Menelaah Pemikiran Montesquieu

Montesquieu sangatlah terkesima dengan model politik demokrasi.

Spirit of the Laws
Gambar: Bukalapak

Spesifikasi Buku

Judul Buku

Spirit of the Laws

Penulis

Montesquieu

Penerbit

Nusamedia

Tebal Buku

464 halaman

Tahun Terbit

2015

Jenis Buku

Buku daras

Apabila seseorang belajar dalam rumpun disiplin ilmu sosial, politik, dan hukum, rasanya tak elok jika tidak membaca Montesquieu. Beliau adalah filsuf Perancis yang mendalami perkara hukum dan politik pada abad pencerahan. Nama aslinya adalah Charles-Louis de Secondat. Buku ini merupakan mahakarya yang sering dikutip dan menjadi landasan argumen para ilmuan hukum maupun sosial-politik. Seperti apa isinya? Mari simak ulasannya sebagai berikut.

Pada bagian awal, Montesquieu menjelaskan makna dari hukum merupakan hubungan pasti yang berasal dari sifat dasar segala sesuatu. Ada hubungan diantara keberadaan satu wujud (benda, hidup maupun mati) dengan wujud lainnya, hubungan inilah yang dimaksudkan dengan hukum. Maka dari itu, agar sesuatu bisa dianggap sebagai hukum, maka harus ada “hubungan” diantaranya.

Pergerakan bumi dan jagat raya yang mengitari juga tidak terlepas dari sebuah hukum yang kita sebut sebagai hukum fisika, hubungan ini mengatur berjalannya sesuatu di alam semesta ini. Menurut Montesquieu, sebuah dunia harus memiliki hukum/aturan yang tetap, apabila hal itu tidak ada, maka akan lenyaplah dunia tersebut, karena tidak ada sesuatu yang mengatur dan menghubungkan satu wujud dengan wujud lainnya.

Ada dua jenis hukum: hukum alam dan hukum positif. Dalam kehidupan bermasyarakat, maka digunakan hukum positik untuk jenis pemerintahan (manusia) yang berbeda-beda. Tiga jenis pemerintahan yang diulas oleh Montesquieu adalah Republik, dimana ada suatu badan yang mewakili rakyatnya dan badan ini menjadi kekuasaan tertinggi; Monarki, dimana raja menjadi sumber segala hukum yang ada di negara yang raja tersebut pimpin, ia menjadi kekuatan politik maupun kekuatan sipil; yang terakhir adalah Despotik yang merupakan jenis kekuasaan yang akan membuahkan kediktatoran dan fasisme, seseorang merasa paling kuat dan menekankan bahwa dirinya adalah penguasa absolut.

Apa perbedaan monarki dan despotik? Ada dimensi moral yang berbeda yang harus ditekankan pada pandangan kita terhadap dua kekuasaan yang terlihat sama tapi berbeda ini. Monarki memang menjadikan raja sebagai penguasa, namun ada kekuatan pengimbang lainnya (parlemen), monarki macam ini ialah monarki konstitusional yang diikuti oleh banyak negara sekarang. Sedangkan despotik justru lebih keras dan brutal ketimbang monarki, karena penguasanya adalah penguasa tunggal dominan. Tidak ada kekuatan pengimbang dalam kekuasaan despotik.

Pelaksanaannya pun ada prinsip-prinsip dalam jenis pemerintahan tersebut, bicara mengenai republik, maka demokrasi menjadi prinsip yang melandasinya. Prinsip demokrasi tunduk kepada hukum-hukum yang telah dibuat dan ditegakkan di suatu wilayah, contoh republik demokrasi adalah Athena dan Romawi Kuno (saat masih berbentuk republik).

Dalam pemerintahan bercorak monarki, menurut Montesquieu, harus ada masyarakat yang ber-hirarki, haru ada raja dan ratu beserta bangsawan, ada tingkatan yang cukup banyak dalam masyarakatnya. Perbedaan republik dan monarki ada pada ambisi, dimana menurut monarki, ambisi adalah hal yang baik, sedangkan dalam republik merupakan hal yang buruk, maka dari itu tidak jarang ada pertarungan politik diantara para bangsawan dalam memperebutkan tahta.

Kehormatan merupakan unsur utama yang ada dalam monarki, namun Montesquieu menganggapnya sebagai kehormatan palsu yang selalu ingin menguasai manusia lain. Kehormatan dalam monarki hanyalah ambisi yang dibalut dengan kebaikan agar para bangsawan berebut mendapatkannya. Adapun perpindahan kelas dalam monarki cukup rendah, sehingga tak jarang kesenjangan sosial terjadi (sebelum keberadaan monarki konstitusional).

