Jejaring Mematikan di Sekitar Kita

Jejaring Terorisme di Sekitar Kita_Reza MH_Berpijar
DALJIT SINGH

Judul Buku Terrorism in South and Southeast Asia In the Coming Decade

Penulit Daljit Singh (Ed.)

Penerbit ISEAS dan Macmillan

Tahun Terbit 2009

Tebal Buku 231 halaman

Jenis Buku Kajian tentang Terorisme


Belajar tentang terorisme di masa kini memang sedang panas-panasnya. Berbagai negara sedang berpacu untuk mengembangkan alutsista demi keamanan dan kenyamanan warga negaranya agar tidak terkena serangan teroris. Amerika pun yang dianggap sebagai polisi dunia telah terkena serangan 11 September di tahun 2001. Tindakan terorisme sendiri, terlepas ada yang dibalut dengan agama, sejatinya bersifat politis. Tindak terorisme sebenarnya hanya sebuah cara untuk mencapai tujuan politik yang dicita-citakan oleh sebuah kelompok yang terkait dengan tindak tersebut.

Dalam perkembangan ilmu keamanan, banyak akademisi dan ilmuwan berusaha menjelaskan mengenai keberadaan terorisme, bahkan membuka jejaring mereka yang terbilang sangat luwes dan tidak nampak. Berbagai konferensi diadakan untuk membaca gerak-gerik kelompok teroris, termasuk seminar dengan judul yang sama dengan buku ini yang diadakan di Singapura pada tanggal 26-27 Juni 2008 yang diadakan oleh Centre for Security Analysis (CSA) bersama Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS).

Buku ini berisi artikel-artikel yang menjadi rujukan dalam seminar tersebut, dikumpulkan dan disunting. Para penulisnya adalah Daljit Singh, Arabinda Acharya, Tejal Chandan, Rohan Gunaratna, John Harrison, Muhammad Tito Karnavian, Sankhya Krishnan, Geeta Madhavan, Lt Gen (Retd) VR Raghavan, Bhathiya Ratnayake, Ajai Sahni, Vijay Sakhuja, Ian Storey, dan Thusitha Tennakoon.

Hal mendasar yang acapkali terlupakan dari terorisme adalah wilayah. Para teroris memerlukan sebuah pusat yang aman bagi mereka dalam mempersiapkan penyerangannya. Ada dua wilayah yang seringkali dituding sebagai sarang teroris: Asia Selatan dan Asia Tenggara. Negara seperti Pakistan, Afghanistan, lalu Malaysia, Indonesia dan Thailand merupakan zona dimana para teroris akan mempersiapkan aksinya. Lalu bagaimana dengan Palestina, Syiria dan Irak? Negara Timur Tengah adalah medan tempur mereka.

Dijelaskan dalam buku ini bahwa jauh sebelum ada terorisme di Timur Tengah dan Asia Selatan, bahwasanya di Asia Tenggara sudah ada pemberontakan bercorak agama seperti Darul Islam di Indonesia (1950-1960an), adapun konflik-konflik yang bernuansa agama seperti di Filipina Selatan, Thailand Selatan dan juga Aceh merupakan gambaran bahwa perlawanan agama sudah ada jauh sebelum Osama melawan Barat di Afghanistan.

Beberapa kelompok yang digolongkan sebagai teroris juga awalnya muncul bukan sebagai kelompok yang berdasarkan agama. Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang berada di Aceh, Indonesia berfokus kepada pembebasan Aceh sebagai provinsi dengan otonomi khusus di Indonesia, mereka bahkan menolak untuk berafiliasi dengan Al-Qaeda, karena nantinya akan menghilangkan simpati dunia internasional terhadap perjuangan mereka.

Begitu pula dengan Moro National Liberation Front / MNLF (Front Nasional Pembebasan Moro) yang muncul sebagai kelompok etno-nasionalis (kelompok yang mengutamakan etnisnya). Permasalahan MNLF juga berdasar kepada etnis, bukan agama. Akan tetapi lambat-laun berubah menjadi konflik berbau agama guna mendapat sokongan dana dan senjata dari Al-Qaeda. Sama halnya dengan Patani United Liberation Front / PULO di Thailand pada tahun 1970an.

Di Filipina akhirnya muncul kelompok Moro Islamic Liberation Front / MILF dan Kelompok Abu Sayyaf yang memiliki kontak dengan Al-Qaeda dan Jamaah Islamiyah. MILF merupakan splinter group (pecahan) dari MNLF yang keluar pada tahun 1970an dan tetap diklasifikasikan sebagai gerakan pemberontakan, bukan sebagai kelompok teroris. Berbeda dengan kelompok pimpinan Abu Sayyaf yang sudah digolongkan sebagai kelompok teroris oleh Amerika dan PBB.

