Peran Humas_A Ghulam Zaki_Berpijar
Publik bukanlah benda mati yang akan patuh terhadap metode-metode persuasi yang asal-asalan tetapi juga perlu ‘dirawat’ oleh manusia (humas) karena publik juga manusia.

Profesi atau posisi public relation jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah ‘hubungan masyarakat.’ Bagian relation-nya sudah tepat diterjemahkan, namun bagian public-nya kurang tepat. Public adalah publik, sedangkan society adalah masyarakat. Akan tetapi, karena istilah hubungan masyarakat (humas) sudah terlanjur dipakai sehingga menjadi kewajaran di tengah masyarakat, sudah terlambat untuk mengubah profesi atau posisi public relation menjadi ‘hubungan publik.’ Humas terasa lebih enak bukan?

Walaupun demikian, tidak mengubah fakta bahwa istilah publik dan masyarakat memiliki arti yang berbeda dalam kacamata kehumasan. Masyarakat merupakan sejumlah orang yang berkumpul dan hidup bersama dalam suatu batas geografis tertentu yang didalamnya mereka saling berinteraksi. Publik hanyalah sebagian dari masyarakat yang luas itu. Publik adalah sekelompok orang yang memiliki ketertarikan yang sama terhadap sesuatu, seperti kepada produk-produk maupun isu-isu tertentu.

Seitel (2001) dalam Kriyantono (2014) mendefinisikan publik sebagai “Kelompok individu yang tertarik dan berbagi terhadap suatu isu, organisasi, atau ide.” Jadi, apabila tidak ada unsur ketertarikan mengenai isu, ide, maupun organisasi, maka tidak termasuk dalam kategori publik.

Selain penamaan yang kurang tepat untuk istilah public relation, profesi ini tidak jarang dikaitkan dengan aktivitas yang mengekang kegunaan sebenarnya dari praktisi humas. Beberapa orang—mungkin termasuk anda—menganggap bahwa jika humas hanya bertugas untuk ‘meramaikan’ sosial media dengan berbagai pengumuman dan informasi serta kerja-kerja desain grafis. Sosial media yang rutin memposting informasi dari organisasi dianggap sudah bekerja sebagai humas.

Bukan berarti saya menyalahkan aktivitas-aktivitas yang telah disebutkan tadi. Justru, sosial media menjadi salah satu corong bagi organisasi agar dapat menjangkau publik dan calon publik mereka, apalagi jika dikemas dalam tampilan yang menarik. Saya hanya menegaskan bahwa tugas-tugas humas tidak berhenti disitu saja.

Grunig dan Hunt (1984)—nama yang sering menjadi rujukan dalam dunia kehumasan—dalam Murray State’s Digital Commons (2016) mengatakan bahwa aktivitas kehumasan merupakan  bagian dari pengelolaan komunikasi antara organisasi dan publiknya (management of communication between organization and its publics). Sederhanya, humas membangun jembatan yang menghubungkan organisasi dengan publik.

Oleh karena itu, humas tidak terbatas pada interaksi dengan media maupun media sosial. Ia tidak bisa mengabaikan peran komunikasi secara langsung (tatap muka) yang dampaknya bernilai lebih daripada komunikasi secara tidak langsung. Biasanya, humas mendirikan sebuah stand di lokasi yang strategis untuk mengenalkan perusahaan mereka. Selain itu, ia juga dapat mengadakan acara-acara bakti sosial agar dapat menaikkan citra positif perusahaan. Jika didalami dengan seksama anda akan mengenal media relations, community relations, government relations, dst. sebagai tanggung jawab praktisi humas. Jadi, kerjaan humas tidak hanya memandang layar monitor saja.

Untuk benar-benar memahami peranan penting dari humas, sejarahnya memberikan kisah yang membuat humas tidak bisa disepelekan. Dialah Ivy Ledbetter Lee (1877-1934) sosok yang dianggap sebagai salah satu pionir dalam profesi kehumasan. Bersama dengan George F. Parker, mereka mendirikan perusahaan kehumasan yang ketiga di Amerika Serikat bernama ‘Parker and Lee’ yang bubar pada tahun 1908 (pr.wiki.com).

Pada tahun 1906, sebuah kereta api tergelincir dari jembatan di Atlantic City dan menewaskan lebih dari 50 orang (prmuseum.org). Lee yang saat itu mewakili Pennsylvania Railroad—sebagai humas dari perusahaan Parker and Lee—melakukan tindakan yang dianggap bukan sebuah kewajaran pada waktu itu. Lee mengungkapkan kebenaran atas insiden tersebut. Bahkan, sang humas mengundang para wartawan—yang tidak jarang harus bermandikan keringat agar dapat mengorek informasi—untuk melihat secara langsung tragedi itu. Untuk menuju ke lokasi kejadian, Lee bahkan memfasilitasi mereka dengan kereta api khusus!

