Brutus The Noble Conspirator, Menafsirkan Ulang Brutus Yang Mulia

Assasination of Julius Caesar_GettyImages_NYPost
Brutus The Noble Conspirator
Gambar: Dok. Pribadi

Spesifikasi Buku

Judul Buku

Brutus: The Noble Conspirator

Penulis

Kathryn Tempest

Penerbit

Yale University Press

Tebal Buku

314 halaman

Tahun Terbit

2017

Jenis Buku

Biografi Politik

Siapa yang pernah mendengar nama Brutus? Jika pernah membaca sejarah Romawi Kuno, Anda pasti tahu Brutus sebagai seorang pembunuh berdarah dingin. Dia selalu diilustrasikan sebagai konspirator ulung dan pembunuh Kaisar saat itu, Julius.

Serangkaian kisah yang pernah kita baca mengenai dirinya selalu berkonotasikan negatif. Apakah memang seperti itu kepribadian seorang Brutus? Tidak ada yang tahu past. Namun, buku ini berusaha menyajikan sesuatu yang berbeda.

Nama lengkapnya adalah Markus Yunius Brutus, salah seorang Senator di Republik Romawi. Nama ini menggema sejak 15 Maret 44 tahun sebelum Masehi. Peristiwa yang dikaitkan dengan dirinya adalah pembuhanan Kaisar Yulius saat pertemuannya dengan para senator Romawi.

Pembunuhan ini tidak tanpa sebab. Semua dikarenakan isu yang berhembus adalah Yulius akan menjadi Raja, dimana kekuasaannya akan absolut, sesuatu yang bertentangan dengan ideologi politik Republik Romawi.

Beberapa orang yang mengabadikan momen pembunuhan Kaisar Yulius adalah William Shakespeare, sang pujangga terkemuka dari Inggris. Kisahnya dikutip dalam buku ini, bahwasanya Brutus mencintai Yulius sebagai teman seperjuangan, tapi ia lebih menyayangi Romawi dibanding Yulius. Brutus ingin menyelamatkan Romawi dari genggaman dan kediktatoran Yulius. Maka dari itu, pembunuhan Yulius adalah sesuatu yang tak terelakkan.

Pada saat pembunuhan Kaisar Yulius terungkap, banyak perdebatan di dalam negeri Republik Romawi mengenai konspirasi tersebut. Pada saat Agustus menjadi pengganti Kaisar Yulius, ia menemukan patung Brutus di wilayah yang sekarang menjadi Milan. Disana, Brutus dianggap sebagai penemu dan penjaga tatanan maupun kebebasan yang dianut oleh Romawi Kuno. Dari pandangan ini, Brutus tidak sepenuhnya menjadi pembunuh, tapi juru selamat.

Pandangan di atas membuat pembunuhan Kaisar Yulius adalah sebuah tindakan mulia yang menyelamatkan Republik Romawi dari kediktatoran Yulius. Kathryn juga mengutarakan bahwasanya keberhasilan Brutus ialah dia dikenang bukan sebagai pembunuh, namun justru menjadi seorang yang bijaksana. Bahkan ia mengutarakan, diantara semua pembunuh Yulius, hanya Brutus yang memiliki tujuan mulia.

Brutus tidak hanya seorang senator, tapi juga Praetor. Jabatan Praetor ini semacam komandan tentara yang dipercayai oleh Kaisar Romawi, maka dari itu, Brutus juga memiliki pasukan.

Setelah pembunuhan Yulius, Brutus bersama Cassius pergi dari Kota Roma dan mempersiapkan pasukan yang akan mendukung keberadaan Republik Romawi. Pasukan ini adalah pasukan dengan ideologi republikanisme pertama di dunia, mereka adalah sekelompok tentara dengan kepercayaan yang tinggi terhadap filsafat Romawi tersebut.

Di Romawi, perseteruan terjadi antara kubu Brutus dan Cassius dengan kubu Oktavianus, anak angkat Yulius. Brutus secara personal ingin menyelesaikan masalah dengan damai dengan Oktavianus, namun Cassius menggunakan pendekatan yang lebih keras.

Meskipun begitu, baik Cassius maupun Brutus tetap memikirkan taktik perang, apabila hal buruk harus terjadi: Perang Saudara. Namun memang pandangan Brutus lebih kepada diplomasi, sementara Cassius menginginkan perang.

Selama pelariannya dari Italia (Romawi), Brutus mempropagandakan: Pax, Otium dan Clementia (Perdamaian, Ketentraman dan Saling Memaafkan). Propaganda ini ditujukan untuk meredam kondisi panas yang bergejolak karena kekosongan kekuasaan di Romawi.

Pada akhirnya, Brutus bersepakat dengan Cassius untuk berangkat berperang demi mempertahankan idealismenya. Dalam jajaran pasukannya, Brutus memiliki Cicero, yang kelak akan menjadi seorang filsuf dan Horace yang akan menjadi penulis tenar di Romawi. Keduanya tetap memegang teguh pandangan republikanisme milik Brutus, meskipun mereka telah kalah dalam peperangan dengan Antonius dan Oktavianus (nantinya menjadi Kaisar Augustus).

Dalam berperang, Brutus memiliki pasukan yang berasal dari Pelajar di Athena, Yunani dan para veteran perang Pompei yang berada di Thessalia. Untuk persenjataan, dia mengumpulkan dari wilayah Demetria yang dulunya adalah benteng Romawi, namun ditinggalkan oleh pasukan Romawi setelah mengetahui bahwa Yulius telah terbunuh. Kepergian pasukan Romawi dengan terburu-buru membuat mereka meninggalkan banyak senjata yang akan digunakan oleh Brutus.

