THE RETURNED
Gambar: Polity Books

Spesifikasi Buku

Judul Buku

The Returned

Penulis

David Thomson

Penerbit

Polity Press, UK

Tebal Buku

xi + 265 halaman

Tahun Terbit

2018 (Cetakan Pertama)

Jenis Buku

Kajian tentang Terorisme

Membaca buku ini rasanya sama dengan menyimak kisah perjalanan jurnalistik ke wilayah penuh resiko. Wilayah penuh gejolak sosial, ketimpangan serta naiknya kelompok-kelompok keras anti-rezim. David Thomson merupakan jurnalis Radio France Internationale untuk wilayah liputan di Tunisia, saat negeri itu dilanda pergolakan tahun 2011. Ia sangat dekat pada figur-figur jihadis muda yang sedang marak di Tunisia. Aksesnya ke kelompok ini cukup terbuka, karena kelompok jihadis muda Tunisia juga butuh liputan media internasional.

Keadaan ekonomi yang buruk di Tunisia sering menjadi alasan utama para jihadis ini melawan rezim, juga alasan mereka beremigrasi ke negara lain. Masyarakat umum di berbagai pelosok Tunisia masih kesulitan memperoleh kebutuhan hidup. Lapangan kerja yang juga sulit, ditambah lagi situasi politik sering mengecewakan. Pada akhirnya, satu-satunya tempat pelarian kawula muda ini adalah ke tempat-tempat pertemuan jihadis. Pada musim panas 2011, untuk pertama kali David melaporkan sejumlah anak muda Tunisia berangkat ke Suriah untuk tujuan berjihad.

Salah-satu bukti kedekatan David pada kelompok Ansar Sharia Tunisia adalah izin yang diperolehnya dari Abu Ayadh untuk merekam kegiatan kelompok itu. Abu Ayadh adalah salah-satu veteran gerakan jihad Afghanistan dan bekas salah-satu orang dekat Usamah bin Laden. Selain itu, Abu Ayadh juga tercatat sebagai komandan kelompok perlawanan Tunisia yang telah menewaskan Ahmad Massoud pada 9 September 2001.

Begitu lama David Thomson berada di lapangan, begitu intensif ia bergaul dengan para jihadis muda, pada akhirnya ia bisa menyelami jalan berpikir mereka. Tentu saja, David tidak akan bersepakat pada pemakaian cara-cara kekerasan, tapi ia setidaknya bisa menjelaskan kenapa cara itu yang digunakan para jihadis muda. Berdasar pengalamannya meliput di lapangan, David menemukan fakta bahwa keikutsertaan kaum muda pada kelompok jihad terjadi di saat mereka ingin menemukan identitas dirinya. Identitas ini berkait pada keberanian serta keunggulan. Menjadi berani dan unggul harus diterjemahkan ke dalam tindakan yang kadang nekat tanpa perhitungan.

David membuktikan hal itu ketika ia diundang sebagai narasumber acara ‘talkshow’ sebuah kanal televisi Prancis. Ia tentu saja berseberangan dengan pandangan narasumber lain, yang beranggapan kenekatan jihadis yang jadi teroris itu tidak punya bukti apapun. Anggapan ini, bagi David, justru tak berpijak pada fakta-fakta lapangan. Para teroris di Prancis belakangan bukan saja menunjukkan kenekatan tapi mereka sudah lebih dari itu, yakni punya legitimasi untuk melakukannya. Jika dilacak masa lalu teroris ini, akan terkuak sebenarnya jejaring yang telah terbentuk meski aparat keamanan harus bekerja ekstra keras.

Buku ini berisi enam bagian. Masing-masing bagian menceritakan sosok jihadis muda, yang pernah diwawancarai David. Kepada David, mereka sudi berbagi kisah. Diawali kisah Bilal, pemuda Prancis yang masuk ke Suriah pada musim panas 2014. Setahun kemudian, Bilal bersama istrinya yang berusia 22 tahun beserta ketiga buah hati mereka, menelepon Konsulat Jenderal Perancis di Istanbul, Turki. Ia ingin kembali ke Prancis. Jalan panjang ke perbatasan Suriah – Turki pun dilaluinya. Begitu tiba di perbatasan, otoritas keamanan segera memborgolnya dan langsung membawa ke Kedubes Prancis di Turki.

Selama beberapa pekan, ia bersama keluarga yang dibawa harus terlebih dulu mendekam di pusat penahanan Turki. Baik kepada otoritas setempat maupun kepada interogator Kedubes, Bilal berjanji tak akan melakukan aksi apapun kelak jika balik ke Prancis. Bilal merupakan warga negara Prancis keturunan Maroko. Ayah-ibunya lahir di Maroko dan mempraktekkan ibadah Islam layaknya warga muslim Perancis lain. Bilal sendiri kelahiran Prancis. Ia meraih diploma dari sekolah kejuruan di Prancis. Perkenalannya dengan ideologi jihadis terjadi saat ia ingin mengetahui perkumpulan jihadis di Prancis. Ia aktif mengikuti perkembangan di wilayah jihadis lewat pertemanan Facebook.

Setelah beberapa kali mengikuti pertemuan jihadis tersebut, Bilal memutuskan pergi ke Suriah. Ternyata, narahubung Bilal lewat Facebook adalah anggota Jabhat al Nushra, yang kemudian menjemputnya di perbatasan Turki di awal tahun 2014 itu. Tak seberapa lama, istrinya yang keturunan Aljazair, menyusul Bilal ke wilayah Suriah.