Adapun dalam pemerintahan despotik, sumber utamanya adalah ketakutan. Pada pemerintahan ini, kebajikan, kehormatan dan ambisi harus dihabisi sepenuhnya, sehingga pemimpin bisa berkuasa sesukanya tanpa ada gangguan karena ambisi bawahannya untuk mengambil kekuasaan. Pemerintahan despotik mensyaratkan kepatuhan terhadap sang pemimpin. Montesquieu melihat pemerintahan despotik sebagai politik yang pasif, keinginan pemimpin adalah permasalahan utama negara.

Diksi kata yang digunakan Montesquieu dalam menggambarkan pemerintahan despotik pun cukup kasar. Dia menganggap masyarakat yang mengikuti pemerintahan bercorak despotik ialah seperti binatang, semua dikembalikan kepada nasib dan penduduknya cenderung pasrah kepada keinginan pemimpinnya. Pemimpin merupakan sumber hukum mutlak dalam pemerintahan despotik, menentang pemimpin berarti menentang hukum, alam semesta dan seisinya.

Montesquieu sangatlah terkesima dengan model politik demokrasi. Banyak penggunaan kata seperti indah, cinta, kesetaraan dan kesederhanaan digunakan oleh beliau dalam mengilustrasikan demokrasi. Contoh pelaksanaan prinsip demokrasi yang ada dalam buku ini ialah pembagian tanah yang adil dalam Republik Romawi Kuno. Dalam menyelesaikan masalah sengketa tanah, maka dibentuklah senat sebagai perwakilan rakyat Romawi. Mereka dipilih dari kelompok yang sudah uzur namun memiliki kebajikan dan kebijaksanaan yang memadai.

Keberadaan senat inilah yang menjadi pengimbang kekuasaan dari seorang kaisar atau raja di Romawi Kuno sebagai sebuah Republik. Senat membawa kepentingan dan kebutuhan dan juga dianggap sebagai representasi masyarakat disamping Raja, Ratu atau Kaisar sebagai simbol Republik. Namun ada kelemahan dalam sistem demokrasi republik, dimana banyaknya kepentingan membuat jalan dari eksekutif (pelaksana kebijakan, dalam hal ini raja) sangatlah lamban, karena banyak pertimbangan yang masuk sebelum mengeksekusi sebuah kebijakan.

Sedangkan dalam monarki, jalan eksekutif relatif lebih mulus karena tidak banyak pertimbangan yang harus di dengar sang raja. Satu-satunya yang bisa menghambat laju eksekutif dalam monarki adalah hukum yang berlaku di negara tersebut. Pemerintahan monarki juga bergantung kepada peran dari penasehat Raja (yang termasuk dalam eksekutif), entah ahli nujum, filsuf ataupun pendeta.

Disisi lain, Despotik digambarkan sebagai negara yang kacau, yang menganggap masyarakatnya bodoh dan dipenuhi oleh ketakutan. Hanya ada beberapa gagasan dalam pemerintahan despotik, sehingga pembaharuan gagasan kerapkali mampat dan tidak dihiraukan oleh pemimpinnya, karena akan mencederai citra pemimpinnya yang sangat sempurna dihadapan rakyatnya. Tidak ada kekuatan pengimbang dalam kekuasaan despotik, dimana pada dunia modern, monarki dapat mengadopsi prinsip demokrasi menjadi demokrasi parlementer/monarki konstitusional.

Pergantian kekuasaan juga menjadi pokok bahasan Montesquieu. Bagi dia, harus ada landasan hukum yang jelas apabila ingin menentukan pergantuan kekuasaan yang jelas. Keseluruhan pemerintahan (Republik, Monarki, dan Despotik) apabila tidak memiliki peraturan yang jelas mengenai pergantian kekuasaan, maka tahta akan ditentukan oleh sang Raja sendiri. Penjelasan ini sedikit aneh untuk Republik, karena masa dimana Montesquieu ada dengan masa kini sangatlah berbeda, sistem demokrasi di era Montesquieu masih dipimpin oleh para Raja, namun memiliki penyeimbang yang cukup kuat bernama Legislatif.

Montesquieu juga membahas permasalahan lain dengan metode perbandingan diantara tiga jenis pemerintahan: republik, monarki dan despotik. Masalah itu ialah jabatan, tingkat kerumitan hukum, kondisi kaum perempuan, kemewahan, dan lain sebagainya. Preferensi Montesquieu sangatlah jelas disini, bahwa ia memihak demokrasi dan republik sebagai gagasan paling baik dibanding monarki dan despotik. Tidak ada perkataan “Trias Politica” secara eksplisit dalam buku ini, namun secara implisit, gagasan tersebut memang tertuang dalam The Spirit of Laws. Memang benar apabila buku ini dijuluki sebagai dasar-dasar ilmu hukum dan ilmu politik.

"Montesquieu sangatlah terkesima dengan model politik demokrasi."

TENTANG PENULIS

Reza Maulana Hikam adalah mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di FISIP, Universitas Airlangga.

BACA JUGA

Write a response to this post