NU Bukan Sekadar Gerakan Kultural
Foto: Website resmi NU
Ketika Islam Nusantara diajukan sebagai sebuah ideologi, maka dia menjadi sebuah identitas beku yang berimplikasi untuk mengeleminasi atau mengekslusi ormas lain selain dirinya dari kategori Islam Nusantara. Pertanyaan yang kemudian patut diajukan adalah bagaimana Ormas Islam lain juga dapat diperlakukan mencirikan Islam Nusantara?

Islam Nusantara Milik NU

Sebenarnya kita bisa berhenti untuk tidak mendiskusikan Islam Nusantara lebih jauh lagi kalau kita sekedar berpegang pada tafsir otoritatif dari pencetusnya terkait Islam Nusantara. Kita sudah bisa selesai dengan meyakini bahwa Islam Nusantara sebenarnya hanyalah permainan kata dari paham Aswaja NU itu sendiri sekaligus sebagai penanda identitas kelompok mereka. Itu hanya menyangkut diskursif internal dalam kalangan yang bisa jadi terbatas.

Namun, kiranya perlu diperhatikan dua hal penting yang membuat diskusi tentang hal ini tidak bisa begitu saja selesai atas penjabaran sebelumnya. Pertama, NU adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Apa saja yang dilakukan Ormas yang lahir tahun 1926 ini akan memiliki dampak luas bagi dinamika keagamaan maupun dampak sosial yang luas di negeri ini. Sehingga, berbagai opini terkait Islam Nusantara yang dilontarkan NU menegaskan betapa besarnya keberadaan NU di Indonesia.

Kedua, mengenai kata “Islam Nusantara” itu sendiri. Jika pembekuan identitas NU menggunakan konsep semisal Islam Aswaja al-Nahdliyah atau Islam Pesantren, maka tidak menjadi soal, namun ketika Islam kemudian disandarkan kepada kata nusantara, tentu hal ini memiliki implikasi lebih luas jika dibandingkan hanya menjadi konsumen internal NU sendiri.

Memang, kita bisa berdebat panjang lebar terkait pemaknaan nusantara. Entah mulai menelusurinya dari asal mula kata tersebut sebagai penamaan wilayah kekuasaan Majapahit pada abad ke 14 M, berarti merujuk pada arti secara geografis. Atau istilah nusantara yang merentang dalam kawasan geografis (biasanya diandaikan sebagai kepulauan Indonesia dari Sumatra bagian barat hingga Papua bagian timur) yang memiliki tingkat kemajemukan sosio-kultural yang beragam. Maupun mengajukan analisis dengan pendekatan kebahasaan terkait nusantara, semisal “Nusa” berarti pulau dan “Antara” berarti seberang.

Terlepas dari semua perdebatan tentang pengertian Nusantara yang ditempah sebagai “model” pemahaman” Islam, Islam Nusantara sering digambarkan, seperti yang sudah disinggung sebelumnya, mengarah pada upaya “metode” Walisongo yang melakukan penetrasi ajaran Islam melalui sinkretisme kebudayaan yang hidup di masyarakat. Ringkasnya, penyebaran Islam di Nusantara melalui jalan adaptif dan difusif yang cenderung menghindari cara-cara militer. Seturut dengan agama yang lebih dulu ada, Hindu dan Budha, nilai Islam menyatu dengan budaya lokal menjadi sebuah kekhasan budaya Islam lokal yang unggul (Tsaquf, 2015: 194-195).

Penjelasan demikian memang keren untuk diajukan, namun dilema lain adalah ketika Islam Metode Walisongo di Nusantara, atau Islam yang telah mengalami proses nusantarawi sebenarnya tidak lebih dari paham NU itu sendiri, seperti yang sudah disinggung sebelumnya, ada kesan untuk meneguhkan bahwa NU adalah perwujudan dari semua totalitas paham Islam Nusantara.

Ulasan Fachruddin (2015) mungkin bisa membantu kita memperjelasnya. Ia mengajukan pertanyaan mengenai Islam Nusantara, apakah Islam Nusantara diperlakukan sebagai sebuah deskripsi atau sebagai sebuah ideologi?

Jika Islam Nusantara dipahami sebagai deskripsi, artinya Islam Nusantara adalah cara beragama orang Islam di Nusantara dengan berbagai varian tafsirnya karena komposisi penduduk yang sangat majemuk secara kultural. Ringkasnya, Islam Nusantara adalah keberagaman bentuk Islam di Nusantara.

Sebagai sebuah ideologi, Islam Nusantara adalah Islam yang telah mengalami proses dialog dengan kebudayaan Nusantara sehingga menemukan sebuah esensi perjumpaan menjadi Islam Nusantarawi.

Ketika ia diperlakukan sebagai sebuah deskripsi, maka sebenarnya tidak ada masalah kemudian. Penegasan Islam Nusantara menggambarkan ada corak beragama yang berbeda dalam setiap lokalitas kebudayaan di Nusantara. Namun, bagi semua Ormas Islam terbesar di Indonesia, tentu tema ini bukan hanya menjadi pemaknaan deskripsi, namun pasti sebagai identitas ideologi NU.

Ketika Islam Nusantara diajukan sebagai sebuah ideologi, maka dia menjadi sebuah identitas beku yang berimplikasi untuk mengeleminasi atau mengekslusi ormas lain selain dirinya dari kategori Islam Nusantara. Pertanyaan yang kemudian patut diajukan adalah bagaimana Ormas Islam lain juga dapat diperlakukan mencirikan Islam Nusantara?

Kata Nusantara lebih lekat dalam pemaknaan geografis dan/atau budaya, bukan pada sebagai nilai. Sehingga, Islam Nusantara adalah Islam dalam kategori wilayah atau budaya Nusantara. Dan, NU adalah perlambangan dari Islam di Nusantara tersebut. 

Untuk mengakhi tulisan ini, saya akan mengutip kata-kata bijak dari Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang penulis dapatkan dari sampul buku “Islam Nusantara: Dari Ushul Fiqh Hingga Paham Kebangsaan” (2015). Beliau mengatakan, “para pengusung Islam Nusantara hendaknya tetap rendah hati dan tak jumawa merasa yang paling benar sendiri, serta mampu bertoleransi sebagaimana aplikasi Islam di Nusantara ini”.

   

Rujukan

Fachrudin, Azis Anwar. 2015. “Islam Nusantara dan Hal-hal yang Belum Selesai”. Dalam Akhmad Sahal & Munawir Aziz (Ed). Islam Nusantara: Dari Ushul Fiqh Hingga Paham Kebangsaan. Jakarta: PT Mizan Pustaka.

Tsaquf, Yahya Kholil. 2015. “Islam Merangkul Nusantara”. Dalam Akhmad Sahal & Munawir Aziz (Ed). Islam Nusantara: Dari Ushul Fiqh Hingga Paham Kebangsaan. Jakarta: PT Mizan Pustaka.

KH. Ma’ruf Amien. 2015. “Lampiran Khittah Islam Nusantara”. dalam Dalam Akhmad Sahal & Munawir Aziz (Ed). Islam Nusantara: Dari Ushul Fiqh Hingga Paham Kebangsaan. Jakarta: PT Mizan Pustaka.

TENTANG PENULIS

Dian Dwi Jayanto adalah Pemimpin Redaksi Berpijar.co dan alumni Ilmu Politik FISIP, Universitas Airlangga

BACA JUGA

Tags: , , ,

Bagaimana menurut pembaca?