Kelompok MILF pun mendapatkan dukungannya dari Darul Islam (DI) di Indonesia, bahkan pelatihan-pelatihan militer pada tahun 1985 dilakukan oleh para petarung dari DI. Ada ikatan erat antara Abu Bakar Baasyir dan Abdullah Sungkar dengan Salamat Hasyim (pemimpin MILF). Semenjak kelompok JI terpecah dari DI, justru JI yang semakin mengembangkan jejaringnya di Asia tenggara, sementara DI stagnan hanya berjuang pada ranah mendirikan negara Islam di Indonesia.

Jamaah Islamiyah yang dekat dengan Al-Qaeda, berusaha membangun ke-khalifah-an global yang dimulai di wilayah Asia Tenggara dan Asia Selatan. Beberapa negara yang menjadi bidikan JI adalah Indonesia, Kamboja, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina dan Thailand. Namun ada ikatan yang kuat antara JI dan MILF di Filipina, karena keduanya berlatih dalam satu kamp yang sama ketika mengusir Soviet dari Afghanistan.

Kedua kelompok ini menjadi ancaman utama sektor keamanan di Asia Tenggara layaknya Taliban dan Al-Qaeda juga menjadi ancaman utama dunia Internasional. Itu kenapa Asia Selatan dan Asia Tenggara dihubungkan dalam buku ini, karena merupakan pemasok kelompok mujahidin terbesar. Bahkan MILF mendapatkan pelatihan militer di Mindanao oleh JI. JI mengajarkan kisaran 500 penduduk lokal mengenai gerilya di kota (urban warfare). MILF memang hebat dalam peperangan di hutan, namun tidak memahami taktik gerilya kota, termasuk merakit bom.

Namun semenjak 2008, relasi antara JI dan MILF mulai berkurang, menurut Tito, banyak yang bergabung dengan kelompok Abu Sayyaf dan menjadi teroris. Maka dari itu pemerintah Filipina mengeluarkan kebijakan yang membedakan penanganan menghadapi para insurgen (pemberontak) dengan para teroris yang tergabung dalam ASG. Salah satu yang tersisa di Mindanao adalah Umar Patek yang kehidupannya didanai oleh jejaring JI di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Dalam menghadapi dan melawan terorisme, pemerintah Indonesia, Filipina dan Malaysia bekerja sama membentuk jejaring yang sama seperti JI-ASG-MILF dan berbagi informasi intelijen guna menangkap para terduga teroris yang masih banyak disekitar kita. Bahkan negara seperti Thailand tidak terlepas dari bayang-bayang kelompok teroris.

Bekas mujahidin Afghanistan yang bernama Nasoree Saesong membangun sebuah koneksi teroris yang bernama Gerakan Mujahideen Islamic Patani (GMIP) yang berfokus kepada perlawanan terhadap Kerajaan Thailand. Mereka tidak begitu terafiliasi dengan JI karena perbedaan target, dimana JI menginginkan penyerangan diarahkan kepada simbol-simbol Barat dan Israel, sedangkan mereka (GMIP) ingin fokus untuk menghadapi tentara Thailand. Akan tetapi gerakan ini semenjak 2006 difasilitasi oleh JI.

Kelompok lain yang masuk dalam buku ini adalah Macan Tamil/Tamil Tigers (The Liberation Tigers of Tamil Eelam/LTTE) dari Sri Lanka. Kelompok ini dianggap sangat berbahaya karena memiliki struktur organisasi yang cukup rapi dibanding kelompok teroris lainnya. Mereka juga memiliki berbagai bisnis yang menunjang tindakan teror mereka. Kelompok ini memiliki pasukan perempuan (yang juga melakukan bom bunuh diri) dan anak-anak dalam jajarannya, tidak lupa armada lautnya juga menjadi salah satu alasan mereka ditakuti.

Masih banyak kelompok teroris yang juga diulas dalam buku ini, dimana data-datanya menjadikan buku ini sebagai salah satu rujukan apabila berbicara mengenai penanggulangan terorisme, terutama dengan kelompok yang sudah masuk pada tahap perlawanan bersenjata. Pastinya buku ini tidaklah sembarangan, karena para penulis adalah orang yang memang mendalami mengenai kasus-kasus terorisme dan sedikit banyak berhadapan dengan para teroris. Bagi para pembaca yang ingin mendalami terorisme, buku ini dapat menjadi awalan yang bagus.*

About Author

Reza Maulana Hikam

Reza Maulana Hikam adalah seorang mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga. Pegiat literasi yang mendirikan situs web resensi Kedai Resensi Surabaya dan Penulis Lepas Opini di Geotimes.


Related Posts

Write a response to this post