Tafsir Islam Nusantara dan Dilema-dilema yang Turut Mengitarinya (Bagian 1-2)

Islam Nusantara adalah paham, praktek keagamaan, gerakan dan amaliyah NU (al-Nahdliyah) dengan menggunakan penamaan baru. Jadi, sebenarnya meskipun diberi label baru, Islam Nusantara sebenarnya adalah NU itu sendiri.

Ngatawi Al-Zastrouw, mantan Ketua Lesbumi NU, menilai bahwa berbagai kritik yang mengarah pada “Islam Nusantara” berangkat dari pemahaman yang kurang atau tidak memadai tentang konsep tersebut. Menurut Ngatawi, para pengkritik itu membuat definisi sendiri serta mengkronstuksi pemahaman sendiri dan kemudian mengkritiknya sendiri gagasan yang diusung NU tersebut (nu.or.id, 07 Juli 2018).

Pendapat Ngatawi itu sekaligus ingin mematahkan pengertian Islam Nusantara yang semakin menjadi diskusi panas dalam berbagai intepretasinya. Sebut saja yang mengaitkan Islam Nusantara sebagai Islam liberal, mazhab baru, ideologi baru atau bahkan agama baru dan seterusnya.

Untuk menghindari sangkaan Ngatawi, sebelum melakukan penafsiran, perlu kiranya untuk mendudukkan dulu makna Islam Nusantara yang bukan lahir dari rekaan pemikiran bebas saya, namun harus merujuk pada teks maupun pernyataan resmi dari orang yang memiliki otoritas memberikan penjelasan tentang hal tersebut, yakni dari Nahdlatul Ulama sendiri. Sebab, istilah ini kemudian sangat populer diperbincangkan ketika menjadi tema sentral Mukhtamar NU di Jombang beberapa tahun kemarin.

Dengan kehati-hatian, saya akan mendasarkan pengertian Islam Nusantara dengan menukil pendapat Kiai Ma’ruf Amien selaku Rais Aam Nahdlatul Ulama 2015-2020 dalam “Lampiran Khittah Islam Nusantara”.

Meskipun lampiran singkat ini tidak bisa memberikan gambaran yang utuh terhadap seluk-beluk Islam Nusantara, namun paling tidak kita bisa memperlakukannya sebagai teks pengantar yang cukup jelas menggambarkan bagaimana Islam Nusantara itu. Terlebih lagi teks ini memiliki keabsahan karena dikeluarkan oleh Rais Aam, sebuah jabatan tertinggi dalam struktur NU.

 

Islam Nusantara adalah Islam NU Belaka

Dalam “Lampiran Khittah Islam Nusantara”, Kiai Ma’ruf menegaskan bahwa “seolah-olah ada anggapan bahwa Islam Nusantara adalah hal baru… Islam Nusantara memang baru dideklarasikan. Namun, sebagai pemikiran, gerakan, dan tindakan, Islam Nusantara bukanlah hal yang baru. Islam Nusantara adalah adalah Islam Ahlussunah Waljamaah al-Nahdliyah”.

Penjelasan di atas cukup jelas bagaimana sebenarnya makhluk yang bernama Islam Nusantara tersebut. Pertama, meskipun Islam Nusantara merupakan jargon yang baru belakangan nyaring disuarakan, sebenarnya konsep itu bukan sesuatu yang baru. Islam Nusantara adalah paham, praktek keagamaan, gerakan dan amaliyah NU (al-Nahdliyah) dengan menggunakan penamaan baru. Jadi, sebenarnya meskipun diberi label baru, Islam Nusantara sebenarnya adalah NU itu sendiri.

Dari berbagai penjelasan tentang makna Islam Nusantara, kerap kali kata ini disandingkan dengan penghayatan Kiai Abdurrahman Wahid ketika mencetuskan “Pribumisasi Islam”, sebuah paham keagamaan yang menekankan arti penting aplikasi nash-nash agama seturut dengan konteks dinamika kebudayaan, sosial maupun politik dimana agama tersebut berpijak.

Istilah yang lekat dengan pengertian ini mengarah pada sinkretisme agama dan budaya yang menjadikan substansi nilai agama menyesuaikan diri dalam ekspresi kulturnya sesuai adat yang berlaku (uraian ini semakin memperkuat bahwa Islam Nusantara tidak lebih adalah NU).

Meskipun Islam berasal dari Arab, namun ketika dia berada dalam cakupan budaya Jawa misalnya, maka baik Jawa maupun Islam sama-sama bersifat akomodatif sebagai manifestasi percampuran tersebut. Kaitannya dengan hal ini, pertanyaan yang sering mengemuka berkisar pada apakah hendak mengislamkan nusantara atau menusantarakan Islam.

Tidak heran konsep Islam Nusantara memancing dugaan melawan (Islam) Arab. Sebab, Islam yang berada di kawasan Nusantara harus menyesuaikan diri dengan akar kebudayaan yang ada di masyarakat, sekaligus menandakan diri bahwa Islam ini berbeda dengan Arab. Sangkaan demikian tidak sepenuhnya salah, namun juga tidak sepenuhnya dapat dibenarkan.