Assasination of Julius Caesar_GettyImages_NYPost
Lukisan Vincenzo Camuccini, "La morte di Cesare" (Death of Caesar). Menggambarkan pembunuhan Julius Caesar sebagai sebuah konspirasi dari banyak senator Romawi yang dipimpin oleh Gaius Cassius Longinus, Decimus Junius Brutus Albinus, and Marcus Junius Brutus. (Foto: Getty Images via New York Post/Deskripsi: Wikipedia)

Sebelum peperangan terjadi, Cicero sempat menjadi juru bicara para Liberator atau pendukung republikanisme. Selama menjadi jubir ini, Cicero memuji usaha Antonius dalam menghilangkan kelompok pemuja kaisar sehingga tidak ada pengkultusan pribadi dan kediktatoran. Setelah menyampaikan pidatonya (yang diberi judul Phillipics), Cicero dianggap menantang Antonius dan dituduh sebagai inisiator dari pembunuhan Yulius.

Posisi antagonis Cicero berubah dengan cepat setelah kedatangan Oktavianus, anak angkat Yulius. Pada tanggal 9 Desember 43 BC, Oktavianus yang kembali ke Roma, digadang-gadang menjadi penggantu Yulius. Cicero bekerjasama dengan Oktavianus untuk menggulingkan Antonius, dan berhasil. Antonius bahkan menjadi musuh nasional dari Romawi, ia terbuang dari panggung politiknya di Roma.

Brutus pernah berhadapan dengan Cicero dalam permasalahan Lepidus, adik ipar dari Brutus (menikah dengan adik perempuan Brutus) yang menjadi Gubernur Hispania Citerior dan Narbonese Gaul telah bergabung dengan golongan Antonius. Karena takut akan keselamatan adik perempuannya beserta anaknya, Brutus meminta keamanan untuk keluarganya kepada Cicero, dimana Cicero tidak bisa memenuhinya karena Lepidus sudah menjadi musuh nasional karena bergabung dengan Antonius.

Meskipun Brutus mendapatkan predikat sebagai konspirator dan pembunuh, namun ia tetap memiliki wilayah kekuasaan di Macedonia dan Yunani. Saat pergolakan terjadi di Roma, Brutus tinggal dalam pengasingan di Athena.

Masa inilah, dimana Brutus menggalang dukungan agar Romawi tetap berbentuk Republik. Wilayah timur dari Republik Romawi mendukung keinginan Brutus agar Romawi tetap menjadi Republik, sedangkan di Roma sendiri, sedang terjadi perdebatan dan konflik politik seperti yang dialami Cicero di paragraf sebelumnya.

Peperangan tidak terelakkan, pada Oktober tahun 42 BC, Brutus dan Cassius telah dikalahkan oleh Oktavianus yang berkolaborasi dengan Antonius. Pada tahun ini, kelompok republikan sudah sangat terpojokkan sehingga mereka akhirnya runtuh. Setelah kekalahan kelompok republikan, Antonius dan Oktavianus pun bertarung untuk tahta Romawi, dan pada akhirnya, Gaius Oktavianus Agustus memenangkan tahta dan menjadi Kaisar pertama dari Kekaisaran Romawi.

Kemenangan Kaisar Oktavianus dan kekalahan Brutus menandakan degradasi dari Romawi, perubahan dari republik menjadi kekaisaran. Kekuasaan yang harusnya tidak dipegang oleh satu orang, semenjak kekalahan Brutus dan juga Antonius, telah menjadi hak paten dari Kaisar Oktavianus. Pada tahun 31 BC, Oktavianus adalah penguasa tunggal dari Kekaisaran Romawi Kuno.

Cicero pernah menuliskan obituari tentang Brutus, dimana ia menjelaskan bahwa Brutus sebenarnya sangat sedih untuk membunuh Yulius, temannya. Akan tetapi, Brutus harus menunaikan kewajibannya sebagai warga negara Republik Romawi untuk menjaga keberadaan negara tersebut.

Kasih sayang kepada teman harus dikalahkan kepada kecintaan terhadap tanah air. Brutus bisa dibilang pembunuh, tapi pembunuh yang nasionalis. Sungguh ironi ketika seseorang ingin mempertahankan sesuatu, tindakannya justru menghasilkan hal lain (Romawi menjadi kekaisaran).

Buku ini adalah salah satu usaha paling komprehensif dalam membentuk biografi politik seorang Brutus. Studi yang dilakukan oleh Kathryn Tempest ialah menggunakan teks-teks lama dari surat-surat Brutus-Cicero dan penjelasan dari Plutarch, seorang penulis dari Yunani.

Kisah mengenai Brutus memang salah satu intrik paling menarik untuk ditelusuri dan buku ini memberikan cerita yang detail mengenai kehidupan si Brutus, peresensi hanya mengambil sebagian kecil dari kehidupan sang Konspirator Mulia tersebut.

Saat Yulius cinta kekuasaan, Antonius cinta Cleopatra, maka Brutus cinta Romawi.

TENTANG PENULIS

Reza Maulana Hikam adalah mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di FISIP, Universitas Airlangga

BACA JUGA

About Author

Reza Maulana Hikam

Reza Maulana Hikam adalah seorang mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga. Pegiat literasi yang mendirikan situs web resensi Kedai Resensi Surabaya dan Penulis Lepas Opini di Geotimes.


Related Posts

Write a response to this post