The Public Administration Theory Primer
Gambar: Dok. Pribadi

Spesifikasi Buku

Judul Buku

The Public Administration Theory Primer

Penulis

H. George Frederickson dkk

Penerbit

Westview Press

Tebal Buku

308 halaman

Tahun Terbit

2012

Jenis Buku

Buku daras

Apa yang terlintas pada benak pembaca apabila mendengar kata administrasi? Pasti pekerjaan yang membosankan dan berhubungan dengan surat-menyurat. Pandangan tersebut tidak salah, jika mengartikan administrasi secara dangkal layaknya tata usaha saja. Adapun mahasiswa baru menganggap bahwa administrasi lekat dengan tabel-tabel dan tidak jarang yang mengira pelajaran administrasi sama dengan akuntansi. Pandangan ini juga tidak sepenuhnya salah.

Administrasi ada dalam sendi kehidupan sehari-hari. Kantor kecamatan di Rungkut, Surabaya jarang sekali sepi (kecuali hari libur) karena banyak orang yang butuh mengurus dokumen penting seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP). Kantor BPJS pun sama, orang rela mengantre untuk mendapatkan kartu BPJS agar dapat berobat tanpa pening memikirkan harga pengobatan. Kedua fenomena ini adalah sebagian kecil dari administrasi publik dan menandakan betapa pentingnya keadministrasian.

Akan tetapi, administrasi publik lebih dari sekadar dokumen penting yang dibuat negara. Segala macam kebijakan yang dikeluarkan negara, masuk dalam koridor administrasi publik. Kata administrasi publik mungkin saja baru menggelegar semenjak diucapkan oleh Woodrow Wilson, namun dalam pelaksanaannya, administrasi publik berumur cukup tua, bahkan hingga zaman Cina dan Armenia kuno.

Peristiwa-peristiwa bersejarah di dunia juga tidak terlepas dari keberadaan administrasi publik. Manajemen organisasi yang dilakukan dalam lingkup negara dan pemerintahnya merupakan tugas para administrator publik, sehingga administrasi publik juga masuk dalam rumpun ilmu manajemen. Reformasi Birokrasi yang sedang digalakkan di Indonesia dan munculnya berbagai macam aplikasi untuk mempermudah akses masyarakat ke dalam Birokrasi adalah ulah dari administrasi publik.

Max Weber yang selalu dipandang sebagai seorang sosiolog, juga memberikan landasan awal bagi administrasi publik, yang menurutnya memiliki beberapa fitur yang mendasar: berpedoman pada hukum, membuat dan memodifikasi hukum yang ada yang diterapkan kepada semua manusia tanpa pandang bulu, menekankan kepada kompetensi, pengorganisasian manusia ke dalam sebuah kelompok atau kategori yang bergantung pada kemampuan, koordinasi dilakukan oleh hierarki, keberlanjutannya didasarkan pada hukum dan catatan-catatan terdahulu, perkembangannya juga bergantung pada teknologi yang menunjang pekerjaan orang di dalamnya.

Seperti argumen sebelumnya, praktek administrasi publik memang tua, namun secara rumpun keilmuan termasuk muda. Bagi para mahasiswa baru akan diajarkan lima tahapan pembentukan ilmu administrasi publik oleh Nicholas Henry. Para pakarnya pun tergolong muda, tidak seperti Ilmu Politik yang sudah ada semenjak Yunani Kuno. Beberapa pemikir awalnya adalah Herbert Simon dan Dwight Waldo. Dalam kategori yang lebih modern ada H. George Frederickson, Eran Vigoda, Gerald E. Caiden, David Osborne. Nama-nama ini yang akan dipelajari dalam perkuliahan administrasi negara/publik di Indonesia.

Buku ini merupakan pengantar teori-teori arus utama dalam administrasi publik, seperti teori kontrol birokrasi. Dalam teori ini, birokrasi yang nota bene erat dengan administrasi publik akan bekerja untuk siapa? Pembuat undang-undang? Penegak hukum? Atau para politisi yang dipilih? Para pemikir dari arus ini sepakat dengan dikotomi politik dan administrasi. Dikotomi ini tidak terlepas dari perdebatan Alexander Hamilton dan Thomas Jefferson mengenai siapa yang harus berkuasa atas birokrasi? Adanya eksekutif dan legislatif berdampak besar terhadap teori ini.

Adapun perbedaan antara politik dan administrasi ialah politik menekankan hasil sedangkan administrasi menekankan kepada proses dan tata cara. Ada berbagai diagram yang menjelaskan respon birokrasi terhadap kontrol politik yang ada di dalamnya bergantung pula kepada orang macam apa yang ada di dalamnya. Namun dalam menjalankan fungsi administratif yang efektif dan efisien, tetap memasukkan unsur manajerial di dalam birokrasi.

