Kunci Melakukan Kebijakan Deradikalisasi dan Rehabilitasi Teroris: Agamawan

Rohan Gunaratna and Sabariah Hussin_Deradicalisation and Terrorist Rehabilitation
Gambar: Penerbit

Spesifikasi Buku

Judul buku

Deradicalisation and Terrorist Rehabilitation

Tebal buku

136 halaman

Penulis

Rohan Gunaratna & Sabariah M. Hussin (Penyunting)

Tahun terbit

2018

Penerbit

Routledge

Jenis buku

Semi-jurnal

Semerbak kasus terorisme terus mengganjal Indonesia akhir-akhir ini, beberapa kasus terduga terorisme ada di berbagai daerah seperti Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan dan Sleman. Mereka yang tertangkap dalam keadaan masih hidup diduga berbaiat kepada Aman Abdurrahman dan JAD nya yang merupakan pendukung ISIS di Indonesia. Dalam menghadapi kelompok semacam ini, apa yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah?

Jikalau berhadapan dengan teroris yang sudah membawa bahan peledak atau senjata maka sah saja apabila negara mengeksekusi mereka demi keamanan publik, namun bagaimana apabila terduga teroris itu tidak bersenjata? Maka Rohan Gunaratna dan Sabariah Hussin menyunting sebuah buku yang bisa menjadi pedoman menghadapi terorisme di Indonesia kedepannya. Kedua orang ini acapkali menyunting buku yang merupakan kumpulan artikel ilmiah berkenaan dengan tema rehabilitasi dan deradikalisasi teroris, cara halus dalam memberantas terorisme.

Salah satu yang menarik dalam buku ini ialah pembukanya diberikan oleh Brian Michael Jenkins, salah satu pakar mengenai tindak terorisme tertua di dunia. Seperti analis profesional pada umumnya, beliau menitih karir di RAND Corporations dalam studi terorisme semenja 1972. Di buku ini, beliau mengutarakan bahwa semenjak tragedi 9/11, penjara dipenuhi oleh tahanan yang berafiliasi kepada kelompok Jihad.

Bagi beliau, menembak para kolaborator jihadis dan juga mujahidin bukanlah solusi dan penjara hanya menjadi tempat sementara. Didalam penjara pun mereka justru menjadi radikal atau meradikalisasi tahanan lainnya sehingga jumlah mereka saat keluar akan lebih banyak (lihat saja Freddy Budiman). Tugas utama pihak-pihak yang berwenang (negara/pemerintah) adalah mencari cara untuk menghilangkan komitmen atau keinginan mereka (para tahanan jihadis) untuk melakukan tindak kekerasan/terorisme.

Jenkins memberikan pengantar yang lugas untuk buku yang berisi kompilasi karya ilmiah berkaitan dengan kebijakan deradikalisasi dan rehabilitasi terorisme yang diterbitkan oleh Routledge ini. Buku ini diisi oleh 12 orang yang memang pakar dibidang ini. Sebelas orang tersebut adalah: Jolene Jerard, Ahmad Saiful Rijal bin Hassan, D. B. Subedi, Yanto Chandra, Muhammad Saiful Alam Shah Sudiman, Nur Irfani Saripi, Zora A. Sukabdi, Malkanthi Hettiarachchi, beserta Brian Jenkins dan kedua penyunting buku ini.

Beberapak kasus disini mengejawantahkan bagaimana sebenarnya pemerintah di berbagai negara berhasil melawan terorisme, namun dengan cara yang tidak strategis sama sekali. Dalam memburu para pelaku teror, maka dibutuhkan kemampuan untuk membenahi pemahaman mereka terhadap ideologi-ideologi atau aliran yang tergolong menyesatkan. Susahnya lagi, para pelaku teror ini melakukan tindakannya atas nama agama.

Meskipun seluruh agama mengajarkan ketentraman dan perdamaian, namun pasti ada sekelompok orang yang begitu eksklusif dan memiliki pemahaman sendiri yang mengganggap diri mereka paling benar (Islam: Osama bin Laden, Buddha: Wiranthu). Pemahaman semacam ini harus diluruskan oleh seseorang yang juga memahami agama tersebut, sehingga peran agamawan sangat penting dalam pelaksanaan kebijakan deradikalisasi.

