Catatan Mengenai Teori Dependensi dan Strukturalis_C Kay_RN Gwyne_Berpijar
Setelah krisis hutang, institusi finansial dunia berusaha mendikte berbagai macam kebijakan ekonomi dan sosial kepada negara yang memiliki hutang melalui Structural Adjustment Programs (SAPs).

Semenjak krisis diawal 1980an, ada banyak perubahan radikal di Amerika Latin dalam lingkup ekonomi, politik, sosial dan budaya. Perubahan paradigmatik terjadi dalam skala transformasi ideologis, terutama di lingkup pemerintah beserta penasehatnya. Paradigma sebelumnya yang dimulai sejak 1930an, yang berkembang dengan cara yang sama, yakni sebagai respon terhadap krisis ekonomi.

Campur tangan pemerintah merupakan karakteristik manajemen ekonomi untuk mengurangi hubungan dengan perekonomian dunia luar dan mempromosikan industrialisasi dalam negeri. Paradigma semacam ini memunculkan teori dependensi dan strukturalis, yang berusaha menginterpretasikan peristiwa yang telah terjadi.

Kebijakan neoliberal yang diperkenalkan pada kebanyakan negara di Amerika Latin selama dua dekade, telah membuka sebuah era pembangunan yang baru yang bisa disebut sebagai fase globalisasi setelah paradigma import-substitution. Globalisasi neoliberal ini telah memperlihatkan kemuncuran sosialisme dan kemenangan kapitalisme.

Meskipun neoliberalisme telah berhasi menjadi ideologi yang dominan untuk para pembuat kebijakan, namun tetap tidak mampu menyelesaikan masalah Amerika Latin yang rentan terhadap kekuatan eksternal, pengasingan (social exclusion) dan kemiskinan, bahkan memperburuk kondisi mereka.

Dalam krisis sosialisme dan kegagalan neoliberalisme dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan sosial, penting rasanya untuk mencari paradigma pembangunan alternatif yang mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang telah diutarakan diatas. Namun tujuan dari artikel ini bukan untuk mengembangkan paradigma strukturalis dan teori dependensi, akan tetapi menunjukkan kemungkinan dua teori tersebut sebagai sebuah paradigma baru untuk teori pembangunan di Amerika Latin.

Paradigma centre-periphery merupakan teori strukturalis milik Amerika Latin yang dikembangkan oleh Komisi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Amerika Latin dan Karibia (ECLAC) yang berlokasi di Santiago de Chile dibawah pimpinan Raul Prebisch selama tahun 1950-1960an. Sementara itu, teori dependensi untuk Amerika Latin dikembangkan oleh berbagai macam lembaga di Amerika Latin, namun secara prinsip dikembangkan oleh Instituto Latinoamericano de Planificacion Economica y Social (ILPES), sebuah organisasi seperti ECLAC yang merupakan bentuk strukturalisnya, dan Centre for Socio-Economic Studies (CESO) dari Universitas Chile dalam versi Marxis nya selama kisaran tahun 1960an dan 1970an.

Strukturalisme dan Teori Dependensi muncul sebagai kritik terhadap paradigma pembangunan yang ada, yang tidak mampu menyelesaikan permasalahan pembangunan dan keterbelakangan dari Amerika Latin, para strukturalis menyarankan kebijakan pembangunan yang diarahkan ke dalam negeri melalui industrialisasi barang impor (ISI/ Import-Substitution Industrialization) dengan dukungan dari negara developmentalis, sedangkan teori dependensi mengajukan tatanan ekonomi baru (dalam sudut pandang strukturalisnya), dan transisi menuju sosialisme (yang menurut pandangan marxisnya), merupakan jalur keluar dari keterbelakangan.

Strukturalisme memberikan gagasan yang lebih relevan untuk memikirkan mengenai strategi pembangunan alternatif kepada mereka yang memiliki pandangan pragmatis (dan realistis), sedangkan mereka yang memiliki pemikiran radikal dan jangka panjang (meskipun utopis) akan memilih teori dependensi.

Kegagalan sistem komunisme di Eropa Timur dan transisi perekonomian Cina dari terencana menjadi pasar bebas telah menunjukkan keberhasilan strukturalisme dibanding teori dependensi sebagai pilihan yang lebih masuk akal untuk menggantikan model neoliberal.

Meningkatnya Kesenjangan dalam Perekonomian Dunia

Globalisasi, yang muncul sebagai proses yang tak terhentikan, memberikan hubungan baru antara teori dependensi dan strukturalisme karena dua teori tersebut melihat permasalahan keterbelakangan dan pembangunan dalam konteks global. Pandangan utama dalam strukturalisme ialah konseptualisasi dari dunia internasional yang terbentuk oleh relasi asimetris antara pusat dan periferi.

Di sisi lain, teori dependensi memiliki poin utamanya dalam teori sistem dunia dan mengemukakakan keterbelakangan adalah produk yang ada didalamnya (sistem dunia). Selama program penyesuaian neoliberal pada tahun 1980an dan 1990an, pencabangan ekonomi dan kesenjangan pendapatan antara negara pusat yang maju dan negara pinggiran yang terbelakang telah meluas.

Di berbagai negara berkembang, kesenjangan antara si kaya dan si miskin semakin menjadi-jadi. Meningkatnya kemiskinan dan kesenjangan menjadi dorongan gerakan sosial yang muncul untuk mencari alternatif sebagai pengganti dari kebijakan neoliberal.

