Naiknya Kepemimpinan Trump dan Urgensi Keamanan di Wilayah Baltik

Penguasaan kembali Rusia terhadap wilayah kedaulatan Ukraina, Krimea adalah bentuk nyata kekuatan salah satu petarung perang dingin.

Trump and Baltic_Agung Tri Putra_Berpijar
Trump and Baltic_Agung Tri Putra_Berpijar
Presiden Donald Trump berbicara dalam konferensi press dengan (dari kiri) Presiden Latvia Raimond Vejonis, Presiden Estonia Kersti Kaljulaid, dan Presiden Lituania Dalia Grybauskaite di East Room White House, 3 April 2018, Washington (Foto: VOAnews)
Penguasaan kembali Rusia terhadap wilayah kedaulatan Ukraina, Krimea adalah bentuk nyata kekuatan salah satu petarung perang dingin.

Dalam sebuah wawancara dengan delegasi kantor berita New York Times, Presiden Donald J. Trump ditanya tentang komitmen Amerika Serikat selalu melindungi negara-negara Baltik, dalam setiap sejarah presiden negara ini pasti mengucap akan melindungi negara-negara tersebut. Akan tetapi faktanya, dibawah pemerintahan baru Trump, Amerika Serikat mengucapkan bahwa kepentingan itu adalah milik Baltik, bukan negaranya. Karena yang membutuhkan perlindungan adalah negara Baltik, sehingga Trump mengucapkan kata “It depends”, daripada memberikan janji untuk itu (Fisher, 2016).

Jawaban “It depends” tersebut mengarah kepada kepatuhan negara-negara yang telah dibantu keamanannya oleh AS ternyata tidak banyak yang searah, dengan kata lain terkadang malah membelakangi kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan. Lebih lanjut Trump mengatakan bahwa apa yang sebelumnya telah menjadi sebuah keniscayaan, tidak lagi akan demikian, pilar-pilar keamanan tidak akan terbangun tanpa adanya kepatuhan.

Memang Amerika Serikat dibawah kekuasaan Presiden Trump memiliki identitas yang berbeda, cenderung lebih realistis dan konservatif. Namun setahun kemudian, pernyataan ini berubah jawabannya ketika terjadi sebuah joint news conference yang dilakukan di Finlandia. Trump mengatakan bahwa negara-negara Baltik merupakan fokus keamanan dan salah satu prioritas bagi Amerika Serikat, jika penulis boleh mengutip maka, Trump mengatakan “we are very protective of that region (Baltics), that’s all I can say. We are very, very protective. We have great friends there” (Holland, 2017).

Penguasaan kembali Russia terhadap wilayah kedaulatan Ukraina, Krimea adalah bentuk nyata kekuatan salah satu petarung perang dingin. Ukraina mungkin adalah negara pertama yang diganggu kedaulatannya secara nyata melalui tindakan militer setelah tahun 2000an. Bukan tidak mungkin Russia akan melakukan semangat ekspansinya kembali jika kekuatan yang dimilikinya kembali seperti semula. Ini adalah hal yang sangat mengerikan bukan hanya bagi Ukraina, tapi seluruh bekas jajahannya termasuk Latvia, Estonia dan Lithuania.

Penulis kembali ingin menjelaskan bahwa secara geografis, ketiga negara beridentitaskan Baltik tersebut berada di tengah dua kekuatan besar yaitu Eropa dan Rusia. NATO adalah hal lain yang menjadi sebuah penjamin kedaulatan ketiga negara tersebut, kekuatan utamanya adalah Amerika Serikat. Namun tetap saja, jika perang terjadi diantara kekuatan besar tersebut, maka yang akan sangat menderita adalah negara-negara yang menjadi buffer zone diantara kekuatan tersebut, termasuk negara Baltik.

Dalam prakteknya ternyata negara Baltik telah memahami konstelasi kekuatan ini sehingga berusaha mendekatkan diri ke Uni Eropa daripada menjalin hubungan yang baik kembali kepada Russia. Bahkan pada penjelasan oleh Peter Van Ham (1998) dalam karyanya yang berjudul “The Baltic States and Zwischeneuropa: ‘Geography Is Destiny’ mengatakan bahwa negara-negara Baltik berusaha untuk menghapus segala memori mengenai tergabungnya mereka dibawah satu negara Soviet, karena yang didapatkan cenderung hanya memberikan keuntungan bagi Soviet, tapi kehancuran bagi Baltik.

Kebencian mereka terhadap Soviet sudah terlalu besar untuk tidak menjustifikasi bahwa Rusia adalah hal yang berbeda. Menurut pemikiran negara-negara Baltik, kemungkinan negaranya untuk menjadi the next Crimea adalah hal yang sangat besar. Untuk menjelaskan argumen ini, Jānis Kažociņš (2015) menyebutkan bahwa untuk mempengaruhi negara-negara di Baltik, Rusia menggunakan delapan strategi utama agar negara-negara kecil ini mudah untuk memisahkannya dengan kekuatan-kekuatan semacam NATO dan Uni Eropa.

Poin yang pertama adalah menggunakan semacam perang non-military asymmetric warfare, menyesatkan negara-negara Baltik melalui informasi yang tidak benar, moral dan psikologi serta lainnya untuk mempengaruhi politik domestik sehingga terjadi sesuatu keadaan yang diinginkan. Poin kedua adalah menggunakan sebuah operasi yang rahasia dan khusus untuk melakukan sesuatu yang dapat menyebabkan kebingungan-kebingungan dengan teknik pemalsuan data dan disinformasi lainnya.

