Berjuang sambil Membangun, Telaah Kritis Terhadap Pembangunanisme Dewasa Ini

Berjuang sambil membangun_Reza Maulana Hikam_Berpijar
HTIandPI-Osman

Judul Buku Hizbut Tahrir Indonesia and Political Islam

Penulis Mohamed Nawab Mohamed Osman

Penerbit Routledge

Tahun Terbit 2018

Tebal Buku xvii+220 halaman

ISBN 978-0-8153-7528-9


Pembangunan, mungkin bukan topik favorit saat ini. Beberapa kolega saya juga mengatakan demikian. Tulisan mengenai pembangunan acapkali semakin sedikit karena tidak begitu laku di pasaran. Penduduk Indonesia menjadi phobia terhadap pembangunan karena kata ini yang sering digunakan oleh Soeharto beserta kroninya dalam propagandanya. Kabinetnya pun bernama Kabinet Pembangunan.

Pasar masa kini sangat digandrungi oleh tulisan yang renyah, penuh gurauan, hatespeech dan doa-doa maupun nuansa keislaman lainnya. Kita terlena oleh pasar yang menjual banyak hal yang sejatinya hanya akan menyejukkan hati, namun tidak memberi solusi terhadap permasalahan kemiskinan yang hampir dihadapi oleh mayoritas penduduk di Indonesia. Dan anehnya, penduduk Indonesia sangat suka dengan artikel atau opini yang ngawang-ngawang.

Dalam pembukaannya, buku ini menyuguhkan empat hal yang patut kita pahami dan kritisi berkenaan pembangunan yang terjadi di sekitar kita: pertumbuhan ekonomi menjadi jalur satu-satunya untuk keluar dari kemiskinan, banyak orang yang menikmati hasil dari pembangunan, perkembangan yang ada di sekitar kita karena kemauan kita untuk berpartisipasi dengan pasar dunia, dan sangat memungkinkan bahwa kita dapat mewujudkan dunia tanpa kemiskinan.

Kemiskinan sendiri berusaha didefinisikan oleh Bank Dunia sebagai keadaan dimana manusia mendapatkan pemasukan kurang dari dua dollar AS sehari. Definisi ini lahir dari World Development Report yang mereka buat pada akhir 1990. Bahkan pemasukan dibawah satu dollar AS sehari dikategorikan sebagai kemiskinan ekstrim. Bagi para developmentalis yang tidak suka dengan usaha meng-kuantifikasikan kemiskinan ini, mereka akan mengikuti teori Basic Needs.

Angka untuk menunjukkan seseorang itu miskin atau tidak disebut dengan international poverty line atau garis kemiskinan internasional. Pemikir seperti Peter Edwards berargumen bahwa garis kemiskinan diperlukan untuk mengukur angka harapan hidup seseorang, namun garis kemiskinannya harus diatas dari apa yang telah ditentukan oleh Bank Dunia.

Pemikir lain bernama David Woodward menyarankan standar garis kemiskinan dibawah lima dolar AS, sedangkan Lant Pritchett menyarankan kepada Bank Dunia untuk membentuk beberapa kategori: melarat (destitute) dibawah satu dolar, kemiskinan ekstrim dibawah dua dolar, kemiskinan biasa dibawah sepuluh dolar dan tidak miskin dengan pemasukan diatas sepuluh dolar (harus diingat bahwa pemasukan ini dihitung per hari). Namun apa yang gagal dipahami oleh Bank Dunia dan para pemikir ini bahwa kemiskinan memiliki aspek yang multi-dimensi.

Diluar pembahasan mengenai kemiskinan, Selwyn juga menjelaskan bahwa banyak masyarakat yang mulai naik kepada strata kelas menengah semenjak 2005. Pembagian kelas ini dilakukan oleh Martin Ravallion dari Bank Dunia dan Organisasi Buruh International (ILO), didasarkan kepada jumlah konsumsi barang yang dilakukan oleh seseorang. Perpindahan dari kelas bawah menjadi kelas menengah banyak terjadi dikalangan buruh yang sudah bekerja cukup lama.

Struktur kelas yang disampaikan oleh Ravallion ini berlawanan dengan pertarungan kelas. Seseorang dapat berpindah strata apabila dia telah bekerja memenuhi untuk memenuhi jumlah pemasukan tertentu yang sudah diklasifikasikan. Produktivitas seseorang juga menjadi unsur penting dalam menilai perpindahan strata yang akan berdampak pada jumlah pendapatan dan konsumsi.

Tidak hanya mengulas tentang kemiskinan dan pembahasan mengenai pembangunan secara umum, tapi Selwyn juga memberikan unsur Marxisme dalam buku ini. Seperti Andre Gunder Frank, ia menjelaskan tentang makna kapitalisme yang bertumpu pada dua hal: kompetisi akumulatif dari modal yang berkumpul dalam pasar bebas dan eksploitasi berkelanjutan dari kaum buruh. Keadaan seseorang yang miskin disebabkan oleh tumpuan kedua dari kapitalisme.

