Catatan Mengenai Teori Dependensi dan Strukturalis dalam Perspektif Amerika Latin (Bagian 2-Selesai)

Catatan Mengenai Teori Dependensi dan Strukturalis_Amerika Latin_C Kay_RN Gwyne_Berpijar
Catatan Mengenai Teori Dependensi dan Strukturalis_Amerika Latin_C Kay_RN Gwyne_Berpijar
Kunci dari hubungan politik dan ekonomi dengan Amerika Latin ada pada Amerika Serikat.

Teknologi dan Perusahaan Transnasional

Para pakar dependensi selalu menekankan kepada ketergantungan teknologi. Strukturalis menunjukkan kekurangan sistem industrialisasi barang impor (ISI) di Amerika Latin akibat ketidakmampuan untuk mengembangkan perusahaan kapital dan menggunakan teknologi baru. Sehingga mereka selalu tergantung pada impor teknologi dari negara maju yang tidak selalu sesuai dan malah memberikan perusahaan transnasional sebuah kekuatan berlebih untuk mengekstrak keuntungan dari negara yang tergantung.

Dengan adanya revolusi teknologi informasi dan komunikasi terbaru, negara yang lebih maju selalu memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan negara yang sedang berkembang. Kejadian ini makin membuat negara yang sedang berkembang semakin tergantung pada teknologi dari negara maju (Castells dan Laserna 1994).

Globalisasi: Sebuah Paksaan dan Kesempatan

Strukturalisme maupun teori dependensi tidak melihat perkembangan pesat dari perdagangan dunia pasca peperangan. Hal ini telah memunculkan sebuah dimensi baru pada fase globalisasi di masa kini dengan dorongan utama kepada liberalisasi perekonomian dunia dan usaha untuk mengurangi batasan-batasan antar negara untuk mobilitas barang, jasa dan modal antar negara yang memunculkan peluang dalam perdagangan internasional dan investasi asing.

Pasar internasional mempunyai kekuasaan lebih daripada sebelumnya dan pemerintah harus memberi pertimbangan dan perhatian lebih kepada kekuatan pasar global ini, sebelum mereka menghadapi penarikan besar-besaran dari modal asing yang ada di negaranya. Sementara itu, globalisasi dan liberalisasi terus membuka pintu untuk peluang ekspor bagi perekonomian Amerika Latin dan telah menarik investasi asing untuk masuk ke daerah tersebut.

Di beberapa negara Amerika Latin, sektor ekspor telah memberikan dinamika dalam ekonomi nasional negara tersebut. Kapasitas dinamis dari sistem perdagangan dunia telah diremehkan oleh pada strukturalis dan telah memberikan konsekuensi negatif yang berdampak pada pengasingan dan kemiskinan menurut para pakar dependensi.

Unequal Exchange

Dengan bergabungnya negara-negara periferi kedalam sistem dunia, sebagai sebuah koloni, ada perpindahan surplus ekonomi dari negara periferi ke negara pusat. Meskipun negara tersebut sudah mandiri, negara maju tetap mendapatkan surplus ekonomi dari negara berkembang melalui berbagai macam cara seperti memperburuk perjanjian dagang antara barang ekspor primer dari negara berkembang dengan barang industri dari negara maju yang pertama kali ditemukan oleh Raul Prebisch dan Hans Singer (ECLAC 1951).

Kebanyakan negara berkembang terus bergantung pada ekspor komoditas agrikultur dan mineral yang memiliki dampak destruktif terhadap lingkungan mereka. Permasalahan ini disebut sebagai ekstraktivisme dari sumber daya alam negara pengekspor ekologinya kepada negara maju. Permasalahan ini sangatlah kontroversial karena sangat sulit untuk memperhitungkan kerugian ekologis.

Para pakar strukturalis telah mengutarakan bahwa pada tahun 1960an, pemerintah di Amerika Latin harusnya mengubah ekspor komoditas primer menjadi komoditas dengan nilai lebih dengan cara membangun industri ekspor (Kay 1989). Meskipun demikian, pemerintah di daerah Amerika Latin gagal melaksanakan saran tersebut kecuali Brasil.

Globalisasi dan Perubahan Menuju Dunia yang Multipolar

Kapitalisme telah menjadi sistem sosioekonomi yang dominan di perekonomian dunia. Integrasi internasional kedalam perekonomian dunia telah berjalan dengan cepat dalam beberapa dekade terakhir ini dengan adanya revolusi teknologi komunikasi dan transportasi, meluasnya perjanjian perdangangan bebas dan berbagai macam liberalisasi lainnya.

Proses globalisasi semacam ini meliputi transformasi besar dibidang produksi, konsumsi, teknologi dan gagasan. Dan juga berhubungan dengan perubahan sosial-budaya, ekonomi, politik dan lingkungan.

Negara-bangsa sekarang berusaha mencapai tujuan nasionalnya dalam parameter dan tatanan global. Untuk negara berkembang, dampak dari masuknya mereka kedalam ekonomi global akan mengurangi ruang gerak dalam membuat kebijakan karena pemerintah akan bergantung kepada persetujuan kebijakan dari institusi global yang mengawasi perekonomian dunia dan keputusan berinvestasi dari perusahaan multinasional yang dapat dipengaruhi oleh institusi global.

