Memahami Realisme Politik dalam Narasi Apokaliptik Kontemporer (Bagian 1)

Kampanye militer yang dipimpin Amerika Serikat di Afganistan awalnya disebut Operation Ultimate Justice sebelum diganti menjadi Operation Enduring Freedom.

George W. Bush
Political Realism in Apocalyptic Time
Gambar: alisonmcqueen.info

Spesifikasi Buku

Judul Buku

Political Realism in Apocalyptic Times

Penulis

Alison McQueen

Penerbit

Cambridge University Press

Tebal Buku

xiii + 235 halaman

Tahun Terbit

2018

Jenis Buku

Textbooks

Sejak film 2012 dirilis dan meraup pendapatan Box Office 769.7 juta dolar Amerika Serikat, dunia tidak jadi mengalami bencana hebat. Terlepas dari kalkulasi cermat suku Maya, secara umum, dunia masih baik-baik saja. Sebelumnya di tahun 2008, Harold Camping, seorang penginjil radio di Amerika Serikat, mengumumkan prediksinya tentang akhir dunia yang jatuh pada tanggal 21 Mei 2011. Tak hanya disiarkan lewat radio, ia dan pengikutnya memasang banyak papan iklan untuk memperingatkan orang-orang tentang akhir dunia.

Prediksi Harold Camping atas hari kiamat didasarkan pada interpretasinya terhadap kisah di kitab Wahyu. Bagian terakhir dari Injil Kristen tersebut mengisahkan dunia yang korup dan kejam. Dunia yang diperintah oleh kekuasaan, keserakahan, dan kebohongan. Dunia di mana kebaikan moral dan ketaatan agama diejek dan dihukum. Namun akhir dunia sudah dekat.

Sebuah perubahan yang mengerikan sekaligus agung diramalkan dalam Wahyu. Empat penunggang kuda akan membawa perang, penaklukan, kelaparan, dan kematian. Semua kota-kota besar akan hancur akibat gempa bumi yang hebat. Bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan bumi mengalirkan sungai-sungai darah. Pada akhir pembantaian ilahi ini, Kristus akan menghadiahkan hidup abadi bagi yang terpilih dan siksaan abadi kepada yang terkutuk.

Gambaran-gambaran halusinogenik itu telah melungsur selama berabad-abad ke era sekuler kita. Ketika kita berbicara tentang kiamat/penyingkapan hari akhir, kita mendeskripsikan bencana alam yang dibuat manusia dan bukan ilahi. Mulai dari perang nuklir hingga pemanasan global. Ide-ide kuno maupun kontemporer tentang kiamat umumnya sama-sama menjelaskan kondisi ini: kiamat adalah berakhirnya dunia kita melalui bencana alam yang amat dahsyat, menyuguhkan perubahan radikal dan mendatangkan masa depan yang sangat baru.

Kiamat menempatkan kita pada waktu yang singkat, di tepi perubahan besar. Tidak akan ada yang sama lagi.

Kelompok atau sekte-sekte religi yang meyakini bahwa kiamat sudah dekat, bahkan menyampaikan prediksi tanggal terjadinya kiamat secara terang-terangan, tidak muncul baru-baru saja. Di tahun 1978, lebih dari 900 orang yang tergabung dalam Peoples Temple di Jonestown, Guyana meninggal dunia setelah meminum campuran Flavor-Aid (minuman serbuk berbagai rasa) dan sianida. Aksi bunuh diri massal ini didorong pandangan apokaliptik Jim Jones, pemimpin kharismatik Peoples Temple. Anggota kultus yang selamat dari tragedi ini cenderung menyebutnya sebagai pembunuhan massal.

Tragedi berbeda yang didorong oleh motif serupa juga terjadi di Jepang tahun 1995 oleh Aum Shinrikyo. Mereka melepaskan gas sarin di kereta api bawah tanah Tokyo, mengakibatkan 13 orang terbunuh dan beberapa lainnya luka-luka. Aum Shinrikyo adalah kelompok yang menggabungkan elemen religius dalam yoga, agama Budha, dan pandangan apokalitik Kristen. Aum Shinrikyo meyakini bahwa kiamat sudah dekat dan mereka yang berada di luar kultus akan masuk neraka—kecuali jika mereka dibunuh oleh anggota kultus.

Contoh lainnya adalah tragedi bunuh diri massal Heaven’s Gate di tahun 1997, kultus ini menggabungkan kepercayaan apokaliptik dalam Kristen dengan unsur-unsur UFO ala science fiction di Star Wars. Pemimpin kultus ini meyakinkan 38 pengikutnya bahwa terdapat UFO yang terbang dibalik komet Hale-Bopp—yang pada tahun tersebut melintasi Bumi. Ia meyakini bahwa setelah kematiannya beserta 38 pengikutnya, sebuah UFO akan mengambil jiwa mereka ke suatu “tingkat kehidupan di atas manusia.”

Bagi kita, pandangan-pandangan demikian terdengar konyol dan tidak masuk akal. Dalam pandangan umum, mereka yang mempercayai pandangan apokaliptik ini adalah sekelompok orang-orang yang rapuh. Di bawah arahan pemimpin kharismatik, mereka sedang bersembunyi di dalam bunker. Menunggu akhir dunia terjadi. Mereka seolah adalah kelompok-kelompok kecil yang eksklusif dan termarjinalkan.

Namun, sepanjang pembahasan Alison McQueen dalam buku ini, kita akan dihadapkan pada ulasan-ulasan yang lebih luas daripada sekadar membayangkan kelompok tersebut sebagai kelompok marjinal. Keyakinan apokaliptik juga dianut oleh orang-orang yang berada di level tertinggi kekuasaan politik.

