Ekstrimisme dan Terorisme, Karakteristik dan Konsepnya

Understanding Terrorism_Reza MH_Berpijar
Understanding Terrorism - Gus Martin
Gambar: Dok. Pribadi

Spesifikasi Buku

Judul Buku

Understanding Terrorism

Penulis

Gus Martin

Penerbit

Sage Publication

Tebal Buku

447 halaman

Tahun Terbit

2018

Jenis Buku

Kajian tentang terorisme

Terorisme memiliki hubungan yang erat dengan ideologi yang bernama ekstrimisme. Sebelum memasuki tahapan sebagai seorang teroris, seseorang harus memiliki pandangan yang ekstrim terlebih dahulu. Lalu apa sebenarnya ekstrimisme? Ia merupakan fase dimana seseorang mengikuti sebuah pandangan, ideologi dan pemikiran secara mendalam/mengakar (radikal), terutama dalam permasalahan politik dan dikarakteristikkan dengan intoleransi terhadap pemikiran yang berlawanan dengannya.

Ekstremisme adalah permasalahan bagaimana seseorang mengekspresikan ide yang dia ikuti. Jika dibiarkan, seseorang yang terlalu ekstrim dalam mengikuti sebuah ideologi akan menggunakan ideologi tersebut untuk membenarkan tindakan buruk yang dia lakukan. Namun, apabila tindakan yang dia lakukan tidak mengandung unsur kekerasan, maka bukan terorisme yang ia lakukan. Salah satu prasyarat lain terorisme adalah unsur kekerasan.

Terorisme memiliki tiga karakteristik utama: kekerasan yang dimotivasi oleh permasalahan politis, biasanya diarahkan kepada kelompok sipil, dan dengan tujuan untuk menebar ketakutan kepada siapapun yang dapat melihat tindak terorismenya. Di era modern seperti ini, penulis buku mengartikan terorisme sebagai konflik antara dua kubu, dimana satu pihak mengklaim dirinya berjuang untuk agama, sedangkan yang satunya menganggap dirinya sedang berperang melawan terorisme.

Baik terorisme maupun ekstrimisme berpangkal Political Violence (kekerasan politik), apabila tindakannya tidak memuat unsur politis, maka tindakan tersebut hanyalah kriminalitas biasa. Terorisme sendiri memiliki konotasi buruk dan menghina pada abad keduapuluhsatu ini, sehingga penggunaan kata terorisme atau teroris jarang sekali disematkan kepada negara atau pemerintahan.

Salah satu corak dari terorisme adalah simbol. Tindak terorisme biasanya akan menyasar wilayah yang merupakan simbol dari sesuatu.  Tidak hanya pada penyerangan, namun publikasi dan propaganda mereka pun menggunakan simbol yang seakan-akan tindakan mereka bertujuan untuk membawa kebaikan kepada umat manusia, terlepas harus melalui jalur kekerasan. Simbolisasi semacam ini sudah masuk kedalam dunia maya, bahkan banyak anggotanya direkrut melalui media sosial. Patut diingat dalam benak kita bahwa teroris bukanlah sekelompok orang yang gagap teknologi.

Kita beralih sedikit pada kekerasan politik (political violence). Dalam administrasi peradilan, ada dua istilah yang menggambarkan kriminalitas: mala prohibita – dimana sebuah tindak kriminal dijadikan ilegal karena masyarakat menganggapnya sebagai tindakan yang salah, kriminal semacam ini tidaklah menggambarkan keburukan secara inheren dan bertendensi merusak diri sendiri (seperti judi), yang kedua adalah mala in se – sebuah tindak kriminal yang secara inheren sudah salah dan tidak ada pembenaran yang pantas untuk tindakan semacam ini, tindak kriminalitas ini tidak akan pernah dilegalkan dan sudah tercatat dalam moral universal manusia untuk tidak melakukannya (contoh: membunuh).

Gus Martin pun mengulas mengenai beberapa sekte yang merupakan teroris pertama di dunia, seperti Sicarii, Zealots dan Assassins. Yang paling terkenal adalah sekte Assassin yang melakukan pembunuhan bermotif politis semenjak abad ketiga belas di Persia. Namun konflik yang dibuat oleh ketiga contoh diatas bukanlah konflik berskala besar dan sifatnya hanya seperti pembunuhan berencana.

Adapun kelompok Jacobin pada abad kedelapan belas merupakan contoh yang pas untuk menggambarkan state-terrorism dimana parlemen Inggris yang mereka kuasai menjadi begitu diktator dalam melaksanakan kebijakan revolusionernya, sehingga siapapun yang melawan gagasan revolusi mereka akan dipenggal seketika dengan menggunakan guillotine. Inggris memiliki kelompok lain yang bernama Luddites yang merupakan serikat buruh kiri dan melakukan pengrusakan alat produksi sebagai wujud ekspresi mereka untuk menolak revolusi industri. Di Rusia, kita akan mengenal yang namanya Narodnaya Volya (People’s Will), sekelompok pelajar radikal yang juga tergolong melakukan terorisme, kedua kelompok ini (Luddites & Narodnaya Volya) merupakan contoh teroris dari kelompok kiri.

