Di balik Pilihan Joko dan Bowo untuk Cawapres 2019

Dibalik Pilihan Joko dan Bowo untuk Cawapres 2019_AG Zaki_Berpijar
Dibalik Pilihan Joko dan Bowo untuk Cawapres 2019_AG Zaki_Berpijar
Jokowi dan Prabowo (Foto: Merdeka.com)
Jika benar-benar ingin mewujudkan #2019GantiPresiden, adalah rasional jika mengandalkan cawapres dari partai yang lebih besar perolehan suara nasionalnya.

Baik Joko Widodo (Jokowi) maupun Prabowo telah resmi menyatakan akan maju untuk menjadi calon presiden (capres) di pemilihan presiden (Pilpres) 2019.  Sepertinya sudah bisa ditebak bahwa dua orang tersebut akan kembali bertarung setelah pertarungan di 2014 dimenangkan oleh kubu Jokowi. Oleh karena itu, adakah sosok dengan elektabilitas yang tinggi setelah Jokowi selain Prabowo?

Pertayaan terbesar mengenai keduanya  kemudian adalah siapa yang akan mendampingi kedua capres itu? Sekarang kita semua tentu sudah tahu karena telah diresmikan beberapa hari yang lalu, tepatnya di hari Kamis (9/8). Akan tetapi, sebelum hari peresmian ada sebuah pernyataan dari salah satu capres yang cukup menarik. Ia menagatakan bahwa calon wakil presiden pilihannya berinisial “M”. Teka-teki cawapres itu kemudian mejadi dagangan laris media massa. Berbagai macam spekulasi dimunculkan dan menjadi perdebatan. Saya kira, capres tersebut telah berhasil membuat “sensasi” yang menguntungkan industri media.

Capres berikutnya juga sempat menimbulkan sensasi. Ia kerap kali bertemu dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mulai merapat ke kubu oposisi. Pertemuan tersebut spontan memunculkan spekulasi bahwa SBY sedang merencanakan agar anaknya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dapat menjadi salah satu kandidat cawapres Probowo. Setelah SBY, hadirlah sebuah forum yang mengatasnamakan dirinya sebagai “Ijtima’ Ulama”. Forum dengan imam besar Habib Rizieq ini memutuskan dua nama cawapres Prabowo yaitu Ketua Majelis Syuro dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Salim Segaf Al-Jufri (SSA) dan Ustaz Abdul Somad (UAS).

Momen yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba: kedua capres mengumumkan cawapres mereka. Jokowi menggandeng Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) sekaligus Rois Aam Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin sedangkan Prabowo menggandeng Sandiaga Uno yang telah mengundurkan dirinya sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Jokowi telah memilih pasangan dari kalangan agamis, hal itu tidak bisa dipungkiri. Akan tetapi, untuk membatasinya dengan hanya agamis saja juga kurang tepat. Ma’ruf Amin ternyata pernah menjabat sebagai DPRD DKI Jakarta utusan golongan pada tahun 1971-1973 dan menjadi anggota DPR RI di tahun 1973-1977. Dua jabatan legislatif tersebut hanyalah awal dari beberapa jabatan politis lainnya yang datang menyusul. Tidak seperti AHY, Ma’ruf Amin aman dari serangan isu “kurang pengalaman” berada di jabatan publik.

Selain pengalaman dalam bidang politik, Ma’ruf Amin juga merupakan ulama ormas Nahdlatul Ulama yang memiliki massa terbesar di Indonesia. Oleh karena itu, cawapres Jokowi ini juga merupakan “magnet suara” untuk bekalnya di pilpres nanti.

Kemudian adalah Sandi cawapres pilihan Prabowo yang juga mewakili kubu oposisi. Kita mengetahui bahwa Partai Gerindra telah mesra dengan PKS sejak koalisi mereka dalam pilpres 2014 dan pilkada DKI Jakarta 2017. Mungkin ada yang penasaran kenapa koalisi tersebut tidak memilih kader PKS sebagai cawapres Prabowo dan PKS sama sekali tidak protes bahkan mendukung penuh pasangan Prabowo-Sandi? Padahal ada momentum hasil Ijtima’ Ulama yang memutuskan salah satu kader PKS (SSA) sebagai cawapres Prabowo.

