Konstruksi Kemenangan Medali Emas dalam Asian Games 2018, Bagian dari Sport Diplomacy Indonesia

Sport Diplomacy Indonesia_Agung TP_Berpijar
Sport Diplomacy Indonesia_Agung TP_Berpijar
Kolase Berpijar (Foto: Tribunnews)
Dengan diadakannya sebuah mega event internasional, Indonesia dapat membuktikan bahwa negaranya mampu menjadi sebuah negara tuan rumah yang perkasa disandingkan dengan Korea Selatan dan Tiongkok dalam hal mengorganisir kegiatan internasional.

Sebuah perhelatan olahraga internasional bukan hanya memiliki makna untuk berkompetisi satu sama lain. Jika kita melihatnya lebih dekat melalui sudut pandang hubungan internasional, sebuah negara dapat menyelenggarakan sebuah pesta olahraga internasional dengan motive diplomasi.

Negara ini memiliki tujuan tertentu dalam usahanya menyelenggarakan event internasional yang menghabiskan banyak anggaran tersebut. Konsep tersebut disebut dalam kajian hubungan internasional sebagai sports diplomacy.

Diplomasi olahraga ini memiliki tiga bentuk, yang pertama adalah menjadi penyelenggara mega-event internasional seperti Piala Dunia, Olimpiade maupun penyelenggaraan event regional seperti Asian Games.

Menjadi negara penyelenggara dapat meningkatkan citra, prestise dan pengakuan terhadap peningkatan soft-power. Sebut saja pada penyelenggaraan FIFA World Cup 2018 di Rusia, sebelumnya negara berlambang beruang Grizzly ini dianggap sebuah negara yang tertutup dari jangkauan masyarakat internasional.

Bentuk kedua menurut Jonathan Grix adalah sebaliknya, yaitu menciptakan atlet-atlet yang handal untuk mendapatkan setiap medali emas yang ada di ajang olahraga tersebut. Tindakan ini dinilainya dapat juga meningkatkan profil negara pengirimnya.

Dengan adanya metode ini, bahkan seorang atlet hingga saat ini dapat disebut sebagai diplomat juga, meskipun menggunakan baju olahraga yang dimilikinya. Sedangkan tindakan ketiga adalah menyatukan antara menjadi sebuah negara yang mengadakan sebuah agenda perhelatan olahraga internasional tetapi juga menjadi juara di dalamnya.

Lebih daripada itu, Russia dianggap sebagai sebuah cerminan negara dengan sistem pemerintahan yang otoriter dan sangat mengekang rakyatnya. Terlebih, di dalam pandangan negara-negara barat yang disebutnya sebagai “kolega” dengan nada sindiran, Russia menjadi seperti sebuah musuh bersama, dilihat sebagai cermin terbalik negara-negara tersebut. Sehingga membutuhkan waktu bagi Rusia untuk membuktikan bahwa negaranya aman dan ramah terhadap masyarakat internasional.

Waktu untuk membuktikan Rusia sebagai negara yang aman dan tidak lagi agresif dalam percaturan geopolitik hancur setelah usaha aneksasi Krimea (salah satu bagian dari negara Ukraina) pada tahun 2014.

Sehingga kepercayaan terhadap narasi-narasi baik dari Rusia hancur sedemikian rupa setelah peristiwa tersebut, terutama dari blok negara-negara barat aliansi Amerika Serikat seperti Inggris, Kanada, dan negara-negara Eropa lainnya.

Karena masyarakat internasional sedikit banyak dijalankan berdasarkan asumsi-asumsi kolektif negara, maka selesai sudah citra yang dibangun Rusia sejak didirikannya negara tersebut.

Untuk memenuhi ekspektasi dan menutupi gambaran negatif dari peristiwa tersebut, tentunya dibutuhkan sebuah pembuktian bahwa Russia tetap sebuah negara yang aman dan ramah kepada masyarakat internasional. Bagaimana caranya?

Dengan menjadi tuan rumah sebuah acara internasional bergengsi, Piala Dunia 2018. Benar atau tidak, asumsi penulis ini beralasan, karena faktanya setelah terjadinya pengambilalihan kekuasaan tersebut, Russia mendapatkan sanksi ekonomi dari negara-negara barat yang menentang aneksasi tersebut.

Piala Dunia 2018 merupakan salah satu cara yang paling jitu untuk mengembalikan citra Russia. Karena dengan kedatangan suporter dari mancanegara akan secara tidak langsung mem-branding ulang negara tersebut, mengembalikan kembali secara perlahan citra dan anggapan masyarakat internasional.

