Kehidupan dan Pemikiran Politik St. Agustinus dari Hippo

St Augustine_Choirifqa_Berpijar
St Augustine_Choirifqa_Berpijar
Bagi Agustinus, filsafat haruslah mengabdi kepada teologi filsafat, tidak diperbolehkan memiliki otonomi iman kristiani.

Agustinus lahir di Tagaste, Numaida, Afrika Utara, pada 13 November 354 Masehi. Agustinus anak dari Patricius merupakan seorang penganut Paganisme, sedangkan ibunya bernama Monica merupakan seorang penganut Katolik yang taat.

Agustinus merupakan anak yang tergolong cerdas, pada masa dewasa ia menjadi seorang penganut ajaran Manicheisme. Manicheisme merupakan sebuah ajaran spiritualisme, ajaran ini dikembangkan oleh Mani, seorang rasul di zaman Babilonia kuno.

Inti dari ajaran Manicheisme adalah keyakinan bahwa dalam kehidupan ini selalu terjadi konflik permanen antara penguasa terang dengan penguasa kegelapan, antara kerajaan kegelapan dengan kerajaan terang.

Manicheisme juga menolak gagasan mengenai dosa dalam agama Kristiani, aliran ini merupakan suatu aliran Gnosis yang dualistik, ia menganut aliran Manicheisme selama bertahun-tahun. Selain itu Agustinus juga memperoleh pendidikan kebudayaan Latin yang terbaik.

Ketika remaja, sekitar tahun 370 M Agustinus menetap di Carthago. Di kota tersebut kehidupan Agustinus penuh dengan dosa, hidup tanpa status pernikahan dengan seorang perempuan selama 14 tahun, dari hubungan tersebut melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Adeodatus, dan diakui oleh Agustinus bahwa anaknya merupakan buah dari dosanya.

Kemudian pada tahun 383 M ia pergi ke Roma dan Milan. Di sana ia menjadi seorang guru, Agustinus juga meninggalkan keyakinan yang dianutnya, yakni ajaran Manicheisme. Hal tersebut dilakukan oleh Agustinus setelah mengalami pergulatan batin dan krisis spiritual-moralitas.

Pada saat krisis spiritual-moralitas, Agustinus mengalami sikap skeptis yang berdampak pada jiwanya yang selalu resah dan menolak kebenaran yang datang dari ajaran agama. Agustinus juga dalam penerawangan batinnya untuk mencari  suatu kebenaran yang hakiki.

Setelah Agustinus mengalami sikap skeptis yang berdampak pada jiwanya, kemudian ia menemukan kebenaran yang datang dari ajaran pemikir Yunani Kuno, seperti Plato dan Aristoteles.

Plato memiliki pengaruh khusus terhadap pemikiran-pemikiran Agustinus. Karena pemikiran Plato memberikan kesan mendalam terhadap Agustinus, hal ini yang menjadikan Agustinus seorang Neo-Platonis. Pengaruh tersebut sangat kuat hingga masa ia menjadi seorang uskup Katolik beberapa tahun setelah itu, dan akhirnya ia bertemu dengan Santo Ambrosius.

Santo Ambrosius merupakan seorang teolog yang berasal dari kota Hippo. Kehidupan Ambrosius penuh dengan pengabdian dan perjuangan bagi perjalanan agama Kristiani. Bukan hanya sekedar menjadi seorang yang netral terhadap persoalan politik, ia juga seorang teolog yang memiliki prinsip politik yang tegas.

Filsafat sangat memikat hati Agustinus, oleh sebab itu sangat mempengaruhi alam pikirannya ialah filsafat Plato dan Neo-Platonisme. Pemikiran-pemikiran filsafat Agustinus sangat dipengaruhi oleh Platonisme dan Neo-Platonisme, tetapi pemikiran Agustinus juga dipengaruhi oleh Aristotelisme dan Stoisisme.

Sedangkan pemikiran teologis Agustinus dapat terlihat dari perdebatan melawan ajaran-ajaran sesat. Paparan pokok-pokok pemikiran Agustinus, hendak menunjukkan betapa pemikiran filsafat dan teologis Agustinus telah berbaur menjadi satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan.

