Ken Conboy Mengulas Kelompok Islam Radikal di Indonesia

Resensi Ken Conboy_Reza MH_Berpijar
the-second-front
Gambar: Amazon

Spesifikasi Buku

Judul Buku

The Second Front

Penulis

Ken Conboy

Penerbit

Equinox

Tebal Buku

viii+238 halaman

Tahun Terbit

2006

Jenis Buku

Bahan bacaan sekunder

Nama Ken Conboy bukanlah penulis baru bagi para pembaca mengenai sejarah militer. Beliau seringkali menulis mengenai permasalahan ketentaraan dan konflik bersenjata, dua bukunya yang terkenal di Indonesia adalah: INTEL: Inside Indonesia’s Intelligence Service dan KOPASSUS: Inside Indonesia’s Special Forces. Dia merupakan manajer dari Risk Management Advisory, sebuah perusahaan keamanan yang berpusat di Jakarta.

Dalam bukunya yang kali ini, Conboy mengulas mengenai seluk beluk Jihad dan kelompok Mujahidin yang ada di Indonesia. Sebenarnya apa yang membedakan ulasan beliau dengan Greg Fealy atau Greg Barton? Ialah karena dia bekerja dalam lingkup keamanan dan akan memahami potensi-potensi konflik yang dibawa oleh kelompok Mujahidin. Namun apakah kompetensi menentukan kualitas tulisan? Mari simak ulasan bukunya.

Pada bab awal buku ini, seperti buku yang biasanya mengulas radikalisme Islam di Indonesia, selalu menyuguhkan nama Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Sebagai seorang tetua dan pemberontak dengan nuansa Islam, nama Kartosoewirjo memang menjadi legenda di dalam buku-buku para indonesianis yang mengulas kelompok teroris, belum lagi organisasi yang diketuainya, Darul Islam sebagai prototipe dari gerakan teroris di Indonesia.

Sedikit mengulas tentang latar belakang Kartosoewirjo, para pembaca akan mengetahui kenapa dia membangkang dan menolak untuk tunduk kepada negara sekuler. Ia pernah menjadi murid H.O.S Tjokroaminoto bersama Soekarno, dan selalu berselisih paham mengenai ideologi dengannya. Perbedaan pandangan ini dibawa hingga keduanya menjadi figur publik dikemudian hari dan bertarung, baik secara ideologis ataupun angkat senjata antara satu dengan yang lain.

Sebagai organisasi bernuansa Islam, Darul Islam memiliki kekuatan yang besar di Sulawesi, Sumatera dan Jawa Barat. Beberapa tetuanya berasal dari wilayah tersebut, seperti Teuku Daud Beureueh dari Aceh dan Abdul Kahar Muzakkar dari Sulawesi. Di bab selanjutnya, diulas pula Kahar Muzakkar yang menjadi salah satu pejuang bersenjata terakhir dari Darul Islam sebelum Kartosoewirjo tertangkap dan dieksekusi. Runtuhlah kekuatan DI pada awal sampai pertengahan dekade 60an. Banyak anggotanya terbunuh dan tetuanya ditahan.

Setelah kelompok Islam sudah melemah, tragedi 65 dimulai, negara memiliki musuh baru yang bernama komunisme. Guna memberangus komunisme, Ali Moertopo, salah satu tangan kanan Soeharto dikala itu menggunakan mantan PRRI maupun Darul Islam untuk mengutarakan penolakan terhadap ide-ide komunisme kepada masyarakat. Para tahanan dari dua kelompok ini sampai dibebaskan untuk melaksanakan tugas kenegaraan tersebut.

Beberapa perwira Darul Islam yang bergabung dalam membersihkan rezim Soekarno ialah Danu Muhammad Hasan, Dodo Mohammad Darda, dan Adah Djaelani, berkolaborasi dengan Ali Moertopo yang dikenal dengan pemikirannya yang serba bisa. Beberapa seperti Ateng Djaelani dan Haji Ismail Pranoto juga turun melawan komunisme, kelompok Darul Islam pada dekade 60-70an ini disebut dengan julukan Komando Jihad.

Pada awalnya, Komando Jihad ini hanya digunakan sebagai alat mobilisasi massa dari Golkar untuk mencari suara dari kelompok Islam garis keras, dikendalikan oleh Ali Moertopo. Meskipun dianggap tidak begitu berbahaya, namun Komando Jihad semakin agresif dan semakin keras dalam menghadapi kelompok selain komunis, sehingga pada tahun 1977, sekitar 185 anggota Komando Jihad ditangkap dengan alasan keamanan nasional.

Salah satu yang menjadi alasan Komando Jihad dibubarkan adalah ceramah Abdullah Sungkar yang menyarankan para jamaahnya untuk memboikot pemilu tahun 1977. Ceramah semacam ini dianggap sebagai rezim Orde Baru sebagai hal yang mengganggu stabilitas politik. Setelah Komando Jihad dilumpuhkan, muncul musuh baru bernama Imran bin Zein yang pernah berdomisili di Saudi Arabia. Ia merupakan dalang dari pembajakan pesawat Garuda pada tahun 1981.