Lantas bagaimana dengan fenomena Indonesia di Asian Games 2018?

Citra Indonesia di dunia internasional memang tidak bermasalah sama sekali, karena negara kita ini tidak memiliki peran yang cukup penting dalam relasi perpolitikan dunia.

Kedudukan Indonesia di Asia Tenggara telah diakui dunia, beberapa kali menjadi pemimpin ASEAN, kemudian seringkali dianggap sebagai sebuah negara yang dapat dipercaya menjadi penengah dalam menyelesaikan konflik di dalam internal ASEAN.

Indonesia terakhir berusaha untuk melakukan mediasi konflik yang terjadi di Myanmar berkenaan dengan Rohingya. Melihat kenyataan ini Indonesia telah memiliki nama yang cukup baik di kalangan negara-negara Asia Tenggara.

Akan tetapi sebaliknya, pada tingkatan yang lebih tinggi, Indonesia belum memiliki cukup nama besar, seperti di Asia dan apalagi di perpolitikan dunia internasional. Tidak mengherankan kemudian ketika turis mancanegara lebih memahami di mana letak Bali, tetapi tidak mengetahui di mana letak Indonesia.

Momen Asian Games 2018 merupakan batu pijakan penting bagi Indonesia untuk memperkenalkan negaranya ke dunia internasional.

Dengan diadakannya sebuah mega event internasional, Indonesia dapat membuktikan bahwa negaranya mampu menjadi sebuah negara tuan rumah yang perkasa disandingkan dengan Korea Selatan dan Tiongkok dalam hal mengorganisir kegiatan internasional.

Indonesia juga sekaligus memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia, karena sejatinya kegiatan internasional malah membuka akses selebar-lebarnya untuk hal tersebut.

Kemudian bagaimana kaitannya dengan pemilu 2019 di Indonesia?

Timbul sebuah pertanyaan menarik dalam pemikiran penulis, bahwa tahun 2018 sangatlah penting dalam proses perpolitikan domestik di Indonesia. Akhirnya semuanya cukup jelas bahwa keberhasilan Indonesia nantinya dalam mengadakan sebuah acara megah internasional dianggap akan mencerminkan kepemimpinan calon presiden petahana, Joko Widodo.

Asian Games 2018 nantinya akan menjadi sebuah senjata penting bagi lawannya dalam politik. Oleh karena itu tidak mungkin Indonesia secara tiba-tiba menginginkan menjadi negara yang menggantikan Vietnam pada satu sisi tertentu kecuali dengan keuntungan-keuntungan terselubung semacam ini.

Indonesia sebagai negara penyelenggara berhak untuk menentukan cabor mana saja yang dapat dipertandingkan dalam Asian Games 2018. Hak ini merupakan sebuah strategi jitu bagi Indonesia untuk memenangkan serangkaian medali emas, seperti dengan keberadaan cabor paralayang dengan 6 nomor yang dipertandingkan, pencak silat dengan 16 nomor yang dipertandingkan, 6 nomor dalam bridge, dan 6 nomor dalam panjat tebing.

Nomor-nomor olahraga ini telah disiapkan sedemikian rupa agar Indonesia bisa mendapatkan medali emas dengan lebih mudah. Meskipun dalam cabang olahraga seperti bulu tangkis dan angkat besi dan perahu naga juga menjadi prioritas utama Indonesia dalam Asian Games 2018.

Melihat dari keberadaan strategi seperti ini, sangatlah mungkin Indonesia melebihi targetnya yang hanya mematok minimal 16 medali emas.

Akhirnya kita semua memahami bahwa keberadaan Asian Games di Indonesia bukan tanpa adanya konstruksi secara politik maupun secara peningkatan citra di hubungan internasional, bahkan tujuan dan target yang jelas telah menjadi bahan konstruksi.

Ini semua untuk peningkatan citra Indonesia sebagai sebuah negara yang besar, aman dan tentram serta perkasa.

Catatan yang perlu diketahui adalah, tindakan seperti ini sah-sah saja dilakukan untuk kemajuan Indonesia dan demi citra Indonesia di dalam perpolitikan dan dinamika hubungan internasional.

Indonesia merupakan sebuah negara yang besar, sudah seharusnya Indonesia benar benar diperhatikan oleh masyarakat Internasional.

Siapa Kita? INDONESIA!!

TENTANG PENULIS

Agung Tri Putra adalah mahasiswa S1 Hubungan Internasional di FISIP, Universitas Airlangga

BACA JUGA

About Author

Agung Tri Putra

Agung Tri Putra adalah seorang mahasiswa S1 Hubungan Internasional di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga.


Related Posts

Write a response to this post