Sangkaan tersebut agak kurang tepat ketika mengingat dalil yang sering digunakan bersumber dari kaidah fikih yang berbunyi “al-adatu muhakkamah”, adat dapat menciptakan sebuah hukum. Sehingga, pemahaman Islam universal kemudian coba diterjemahkan ke dalam lokalitas adat masyarakat Islam yang tentu berbeda dari Islam di dunia Arab.

Sangkaan bahwa Islam Nusantara semata-mata sebagai anti-tesis dari perkembangan “Islam Arab” dapat dibenarkan ketika mengingat petinggi NU sering mengujarkan kritik tajamnya pada budaya-budaya yang dianggap budaya Arab dan tidak mencerminkan Islam yang marak berkembang di Indonesia, misalnya memelihara jenggot, mengenakan jubah dan seterusnya.

Alasan lain yang dapat membenarkan klaim tersebut karena ada kesan kuat bahwa Islam Nusantara menjadi semacam anti-tesis kuat atas marakanya gerakan Islam universal atau gerakan Islam global. Sebut saja seperti HTI, Ikhwanul Muslimin dan seterusnya. Islam Nusantara menjadi semacam identitas pembeda dari Islam yang dibawah NU dengan Islam yang merupakan transfer kesadaran agama dari Timur Tengah.

Tentu ada keadaan tertentu yang membuat pernyataan tentang Islam Nusantara melawan Islam Arab mengemuka di permukaan. Beberapa hal yang disebut tadi bisa menjadi salah satu indikasi tersebut.  

Hal yang tidak bisa dipungkiri lainnya bahwa, pemahaman Islam Nusantara yang menekankan penyesuaian diri dari khazanah kebudayaan lokalitas mengesankan untuk mengenyampingkan apa saja yang berbau Arab dianggap bukan sebagai nilai Islami. Tentang hal ini saya pernah mengulasnya di tempat yang sama dengan judul “Budaya Arab, Islam Nusantara dan Monopoli Tafsir Islam di Indonesia”.

Jika menelisik lebih jauh tentang penjelasan lain tentang Islam Nusantara, penjelasan semacam prinsip dasar-dasar seperti tasamuh, tawazun, i’tidal dan seterusnya, maupun ekspresi kultural Islam Nusantara melalui adat tahlil, peringatan haul kematian (biasanya disebut sebagai “Islam yang berbunga-bunga”) dan seterusnya menjadikannya nampak terang bahwa sebenarnya Islam Nusantara sebenarnya tidak lebih dari NU belaka. Sebagaimana yang sudah ditegaskan oleh Kiai Ma’ruf Amien sendiri.        

Kedua, masih terkait dengan yang pertama, Islam Nusantara menjadi penanda identitas komunal bagi warga NU untuk semakin kuat mengamalkan nilai-nilai yang telah diletakkan oleh para pendiri dan dasar pemahaman NU. Sebagai sebuah identitas kelompok, maka dia membutuhkan sifat pembeda atau kelompok yang berbeda dengan mereka untuk semakin meneguhkan identitas kelompok mereka.

Hal ini yang menjadikan pengertian Islam Nusantara sebagai Islam Aswaja harus diberi kata al-Nadhliyah dibelakangnya, artinya Islam Aswaja orang NU.

Menurut Kiai Ma’ruf, pemberian kata an-Nadhliyah karena “banyak kalangan lain di luar NU yang juga mengkalim sebagai pengikut Ahlussunah Waljamaah, tetapi memiliki cara pikir, gerakan, dan amalan yang berbeda dengan NU”. Lebih lanjut Kiai Ma’ruf mencotohkan ISIS sebagai gerakan Islam yang mengatasnamakan paham Aswaja tapi sangat bertentangan dengan paham Aswaja yang dianut NU. Mungkin contoh-contoh gerakan Islam global yang sudah disinggung sebelumnya bisa masuk dalam kategori ini.

Dengan demikian, diharapkan Islam Nusantara menjadi semacam identitas diri orang NU yang membedakannya dengan kelompok Islam lain, khususnya dalam hal paham keagamaan Aswaja. Dengan kata lain, Islam Nusantara adalah sebuah bangunan identifikasi karakter diri kader NU beserta jamaahnya yang menjadi identitas diri mereka serta membedakan mereka dengan yang lain.

TENTANG PENULIS

Dian Dwi Jayanto adalah Pemimpin Redaksi Berpijar.co dan alumni Ilmu Politik FISIP, Universitas Airlangga

BACA JUGA

About Author

Dian Dwi Jayanto

Dian Dwi Jayanto adalah Komisaris Berpijar.co dan alumni Ilmu Politik FISIP, Universitas Airlangga. Kini menempuh studi S-2 Politik dan Pemerintahan di Universitas Gadjah Mada.


Related Posts

Write a response to this post