Setelah runtuhnya tembok Berlin dan kehancuran Uni Soviet, dunia tidak lagi bipolar akan tetapi multipolar: Amerika Serikat, Cina, Uni Eropa dan Jepang beserta negara industri bari di Asia Timur. Kunci dari hubungan politik dan ekonomi dengan Amerika Latin ada pada Amerika Serikat. Kebijakan ekonomi di Amerika Latin berubah mengikuti Konsensus Washington dan terlihat lebih dekat dengan gaya kapitalis Amerika Serikat ketimbang kapitalisme negara di Asia Timur atau negara kesejahteraan dari Eropa kontinental.

Perusahaan transnasional menjadi kekuatan ekonomi yang semakin diperhitungkan di Amerika Latin, seperti yang diprediksi oleh para pakar dependensi.

Kesimpulan: Menuju Neoliberalisme melalui Neostrukturalisme?

Sebagai konsekuensi dari dekade kemunduran padan 1980an, saat pemerintah ditekan oleh lembaga finansial internasional telah mempersiapkan dasar-dasar untuk penggunaan kebijakan neoliberal, para pakar strukturalis mulai mengajukan alternatif dari neoliberalisme. Dekade tersebut dianggap sebagai kemunduran karena banyak negara mengalami kegagalan ekonomi dan melemahnya pertumbuhan ekonomi dan juga meningkatnya pengangguran, kemiskinan dan kesenjangan.

Maka dari itu muncullah alternatif neostrukturalis sebagai usaha dalam menghadapi problema di wilayah Amerika Latin dalam konteks globalisasi neoliberal. Alternatif ini disebut sebagai neostrukturalis, karena para pakarnya, seperti para strukturalis, terhubung dengan ECLAC yang memproduksi dokumen yang sama (ECLAC 1990).

Mereka mengambil cara yang sama dengan para strukturalis dan mengelaborasikannya dengan gagasan neoliberalisme dengan mempertimbangkan pasar bebas, sektor privat dan nilai valuta asing, dibanding dengan pakar strukturalisme yang mengharapkan pemerintah mampu mengelola pasar (Bitar 1998, Sunkel 1993).

Neodtrukturalis, juga pakar dependensi, melihat perekonomian dunia sebagai sebuah sistem kekuasaan yang asimetris yang mendukung negara maju dan perusahaan transnasional. Mereka menolak liberalisasi yang lebih jauh, karena akan memperlebar kesenjangan antar dan didalam negara. Neostrukturalis juga memberikan peran penting bagi negara dalam proses transformasi sosial dan sangat bersemangat untuk memasukkan pula kelompok-kelompok yang dirugikan dalam proses ini, saat neoliberalisme malah mengasingkan mereka (Sunkel dan Zuleta 1990).

Tujuan utama yang diambil oleh para neostrukturalis dari negara industri baru di Asia Timur adalah kebutuhan untuk bergabung secara hati-hati kedalam perekonomian dunia dan menghasilak keunggulan kompetitif melalui kebijakan industri yang didesain dengan baik daripada bertumpu kepada keunggulan komparatif yang berdasarkan tenaga kerja murah dan ekstraksi sumberdaya alam.

Kebijakan industri dan ekspor akan mengekploitasi relung kecil di pasar dunia dan mengubah arus kepada usaha industri yang lebih kompeten, berteknologi canggih dan memiliki nilai tawar tinggi. Kebijakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan ekonomi dan kapabilitas teknologi nasional dapat menjadi sangat krusial untuk jangka panjang. Maka dari itu, kita harus ,memahami betapa pentingnya pendidikan meskipun lebih jarang ditekankan ketimbang land reform (Fajnzylber 1990).

 

Rujukan

Amsden, A. (1994). Why isn’t the whole world experimenting with the East Asian model to develop? World Development, 22(4), 627-633.

Bitar, S. (1988). Neo-liberalism versus Neo-structuralism in Latin America. Cepal Review(34), 45-62.

Cardoso, F., & Faletto, E. (1979). Dependency and Development in Latin America. Berkeley: University of California Press.

Castells, M., & Laserna, R. (1994). The new dependency: technological change and socioeconomic restructuring in Latin America. In A. Kincaid, & A. Portes (Eds.), Comparative National Development: Society and Economy in the New Global Order (pp. 57-83). Chapel Hill: University of North Carolina Press.

Fajnzylber, F. (1990). Sobre la impostergable transformacion productiva de America Latina. Pensamiento Iberoamericano(16), 85-129.

Frank, A. G. (1967). Capitalism and Underdevelopment in Latin America. New York: Monthly Review Press.

Gywnne, R. N., & Kay, C. (Eds.). (2004). Latin America Transformed: Globalization and Modernity (2nd ed.). London: Hodder Education and Hachette UK Company.

Kay, C. (1989). Latin AmericanTheories of Development and Underdevelopment. London: Routledge.

Sunkel, O. (Ed.). (1993). Development from Within: Toward a Neostructuralist Approach for Latin America. Boulder: Lynne Rienner Publishers.

Wade, R. (1990). Governing the Market: Economic Theory and the Role of Government in East Asian Industrialization. Princeton: Princeton University Press.

Catatan : Artikel ini adalah ringkasan dari jurnal yang berjudul “Relevance of Structuralist and Dependency Theories in the Neoliberal Period: A Latin American Perspectives” yang telah disunting oleh Profesor Cristobal Kay dan Robert N. Gwynne, dan telah mendapat persetujuan dari penulis untuk dipublikasikan dalam website ini.

Penerjemah : Reza Maulana Hikam

TENTANG PENULIS

Cristobal Kay & Robert N. Gwyne adalah Professor Institute for Social Studies & Reader at University of Birmingham

BACA JUGA

About Author

Cristobal Kay

Cristobal Kay adalah Professor di Institute for Social Studies


Related Posts

Write a response to this post