Belajar dari Jericho Swain, Pemimpin yang Visioner dalam Game League of Legend

Swain merupakan gambaran panglima ideal di masa lalu yang belum mengenal Konvensi Jenewa dan Batas Teritorial. Ia adalah personifikasi keinginan manusia untuk meraih kejayaan dan kekuasaan, begitu pula mempertahankan hal tersebut.

Belajar dari Jericho Swain, Pemimpin yang Visioner dalam Game LOL_Reza Maulana Hikam_Berpijar
Belajar dari Jericho Swain, Pemimpin yang Visioner dalam Game LOL_Reza Maulana Hikam_Berpijar
Jericho Swain (Foto: League of Legends WikiaFandom)
Swain merupakan gambaran panglima ideal di masa lalu yang belum mengenal Konvensi Jenewa dan Batas Teritorial. Ia adalah personifikasi keinginan manusia untuk meraih kejayaan dan kekuasaan, begitu pula mempertahankan hal tersebut.

Jika pada kesempatan sebelumnya saya pernah berusaha untuk menguak mengenai kepribadian salah satu karakter game “League of Legend” bernama Garen, kali ini, saya berusaha mengejawantahkan kepribadian sekaligus makna dibalik keberadaan Jenderal Swain, pemimpin salah satu negara di game League of Legend.

Swain merupakan Grand General atau pimpinan tertinggi dari kerajaan ekspansionis bernama Noxus. Noxus sendiri berbeda dengan negara asal Garen, Demacia. Noxus merupakan kekaisaran luas yang memiliki beberapa negara jajahan. Mereka merupakan negara dengan struktur masyarakat yang inklusif. Mobilitas penduduk dalam hal status dapat berkembang seiring berkembangnya kemampuan dalam berperang atau apa saja yang dapat menunjang kejayaan Noxus.

Jika melihat dari kisah-kisah di website League of Legends, dapat dimaknai bahwa Noxus merupakan personifikasi dari Romawi Kuno di permainan ini. Kejayaan di Noxus hanya bisa dicapai melalui perluasan wilayah dengan cara berperang. Kemampuan utama yang dimiliki Noxus adalah tentara dengan kemampuan berperang paling destruktif. Pengembangan ilmu pengetahuan sendiri ditujukan untuk kejayaan kekaisaran melalui peperangan.

Keluarga kerajaan di Noxus sendiri dapat tumbang apabila ada revolusi, dan merupakan hal yang lumrah saat terjadi revolusi di Noxus. Kekaisaran ini memiliki pandangan survival of the fittest, hanya yang terkuat mampu bertahan di pusat kekaisaran Noxus. Revolusi semacam inilah yang mengangkat nama Jericho Swain ke pucuk hierarki dari kekaisaran ekspansionis ini.

Berawal dari keluarga berdarah biru, Swain merupakan orang yang memiliki kehidupan berkecukupan. Keluarganya merupakan salah satu yang tertua di Noxus dan turut andil dalam mengangkat Grand General sebelum Swain, si Boram Darkwill. Seiring berjalannya waktu, keluarganya pula yang turut bersekongkol untuk menggulingkan Darkwill, dan Swain merupakan salah satu orang yang mengungkap dan menumpas persekongkolan ini.

Karena tekad baiknya, karir militernya mulai berkembang, meskipun pada suatu titik hidupnya memang benar-benar dekat dengan kematian. Kala itu Noxus menyerang negara tetangganya yang bernama Ionia, Swain beserta tentaranya kalah di Ionia dan hampir saja ia mati. Meskipun berhasil kembali pada kerajaannya, ia justru dipecat karena kekalahannya dan disingkirkan karena cacat, dimana tangan kirinya hilang dalam peperangan.

Ketika dekat dengan ajal, ia mendapatkan sebuah penglihatan mengenai keburukan Noxus, dimana persekongkolan yang ia tumpas ternyata tidak sepenuhnya tumbang. Bahkan Darkwill sendiri ternyata sudah menjadi Kaisar Boneka dari pemimpin persengkongkolan ini yang bernama Le Blanc.

Singkat cerita, pada akhirnya Swain berhasil mengeksekusi Boram Darkwill dengan bantuan sebuah entitas yang belum dibuka kisahnya oleh League of Legends. Ia menjadi Grand General of Noxus dalam revolusi yang terjadi satu malam saja.

Saat menjadi pimpinan tertinggi Noxus, ia memiliki tiga pandangan untuk kejayaan Noxus dan gambaran pemimpin Noxus selanjutnya, yakni visioner, kuat dan licik (Vision, Might and Guile) yang disebut sebagai Trifarix.

