempar kepada orang yang memang memiliki ras Tionghoa, meskipun diucapkan tanpa niat menghina, tapi orang itu terluka hatinya, maka itu masuk kategori rasial.

Sehingga, sikap rasial tidak dapat diukur dari lontaran perkataan maupun niat yang mengucapkan, perbuatan-perbuatan tertentu atau cara pandang tertentu, namun dikembalikan pada sasaran yang menerima perlakuan. Hal ini berarti menekankan keunikan setiap individu dalam merespon relasi sosial yang berlangsung.

Bagaimana pun juga, rasialisme menjadi sebuah persoalan karena di dalamnya mengandung pandangan merendahkan orang lain yang berakibat pada sakit hati. Perlakuan rasial berakibat bagi orang yang mengalaminya menjadi merasa tidak setara. Ketika perasaan tidak setara terjadi dalam diri seseorang, di saat itu pula dia merasa tercabut adanya pengakuan identitas dirinya untuk diperlakukan berbeda dari yang lain.

Alpanya penghormatan terhadap keberagaman identitas seseorang, baik berupa ras, agama, maupun budaya, menandakan adanya pengakuan eksistensial dirinya sebagai bukti bahwa dirinya ada beserta identitas yang melekat. Sehingga, sebuah pengakuan identitas merupakan tuntutan setiap orang.

Pengakuan identitas yang merupakan sebuah tuntutan menjadikan seseorang dapat menyadari siapa mereka, serta bagaimana mereka mendefinisikan karakter fundamental sebagai seorang manusia. Charles Taylor  menyatakan “tidak adanya pengakuan atau pengakuan yang salah dapat menyebabkan penderitaan, dapat menjadi sebuah bentuk penindasan, memenjarakan seseorang dalam kesalahan dan pembatasan hingga kehancuran” (Taylor, 1994:25).

Dan sikap rasialisme merupakan wujud dari upaya peniadaan identitas seseorang. Berarti dia tidak dianggap ada untuk utuh sebagai manusia, karena pengakuan identitas adalah tuntutan dan kebutuhan manusia.

Dan sikap rasialisme tidak melulu melalui perkataan, tapi ketika suatu pandangan yang bertujuan merendahkan yang akhirnya orang tertentu merasa disalahkan karena identitasnya, maka dia sedang mengalami rasialisme. Dia merasa sakit hati kita persoalan identitasnya diungkit dan dianggap sebagai biang keladi keburukan tertentu.

Dari sini, perlakuan rasialisme yang menimpa Ozil menjadi sebuah bentuk peniadaan identitas dirinya sebagai keturunan Turki dan dianggap sebagai malapetaka. Apalagi sakit hati ini semakin meruncing ketika hal tersebut bukan hanya menyasar Ozil.

Sebagaimana berita yang beredar, berbagai cacian juga mengarah pada keluarga Ozil yang membuat orang tuanya geram sehingga memberikan saran pada Ozil untuk keluar dari Timnas Jerman. Karena hal ini sudah menyangkut akar identitas imigran yang sudah hidup sejajar kembali terusik pada persoalan diferensiasi yang menyakitkan.

Saya pikir pertemuan Ozil dengan Erdogan merupakan hal biasa. Dan kiranya bisa dibenarkan alasan Ozil berkenan foto dengan Erdogan karena dia adalah pemimpin negara dimana salah satu orang tuanya berasal. Sebab, setiap orang memiliki kecenderungan untuk senang atau merasa nyaman untuk mendekat pada asal-usul dirinya. Seseorang akan merasa menemukan dirinya ketika dia bertemu atau secara intens berkomunikasi atas dasar kesamaan asal-usul budaya maupun ras.      

Keputusan Ozil untuk “mengundurkan diri” dari Timnas Jerman dapat dibaca sebagai upaya perlawanan terhadap diskriminasi rasial dan upaya mengukuhkan kebanggaan identitas asli dirinya di tengah terpaan prasangka buruk.

Selain itu, Ozil yang beberapa kali dalam pernyataannya menekankan bahwa posisi dirinya steril dari persoalan politik, sebagai pelajaran bahwa biarkan urusan sepakbola jangan terlalu dibawah-bawah pada ranah politik yang berlebihan. Akhirnya, politik bisa menjadikan ajang sepakbola sebagai media pertarungan kepentingan dan benalu bagi kemajuan sepakbola itu sendiri.

TERBARU DARI BERPIJAR

About Author

Redaksi

Pandangan redaksi mengenai peristiwa yang dianggap penting dan aktual.


Related Posts

Write a response to this post