Ambil contoh George Walker Bush. Dalam pidato pengukuhan periode kedua kepemimpinannya, dimana Bush banyak menggarisbawahi “freedom” dan “liberty” (kebebasan dalam konteks berbeda). Ia merujuk “tahun-tahun yang relatif tenang, tahun-tahun beristirahat, tahun-tahun cuti panjang” setelah kejatuhan komunisme, tiba-tiba terasa berbeda. Kekuatan gelap telah bekerja dalam masa-masa tenang itu. Kini kita terbangun di dunia yang berbeda. Serangan terorisme telah mengakhiri dunia yang selama ini kita kenal.

Seperti halnya Harold Camping, Bush yakin tentang arah sejarah. Camping berharap peradilan Tuhan akan memutari dunia dan membinasakan orang-orang terkutuk yang berharap bisa bersembunyi dari-Nya. Bagi Bush, “api kebebasan yang liar” akan menyebar ke “sudut-sudut tergelap dunia.” Api tersebut akan membakar “mereka yang melawan kiprahnya.” Serangan 9/11 adalah “day of fire.”

Kampanye militer yang dipimpin Amerika Serikat di Afganistan awalnya disebut Operation Ultimate Justice sebelum diganti menjadi Operation Enduring Freedom. Warga Amerika diberitahu bahwa kampanye tersebut akan mencari para teroris dimanapun mereka bersembunyi. Dimana mereka awalnya “menggali liang lebih dalam ke gua dan tempat persembunyian lainnya,” para prajurit Amerika akan segera “mengeluarkan mereka dan membawa mereka ke pengadilan.”

Bagi non-Kristen, gambaran tersebut tampaknya tidak punya makna apa-apa selain ungkapan ambisius nan berlebihan dari Bush.  Namun, bagi banyak orang Kristen, pernyataan Bush bisa jadi telah membangkitkan Wahyu. Dimana para pendosa “bersembunyi ke dalam gua-gua dan celah-celah batu karang di gunung. Dan mereka berkata kepada gunung-gunung dan kepada batu-batu karang itu: ‘Runtuhlah menimpa kami dan sembunyikanlah kami terhadap Dia, yang duduk di atas takhta dan terhadap murka Anak Domba itu.’ Sebab sudah tiba hari besar murka mereka dan siapakah yang dapat bertahan?” [Why. 6: 15-17]

Bush bukan satu-satunya presiden AS yang meletakkan peristiwa zaman sekarang ke dalam narasi apokaliptik. Bahkan sebelum menjabat, Abraham Lincoln menggambarkan kondisi perang saudara dalam istilah apokaliptik secara terang-terangan. Menarik dari perumpaan cawan murka Allah pada Wahyu Pasal 16, dia menyatakan bahwa baginya perang saudara ini terlihat, “seolah-olah Tuhan telah menanggung hal ini (perbudakan), sampai para ahli agama datang untuk mempertahankannya dari Alkitab demi mengklaimnya sebagai karakter dan sanksi ilahi; dan sekarang cawan kedurhakaan sudah penuh, dan cawan-cawan murka akan dicurahkan.”

Di tengah lautan api dan ancaman yang selalu menjulang dari pemusnahan nuklir, Ronald Reagan turut tertarik ke dalam pandangan serupa tentang pertarungan terakhir. Ia mengungkapkan kepada rekan politiknya bahwa kudeta yang baru terjadi di Libya merupakan “sebuah tanda bahwa hari Armageddon sudah dekat.” Reagan meremehkan keyakinan ini ketika dia menjadi presiden. Tapi Menteri Pertahanannya, Caspar Weinberger, justru lebih blak-blakan: “Saya telah membaca Wahyu, dan, ya, saya percaya dunia akan segera berakhir—atas tangan ilahi, saya harap—tapi setiap hari saya memikirkan bahwa waktunya hampir habis.”

Oleh karena itu, retorika politik Bush sama sekali tidak unik secara politik.

Ada lagi retorika apokaliptik yang lebih sekuler, yakni dari Donald Trump dalam kampanye presiden di tahun 2016. “Negara kita akan jatuh ke neraka.” Peringatan itu merujuk pada klaimnya tentang kejatuhan ekonomi AS, disintegrasi infrastruktur vital, dan pemusnahan di tangan ‘teroris Islam radikal.’ “Jika kita tidak bertindak cerdas dan cepat, kita tidak akan punya negara lagi.” Dari sini kita bisa mengakui bahwa narasi apokaliptik tidak harus selalu religius.

Bagi yang sering bersentuhan dengan kampanye penyelamatan lingkungan, tentu tak asing dengan Al Gore, mantan wakil presiden AS ke-45. Al Gore, turut menggunakan perumpamaan dalam injil untuk mendeskripsikan hari pembalasan sekuler. Film dokumenter arahannya, An Inconvenient Truth, turut memuat pesan-pesan apokaliptik melalui gambar-gambar yang menunjukkan kerusakan lingkungan. Ia menyimpulkan dalam bukunya, Our Choice, dalam catatan serupa, dibingkai dalam sebuah puisi. Mengkombinasikan rujukan dari lelehnya permukaan es, pengasaman laut, dan kepunahan spesies dengan salah satu gambaran mengerikan dari kiamat dalam injil: “Para penunggang kuda menyiapkan sanggurdi mereka.”

"Kampanye militer yang dipimpin Amerika Serikat di Afganistan awalnya disebut Operation Ultimate Justice sebelum diganti menjadi Operation Enduring Freedom."

TENTANG PENULIS

A Faricha Mantika adalah mahasiswa S1 Ilmu Politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga

BACA JUGA

Write a response to this post