Perlu diketahui bahwa PKS sadar akan elektabilitas dirinya dalam skala nasional. Jika PKS memiliki suara yang banyak di Jawa Barat, maka tidak demikian di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan di beberapa daerah lainya karena kita sedang membicarakan pemilihan presiden bukan pilkada. Jika kita melihat dari perolehan suara nasional hasil pemilu 2014, posisi tertinggi diraih oleh partai Bu Megawati (PDIP) dengan persentase 18,95% dari suara nasional, disusul oleh Golkar (14,75%) di urutan kedua kemudian oleh Gerindra (11,81%) di posisi ketiga. PKS menduduki posisi ketujuh dengan persentase 6,79% dari suara nasional.

Jika benar-benar ingin mewujudkan #2019GantiPresiden, adalah rasional jika mengandalkan cawapres dari partai yang lebih besar perolehan suara nasionalnya.

Sandi dikenal sebagai sosok pengusaha muda dengan pengalaman bisnisnya yang gemilang. Bisa dibilang, sebelum menjabat sebagai wakil gubernur DKI, kehidupan Sandi tidak lepas dari dunia bisnis. Pada tahun 1998, Sandi bersama rekannya Edwin Soerjadjaja mendirikan perusahaan investasi bernama PT Saratoga Ivestama Sedaya. Singkatnya, perusahaan ini sukses dengan usahanya sampai pada tahun 2009 terdapat 12 perusahaan yang telah diambil alih oleh PT Saratoga. Selain itu, Globe Asia juga pernah menobatkan Sandi sebagai orang terkaya ke-63 di Indonesia serta mendapatkan penghargaan Entrepreneur of The Year oleh Enterprise Asia di tahun 2008.

Seperti halnya pengalaman Ma’ruf Amin dalam bidang politik, pengalaman dan kesuksesan Sandi dalam dunia bisnis terus ia peroleh sampai ia memutuskan untuk fokus pada dunia politik bersama dengan Partai Gerindra.

Akan tetapi, Sandi bukanlah satu-satunya cawapres yang memiliki pengalaman dalam bidang ekonomi. Ma’ruf Amin ternyata memiliki kepahaman dalam urusan ekonomi syariah. Erdianto (2018) menyebutkan bahwa di tahun 1996, Ma’ruf pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Syariah Nasional kemudian menjadi anggota Komite Ahli Pengembangan Bank Syariah Bank Indonesia di tahun 1999.

 Perbedaan mereka berdua, jika dinilai rekam jejaknya, adalah pada aspek pengalaman. Ma’ruf Amin lihai dalam urusan teori ekonomi syariah sedangkan Sandi berbekal pengalaman ekonomi praktis yang cukup luas. Ma’ruf Amin telah lama berkecimpung dalam dunia politik dengan sederet jabatan publiknya sedangkan Sandi memasuki dunia politik dengan jabatan sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra di tahun 2015 sampai akhirnya menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2017.

Baik pemahaman dan pengalaman dalam bidang politik maupun ekonomi diperlukan agar dapat menjadi cawapres yang kompeten dan keduanya (Ma’ruf dan Sandi) setidaknya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Jokowi-Ma’ruf dengan leluasa dapat menggunakan isu-isu Islam sedangkan Prabowo-Sandi sebaliknya. Pada pilpres dan pilkada yang sudah lalu, isu tersebut yang kerap dimainkan oleh koalisi oposisi. Akan tetapi isu tersebut tidak akan dapat “terjual” karena Jokowi memiliki Ma’ruf Amin. Sekarang, tinggal mencari isu apa yang sesuai dengan pasangan “PS” (Prabowo-Sandi) ini sehingga dapat laku di masyarakat?

TENTANG PENULIS

A Ghulam Zaki adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi di FISIP, Universitas Airlangga.

BACA JUGA

About Author

A. Ghulam Zaki

A. Ghulam Zaki adalah seorang mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga.


Related Posts

Write a response to this post