Dari eksploitasi buruh inilah, para kapitalis bisa melahirkan nilai dan memperbanyak labanya, sedangkan para buruh hanya mendapatkan upah secukupnya. Meskipun para kapitalis ini berada dalam satu kelas yang sama, sebut saja kelas atas, namun mereka tidak pernah akur antara satu dengan yang lain, karena kompetisi berkelanjutan yang mereka hadapi. Bagi seorang pengusaha minyak, perusahaan minyak selain miliknya adalah kompetitor (baca:musuh).

Hubungan antara kapital dan tenaga kerja yang akan menghasilkan kemiskinan dan kesenjangan secara terus-menerus. Penulis pun menjelaskan proses produksi para kapitalis dengan pandangan Marx, dimana para kapitalis memasuki pasar bebas sebagai pembeli suatu komoditas primer dan keluar untuk memproduksi sebuah komoditas dengan harga yang lebih mahal, didalam komoditas tersebut sudah tercantum harga tenaga kerja dari buruh dan keuntungan akan masuk kedalam saku para kapitalis.

Adapun organisasi semacam OECD (Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan) menganut GVC (Global Value Chains/Jaringan Produksi Global), sebuah konsep untuk mengembangkan dunia bisnis internasional yang dianggap akan menguntungkan masyarakat. Namun di lapangan, kebijakan yang berkaitan dengan GVC, justru tidak menguntungkan para buruh sama sekali, karena upah mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tidak bisa dipungkiri bahwa keberlangsungan sebuah perusahaan memang didasarkan kepada kemampuan pengurus perusahaan untuk mencari keuntungan, dan apabila keuntungan yang didapatkan masih stagnan, maka lambat-laun perusahaan tersebut akan dikalahkan oleh perusahaan lain yang lebih besar yang bergelut dalam bidang yang sama, pada akhirnya perusahaan tersebut harus gulung tikar.

Dalam teori pembangunan dewasa ini, subyek utamanya adalah para elit (pemilik modal dan kapitalis), dimana selain mereka hanyalah bawahan yang berperan sebagai obyek eksploitasi. Semua konsep dan teori yang lahir pasca Konsensus Washington membuat para pekerja menjadi obyek dari proses pembangunan.

Konsep yang dikuak oleh Selwyn bernama Elite Subjects, Subordinate Objects (ES-SO). Konsep ini memuat empat variabel penting: mengidentifikasi akumulasi kapital guna melaksanakan pembangunan untuk kaum miskin, menentukan bahwa para elit akan menjadi nahkoda pembangunan yang menuntun kaum miskin keluar dari kemiskinan, gerakan sosial atau aksi yang dilakukan oleh kaum miskin merupakan hambatan dari pembangunan, dan maka dari itu represi ekonomi maupun politik yang dilakukan oleh kelompok elit terhadap kaum miskin diperbolehkan dalam model pembangunan ini.

Konsep ES-SO ini pertama kali dikenalkan secara implisit oleh pemikir teori modernisasi bernama W.W. Rostow yang menjelaskan mengenai Lima Tahap Pembangunan atau Tahap Pembangunan Ekonomi mulai dari Masyarakat Tradisional hingga Konsumsi Massa. Rostow memandang bahwa pertumbuhan ekonomi bisa dicapai oleh negara-negara Selatan dengan mengembangkan sektor industrinya tanpa perlu melakukan revolusi (hal ini secara implisit diikuti oleh Orde Baru) dan bergabung dalam pasar bebas.

Meskipun pembangunan dewasa ini (dengan berbagai konsepnya) dilakukan secara terencana, akan tetapi ada dampak buruk dari pembangunan yang condong kepada kapitalisme, seperti: rusaknya lingkungan sekitar, meledaknya urbanisasi, banyaknya daerah-daerah kumuh di perkotaan, terjadi perampokan dimana-mana dan masih banyak hal buruk lain. Efek samping semacam ini yang tidak pernah diperhitungkan oleh para pembuat kebijakan, terkadang mereka hanya “membersihkan” efek samping ini (baca:penggusuran) demi keindahan kota.

Buku ini merupakan hasil yang komprehensif dari penulis dalam mengulas dampak buruk pembangunanisme yang terlalu dekat dengan kapitalisme. Dilengkapi dengan data-data yang menunjukkan bagaimana kapitalisme memberi pengaruh buruk terhadap pembangunan, buku ini perlu dibaca bagi para birokrat, terutama yang bekerja di Kementerian Sosial agar memahami sejauh mana kebijakan sosial mereka berhasil. Dan juga untuk semua akademisi maupun masyarakat luas yang merasa bahwa ada yang tidak beres dengan pembangunan di Indonesia.

About Author

Reza Maulana Hikam

Reza Maulana Hikam adalah seorang mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga. Pegiat literasi yang mendirikan situs web resensi Kedai Resensi Surabaya dan Penulis Lepas Opini di Geotimes.


Related Posts

Write a response to this post