Pada tahun-tahun selanjutnya, dunia digemparkan dengan invasi Soviet ke Afghanistan. Banyak petarung (kombatan) atau mujahid yang berbondong-bondong untuk berjuang melawan Soviet di Afghanistan. Akhir dekade 70-an menjadi penanda dimana peperangan di Timur Tengah mulai memanas. Pasukan pembela muslim di Afghanistan merupakan kelompok umat Islam yang dipanggil oleh Abdullah Azzam untuk mempertahankan wilayah umat Islam.

Salah satu yang menerima panggilan ini adalah umat Islam di Indonesia. Orang Indonesia yang bergabung dengan perjuangan di Timur Tengah adalah Abdul Wahid Kadungga, menantu dari Abdul Kahar Muzakkar. Ia bergabung dengan Makhtab Al-Khidmat (MAK) bentukan Osama bin Laden dan Abdullah Azzam. Setelah dari kantor MAK di Peshawar, Pakistan, ia berangkat kembali ke Indonesia, namun berlabuh sebentar di Malaysia untuk menemui Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir yang sedang menjauhi pemerintahan Orde Baru.

Selama di Malaysia, Kadungga mendapatkan restu dan dukungan dari kedua petinggi Jamaah Islamiyah tersebut, bahkan Abdullah Sungkar sendiri yang memilih para kombatan yang akan dikirim ke Afghanistan. Para kandidat dikumpulkan dari Gerakan Pemuda Islam (GPI). Ada dua orang yang akhirnya dikirimkan untuk bertarung di medan perang: Aris Sumarsono dan Laode Agus Salim.

Kedua orang ini memiliki nama panggilan: Laode dipanggil Syawal sedangkan Sumarsono dipanggil Zulkarnaen. Mereka berlatih di Kamp Sadda dimana mereka tidak hanya belajar mengenai taktik peperangan, namun juga indoktrinasi nilai-nilai salafi. Salah satu pemikir yang digunakan sebagai referensi adalah Ibnu Taimiyah dengan penekanan kepada tekstualisasi ajaran Al-Qur’an. Jadi, para kombatan alumni Afghanistan tidak hanya dibentuk secara fisik namun secara mental pula.

Hasil pelatihan dalam Kamp Sadda sangatlah menarik, Zulkarnaen menjadi ahli dibidang alat peledak, sedangkan Syawal menjadi taktisi lapangan yang ulung. Pada November 1986, Abdullah Sungkar mempersiapkan kontingen kedua untuk berperang di Afghanistan yang berjumlah 30 orang. Banyak hal terjadi selama dekade 80an yang dikuak oleh Ken Conboy dalam buku ini, kita akan mendengar nama seperti Hambali dan Ajengan Masduki.

Adapun buku ini juga mengulas Bom Bali satu sebagai pembuka jalur terorisme menggunakan bom di Indonesia. Dibalik kasus ini, bukan lagi Darul Islam atau Komando Jihad yang melakukan, tapi sebuah organisasi Islam transnasional bernama Jamaah Islamiyah. Berbagai organisasi yang menggunakan pandangan Jihad juga dibahas dalam buku ini, namun jika membicarakan benteng terbesar Jihad di Asia Tenggara, maka Jamaah Islamiyah adalah jawabannya.

Buku ini lebih banyak membahas sejarah kelompok Jihadis di Indonesia sebelum kejadian 9/11. Bahkan sebelum Bom Bali. Yang menjadi nilai tambah dari The Second Front ialah penggalan wawancara yang disuguhkan oleh penulis sehingga para pembacanya akan mengetahui bahwa Ken Conboy tidak hanya mengulas kelompok radikal di Indonesia melalui pemberitaan media, namun bersentuhan langsung dengan para pendukung radikalisme.

Buku ini lebih komprehensif dalam mengulas radikalisme dibanding Jejak Kafilah atau Indonesia’s Struggle, namun perbedaannya terletak dalam kurun waktu pembahasan di dalam bukunya. Secara teoritik dan analisis, Conboy lebih unggul dibanding dua Greg tersebut. Dan tidak lupa, meskipun ditulis dalam bahasa Inggris, namun perbendaharaan kata yang digunakan sangatlah mudah untuk dipahami.

"Pada awalnya, Komando Jihad ini hanya digunakan sebagai alat mobilisasi massa dari Golkar untuk mencari suara dari kelompok Islam garis keras, dikendalikan oleh Ali Moertopo."

TENTANG PENULIS

Reza Maulana Hikam adalah mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di FISIP, Universitas Airlangga.

BACA JUGA

About Author

Reza Maulana Hikam

Reza Maulana Hikam adalah seorang mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga. Pegiat literasi yang mendirikan situs web resensi Kedai Resensi Surabaya dan Penulis Lepas Opini di Geotimes.


Related Posts

Write a response to this post