Sifat Alamiah Manusia sebagai Faktor Pemicu Kekerasan

Seville Statement menolak faktor biologis sebagai faktor penting dalam penyebab perang

On Violence Nature_Redaksi_Berpijar
On Violence Nature_Redaksi_Berpijar
Seville Statement menolak faktor biologis sebagai faktor penting dalam penyebab perang

Berbicara mengenai perang yang terjadi di antara sesama manusia selama ini, tentu tidak bisa terlepas dari pembicaraan mengenai sifat alamiah manusia itu sendiri. Sifat alamiah manusia, baik itu karena didasari aspek biologis ataupun aspek psikologis, seringkali dianggap sebagai salah satu faktor utama yang melatarbelakangi terjadinya perang.

Muncul berbagai pertanyaan, ketika banyak binatang jarang membunuh sesama mereka sendiri, tetapi manusia sering bertujuan untuk membunuh sesama mereka sendiri. Mengapa manusia adalah spesies yang berbeda, dan mengapa manusia secara teratur dan sengaja membunuh sesama jenis mereka sendiri? (Wrangham, 2006).

Menurut Wrangham (2006), pada tingkatan sederhana terdapat dua jenis jawaban, yakni membunuh merupakan suatu sifat yang asli atau tidak. Dua jawaban yang saling berlawanan tersebut dirangkum oleh ide-ide dari Jean-Jacques Rousseau dan Thomas Hobbes.

Kedua tokoh tersebut telah menjadi acuan dalam memandang sifat Alamiah manusia dari dua sisi yang berlawanan. Rousseau menganggap bahwa manusia pada dasarnya adalah spesies yang damai. Sedangkan Hobbes sendiri beranggapan bahwa berperang adalah sifat alamiah manusia. Tentu nantinya kedua pandangan tersebut tidak akan terlepas dari berbagai kritik.

Pemikiran Rousseau sendiri didominasi oleh konsep noble savage (penulis menerjemahkannya sebagai ‘orang primitif yang mulia’). Ia sangat kagum oleh laporan tentang kecenderungan spontanitas orang-orang untuk peduli dengan sesamanya sehingga ia mengklaim kekerasan tidak ada dalam sifat alamiah manusia.

Bagi para pengikut Rousseau, hanya beberapa sifat non-alamiah yang dapat menjelaskan mengapa manusia membunuh.

Seperti apa saja sifat non-alamiah yang mendorong manusia untuk membunuh? Antara lain penemuan senjata oleh manusia yang memudahkan manusia untuk membunuh satu sama lain; perkembangan ideologi-ideologi brutal yang dikembangkan oleh manusia sendiri; atau akuisisi kekayaan, wanita, ataupun lahan pertanian.

Faktor-faktor tersebut yang lantas mendorong manusia sangat berkeinginan untuk membunuh sehingga mereka membenarkan persaingan-persaingan yang berisiko.

Gagasan intinya ialah membunuh merupakan sifat asing bagi sifat alamiah manusia (Wrangham, 2006). Sehingga, sifat biologis manusia tidak mendorong manusia untuk melakukan kekerasan, namun ia didorong oleh faktor-faktor yang muncul dari luar diri manusia.

Hobbes secara kontras, berpikiran bahwa sifat alamiah manusia bertanggung jawab atas kekerasan. Ia menemukan buktinya ketika terjadi perang saudara di Inggris. Ketika seseorang bepergian, ia mempersenjatai dirinya dan berusaha untuk bepergian secara bersama-sama, ketika tidur ia mengunci pintu rumahnya, dan bahkan ketika ia di rumah pun, ia mengunci kamarnya.

Pengalaman pribadinya terkait gangguan yang ia alami di tanah airnya sendiri membuat ia beranggapan hal tersebut dilatari oleh sifat dasar dari manusia itu sendiri, sehingga ia kemudian menggambarkan masyarakat sebagai sebuah ‘war of all against all’  (Wrangham, 2006).

Pengikut Hobbes sendiri melihat berbagai aspek yang beragam dari sifat alamiah manusia yang mereka anggap bertanggung jawab atas kekerasan. Immanuel Kant misalnya, ia melihat perang tertanam dalam sifat alamiah manusia dan bahkan dianggap sebagai sesuatu yang mulia dan diinspirasi oleh kehormatan.

Sedangkan Fyodor Dostoyevsky beranggapan bahwa dalam setiap diri manusia tentu saja terdapat sifat-sifat binatang yang tersembunyi di dalamnya. Intinya ialah pada dasarnya manusia dapat membunuh, bukan hanya psikopat.

Bukan dikarenakan manusia adalah setan, tetapi karena kesempatan yang ada memberi peluang bagi manusia untuk memanfaatkan kekuatan membunuhnya.

Perdebatan antara pengikut Rousseau dan Hobbes berlanjut sampai 300 tahun lamanya. Awalnya, fakta bahwa hewan jarang membunuh satu sama lain tampak mendukung tesis Rousseau. Namun fakta bahwa hewan jarang membunuh satu sama lain terlalu dilebih-lebihkan.

