Memahami Kembali Kerukunan Umat Beragama

Memahami kembali nasionalisme sebagai bentuk kecintaan terhadap negara adalah langkah krusial dalam proses reinterpretasi kerukunan umat beragama.

Kerukunan Umat Beragama_Adhi Cahya Fahadayna_Berpijar
Kerukunan Umat Beragama_Adhi Cahya Fahadayna_Berpijar
Memahami kembali nasionalisme sebagai bentuk kecintaan terhadap negara adalah langkah krusial dalam proses reinterpretasi kerukunan umat beragama.

Kerukunan umat beragama adalah bagian dari jati diri bangsa Indonesia. Sejak proses terbentuknya Negara Indonesia, keberagaman telah mewarnai struktur masyarakat Indonesia. Perdebatan para pendiri bangsa tentang bentuk Negara Indonesia telah membuktikan bahwa Indonesia adalah Negara yang majemuk. Indonesia tidak bisa dibentuk menjadi sebuah negara yang berdasarkan atas agama tertentu, melainkan harus menjadi sebuah negara yang mampu mengakomodasi kemajemukan masyarakatnya.

Sebagai konsekuensi dari keberagaman tersebut, Mantan Menteri Agama Mukti Ali menyebut bahwa Indonesia didirikan bukan sebagai negara teokrasi bukan pula sebagai negara sekuler. Hal ini tercermin dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia yang mendasarkan pada persatuan bukan menonjolkan perbedaan.

Kerukunan umat beragama juga sudah diamanatkan dalam sastra kuno ‘Kakawin Sutasoma’ yang digubah oleh Empu Tantular pada abad ke-14. Karya sastra ini menceritakan kerukunan umat beragama yang sudah hidup sebelum negara Indonesia terbentuk. Semboyan Bhineka Tunggal Ika yang juga diambil dari kitab ini secara gamblang mengamanatkan persatuan di tengah perbedaan. Ini menunjukkan bahwa kerukunan umat beragama telah tumbuh dalam kebudayaan Indonesia, sehingga masyarakat Indonesia pada dasarnya tidak asing dengan konsep kerukunan umat beragama.

Sebagai bagian dari warisan budaya, koeksistensi antara entitas yang berbeda-beda telah terlembagakan pada setiap individu sehingga menjadi karakter bangsa Indonesia. Sebagai usaha dalam melestarikan karakter bangsa tersebut, toleransi dan saling menghormati diajarkan sejak usia dini melalui pendidikan kewarganegaraan di setiap institusi pendidikan dasar. Selain itu, kebebasan beragama juga dijamin oleh UUD 1945 yang termaktub dalam pasal 29 ayat 2. Jaminan kebebasan beragama tidak bisa dilepaskan dari konteks eksistensi enam agama di Indonesia.

Masyarakat Indonesia telah menerima eksistensi agama yang berbeda-beda itu sebagai suatu keniscayaan yang mewarnai keragaman budaya di Indonesia. Ini menjadi sebab kerukunan antar beragama bukan hanya menjadi kebutuhan tetapi telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Indonesia. Perbedaan agama di Indonesia bukan menjadi penghalang bagi masyarakat untuk bersatu, tetapi menjadi elemen penting dalam implementasi semboyan Bhineka Tunggal Ika. Ini membuktikan bahwa masyarakat telah mampu menciptakan kerukunan beragama dalam kehidupan sehari-hari.

Problem Intoleransi Agama di Indonesia

Antropolog Clifford Geertz menyatakan bahwa intoleransi di Indonesia sudah terjadi sejak masuknya Islam ke Jawa pada abad ke-13 yang mereduksi agama predominan yakni Hindu dan Buddha. Intoleransi terjadi karena Islam sebagai agama baru tidak sesuai dengan budaya dan adat masyarakat Indonesia yang sangat dipengaruhi oleh kedua agama tersebut. Tentu problem ini tidak menjadikan Islam terpinggirkan, melainkan menjadikan kesempatan untuk Islam menjadi dominan pada akhir abad ke-16. Dominasi Islam pada masyarakat Jawa kala itu tidak bisa dilepaskan dari koeksistensi dan akulturasi Islam dengan budaya Jawa.

Koeksistensi dan akulturasi budaya Jawa berasal dari gagasan salah satu ‘Walisongo’ sebagai penyebar agama Islam di Jawa, yakni Sunan Kali Jaga. Strategi koeksistensi dan akulturasi bukan hanya di implementasikan dalam aspek sosial saja, melainkan juga diwujudkan ke dalam karya seni dan sastra yang kemudian sangat penting dalam perkembangan budaya Jawa pada umumnya. Namun problem intoleransi ini mampu diatasi dengan membangun identitas kebangsaan yang mengakui kemajemukan sebagai sebuah warisan budaya nenek moyang.

Melalui pemahaman ini masyarakat Indonesia mampu mengimplementasikan kerukunan beragama yang sesuai dengan karakter bangsa yang majemuk tanpa harus mengurangi kebebasan beragama masing-masing individu hingga saat ini. Saat ini, problem intoleransi kembali muncul dalam kehidupan bermasyarakat. Perusakan tempat Ibadah dan aksi kekerasan menjadi problem utama adalah beberapa bentuk intoleransi agama. Pembakaran Masjid di Papua dan Pembakaran Gereja di Aceh adalah salah satu insiden yang menggambarkan menguatnya problem intoleransi yang terjadi di Indonesia.

Perbedaan memang menjadi penyebab utama dalam masalah intoleransi di Indonesia. Sebagai konsekuensi dari semakin pesatnya perkembangan peradaban manusia, benturan antar peradaban juga akan berdampak dalam kehidupan masyarakat, utamanya di Indonesia. Sejalan dengan pendapat Ilmuwan Politik Samuel Huntington, problem intoleransi yang marak terjadi di Indonesia adalah bagian dari benturan peradaban. Sehingga menjadi penting untuk kembali memahami kerukunan umat beragama sebagai sarana untuk menyelesaikan problem intoleransi di Indonesia.

Reinterpretasi Kerukunan Umat Beragama

Memahami kembali kerukunan beragama dapat diwujudkan dengan mempelajari kembali keberagaman yang tumbuh di Indonesia. Mahatma Gandhi berpendapat bahwa reinterpretasi kerukunan umat beragama harus dilakukan menanamkan kembali nasionalisme sebagai elemen penting dalam persatuan. Tanpa nasionalisme, identitas nasional tidak bisa terbentuk sehingga masyarakat terjebak dalam stigma perbedaan dalam level yang lebih rendah.

Memahami kembali nasionalisme sebagai bentuk kecintaan terhadap negara adalah langkah krusial dalam proses reinterpretasi kerukunan umat beragama. Kemudian reinterpretasi juga harus dilakukan melalui kembali mempelajari ini dari ajaran agama masing-masing individu. Dengan proses mempelajari kembali masyarakat akan mampu mengidentifikasi provokasi dan hasutan yang dapat mengganggu kerukunan umat beragama.

Juga akan mampu memberikan ruang yang luas untuk melakukan dialog sehingga tidak tercipta ruang untuk perselisihan. Dengan memahami kembali masyarakat akan menjadi dewasa, karena kerukunan umat beragama adalah cerminan dari kedewasaan berpikir masyarakat dalam menyikapi perbedaan.

TENTANG PENULIS

Adhi Cahya Fahadayna adalah alumni Ilmu Politik dari Northeastern University, Boston.

BACA JUGA

Write a response to this post