Lee kemudian merilis apa yang sekarang disebut sebagai ‘the first press release’ (prmuseum.org) untuk menjaga kebenaran dan keakuratan berita yang ditulisnya sendiri. Berkat kejujurannya, Pennsylvania Railroad malah mendapatkan apresiasi dari ‘publik’ seperti para anggota pemerintahan yang terpilih dan beberapa agensi pers (baca: koran).

Akan tetapi, ada segolongan jurnalis yang tidak sependapat dengan metode press release yang dilakukan oleh Lee. Mereka menuduh metode tersebut sebagai ajang untuk mengiklankan perusahaan dengan dihiasi oleh fakta-fakta. Karena praktik humas memang masih baru pada saat itu, Lee kemudian menulis buku pertamanya, The Declaration of Principles pada tahun 1906 (Morris, 2014). Salah satu statemen Lee yang terkenal adalah sebagai berikut,

“Ini (humas) bukanlah biro pers rahasia. Seluruh pekerjaan kami dilakukan secara terbuka. Tujuan kami adalah untuk melengkapi (supply) berita. … Singkatnya, rencana kami secara jelas, terbuka,  dan mewakili kepentingan perusahaan dan institusi publik, untuk melengkapi pers dan publik Amerika Serikat dengan informasi yang cepat dan akurat mengenai subyek-subyek dengan nilai-nilai dan kepentingan yang sesuai dengan publik untuk diketahui.”

Dengan kata lain, Lee berhasil menyelamatkan Pennsylvania Railroad dari krisis kepercayaan publik berkat keputusannya untuk jujur di hadapan publik. Saat itu, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, tidak wajar untuk mengungkapkan kebenaran atas suatu insiden negatif yang menimpa perusahaan. Artinya, perusahaan-perusahaan cenderung diam atau menutup-nutupi fakta sehingga publik bergantung kepada pers untuk mengungkapkan ‘kebenaran.’ Untuk menghadapi publik yang demikian, Lee memberikan obat untuk ketidakpercayaan yaitu kejujuran dan terbukti obat itu mujarab!

Untuk mengeksekusi rencana Lee, ia harus berhadapan dengan para eksekutif perusahaan. Walaupun ada yang menolak, pada akhirnya rencana tersebut berhasil berbuah keputusan dan dapat menyelamatkan perusahaan. Lee secara tidak langsung memperlihatkan posisi humas yang tidak bisa disepelekan. Humas juga harus ikut menjadi think-tank dengan para pembuat keputusan (top manager) agar keputusan akhir tidak mencederai kepercayaan publik karena humas-lah yang paling mengerti publik. Mengapa demikian? Nah, ini termasuk salah satu tugas humas yaitu untuk melakukan riset terhadap publik.

Jadi, untuk para humas di luar sana, anda-anda ini—seharusnya—tidak sekedar menjadi pembuat poster belaka, tetapi juga ikut dalam merumuskan kebijakan yang menyangkut kepentingan publik. publik bukanlah benda mati yang akan patuh terhadap metode-metode persuasi yang asal-asalan tetapi juga perlu ‘dirawat’ oleh manusia (humas) karena publik juga manusia.

 

Rujukan:

n.a. “Ivy Lee” Fandom. pr.wikia.com/wiki/Ivy_Lee (diakses 29 Agustus 2018)

n.a. “The First Press Release” The Museum of Public Relations. www.prmuseum.org/blog/2015/11/2/the-first-press-release (diakses 29 Agustus 2018)

n.a. “James E. Grunig: Legend of PR” Murray State’s Digital University. digitalcommons.murraystate.edu (diakses 29 Agustus 2018)

Kriyantono, Rachmat (2014) “Teori-Teori Public Relations Perspektif Barat dan Lokal: Aplikasi dan Praktik” Surabaya: Kencana

Morris, Tim. “Ivy Lee and the Origins of the Press Release” PR Place.www.prplace.com/blog/posts/2014/august/ivy-lee-and-the-origins-of-the-press-release/ (diakses 29 Agustus 2018)

TENTANG PENULIS

A Ghulam Zaki adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi di FISIP, Universitas Airlangga.

BACA JUGA

Tags: , , ,

Bagaimana menurut pembaca?