Bagi Agustinus, filsafat haruslah mengabdi kepada teologi filsafat, tidak diperbolehkan memiliki otonomi iman kristiani. Filsafat hanya memungkinkan mengenal dan mencapai kebenaran sejati, jika dilakukan sebagai filsafat Kristiani atau kebijaksanaan Kristiani.

Menurut Agustinus, dalam filsafat Kristiani haruslah terlihat jelas bahwa tindakan iman adalah tindakan rasional manusia. Agustinus juga mengatakan bahwa manusia percaya agar ia mengerti.

Di dalam bukunya yang berjudul, De Doctrina Christiana, ia menjelaskan bagaimana cara-cara berbagai disiplin intelektual dapat melayani serta membantu orang-orang percaya untuk memahami imannya.

Skeptisme dan Iluminasi

Pada masa mudanya, Agustinus menganut ajaran skeptisisme. Di dalam ajaran skeptisisme dianjurkan untuk meragukan segala sesuatu adalah suatu kemustahilan. Sebab apabila seseorang mengatakan bahwa ia meragukan segala sesuatu, pastilah ia tidak meragukan bahwa ia sedang ragu-ragu. Barang siapa ragu-ragu itu berarti ia sedang berpikir dan barangsiapa berpikir, tak dapat diragukan lagi bahwa ia benar-benar ada.

Agustinus percaya bahwa ada kebenaran-kebenaran yang subjektif, yang dapat dilihat dan ada juga kebenaran-kebenaran yang abadi dan tidak terubahkan, oleh karenanya tidak dapat dilihat. Kebenaran-kebenaran yang abadi dan tidak dapat diubah itu hanya terdapat dalam rasio ilahi. Namun rasio insani dapat mengenal kebenaran abadi, karena rasio ilahi tinggal dalam batin manusia dan rasio ilahi tersebut yang menerangi rasio insani.

Dalam ajaran iluminasi, Agustinus terpengaruh oleh idealisme Plato yang mengatakan bahwa jiwa yang ada di dalam manusia berasal dari dunia ide, dapat menerangi dan membawa rasio insani ke dalam dunia ide untuk memandang kebenaran-kebenaran yang abadi yang tidak dapat terubahkan yang berada di dunia ide itu.

Allah dan Penciptaan

Dibalik ketertiban alam semesta, berdirilah sang pencipta, pemelihara, dan penguasa yang berdaulat, yaitu Allah. Bagi Agustinus, Allah berada di luar jangkauan pengetahuan manusia. Manusia tidak mampu memikirkan Allah, karena Allah berada di atas seluruh gagasan dan pemahaman manusia.

Agustinus mengatakan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dari yang tidak ada (Creatio ex Nihilo). Allah menciptakan segala sesuatu lewat hikmat atau rasio ilahi. Dan apa yang diciptakannya itu dipeliharanya dengan cinta kasihnya.

Pemeliharan Allah tersebut tertuang dalam rencananya yang sempurna dan abadi. Dan rencana yang sempurna mengenai alam semesta itu disebut sebagai hukum abadi (lex aeterna). Pandangan Agustinus dipengaruhi oleh pandangan Stoa mengenai suatu rencana alam.

Perbedaan pandangan antara Agustinus dan Stoa ialah, bagi Stoa rencana alam itu imanen sedangkan bagi Agustinus transenden, bahwa rencana alam berada dalam hikmat Allah sendiri.

Manusia dan Dosa

Agustinus menolak dualisme ekstrim Plato tentang manusia yang mengatakan bahwa manusia merupakan jiwa yang terpenjara dalam tubuh. Menurut Agustinus, manusia adalah substansi yang menggunakan tubuh untuk tujuan-tujuan tertentu. Karena tubuh manusia tergolong kedalam dunia indrawi (alam jasmani) dan jiwanya tergolong ke dalam alam rohani.

Jiwa yang menggolongkan ke alam rohani, maka senantiasa mencari kebenaran yang abadi sedangkan keinginannya yang terdalam ialah mencapai kebahagian dan kebaikan yang sempurna. Karena hal tersebut, selalu ada pertentangan antara kehendak jasmani dan rohani dalam diri manusia.