Tujuan utama melibatkan agamawan selama proses deradikalisasi di dalam penjara adalah para tahanan teroris dapat menolak ajakan kembali untuk melakukan tindak pidana terorisme selepas dari rumah tahanan. Studi kasus yang digunakan dalam buku ini memang para narapidana kasus terorisme yang beragama Islam karena tidak bisa dipungkiri bahwa kasus yang paling booming ialah tindakan teror yang mengatasnamakan Islam buat masa ini.

Ideologi keagamaan memang sangat penting bagi kelompok teroris ini, karena akan meligitimasi segala tindakan mereka, mencari dukungan publik, bahkan menentukan keberlangsungan hidup dari organisasi teroris. Peran para ideolog pun penting, jika bicara Indonesia, Aman Abdurrahman memegang peran sentral dalam Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berbaiat kepada ISIS. Salah satu artikel dalam buku ini berargumen bahwasanya ideologi berada dalam pikiran manusia, sehingga kebijakan untuk membunuh atau memenjarakan teroris tidak cukup.

Ideologi memiliki peran sentral dalam gerakan kelompok teroris, pertama, ideologi adalah prinsip yang mengorganisir pola gerakan mereka. Kedua, menjadi pembenaran atas tindakan-tindakan yang mereka lakukan dan ketiga, menjadi alat untuk melakukan mobilisasi massa. Penjelasan dalam paragraf ini memang merupakan repetisi dari paragraf sebelumnya dan memang seperti itu di dalam buku ini. Kenapa? Demi menandakan pentingnya untuk menghilangkan ideologi radikal, bukan menghilangkan pengikutnya saja.

Kegunaan dari deradikalisasi adalah mendekonstruksi pemahaman terkait, dan juga sebagai alat pengobatan. Penulis artikel ini menjulukinya sebagai proses pengubahan pandangan seorang Mujahid. Agar kebijakan ini berjalan dengan maksimal, maka seorang agamawan harus memahami betul antonim dari ajaran radikal, dia harus menekankan pelajaran Agama Islam yang mengutamakan kasih sayang, termasuk Ayat Al-Qur’an, Hadis, Sunnah dan Fiqh yang berkaitan dengan kasih sayang.

Beberapa contoh negara yang diberikan dalam pelaksanaan program Deradikalisasi ini ialah: Arab Saudi menggunakan Prevention, Rehabilitation and Aftercare (PRAC), Yaman melalui The Religious Dialogue Committe (Komite Dialog Keagamaan, semacam FKUB di Indonesia), Mesir dengan cara menarik para pemikir dari Universitas Al-Azhar untuk mendekonstruksi pemikiran para mujahidin, Indonesia melalui Kementrian Hukum dan HAM nya bersama salah satu alumni JI: Nasir Abas, dan Singapura dengan Religious Rehabilitation Group (RRG).

Adapun beberapa hambatan dalam melakukan program deradikalisasi dan rehabilitasi ialah pemerintah harus memahami bahwasanya agama hanya digunakan sebagai justifikasi, bukan sebagai cikal bakal dari terorisme, sehingga merupakan tugas seorang agamawan untuk melakukan deradikalisasi secara berkala dengan fasilitator dari pemerintah.

Kedua, dalam kebijakan rehabilitasi, maka para tahanan harus diberikan pula kemampuan untuk bekal kerja mereka saat kembali terintegrasi dengan masyarakat. Pemberdayaan narapidana sehingga mereka bisa mandiri selepas dari masa tahanan. Kebijakan macam ini cocok untuk napi teroris yang melakukan tindakannya karena alasan finansial, bukan ideologis.

Ketiga, perlu ada pemisahan antara narapidana teroris dengan narapidana dengan dakwaan lain, karena narapidana teroris mempunyai kemungkinan untuk mengindoktrinasi narapidana lain sehingga jaringan mereka akan meluas. Maka dari itu kebijakan penting lainnya dalam deradikalisasi adalah manajemen penjara, dan sipir dari penjara harus memahami betul akan hal itu.

