Minimalisme: Kurangi Konsumsi dan Lawan Kapitalisme

Minimalisme, Kurangi Konsumsi dan Lawan Kapitalisme_AH Baskoro_Berpijar

Sebagai ideologi yang terbukti keluar menjadi pemenang tunggal dalam pertarungan ideologi dunia di masa silam, kapitalisme dikatakan banyak orang tak dapat lagi dilawan. Sejak runtuhnya Uni Soviet pada 25 Desember 1991, kapitalisme digadang-gadang tak akan pernah terkalahkan lagi.

Paham Komunisme adalah masa lalu, begitu pun negara dengan basis ideologi ini. Tidak ada satupun negara di dunia yang secara murni menerapkan komunisme, seperti pra keruntuhan Uni Soviet. Dengan berakhirnya Uni Soviet, artinya negara-negara komunis telah kehilangan sekutu komunis terbesarnya.

Secara global, nampak jelas bahwa kapitalisme tidak lagi dapat dilawan. Namun, dalam tingkat individu, apakah hal ini berlaku sama?

Banyak orang telah berpendapat bahwa tak ada satu individu sekalipun di pergaulan umum yang tidak terpapar kapitalisme. Semua barang dan bahkan pola pikir kita adalah pola pikir kapitalisme. Kapitalisme telah jadi tuntunan hidup dan sumber “kebahagiaan”.

Bayangkan saja, berkat kapitalisme, kita bisa menikmati bahagianya memiliki Iphone keluaran terbaru dan burger Mc.Donalds. Tak lupa, baju keluaran Zara dan sejumlah merk fashion ternama turut menyertai “kebahagiaan” kapitalisme. Bagi yang tak dapat mengakses kebahagiaan ini, tentu kita dengan mudah mengatakan “salah sendiri,” karena tak mampu bersaing di dunia kapitalistik ini.

Kebahagiaan ala kapitalisme disokong oleh sebuah prinsip sederhana namun berbahaya: Konsumerisme. Konsumerisme mengkhayalkan kebahagiaan hanya dapat diperoleh melalui konsumsi. Semakin banyak konsumsi berarti semakin banyak kebahagiaan. Pola pikir ini tentu menyokong tegaknya kapitalisme. Kapitalisme yang berbicara tentang akumulasi modal dan konsumerisme yang mendorong konsumsi tanpa batas adalah pasangan intim paling intim.

Celakanya, kapitalisme adalah ideologi yang sungguh cair dan dapat menyusup ke ideologi atau falsafah hidup manapun. Mulai dari Islam, komunisme, bahkan anarkisme.

Siapa yang mengira bahwa tren “berhijab” dan “hijrah” Islam yang tren saat ini, ternyata berdampak pada transaksi ekonomi yang luar biasa besar? Atribut keislaman (hijab, gamis, baju taqwa, dll) dijual dengan harga yang begitu mahal, umroh dengan sistem dana talangan (bahasa kasarnya: ngutang), bahkan seminar poligami dari praktisi poligami yang bertarif ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Konyolnya lagi, komunisme dan anarkisme yang jadi musuh kapitalisme pun tak luput dari komodifikasi yang menyedihkan ini. Topi khas milik Mao atau Lenin dijual dengan harga ratusan ribu rupiah, kaos dengan logo bintang yang tak kalah mahal, dan lain-lain. Selain itu, Anarkisme juga bernasib sama. Baju bergambar lambang (A) Anarki, sepatu dan atribut khas punk yang dulu menjadi ikon antikemapanan dan antikapitalisme, kini dijual dengan harga selangit.

Adakah kemungkinan kapitalisme dapat dilawan? Secara global, rasanya hampir mustahil. Tapi secara individu, di tingkat paling awal dan krusial, yaitu diri kita sendiri, rasanya tidak mustahil.

Ada sebuah gaya hidup yang dinamakan sebagai Minimalisme. Minimalisme bukan sebuah ideologi, tapi lebih condong sebagai jalan hidup/way of life. Gaya hidup ini berpandangan bahwa kepemilikan barang secara berlebihan adalah sumber ketidakbahagiaan. Maka, orang-orang minimalis berupaya untuk mengurangi konsumsi dan berupaya untuk melakukan evaluasi kembali tentang barang-barang yang dimiliki dan yang akan dibelinya.

Tidak ada pemikir atau teoretikus yang dapat disebut dari gaya hidup ini. Namun, praktisi atau pengamal gaya hidup ini banyak dan tersebar di berbagai belahan dunia. Rata-rata mereka adalah mantan orang yang pernah hidup konsumtif dan merasa lebih bahagia setelah menjadi seorang minimalis.

Pada Juni 2016, Reuters membuat laporan tentang Fumio Sasaki di Jepang. Ia seorang editor berusia 36 tahun yang hanya memiliki tiga kemeja, empat celana, empat pasang kaus kaki, dan apartemen yang hampir kosong tanpa isi. Ia adalah seorang minimalis. Sebelumnya, Sasaki adalah kolektor CD, DVD, dan buku yang rakus. Selama bertahun-tahun, gaya hidup ini membuatnya merasa muak dan kemudian berpikir bahwa hidup tidak hanya perkara konsumsi belaka.

