Jasa Gutenberg dan Lampu Hijau untuk Periode Renaisans

Gutenberg_A Ghulam Zaki_Berpijar

Di zaman yang serba digital ini, informasi begitu mudah didapat sehingga setiap orang bisa mendadak menjadi “pintar.” Melupakan buku anda di rumah? Selama ada smartphone—yang tidak mungkin kelupaan—dan dapat terhubung dengan internet, anda akan kebanjiran informasi sehingga tidak perlu khawatir menghadapi ujian. Seluruh informasi tersedia di sana dan anda dapat memilih informasi mana yang sesuai dengan preferensi anda. Anda diberi kebebasan untuk memilih. Anda diberi kekuasaan untuk menentukan.

Internet benar-benar berjasa bagi umat manusia. Ia berhasil mengubah (revolusi) berbagai macam aspek dalam kehidupan dan salah satunya adalah mengubah cara berpikir. Contoh di atas memperlihatkan bahwa buku bukanlah satu-satunya sumber informasi sebagaimana dulu sebelum booming internet. Informasi sekarang tersedia online tanpa harus membayar mahal serta lebih “lengkap” pula. Jadi daripada harus menempuh sekian kilometer untuk pulang dan kembali lagi—lebih mudah jika mengetik saja apa yang hendak dipelajari dalam kolom address.

Di tahun 1400, buku-buku di Eropa “dicetak” secara manual menggunakan tangan-tangan manusia. Tentu saja, cara ini memerlukan waktu yang sangat lama sehingga penyebaran ilmu pengetahuan tidak terlalu masif. Lebih dari itu, pembuatan buku-buku serta tafsir atas bible (Alkitab) terbatas untuk gereja saja. Merekalah yang menjadi sumber ilmu pengetahuan saat itu. Akibatnya, kebenaran menurut gereja menjadi kebenaran menurut masyarakat juga. Saking kuatnya gereja, para raja dan ratu bisa memperoleh kekuasaan mereka berkat perlindungan dan aliansi mereka dengan gereja. Selain itu, masyarakat awam sudah memiliki mindset bahwa menentang gereja berarti menentang kehendak Tuhan.

Pesan dari gereja diterima oleh masyarakat secara linear (satu arah) tanpa bisa diklarifikasi oleh masyarakat. Pola semacam ini membuat kekuasaan gereja tidak terbantahkan karena sarana komunikasi massa—berupa penyebaran buku tafsiran bible—berada di tangan penguasa (gereja). Akibatnya, tidak ada prinsip check and balance sehingga penguasa dapat menjalankan monopoli tanpa ada pihak yang mengawasi. Kalaupun ada, mereka tidak memiliki sarana untuk menyampaikan uneg-uneg mereka.

Kemudian, muncul seseorang berkebangsaan Jerman bernama Johannes Gutenberg yang merevolusi segalanya. Awalnya—tahun 1436—bersama dengan Andreas Heilmann dan Andreas Gritzehn, pria kelahiran 1394 ini berhasil membuat mesin cetak yang dikenal dengan sebutan printing press di tahun 1440. Print artinya mencetak sedangkan press artinya menekan. Jika dihubungkan menjadi, “mencetak dengan menekan”.

Alat ini berfungsi sebagaimana dijelaskan oleh namanya. Menggunakan balok-balok huruf yang telah disusun menjadi paragraf dan dibasahi dengan tinta, selembar kertas kemudian ditempelkan dan ditekan. Hasil akhirnya berupa satu lembar kertas dengan susunan kata sesuai dengan balok-balok huruf yang telah disusun sebelumnya. Menggunakan alat ini, kecepatan melipatgandakan buku-buku menjadi lebih cepat.

Penemuan ini mengantarkan Gutenberg pada pencetakan bible pertama yang dikenal dengan nama “Gutenberg Bible” atau “42-Line Bible”. Dengan begitu, pembuatan bible tidak terfokus pada gereja. Gutenberg dapat melipatgandakan jumlahnya dengan cepat (mass produce) dan membuatnya tersedia bagi orang-orang di luar gereja. Di awal tahun 1450,  Gutenberg menggunakan penemuannya untuk memproduksi sekitar 180 bible. Otoritas gereja sebagai produsen tunggal dari penulisan bible telah digagalkan. Bible telah menjadi konsumsi kalangan kelas menengah—untuk pertama kalinya.

