Perdebatan Anti-Semitisme di Antara Para Yahudi_Reza Hikam_Berpijar
Ilustrasi/Vaaju.com
Meskipun mayoritas penduduk Jerman terpengaruh oleh bentuk-bentuk tradisional dari anti-semitisme, dan menerima pemisahan diri mereka terhadap umat Yahudi, adapun dari mereka (penduduk Jerman) yang menolak untuk melakukan kekerasan terhadap umat Yahudi.

Dalam resensinya mengenai karya Daniel Jonah Goldhagen yang berjudul “Hitler’s Willing Executioner”, Yehuda Bauer membuat beberapa klaim, yang menurut saya, tidak didukung oleh kebanyakan akademisi.

Pertama, Menurut Bauer, para akademisi “menunjukkan, dalam berbagai karyanya, bahwa mayoritas penduduk Jerman mendukung rezim Nazi, apapun yang dilakukan oleh rezim tersebut” (hal. 344). Akan tetapi, para akademisi sepakat bahwasanya kebanyakan penduduk Jerman menolak keras persekusi umat Yahudi yang dilakukan oleh rezim Nazi.1

Pastinya, Bauer sendiri menuliskan: “peneliti seperti Ian Kershaw, Otto D. Kulka dan Sarah Gordon telah menunjukkan fakta bahwasanya anti-semitisme pada tingkat ekstrim bukanlah hal yang lazim dikalangan penduduk Jerman . . . memang kebanyakan penduduk Jerman cenderung memiliki sikap anti-semit, namun menolak tindakan ekstrim seperti membakar bangunan, menghancurkan barang-barang dan pemukulan umat Yahudi”.2

Kedua, Menurut Bauer, tesis Ernst Nolter mengatakan bahwa “Auschwitz merupakan manifestasi dari prinsip rasisme Nazi layaknya sebuah biji didalam buah” ialah “hampir sama” dengan pandangan Goldhagen mengenai genosida yang tetap ada didalam masyarakat Jerman (hal. 345).

Penggabungan pandangan semacam ini menghancurkan perbedaan krusial dari masing-masing pandangan: menurut Nolte dan mayoritas pakar lainnya bahwa anti-semitisme yang ekstrim hanya ada dalam pikiran para atasan Nazi tidak sama dengan sudut pandang Goldhagen yang menyebutkan bahwa tindakan ekstrim kepada umat Yahudi ada di setiap otak penduduk Jerman.

Tiga, menurut Bauer, “tidak dapat dipungkiri bahwa pada akhir 1930an, mayoritas dari penduduk Jerman mendukung rezim Nazi”, bahwa “perilaku paling biadab terhadap umat Yahudi meningkat di akhir tahun 1930an”, perilaku sadis ini terbentuk selama peperangan terjadi dan saat pecahnya Perang Dunia Kedua, mayoritas penduduk Jerman telah mengakui rezim tersebut beserta kebijakan anti-semitiknya dan membuat rezim tersebut mudah merekrut para pembunuh (hal. 348-350).

Pastinya, menurut Bauer dan sejarawan Israel seperti beliau telah berargumen mengenai pandangan yang tidak jauh berbeda dengan Goldhagen mengenai sentralitas dari tema anti-semitisme dapat disimpulkan sebagai berikut: klaim Goldhagen sebagai penulis pertama yang mengakui keberadaan perilaku ekstrim anti-semitisme tidak kredibel” (hal. 345). Akan tetapi dalam artikel yang telah di kutip, Bauer menuliskan mengenai sesuatu yang berbeda:

. . . Penduduk Jerman yang membunuh umat Yahudi di perkotaan maupun pedesaan atau mendeportasi mereka secara brutal ke kamp konsentrasi, tidak memiliki latarbelakang anti-semitis atau terhadap mazhab tertentu. Mereka mengikuti alur rezim yang melihat umat Yahudi sebagai musuh dari Reich Ketiga (panggilan untuk era Hitler), namun tidak memiliki kebencian tersendiri terhadap umat Yahudi. Maka dari itu, kemungkinannya adalah mereka mendapatkan instruksi untuk membunuh mereka. . .

Bagaimana seseorang akan menjelaskan fakta yang mengerikan bahwasanya umat Yahudi tersebut dibunuh oleh orang-orang yang sebenarnya tidak membenci mereka? (hal. 164)

Pembunuhan massal yang ditujukan kepada minoritas bisa dilakukan tanpa perlu kebencian mendalam terhadap minoritas tersebut dari mayoritas penduduk yang melakukan hal itu. Penduduk Jerman tidak perlu benci kepada umat Yahudi untuk membunuh mereka (169).