Keempat, tetap harus ada keberlangsungan dari kebijakan deradikalisasi yang ada di penjara ketika narapidana kasus teror keluar. Paling tidak masih ada hubungan antara para agamawan yang menanggulangi ideologi radikal ini dengan para mantan napi tersebut. Terputusnya hubungan selepas keluar dari penjara juga memungkinkan para narapidana kembali ke jalur sebelumnya.

Yang menarik lagi dalam buku ini juga mengulas mengenai pendekatan dalam rehabilitasi keagamaan. Pertama ada model hubungan guru dan murid, dimana para agamawan menjadi guru sedangkan para tahanan menjadi muridnya. Dalam pendekatan ini, kegiatan belajar mengajar difokuskan kepada murid layaknya model sekolahan jaman sekarang. Para agamawan harus mampu membuat pelajaran agama jadi berfungsi sehingga para tahanan tidak menjadi orang yang fanatik dalam memeluk agamanya dan mengkontekstualkan kitab suci (Al-Qur’an).

Selanjutnya ada model Da’i-Mad’uw, dimana para agamawan akan menjadi penunjuk jalan dalam memahami agama Islam. Jika pendekatan murid-guru menekankan kepada kemampuan murid untuk belajar Islam, pendekatan ini mengutamakan kemampuan sang agamawan untuk menuntuk para radikalis dalam melakukan perbuatan baik dan meninggalkan jalan radikalnya. Ada tiga step prosesnya: learn, unlearn and relearn (proses unlearn dilakukan oleh para Da’i agar para Mad’uw nya mengevaluasi pandangannya dan berujung pada tahapan relearn ajaran Islam lainnya).

Bagi para tahanan yang mungkin agak keras, maka pendekatan yang dipakai adalah Mufti-Mustafti dimana para agamawan akan menjadi Mufti dan mengisukan fatwa yang harus dilaksanakan oleh para Musafti. Adapun tahapan dalam pendekatan ini ialah taswir (konseptualisasi akurat dari fatwa yang akan dikeluarkan), takyif (klasifikasi dari fatwa yang akan dikeluarkan berdasarkan hukum Islam melalui Qur’an, Hadis ataupun Fiqh sebagai landasan), sharh (penjelasan berkenaan dengan pentingnya pelaksanaan sebuah fatwa), dan isdar (diumumkannya sebuah fatwa untuk dilaksanakan oleh para narapidana).

Ulasan-ulasan diatas masih merupakan sebagian kecil dari kebijakan deradikalisasi dan rehabilitasi terorisme yang ada didalam buku ini. Bagian penting yang saya ambil dalam buku ini berkenaan dengan peran agamawan karena pentingnya mereka dalam membentuk pemahaman agama yang baik dan benar. Agamawan memang memegang peranan kunci dalam membentuk pemikiran seseorang, peresensi sendiri merasakan bagaimana sebenarnya cocok-tidaknya seorang guru mengaji menjadi sebuah penekanan untuk mengaji apabila dibesarkan dalam lingkungan yang mendukung kita untuk bebas memilih jalan.

Buku ini merupakan serangkaian studi mengenai Politics of Disorder and Instability yang diterbitkan oleh Routledge. Informasi yang dimuat dalam buku ini akan menjadi barang berharga bagi para pengajar, diplomat, politisi, birokrat, teknokrat ataupun pelajar yang mendalami isu berkenaan dengan terorisme dan kebijakan-kebijakan penanggulangannya.

TENTANG PENULIS

Reza Maulana Hikam adalah mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di FISIP, Universitas Airlangga

BACA JUGA

About Author

Reza Maulana Hikam

Reza Maulana Hikam adalah seorang mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga. Pegiat literasi yang mendirikan situs web resensi Kedai Resensi Surabaya dan Penulis Lepas Opini di Geotimes.


Related Posts

Write a response to this post