Manajerial perkotaan merupakan contoh konkrit keberadaan administrasi dan politik dalam satu wilayah. Salah satu bagan menjelaskan bahwa aktivitas politik di perkotaan berjalan layaknya game, sedangkan administrasi adalah seni untuk menyelesaikan masalah (problem solving).  Aktor yang ada di dalam politik merupakan representasi dari kepentingan sebuah kelompok masyarakat, sedangkan administrasi menekankan bahwa aktor mereka adalah para pakar.

Adapun perbedaan administrasi dan politik terletak pada hal yang paling penting bagi para aktornya: politik adalah kekuasaan, sedangkan administrasi membutuhkan ilmu pengetahuan.  Permasalahan yang paling terlihat adalah dinamika dalam politik terbentuk oleh konflik dan kepentingan, namun administrasi dibangun atas dasar koordinasi dan keberlanjutan (terutama birokrasi). Ada perbedaan nilai dari administrator/birokrat dengan para pemangku kepentingan (legislatif).

Teori lain yang dibahas dalam buku ini ialah teori institusi publik/ lembaga publik. Teori ini mempelajari mengenai organisasi yang mengurus permasalahan publik. Dalam pembahasannya memuat dua komponen utama: pembahasan mengenai organisasi publik berhubungan dengan teori kelembagaan, sedangkan hubungan antar lembaga masuk dalam koridor teori jejaring (seperti mata kuliah Hubungan Kerja sama Antar Pemerintah dan Manajemen Jejaring).

Teori Kelembagaan atau biasanya disebut institusionalisme merupakan teori yang melihat organisasi sebagai konstruksi sosial atas norma, nilai dan hukum yang berlaku di suatu wilayah untuk mengatur pilihan dan perilaku individu yang hidup dalam wilayah tersebut. Para penulis mengutip March dan Olsen bahwa institusi adalah sebuah paradigma, budaya dan pengetahuan yang mendukung peraturan dan rutinitas. Institusionalisme melihat bagaimana lembaga berlaku dan berjalan.

Institusionalisme beranggapan bahwa kebijakan yang keluar dari sebuah institusi dibentuk dari kepentingan, pengalaman, dan pendidikan dari manusia yang berada di dalam institusi tersebut. Maka dari itu, kepemimpinan memiliki peranan penting dalam teori ini, kebijakan yang keluar tidak terlepas dari watak dan perilaku pemimpinnya. Teori ini tidak bersanding pada kekuasaan dan kewenangan saja, namun kepada pola yang ada dalam politik, tatanan dan makna yang ada dalam simbol-simbol pemerintah atau negara. Pendekatan yang digunakan dalam teori ini sangatlah interpretatif.

Teori lain yang cukup digandrungi oleh pakar administrasi publik adalah teori manajemen publik. Teori ini meminjam manajemen yang diterapkan di bisnis dan perusahaan untuk menjalankan roda pemerintahan. Manajemen publik memiliki fitur khusus dari administrasi publik bergaya Amerika Serikat, yakni birokrasi berbasis sistem merit. Sistem merit ini memisahkan antara politik dan administrasi, penilaian kinerja didasarkan pada riset dan menjadikan administrasi sebagai bagian dari kekuatan eksekutif.

Manajemen publik mengadopsi tujuh prinsip manajemen pada umumnya: Planning, Organizing, Staffing, Directing, Coordinating, Reporting dan Budgeting. Teori manajemen publik berkembang menjadi New Public Management (NPM) yang menganggap birokrasi sebagai suatu iblis yang harus dimusnahkan agar masyarakat lebih mudah dalam menikmati pelayanan publik dari pemerintah. Pendekatan NPM ini menjadi nyawa dari administrasi publik sekarang, kitab sucinya ditulis oleh David Osborne dan Ted Gaebler, berjudul Reinventing Government.

Ketiga teori diatas merupakan pembuka bagi khazanah administrasi publik yang sangat luas. Dalam perkuliahannya, administrasi publik akan menjangkau studi pembangunan, pelayanan publik dan kebijakan publik, dimana tiap jangkauan akan membawa para pembaca kepada pandangan-pandangan yang sangat aplikatif untuk menjalankan tata kelola pemerintahan. Buku ini merupakan pengantar yang tepat untuk mata kuliah Pengantar Ilmu Administrasi Negara di FISIP Universitas Airlangga.

"Administrasi publik lebih dari sekadar dokumen penting yang dibuat negara."

TENTANG PENULIS

Reza Maulana Hikam adalah mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di FISIP, Universitas Airlangga.

BACA JUGA

Tags: , , ,

Bagaimana menurut pembaca?