Kelihatannya memang Bauer telah mengubah pandangannya secara radikal mengenai perilaku biadab anti-semitisme dari penduduk Jerman. Beliau bahkan mengklaim tesis Bauer. Meskipun begitu, baik Bauer maupun Goldhagen tidak menyediakan bukti untuk menopang tesisnya [3]. Pastinya, saksi terhadap tesis ini adalah Bauer Sendiri.
Norman G. Finkelstein
Hunter College, CUNY

JAWABAN DARI YEHUDA BAUER:

Saya berterimakasih kepada Norman Finkelstein atas komentar kritisnya terhadap ulasan karya Golhagen yang saya tulis. Poin pertama yang beliau utarakan mungkin merupakan sebuah kesalahpahaman. Tidak ada kontradiksi jika mengatakan bahwa mayoritas penduduk Jerman mendukung rezim Nazi dalam melakukan tindakan apapun, dan dengan mengatakan bahwa tindakan ekstrim nan sadis memang lazim dalam rezim tersebut.

Semenjak tahun 1939, banyak yang menunjukkan (David Bankier4) bahwa masyarakat yang setuju dengan rezim yang ada, termasuk yang memiliki kebijakan anti-semitisme yang moderat, akan meniadakan umat Yahudi dalam kehidupan bernegara, namun tidak akan melakukan kekerasan terhadap umat Yahudi. Kita harus melihat Jerman dibawah Nazi sebagai masyarakat yang dinamis. Mayoritas penduduknya yang tidak memilik NSDAP (nama lain Nazi) pada tahun 1932, dengan cepat mendukung partai ini setelah menang. Kita dapat melihatnya dengan jernih dalam buku harian Victor Klemperer5.

Seiring berjalannya waktu, dukungan terhadap Nazi menjadi sangat inklusif (meluas), dan dukungan tersebut berasal dari mayoritas rakyat Jerman, meskipun tidak secara keseluruhan. Muncullah pertanyaan, bagaimana masyarakat tidak mendukung Nazi di tahun 1928 yang hanya mendapatkan 2,6% kursi di parlemen dapat mengikuti dan mendukung rezim Hitler di akhir 1930an dan awal 1940an, hal ini dijelaskan oleh David Bankier dalam bukunya, dimana tidak dikejawantahkan oleh Goldhagen.

Perilaku penduduk Jerman kepada umat Yahudi terus berubah, awalnya hanyalah anti-semitis, namun menjadi lebih kejam di tahun 1940an. Generalisasi semacam ini tidak memasukkan kelompok oposisi (terhadap rezim) didalamnya, sebagai bagian intergral dari masyarakat. Jabatan penting dalam era Hitler dipegang oleh para intelektual, kalangan elit dan cendekiawan, karena kelompok-kelompok tersebutlah yang dijadikan panutan oleh masyarakat.

Testimoni yang diberikan oleh Klemperer menjadi contoh yang bagus, seperti yang ditulis oleh Saul Friedlaender: “meskipun mayoritas penduduk Jerman mengetahui tindakan-tindakan kejam yang dilakukan Nazi terhadap umat Yahudi, hanya ada sedikit perdebatan mengenai tindakan kejam tersebut”.

Meskipun mayoritas penduduk Jerman terpengaruh oleh bentuk-bentuk tradisional dari anti-semitisme, dan menerima pemisahan diri mereka terhadap umat Yahudi, adapun dari mereka (penduduk Jerman) yang menolak untuk melakukan kekerasan terhadap umat Yahudi. Selama peperangan, tidak ada perbedaan perilaku antara Jerman dan kolaborator mereka: Austria dan Eropa Timur dalam menghadapi umat Yahudi. Mereka telah diindoktrinasi oleh propaganda anti-Yahudi yang tiada henti dari rezim Hitler yang masuk kepada setiap lapisan masyarakat.

Sebelum peperangan terjadi, pertarungan dalam edukasi melawan kejahatan telah berusaha dibendung, pada saat peperangan terjadi, kejahatan telah berhasil memenangkan dirinya diantara masyarakat Jerman. Saya yakin bahwa Pak Finkelstein sekarang akan membaca buku yang disunting oleh Ulrich Herbert, berjudul: National-sozialistische Vernichtungspolitik (Frankfurt a/M, 1998), dimana si penyunting memberikan tesis yang sama berdasarkan penemuan terbaru.