Sebenarnya, Bilal berhati pasifis. Ia tak suka kekerasan dan menghindari kekerasan. Apa yang dilihatnya selama berada di wilayah Suriah, sungguh berbeda dengan impiannya. Nyaris tiap hari terjadi tembak-menembak, ada yang terluka, begitu pula yang tewas. Istri dan dua putri mereka dirundung ketakutan. Setelah terjadi serangan di Paris pada 13 November 2015, Bilal lantas berketetapan balik ke negeri dimana ia lahir. Usai melalui seluruh prosedur keamanan serta interogasi panjang, Bilal dan keluarganya kini hidup damai di Prancis.

Kisah Yassin lebih mengenaskan. Ia tiba di Mayadin, wilayah Suriah sekitar bulan September 2014. Tiga pekan setelah itu, terjadi pertempuran hebat antara Jabhat al Nusra lawan ISIS di wilayah tersebut. Yassin terluka tembak pada bagian perut bawah. Perawatan yang didapat Yassin di rumah sakit setempat sangat tidak memadai. Begitu ibunya di Prancis, Nadia, tahu keberadaan Yassin di Suriah, sang ibu spontan histeris. Bersama suaminya, Faisal, mereka pun bergegas mempersiapkan diri berangkat ke Suriah menyusul putra mereka. Namun, kedatangan mereka justru membuat Yassin merasa tak nyaman, dan Yassin menyuruh mereka untuk balik ke Prancis.

Situasi terus memburuk di Suriah, dan Yassin tertangkap oleh polisi Turki. Dalam proses interogasi, Yassin meminta kesempatan untuk bicara dengan staf kedubes Prancis di Ankara. Setelah melalui beberapa kali bertelepon, akhirnya Yassin dideportasi balik ke negerinya. Tujuh bulan berada di wilayah Suriah telah membuat Yassin tahu banyak situasi disana. Sehingga hal itu menarik perhatian kepolisian Perancis untuk terus menginterogasinya, jika diperlukan.

Kisah lain adalah tentang Zubeir, sang jihadis tobat. Ia menetap di pinggiran kota Paris, dan menjalani kehidupan sebagaimana layaknya warga negara Perancis lain. David mewawancarai Zubeir pada musim panas 2016. Usia Zubeir masih 18 tahun ketika ia memutuskan berangkat ke Suriah pada tahun 2013. Sebelum ke Suriah, layaknya remaja, ia bergaul dengan siapapun. Sampai kemudian kelompok jihadis di Paris memberinya beberapa video untuk ditonton. Ia menontonnya sampai beberapa kali, lalu ia memutuskan untuk berangkat ke Suriah. Proses masuk ke wilayah itu berjalan mulus. Ia tak bisa berbahasa Arab, hanya berbahasa Prancis. Dan ia menemukan banyak jihadis asal Belgia dan Perancis di wilayah Suriah, juga tak cakap berbahasa Arab.

Zubeir bergabung dengan kelompok lain dari al Qaeda di Suriah. Kelompok ini banyak diikuti oleh jihadis Belgia dan Perancis, yang lebih terbiasa berbahasa Prancis daripada berbahasa Arab. Gaya hidup mereka sudah mirip mafia dengan kebiasaan ala gangster. Malah kebanyakan dari anggota ‘gangster’ ini tiba di Suriah bermotif mencari keuntungan dari penguasaan ladang-ladang minyak. Kenyataan di Suriah itu sungguh berbeda dari impiannya saat masih di Prancis. Zubeir yang menghendaki kesamaan posisi, justru ditempatkan hanya sebagai pelengkap dalam gerombolan jihadis tersebut. Ia benar-benar kecewa dengan situasi di Suriah. Setahun berada di Suriah, Zubeir lalu memutuskan balik ke Prancis, dan setiba di tanah-airnya, Zubeir menjalani pemeriksaan panjang. Setahun lamanya, ia dalam proses interogasi. Aparat Prancis membutuhkan banyak kesaksiannya dari Suriah.

Sejumlah kisah lain, seperti yang dialami oleh Kevin dan Quentin, juga nyaris sama. Awalnya, mereka terpikat oleh janji-janji surgawi yang disebarkan kelompok teroris melalui berbagai media. Setelah mereka tiba di Suriah, kenyataan justru jauh berbeda. Kisah mereka ini merupakan representasi dari situasi yang bisa terjadi dimana saja. Oleh karenanya, dibutuhkan cara-cara efektif membentengi para remaja serta pemuda agar tak kerasukan janji palsu tiada bukti. Masa remaja atau menginjak periode kepemudaan memang sering gampang diprovokasi, tapi berlatih menalar yang baik tentu bisa menjadi cara bagi mereka untuk tidak mudah tergiur janji kosong.

"Awalnya, mereka terpikat oleh janji-janji surgawi yang disebarkan kelompok teroris melalui berbagai media. Setelah mereka tiba di Suriah, kenyataan justru jauh berbeda."

TENTANG PENULIS

Rosdiansyah adalah alumni FH Unair, master studi pembangunan ISS, Den Haag, Belanda. Peraih beragam beasiswa internasional. Kini, periset pada the Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi/JPIP serta Pusat Kajian Islam dan Peradaban (Puskip), Surabaya.

BACA JUGA

Tags: , , ,

Bagaimana menurut pembaca?