Seperti contoh serigala liar, walaupun mereka terhambat untuk menyerang anggota kelompok mereka, akan tetapi mereka sering membunuh anggota kelompok lainnya. Lagipula, pada faktanya penyebaran  kekerasan mematikan dalam spesies, terutama manusia, telah menjadi sesuatu yang normal dalam alam (Gat, 2006 dalam Gat, 2009). Persaingan memperebutkan sumber daya, seperti makanan, air, dan lainnya, menjadi penyebab utama dari agresi dan kekerasan mematikan.

Seperti yang Darwin jelaskan, organisme hidup, termasuk manusia, cenderung untuk berkembang secara cepat. Namun, jumlah mereka dibatasi oleh sumber daya yang ada, dan tentunya kompetitor dari segala jenis makhluk hidup.

Hal ini tentu bertolak belakang dengan imajinasi Rousseau, karena faktanya tidak tersedia tempat yang cukup bagi manusia dan binatang untuk hidup.

Menurut Gat (2009), terdapat konsep-konsep yang mendukung pemikiran Darwin. Pertama ialah konsep reproduksi, dimana perjuangan untuk mendapatkan akses terhadap partner seks yang reproduktif.

Dalam masyarakat pemburu-pengumpul, pembunuhan sangat umum dijumpai dalam kelompok-kelompok suku terkait pertengkaran yang memperebutkan perempuan. Peperangan secara teratur melibatkan penculikan wanita, dan kemudian dijadikan objek pemerkosaan masal ataupun dinikahi, ataupun keduanya.

Kedua ialah konsep dominasi dalam kekuatan, status, prestise, dan tingkatan, dimana peperangan juga dilatari oleh persaingan antar manusia untuk merebut berbagai konsepsi dominasi tersebut.

Ketiga ialah konsepsi balas dendam, yang menurut perspektif evolusi, balas dendam ialah pembalasan yang dimaksudkan untuk menghancurkan musuh atau untuk mencegah perlawanan, maupun terhadap lawan potensial lainnya.

Keempat ialah konsep dilema kekuatan dan keamanan, dimana sulitnya mengatasi sikap saling mencurigai yang terjadi diantara manusia memicu terjadinya perlombaan senjata untuk mengurangi kegelisahan yang terjadi.

Kelima ialah kepercayaan supranatural, yang berupa sihir, kultus, dan pengorbanan, yang seringkali menimbulkan konflik diantara masyarakat pemburu-pengumpul.

Faktor biologis mendapatkan penentangan dari munculnya deklarasi Sevile Statement on Violence, Seville Statement merupakan sebuah pertanyaan bersama yang dibuat di Sevilla, Spanyol pada tahun 1986 oleh para ilmuwan, dan difasilitasi oleh UNESCO. yang menolak faktor biologis sebagai faktor penting dalam penyebab perang.

 

Terdapat lima proposisi dalam Seville Statement yang menolak konsep-konsep dalam faktor biologi penyebab perang yang disertai paragraf singkat sebagai bukti dan pembenaran, antara lain:

Pertama, tidak benar secara ilmiah bahwa manusia diwarisi kecenderungan untuk berperang dari nenek moyang hewan.

Kedua, tidak benar secara ilmiah bahwa segala tingkah laku kekerasan telah tertanam secara genetik dalam sifat Alamiah manusia.

Ketiga, tidak benar secara ilmiah bahwa dalam evolusi manusia mereka yang bertingkah laku agresif lebih terpilih daripada tingkah laku lainnya.

Keempat, tidak benar secara ilmiah bahwa manusia mempunyai otak yang dipenuhi oleh ide-ide kekerasan

Kelima, tidaklah benar secara ilmiah bahwa perang diakibatkan oleh insting ataupun motivasi tunggal lainnya.  

Segall (dalam Somit, 1990), berpendapat bahwa faktor – faktor biologis maupun budaya sendiri memberikan penjelasan masing-masing untuk kekerasan. Lebih lanjut, Segall (dalam Somit, 1990) mengingatkan bahwa suatu pola perilaku bervariasi dari masyarakat ke masyarakat lainnya dan kekerasan tidak dapat dipahami tanpa melihat perspektif lintas budaya.

Sehingga munculnya perbuatan kekerasan tidaklah dilatarbelakangi oleh faktor tunggal saja. Untuk mencari tahu mengapa suatu peristiwa kekerasan dapat terjadi, diperlukan berbagai faktor penyebab lainnya yang juga masih berkaitan dengan peristiwa kekerasan tersebut.

 

Rujukan

Gat, A. (2009). “So Why Do People Fight? Evolutionary Theory and the Causes of War”,

European Journal of International Relations, 15 (4): 571-599.

Somit, A. (1990). “Review: Humans, Chimps, and Bonobos. The Biological Bases of

Aggression, War, and Peacemaking”, The Journal of Conflict Resolution, 34 (3):

553-582.

Wrangham, R. (2006). “Why apes and humans kill?”, in M. Jones and A.C. Fabian, eds.,

Conflict, pp. 43-62. New York: Cambridge University Press.

TERBARU DARI BERPIJAR

Write a response to this post