Pada saaat sebelum peperangan terjadi, anti-semitisme adalah virus yang cepat menyebar dan menjadi menunjukkan karakteristik berbahayanya, sebelum rezim Hitler berkuasa, meskipun hanya pada wilayah kecil di Jerman. Mereka (anti-semitis) lebih tertarik pada keberhasilan rexim dalam mencapai stabilisasi politik, penghancuran kelompok kiri, perkembangan ekonomi, kebangkitan nasional dan masih banyak lagi.6

Dalam poin kedua ini, saya memang salah saat mengidentifikasi pandangan Nolte dengan milik Goldhagen, meski apa yang dilihat oleh Goldhagen tidak berbeda jauh dengan pandangan dari elit Nazi dan mayoritas penduduk Jerman. Pertanyaan yang muncul ialah apakah Goldhagen benar atau salah dalam isu ini, karena memang susah melihat kebenaran saat peperangan sudah terjadi, banyak penduduk Jerman yang mengadopsi pandangan anti-semitisme yang keji, yang merupakan pandangan elit Nazi.

Kita hanya perlu melihat penelitian mengenai Wehrmacht (Ketentaraan Jerman) untuk mengetahui sejauh mana propaganda telah merasuk. Saat Goldhagen berusahan mengidentifikasi bahwa propaganda anti-semitik Nazi mempunyai akar sejarah di abad pertengahan, dia memang salah.

Hal terpenting dari kritik yang dilontarkan oleh Finkelstein terhadap kritik saya kepada karya Goldhagen ini adalah usaha beliau untuk mengutip dari diri saya sendiri. Ini hanyalah kesalahpahaman, tidak lebih. Merasuknya propaganda tidak perlu pembelajaran mengenai anti-semitisme, atau pemahaman mendalam mengenainya. Cukup dengan mengikuti rezim berkuasa yang mendeklarasikan umat Yahudi sebagai musuh bersama dan memerintahkan untuk membunuh mereka. Tidak perlu ada perasaan didalamnya, tidak perlu ada kebencian. 

Karena ideologi tersebut telah merasuk pada otak jutaan orang, semua orang yang mengikuti rezim Nazi akan menerima dengan sukarela anti-semitisme tersebut. Untung saja banyak sejarawan mudah Jerman melihat permasalahan ini layaknya saya dan Israel Gutman melihatnya, meskipun beberapa kolega diluar sana tidak setuju.

Saya berasumsi bahwa beliau ingin saya lebih kritis dalam memandang Goldhagen, namun saya lebih nyaman pada posisi saya yang sekarang, dimana saya memahami pandangan positif, meskipun tidak baru, dari argumen Goldhagen.

Yad Vashem, Yerusalem

Yehuda Bauer

 

Rujukan:

  1. “On Perpertrators of the Holocaust and the Public Discourse,” JQR 87 (1997) 343-350.
  2. Yehuda Bauer, “Reflections Concerning Holocaust History,” dalam Louis Greenspan and Graeme Nicholson (ed), Fackenheim: German Philosophy and Jewish Thought. (Toronto 1992), p. 163.
  3. Penilaian kritis terhadap bukti-bukti yang dimiliki oleh Goldhagen ada dalam: Norman G. Finkelstein & Ruth Bettina Birn, A Nation on Trial: The Goldhagen Thesis and Historical Truth (New York, 1998)
  4. David Bankier, The German and the Final Solution (Oxford, 1992)
  5. Ich will Zeugnis ablegen bis zum letzten (Berlin, 1995) yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris, berjudul: I Shall Bear Witness: The Diaries of Victor Klemperer (New York, 1998) dalam 2           jilid.
  6. Saul Friedlander, Nazi Germany and the Jews (New York, 1997), hal 4, 68.

Catatan: Artikel ini berjudul asli Goldhagen’s Hitler’s Willing Executioner, An Exchange of Views yang dimuat dalam The Jewish Quaterly Review, LXXXIX, Nos. 1-2 (July-October, 1998), 123-126. Dan telah mendapat izin dari penulis untuk diterjemahkan.

PenerjemahReza Maulana Hikam

TENTANG PENULIS

Norman G. Finkelstein adalah ilmuwan politik dari Amerika. Pada saat artikel ini dipublikasikan, ia adalah pengajar di DePaul University.

Yehuda Bauer adalah sejarawan Israel dan akademis tentang Holocaust. Ia merupakan profesor Holocaust Studies di Avram Harman Institute of Contemporary Jewry di Hebrew University of Jerusalem.

BACA JUGA

Tags: , , ,

Bagaimana menurut pembaca?