Printing press kemudian membuka jalan bagi kedatangan periode Renaisans (dalam bahasa Perancis Tua artinya “kelahiran kembali”). Menggunakan alat/penemuan Gutenberg, para pemikir pada masa itu dapat menyebarkan pengetahuannya dengan cepat. Ilmu pengetahuan mendapatkan tempatnya di lembaran buku-buku hasil cetakan Gutenberg dan tidak tersembunyi dalam catatan pribadi atau pikiran sang pemikir. Mereka dapat menyampaikan gagasannya masing-masing dan didengarkan oleh ribuan orang karena penyebarluasannya yang cepat oleh alat Gutenberg. Akhirnya, informasi tentang apapun dapat tersebar secara masif dan luas sehingga mampu meningkatkan kepekaan masyarakat tentang apa yang sedang terjadi.

Fenomena ini mengingatkan kita tentang apa yang sedang terjadi sekarang. Jika dilihat kembali, internet memiliki peran yang sama dalam konteks komunikasi massa—untuk menyebarkan dan menyediakan informasi—tetapi melakukannya dengan lebih cepat. Jika printing press membuka jalan bagi periode Renaisans, maka internet telah membuka jalan bagi era informasi melalui periode bernama “Digital Revolution.”

Dahulu dan bahkan sampai sekarang, buku-buku memiliki kekuasaan atas informasi dan ilmu pengetahuan. Akan tetapi, melihat perkembangan dunia yang cepat dan tidak dapat diprediksi, status itu dapat berbalik. Internet telah menyediakan ruang yang tidak terbatas, menunggu ada tangan-tangan handal yang siap untuk menuangkan gagasan mereka di sana.

Di tahun 2016, Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo menyebutkan bahwa terdapat 234 media online di Indonesia yang sesuai dengan UU pers dari 43.400 media online yang ada. Media-media cetak “raksasa” di Indonesia maupun di luar negeri telah menyediakan portal-portal mereka di internet. Mengapa? Karena mereka menyasar target pasar yang berbeda. Zaman telah berubah dan mempengaruhi perilaku masyarakat yang hidup bersamanya. Kita kemudian mengetahui bahwa ada generasi x, generasi y, generasi z, dst. Masing-masing dengan karakteristik yang berbeda-beda.

Jika dulu pasca alat Gutenberg buku-buku merupakan konsumsi masyarakat kelas menengah, maka sekarang internet telah menjadi konsumsi bagi semua kalangan. Bagi mahasiswa, hal ini tak dapat dipungkiri. Mereka yang berangkat dari desa dengan mereka yang terbang dari kota sama-sama membutuhkan internet. Bagaimana tidak, dosen mereka terkadang memfatwakan bahwa tugas harus dikirim menggunakan email. Selain itu, para mahasiswa juga telah akrab dengan media sosial seperti Line dan WhatsApp. Bagi yang belum akrab—seperti penulis dulu—ya terpaksa harus memaksakan diri!

Pada akhirnya, internet telah mengungguli buku cetak dalam beberapa aspek seperti ketersediaannya dan jangkauan komunikasi massanya. Akan tetapi, tanpa penemuan alat Gutenberg pada abad ke-14, internet mungkin tidak akan ada karena pintu masuk ke periode Renaisans tertutup. Namun demikian, komunitas akademik tetap teguh mempertahankan buku sebagai sumber ilmu pengetahuan yang tidak dapat tergantikan—karena ia hadir duluan dan merekam apa yang tidak direkam internet. Namun untuk sekarang dan di masa yang akan datang, adakah penemuan yang dapat mengungguli internet?

Referensi

Anirudh. “10 Interesting Facts about Johannes Gutenberg”. Learnodo-Newtonic. https://learnodo-newtonic.com/johannes-gutenberg-facts. (diakses 9 September 2018)

Kuwado, F.J. “Dari 43.000 Media “Online”, Hanya 234 yang Sesuai Syarat UU Pers”. Kompas.com.https://nasional.kompas.com/read/2016/12/21/19022441/dari.43.000.media.online.hanya.234.yang.sesuai.syarat.uu.pers (diakses 9 September 2018)

n.a. “7 Little-Known Facts about Johannes Gutenberg and the Printing Press”. Earth Color. http://earthcolor.com/2015/08/03/7-little-known-facts-about-johannes-gutenberg-and-the-gutenberg-press/. (diakses 9 September 2018)

n.a. “Middle Ages”.History. https://www.history.com/topics/middle-ages. (diakses 9 September 2018)

n.a. “The Printing Revolution”. ER Services. https://courses.lumenlearning.com/suny-hccc-worldhistory/chapter/the-printing-revolution/. (diakses 9 September 2018)

About Author

A. Ghulam Zaki

A. Ghulam Zaki adalah seorang mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga.


Related Posts

Write a response to this post