Selain Jepang, Amerika juga memiliki beberapa penganut minimalisme. Matt D’Avella, sinematografer yang sekaligus seorang minimalis membuat film dokumenter berjudul “Minimalism: A Documentary About The Important Things”. Film ini menunjukkan fenomena minimalisme yang menyebar di Amerika.

Film ini menunjukkan sebuah kemungkinan untuk hidup cukup, tidak konsumtif, tidak banyak kepemilikan atas barang, mengurangi makan yang tidak dibutuhkan, dan redefinisi terhadap uang. Film ini berargumen bahwa minimalisme lebih membuat hidup jadi bahagia daripada komsumerisme ala kapitalisme.

Minimalisme tidak menyediakan sebuah panduan teknis tentang bagaimana hidup harus dijalankan. Minimalisme bukan sebuah doktrin tertutup yang mengatur dan mengekang. Minimalisme hanya memberi sebuah pedoman umum bahwa konsumsi bukanlah sumber kebahagaiaan utama dan bahkan dalam tahap tertentu adalah sumber kesengsaraan. Ekspresi dari minimalisme bisa berbeda pada masing-masing orang. Namun, semuanya mengarah pada pengurangan konsumsi dan hanya mengonsumsi sesuatu yang dibutuhkan saja.

Minimalisme berpandangan bahwa konsumsi harus dijalankan secara bertanggungjawab berdasarkan kebutuhan. Membeli barang yang tidak dibutuhkan adalah sumber kekacauan. Minimalisme memungkinkan penganutnya menyimpan lebih banyak uang karena pengurangan konsumsi tersebut. Seorang minimalis akan melakukan evaluasi dan menetapkan prioritas pada hidupnya.

Pemikiran minimalisme tentu tak dapat dilepaskan dari kapitalisme yang semakin hari makin berbahaya. Kapitalisme mendorong orang untuk berperilaku konsumtif dengan membeli barang karena keinginan. Kapitalisme menjadi agen utama untuk mendorong kondisi ini. Betapa tidak? Konsumerisme adalah roh dari kapitalisme. Tanpa masyarakat konsumtif, perputaran ekonomi akan lesu dan akumulasi modal sebesar-besarnya tidak dapat terjadi.

Iklan adalah salah satu instrumen kapitalisme paling berbahaya. Patrick Rhone, penulis buku “Enough”, menjelaskan bahwa keinginan manusia untuk memiliki benda-benda adalah hasil konstruksi yang ditanamkan melalui iklan. Iklan bekerja dengan sangat halus namun terukur. Iklan yang ada dimana-mana dan berulang-ulang membuat manusia mengonsumsi sesuatu yang tidak dibutuhkan.

Manusia mengonsumsi baju bukan lagi sebagai kebutuhan melindungi diri dari panas dan dingin serta menjaga diri, namun lebih kepada prestise dan status sosial. Manusia mengonsumsi makanan bukan lagi untuk upaya mempertahankan hidup, namun sebagai prestise dan status sosial. Begitupun komoditas-komoditas lain.

Sam Haris, seorang pakar Neurosains, menemukan bahwa manusia modern dibuat terobsesi dengan sebuah produk. Ketika sudah memiliki suatu benda, manusia terobsesi untuk selalu memiliki versi terbaru dari benda ini. Dampaknya, tidak ada lagi penghargaan atas apa yang sudah dimiliki.

Siapa yang diuntungkan? Tentu saja pemilik modal yang akan terus mendapatkan keuntungan dari konsumsi berlebihan itu.

Dengan kita membatasi diri pada konsumsi, maka kapitalisme dapat dilawan. Tentu, gerakan ini perlu dimulai bersama-sama dan bertahap. Satu orang minimalis mungkin tidak akan berguna, tapi jutaan minimalis akan berdampak pada kapitalisme. Orang jadi tidak ingin membeli gadget baru sebelum gadget lamanya rusak, orang jadi tidak ingin makan di restoran mahal hanya untuk gengsi, orang jadi malas membeli pakaian mahal hanya karena merk, dan lain-lain.

Di dunia yang serba kapitalistik ini, rasanya minimalisme adalah sebuah perlawanan paling rasional saat ini. Tidak menghilangkan konsumsi, tapi mengurangi konsumsi dan menetapkan prioritas dan kebutuhan atas konsumsi yang dilakukan.

About Author

Agung Hari Baskoro

Agung Hari Baskoro adalah alumni Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Airlangga. Ia juga seorang pegiat sastra dan sinema. Redaktur Sosial-Budaya Berpijar.co dan Koordinator Inti Klub Seri Buku. Kini berprofesi sebagai wartawan di Suara Surabaya.


Related Posts

Write a response to this post