Kontroversi Negara Industri Baru (Newly Industrialized Countries)

Beberapa contoh dari negara pinggiran dan juga terkena ketergantungan namun berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi yang pesat dan juga perkembangan kesejahteraan ialah Korea Selatan, Hong-Kong, Taiwan dan Singapura. Korea Selatan dan Taiwan memiliki tingkat industrialisasi ekspor yang pesat dan memberi mereka status sebagai negara semi-periferi dalam sistem dunia.

Penjelasan ini membuat pandangan Cardoso (1979) mengenai associated-dependent-development menjadi lebih relevan dibanding pandangan Andre Gunder Frank (1967) yang skeptis dalam membuka pasar dunia yang dituliskan dalam artikelnya Development of Underdevelopment.

Keberhasilan transformasi Asia Timur menjadi Negara Industri Baru dikarenakan peran sentral yang dilakukan oleh negara developmentalis dengan penekanan pada kebijakan industrialisasi untuk mengejar kompetisis global dan pertumbuhan ekonomi. Hal ini merupakan bukti bahwa negara merupakan kunci dalam mempromosikan pembangunan tetapi dengan intervensi yang selektif dan memperhitungkan pula kondisi pasar yang dinamis.

Berlawanan dengan pandangan neoliberal, dimana kesuksesan tidak hanya mengenai pembenahan harga, privatisasi, liberalisasi dan membiarkan pasar berkuasa, namun dengan kebijaksanaan negara yang akan mengelola pasar (Amsden 1994; Wade 1990).

Keberhasilan negara industri baru mempromosikan sebuah pembangunan yang didorong oleh pemerintah daripada pasar bebas yang lebih eksklusif seperti yang didukung oleh para neolib. Peran pemerintah dalam perekonomian negara periferi tidak hanya krusial dalam mencapai perkembangan namun juga harus menyadari kerentanan tiap negara terhadap perekonomian dunia yang sangat kompetitif dan kepad berubah-ubah.

Kerentanan Finansial dan Ketergantungan

Krisis pada tahun 1980an di Amerika Latin, Afrika dan Asia merupakan bukti bahwa teori dependensi yang masih relevan. Besarnya mobilitas kapital dan keberadaannya (kapital) dalam perekonomian dunia semenjak 1970an menyebabkan negata-negara berkembang makin tergantung terhadap modal asing. Kerentanan terhadap perubahan dalam pasar modal internasional mereduksi kemampuan pemerintah negara berkembang dalam bermanuver dalam mengeluarkan kebijakannya.

Setelah krisis hutang, institusi finansial dunia berusaha mendikte berbagai macam kebijakan ekonomi dan sosial kepada negara yang memiliki hutang melalui Structural Adjustment Programs (SAPs). Negara-negara besar seperti Brasil dan Meksiko mampu bernegosiasi untuk prasyrarat yang lebih baik dengan Bank Dunia, akan tetapi negara yang lebih kecil semacam Bolivia tidak akan mampu. Peru yang menolak SAP, diberi hukuman dan setelah pergantian kepemimpinan terpaksa menerima program tersebut.

SAP merupakan cara untuk memperkenalkan kebijakan neoliberal yang justru membawa dampak buruk bagi negara-negara di Amerika Latin.

Negara berkembang (LDC) terus menyuplai keuntungan kepada negara maju (DC). Transfer keuntungan ini meningkat melalui investasi asing dan pertukaran yang tidak adil (unequal exchange) dalam perdangan global yang dimana pereduksian signifikan dalam finansial sebenarnya dapat digunakan untuk investasi dalam negeri dari negara berkembang itu sendiri. Peran dari negara dan konfigurasi kelas terus menjadi peran penting dan menjadi alasan utama dalam keberlanjutan dari keterbelakangan.

Negara industri baru dari Asia Tenggara telah melepas gaya negara pembangunannya (developmental state) akibat deru globalisasi yang semakin kuat. Deregulasi yang didukung oleh IMF, OECD dan pemerintahan Barat telah berkontribusi kepada krisis yang terjadi di negara-negara industri baru ini. Krisis ini telah memberikan kesempatan kelompok IMF-Wall Street untuk mempengaruhi ekonomi yang dikeluarkan oleh negara-negara tersebut. Kelompok IMF dan Bank Internasional dari Barat akan membantu dengan syarat adanya reformasi struktural dan institusional seperti yang terjadi di Korea Selatan yang berakibat kepada masuknya modal asing dan liberalisasi yang melebih, dan dari kejadian ini, teori dependensi mulai masuk kepada sendi-sendi pemerintahan Korea Selatan.

Catatan : Artikel ini adalah ringkasan dari jurnal yang berjudul “Relevance of Structuralist and Dependency Theories in the Neoliberal Period: A Latin American Perspectives” yang telah disunting oleh Profesor Cristobal Kay dan Robert N. Gwynne, dan telah mendapat persetujuan dari penulis untuk dipublikasikan dalam website ini.

Penerjemah : Reza Maulana Hikam

TENTANG PENULIS

Cristobal Kay & Robert N. Gwyne adalah Professor Institute for Social Studies & Reader at University of Birmingham

BACA JUGA

Tags: , , ,

Bagaimana menurut pembaca?