Perlambang ini diwujudkan dalam sebuah dewan yang berisikan tiga orang: Might direpresentasikan oleh Darius, Guile digambarkan sebagai seorang misterius yang wajahnya selalu menggunakan topeng dan Vision yang dipersonifikasikan dalam Swain sendiri. Pemimpin Noxus berikutnya harus memiliki ketiga kualitas ini.

Jericho Swain and Darius_Berpijar
Jericho Swain dan Darius dari Noxus (Kolase Berpijar/Foto: Situs resmi League of Legends)

Apakah penting memiliki pemimpin yang visioner? Iya, sangat penting, karena masa depan dari sebuah negara, kerajaan atau kekaisaran diukur melalui sejauh mana keinginan pemimpinnya di masa depan. Lalu apa sebenarnya Visionary itu? Menurut Merriam-Webster Dictionary, Visioner berkaitan dengan kemampuan untuk memproyeksikan masa depan, atau mengimajinasikan masa depan. Kata Visionary ini memang lekat dengan kepemimpinan.

Republik Romawi Kuno pernah jaya dan menguasai dataran Eropa saat dipimpin Kaisar Yulius. Begitupula Mongolia pernah kuat dibawah kekuasaan Genghis Khan, contoh-contoh pemimpin macam ini dibentuk tidak hanya melalui kedisiplinan dan kekuatan, namun kemampuan untuk menjadi seseorang yang visioner.

Mereka menginginkan perluasan wilayah dari kekaisaran masing-masing. Alhasil, baik Romawi maupun Mongolia mencapai puncak kejayaan saat dipimpin Yulius dan Genghis Khan.

Namun visioner apakah harus selalu ekspansionis? Dulu. Swain merupakan gambaran panglima ideal di masa lalu yang belum mengenal Konvensi Jenewa dan Batas Teritorial. Ia adalah personifikasi keinginan manusia untuk meraih kejayaan dan kekuasaan, begitu pula mempertahankan hal tersebut. Dari kisah-kisahnya, seorang Swain tidak hanya bermodalkan pandangan kejayaan Noxus, namun juga kemampuan untuk mawas diri dan menjadi yang terkuat.

Baik Swain, Yulius dan Genghis Khan selalu dikonotasikan sebagai pemimpin yang diktator? Mari kita pahami apa itu diktator. Menurut Cambridge Dictionary, diktator bermakna orang yang memberikan perintah karena dia memiliki kekuasaan absolut. Apakah salah menjadi diktator? Tergantung. Kediktatoran ini muncul karena seseorang ingin mengamankan kekuasaannya selama mungkin dan menggunakan sumberdaya yang ada semaksimal mungkin untuk hal itu.

Akan tetapi kediktatoran tidak sepenuhnya digunakan hanya untuk menjaga kursi kekuasaan. Dalam kasus Swain, dia menjadi diktator guna melakukan ekspansi terus-menerus dari Kerajaan Noxus.

Ketika berkuasa, dia pun melakukan sharing-power dengan memecah pengambilan keputusan Noxus harus dilakukan oleh tiga orang/Trifarian (Swain, Darius dan seorang misterius yang tidak disebutkan identitasnya, sebut saja Anonim). Kediktatoran Swain adalah hasil dari keinginan untuk membuat Noxus menjadi jaya, bukan untuk panggung personalnya.

Meskipun mendapatkan kursi kekuasaan dari revolusi, namun Swain paham bahwasanya kekuatan absolut itu berbahaya, maka dengan dibentuknya dewan Trifarian, ia bukanlah satu-satunya penguasa di Noxus dan membuat dirinya relatif aman dari usaha pembunuhan. Dia mengambil dua orang dalam dewan tersebut yang mewakili dua Trifarix, Darius mewakili Might dan Anonim mewakili Guile, sedangkan Swain sendiri adalah Vision.

Yang bisa dipetik dari Swain ialah konsep sharing-power yang dimilikinya maupun kemampuan untuk tetap mawas diri demi menjaga kekuasaannya. Dalam memimpin sangat dibutuhkan kemampuan semacam itu, terutama jika para pembaca ingin memonopoli kekuasaan dalam sebuah kerajaan di masa lalu. Untuk masa kini? Silakan dicoba sendiri.

TENTANG PENULIS

Reza Maulana Hikam adalah seorang mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara, FISIP Universitas Airlangga.

BACA JUGA

Write a response to this post