Agustinus mengatakan jika kehendak jasmani sesungguhnya tidaklah jahat. Kejahatan dan dosa itu ada karena ketiadaan yang baik. Yang baik meniada apabila manusia salah menggunakan kehendak bebas yang dikaruniakan oleh Allah kepada manusia. Jadi dosa dan kejahatan timbul oleh karena penyalahgunaan kehendak bebas.

Menurut alam pikiran Agustinus sesungguhnya tidak ada tempat untuk iblis. Kejahatan dan dosa adalah hasil perbuatan manusia. Ia juga mengatakan mengenai keabadian jiwa bahwa hanya tubuh yang dapat binasa, sedangkan jiwa akan tetap ada untuk memandang kebenaran-kebenaran abadi.

Pemikiran pertama yang dengan jelas mengajukan tuntunan legitimasi etis terhadap negara merupakan pemikiran dari Agustinus. Ia menganalogikan negara ibarat tubuh (body) dan jiwa (soul). Tubuh tidaklah kekal, fana, semasa yang akan hancur secara alamiah. Bagian ini yang memiliki dorongan hawa nafsu untuk memiliki keinginan segala yang berhubungan dengan nafsu biologis.

Namun, ini juga yang menjadi segala persoalan yang dapat menyebabkan manusia lupa atau jauh dari sang pencipta (Tuhan) dan menyebabkan manusia bergelimang dengan dosa. Doktrin yang dicetuskan oleh Agustinus tersebut kebenarannya selama berabad-abad sudah diberlakukan di Barat. Konsep hidup dalam biara dan tanpa menikah terinspirasi oleh dirinya sendiri.

Agustinus melihat bahwa wanita sebagai penyebar dosa maka dari itu harus dihindari. Hal ini kemudian mendapat penolakan keras dari kalangan feminisme di abad selanjutnya. Sebaliknya, jika jiwa itu bersikap kekal abadi tidak akan pernah mati atau hancur, jiwa akan tetap hidup.

Berdasarkan hal tersebut, Agustinus membuat kategori dua bentuk negara yaitu negara Tuhan (City of God atau Heavenly City) atau dalam bahasa Yunani Civitate Dei dan negara Iblis atau negara Duniawi (City of Man atau Earthly City) dalam bahasa Yunani Civitate Terrena atau Civitate Diaboli.

Negara Tuhan yang didasarkan oleh cinta kasih Tuhan yang bersifat abadi (immortal), merupakan faktor perekat yang mengintegrasikan negara menjadi suatu kesatuan politik (Political Entity). Merupakan kepatuhan warga negara terhadap hukum-hukum negara yang dilaksanakan atas kesadaran kolektif. Semua dilakukan demi mencapai kebaikan bersama dan kebaikan bersama ini sebagai perhatian utama dalam negara Tuhan.

Negara Tuhan memiliki sifat Universal, tidak dibatasi oleh sekat-sekat territorial kebangsaan, suku, bahasa maupun waktu. Negara Tuhan juga dapat berlangsung sepanjang masa. Oleh sebab itu, maka Agustinus percaya bahwa masyarakat atau negara ideal yang seharusnya dibangun oleh umat Kristiani adalah semacam Negara Persemakmuran Kristiani.

Adapun unsur penting dari negara Tuhan adalah perdamaian hubungan positif dalam keharmonisan serta kerukunan atau perdamaian yang dilihat sebagai The Most Orderly and Concordant Partnership in The Function Of God and Another in God.

 

Referensi

Rapar, J.H., 1995. Filsafat Politik Agustinus. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Syam, Firdaus, 2007. Pemikiran Politik Barat. Jakarta: PT. Bumi Aksara

TENTANG PENULIS

Choirifqa Widya Wira Nadzifah adalah mahasiswa S1 Ilmu Politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga

BACA JUGA

About Author

Choirifqa Widya Wira Nadzifah

Choirifqa Widya Wira Nadzifah adalah mahasiswi S1 Ilmu Politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga.


Related Posts

Write a response to this post