Terorisme dewasa ini memiliki karakteristik sebagai berikut: jejaring yang lentur dan samar (memiliki garis komando dan kontrol yang sedikit), menginginkan penggunaan senjata penghancur massal, memiliki motivasi agama atau politik dibaliknya, menggunakan metode perang asimetris untuk memaksimalkan korban jiwa, dan penggunaan internet dan media sosial secara masif. Karakteristik diatas sangat berlawanan dengan terorisme tradisional yang memiliki karakteristik: pergerakan maupun keorganisasiannya sangatlah jelas, menggunakan senjata konvensional, menyasar kelompok tertentu dan selalu mengangkat isu kelas atau etnis tertentu (bukan agama dan politik).

Peperangan pun masuk dalam koridor teror, maka dari itu, banyak konferensi yang membahas mengenai peraturan dalam berperang. Berperang haruslah adil, maka itu ada tradisi peperangan yang adil atau Just War. Ada dua hal penting yang harus digarisbawahi mengenai Just War ini: jus in bello – tindakan dan perilaku yang benar dalam berperang dan jus ad bellum – situasi yang tepat dalam mengobarkan genderang perang.

Aktor dalam terorisme sendiri ada dua: pemerintah dan pemberontak. Keduanya selalu dalam konflik satu sama lain, baik pemerintah versus pemberontak, antar pemerintah atau antar pemberontak. Namun kelompok pemberontak lah yang acap kali dihitung sebagai kelompok teroris, karena mereka tidak memiliki legitimasi untuk menggunakan senjata, baik konvensional maupun pemusnah massal. State-terrorism bisa dibilang sebagai terorisme dari atas yang bertujuan untuk menumpas musuh dari pemerintahan terkait, sedangkan dissident terrorism (rebels) adalah terorisme dari bawah yang acap kali ditujukan pada pemerintah dan menantang legitimasi pemerintah terkait.

Dalam buku daras ini, penulis juga memperlihatkan beberapa karakteristik orang yang ekstrimis dalam menganut sebuah ideologi atau kepercayaan: intoleran, absolutisme moral, terlalu cepat menyimpulkan sesuatu, penggunaan bahasa yang tidak lazim dan suka dengan sesuatu yang bersifat konspirasi. Para ekstrimis ini memiliki sudut pandang yang sangat berbeda daripada manusia pada umumnya, mereka selalu merasa paling benar dan kebenaran adalah monopolinya semata, dari pandangan semacam inilah muncul intoleransi yang semakin dipupuk akan semakin berbahaya.

Beberapa pandangan mengenai terorisme tidak sepenuhnya mengilustrasikan teroris sebagai iblis atau manusia tak bermoral, Taliban pada awal perjuangannya menggunakan metode perang konvensional (disaat masih dalam koridor terorisme tradisional) adalah pejuang kemerdekaan dari jajahan Soviet. Para pejuang Jihad pun digambarkan sebagai kelompok yang menakutkan dan berbahaya oleh Barat, namun di dalam negerinya, mereka adalah freedom fighters.

Dalam lingkungan yang terkena terorisme pun ada beberapa partisipan: teroris itu sendiri yang bakal melakukan tindak kriminal luar biasa ini, para pendukungnya (baik mendukung secara moril maupun materil), korban (mereka yang terkena dampak dari tindakan terorisme), Target (seseorang atau sesuatu atau tempat yang sifatnya simbolik, merepresentasikan sesuatu yang ingin dihancurkan oleh para teroris), Penonton (mereka yang menyaksikan kejadian teror itu, yang nantinya juga menjadi target yang diserang psikisnya oleh para teroris) dan analis yang berperan penting untuk menginterpretasikan kejadian itu.

Ada beberapa jenis terorisme dalam buku ini: terorisme negara yang aktor utamanya adalah pemerintah, pemberontakan merupakan terorisme bertujuan untuk melemahkan legitimasi negara, terorisme yang bernuansa agama, terorisme kriminal yang termotivasi urusan profit dan politik, dan terorisme internasional dimana aktornya ada di berbagai negara. Ulasan tentang jenis-jenis terorisme ini akan lebih jelas apabila para pembaca membeli bukunya.

Selintas buku ini akan terlihat membosankan dan juga berat untuk dibawa, namun pembahasan didalamnya dibentuk layaknya buku untuk perkuliahan, bagi siapapun yang ingin menjelaskan terorisme secara komprehensif, maka wajib menggunakan buku ini sebagai salah satu referensinya.

"Dalam buku daras ini, penulis juga memperlihatkan beberapa karakteristik orang yang ekstrimis dalam menganut sebuah ideologi atau kepercayaan: intoleran, absolutisme moral, terlalu cepat menyimpulkan sesuatu, penggunaan bahasa yang tidak lazim dan suka dengan sesuatu yang bersifat konspirasi."

TENTANG PENULIS

Reza Maulana Hikam adalah mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di FISIP, Universitas Airlangga.

BACA JUGA

About Author

Reza Maulana Hikam

Reza Maulana Hikam adalah seorang mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga. Pegiat literasi yang mendirikan situs web resensi Kedai Resensi Surabaya dan Penulis Lepas Opini di Geotimes.


Related Posts

Write a response to this post