Tindakan ketiga adalah melakukan tindakan yang tidak menyenangkan seperti intimidasi, memperdaya agar dapat mengarahkan mereka untuk kepentingan yang diinginkan oleh Russia. Poin keempat kemudian dilakukan penyebaran propaganda untuk memudahkan serangan-serangan ditujukan kepada masyarakat grassroot. Untuk poin kelima hingga kedelapan lebih kepada bagaimana apa yang telah dilakukan dalam poin pertama hingga keempat dapat berjalan dengan baik sehingga dapat memperburuk suasana domestik negara-negara tersebut.

Tidak ada sebuah negara-pun yang telah merdeka ingin kembali mengintegrasikan dirinya kepada negara yang dianggapnya penjajah. Secara jelas Rusia berusaha untuk mengembalikan seluruh negara bekas Soviet untuk kembali bersatu dibawah naungannya. Akan tetapi secara jelas penulis memiliki jawaban bahwasanya perubahan pemimpin yang terjadi tidak akan cukup untuk mengubah kebijakan luar negerinya untuk melindungi negara-negara Baltik.

Karena Baltik merupakan sebuah wilayah yang sangat penting bagi Amerika Serikat untuk power check kekuatan Rusia (Fisher, 2016). Dalam berjalannya waktu setelah inagurasi Presiden Trump dilakukan, terjadi deployment pasukan yang diinisiasi oleh NATO untuk merespon terjadinya agresi militer terhadap Krimea. Penulis tidak dapat mengafirmasi apakah keputusan deployment tersebut adalah berada dibawah tanggung jawab Trump atau tidak, namun nyatanya tetap saja Amerika Serikat pasti ikut andil dalam kebijakan tersebut.

NATO menjelaskan dalam platform daring resminya bahwa mereka telah melakukan deployment sebesar 4.500 pasukan untuk wilayah negara Baltik dan Polandia guna mempertahankan balance of power yang ada sehingga stabilitas selalu terjaga (NATO, 2017). Bahkan jumlah ini terus bertambah hingga 40.000 pasukan hanya untuk membentengi ancaman-ancaman yang mungkin saja terjadi di Baltik gejolak kepentingan Russia.

Tapi pertanyaan yang paling berat adalah apakah komitmen yang diberikan oleh negara-negara Eropa Barat dan Amerika Serikat yang tergabung dalam NATO benar-benar bersungguh-sungguh dalam melindungi Baltik? Terdapat spekulasi bahwa apa yang dilakukan oleh negara anggota NATO hanyalah semacam janji palsu, mereka tidak akan mengorbankan kekuatan negaranya untuk melawan Rusia yang semakin kuat demi mempertahankan sebagian kecil tanah yang ada di ketiga negara Baltik tersebut (Fisher, 2016).

Karena faktanya dalam agresi militer Rusia ke Krimea beberapa waktu lalu tidak cukup memberikan alasan Uni Eropa dan NATO untuk melakukan sebuah tindakan tegas, apalagi yang bersifat militer. Jika benar negara-negara Eropa Timur seperti Baltik dan Ukraina memang memiliki porsi yang besar bagi kepentingan Amerika Serikat serta NATO, maka seharusnya terjadi sebuah peperangan ketika Russia kembali mencaplok Krimea.

Namun akhirnya kembali kepada argumen yang dibawa oleh Max Fisher (2016) bahwasanya tindakan-tindakan perang tidaklah esensial untuk dilakukan berkaitan dengan memanasnya kondisi di Eropa Timur, kedua kekuatan (Rusia dan NATO) tidak ingin terjadi perang di antara mereka.

Sejalan juga dengan hal tersebut, penulis meyakini bahwa Trump akan terus menjaga keamanan dan stabilitas di Baltik, karena wilayah ini merupakan sebuah wilayah yang dikatakan sebagai penanda kekuatan besar Rusia. Jika wilayah ini saja dapat dikuasai oleh Rusia, maka tidak menutup kemungkinan nantinya beberapa tahun kemudian Rusia akan bergerak semakin ke barat menjadi ancaman yang nyata bagi Uni Eropa dan Amerika Serikat.



Referensi

Holland, Steve. 2017. Trump says U.S. ‘very protective’ of Baltic region | Reuters. [ONLINE] Available at: https://www.reuters.com/article/us-usa-trump-russia-finland/trump-says-u-s-very-protective-of-baltic-region-idUSKCN1B825C. [Accessed 26 March 2018].

Kažociņš, J. (2015). “Baltic Security in the Shadow of Ukraine’s War”, in A. Pabriks & A. Kudors, eds., The War in Ukraine: Lessons for Europe. Riga: University of Latvia Press.

Max Fisher. 2018. Donald Trump’s Ambivalence on the Baltics Is More Important Than It Seems – The New York Times. [ONLINE] Available at: https://www.nytimes.com/2016/07/22/world/europe/donald-trump-nato-baltics-interpreter.html?module=ArrowsNav&contentCollection=Europe&action=keypress®ion=FixedLeft&pgtype=article. [Accessed 26 March 2018].

NATO. 2018. NATO – News: NATO battlegroups in Baltic nations and Poland fully operational, 28-Aug.-2017. [ONLINE] Available at: https://www.nato.int/cps/en/natohq/news_146557.htm. [Accessed 26 March 2018].

Van Ham, P. (1998). “The Baltic States and Zwischeneuropa: ‘Geography Is Destiny’?”, International Relations, 14 (2): 47-59.

TENTANG PENULIS

Agung Tri Putra adalah mahasiswa S1 Hubungan Internasional di FISIP, Universitas Airlangga

BACA JUGA

Write a response to this post