Mengenal Komunikator Politik dan Model Aktivis Baru dalam Revolusi Mesir 2011

Revolusi di Mesir melibatkan banyak aktivis online yang berperan besar dalam mengorganisir demonstrasi. Selain itu, internet juga memberikan jalan bagi mereka untuk mengkritik pemerintah sepuasnya.

Revolusi Mesir 2011_A Ghulam Zaki_Berpijar
Revolusi Mesir 2011_A Ghulam Zaki_Berpijar
Seorang perempuan mengibarkan bendera dari balkoni ketika ribuan massa berkumpul di Tahrir Square tanggal 18 Februari 2011 (Foto: KHALED ELFIQI/EPA via Al Jazeera)
Revolusi di Mesir melibatkan banyak aktivis online yang berperan besar dalam mengorganisir demonstrasi. Selain itu, internet juga memberikan jalan bagi mereka untuk mengkritik pemerintah sepuasnya.

Tujuh tahun yang lalu, sebuah peristiwa berhasil menginisiasi berlakunya sistem “baru” dan sekaligus menumbangkan rezim yang telah berkuasa atas masyarakat selama 30 tahun. Peristiwa tersebut dikenal sebagai “Revolusi Mesir” yang berlangsung antara bulan Januari dan Februari 2011 kepada Presiden Hosni Mubarak.

Demonstrasi besar-besaran yang bertujuan untuk revolusi dimulai dengan seruan dari aktivis Mesir untuk memprotes Mubarak karena faktor-faktor yang menggerogoti kesejahteraan rakyat Mesir seperti kemiskinan, kurangnya lapangan pekerjaan, dan korupsi dari pemerintah (aljazeera.com). Selain itu, demonstrasi yang dimulai pada 25 Januari dan berlangsung selama tiga pekan ini berdasarkan Human Rights Watch telah menewaskan 302 orang yang mengakibatkan semakin geramnya rakyat terhadap pemerintah.

Faktanya, tidak hanya rakyat di Mesir saja yang tidak puas dengan presiden atau pemerintah mereka. Negara-negara di Timur Tengah seperti Tunisia, Yaman, dan Libya merupakan contoh bagaimana bersatunya rakyat dapat menjadi kekuatan yang mampu menggulingkan rezim.

Berawal dengan rakyat “muda” Tunisia pada tahun 2010 yang memprotes Presiden Ben Ali lantaran tingginya pengangguran dan praktik korupsi oleh polisi yang pada akhirnya membuka jalan bagi “Jasmine Revolution” dan berhasil menginspirasi beberapa negara tetangga.

Revolusi di Tunisia membuka pikiran para aktivis bahwa kekuasaan yang sebenarnya ada di tangan rakyat. Pemerintahan tidak dapat berjalan jika sistem-sistem dalam negeri yang dijalankan oleh rakyat tidak lagi difungsikan. Akhirnya, boikot pun tak terhindarkan. Rakyat ingin suaranya didengar. Rakyat sadar bahwa demokrasi merupakan jawabannya.

Pemerintahan Mubarak yang telah bertahan selama 30 tahun dirasa telah terlampau lama berkuasa dan mengindikasikan adanya elemen represif yang diterapkan oleh pemerintah kepada rakyat dan kelompok masyarakat yang menentang seperti kelompok Ikhwanul Muslimin (Muslim Brotherhood).

Ini dibuktikan dengan penangkapan beberapa anggota IM dan sejumlah jurnalis. Para demonstran menginginkan agar Mubarak mengundurkan diri dan pemilihan umum oleh rakyat yang adil dengan melarang Mubarak untuk mencalonkan diri.

Akhirnya pada 11 Februari 2011, Mubarak secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya sebagai presiden Mesir dan kekuasaannya diberikan kepada militer (aljazeera.com). Dalam hal ini, rakyat (para demonstran) telah berhasil mewujudkan tuntutan mereka. Keberhasilan ini tidak dapat dipisahkan dengan penggunaan komunikasi politik dan media sosial untuk melawan pemerintah.

Komunikasi politik yang dilakukan oleh rakyat diwujudkan melalui slogan-slogan dan demonstrasi yang ditujukan kepada penguasa. Demonstrasi sebagai pernyataan sikap rakyat yang menentang pemerintah. Salah satu tujuannya adalah dengan menggalang massa yang banyak ia dapat memperoleh perhatian dari media.

Harapannya adalah agar tuntutan mereka terhadap pemerintah dapat tersiarkan kepada seantero negeri dan menekan pemerintah dengan fakta-fakta tentang realitas pahit yang sedang terjadi di bawah kekuasaan pemerintah. Pemberitaan yang massif oleh media kemudian dapat membentuk opini publik. Demonstrasi terbesar yang dilakukan oleh rakyat Mesir terdapat di Tahrir Square, sebuah lapangan yang terletak di Kairo, menjelang pengumuman pengunduran diri Mubarak.

Dalam demonstrasi ini, komunikator politik utama yang dicetuskan oleh Dan Nimmo (1993) tidak tinggal diam. Mereka turut serta “meramaikan” suasana dengan pesan-pesan politiknya masing-masing. Komunikator politik utama yang dimaksud adalah aktivis, profesional, dan politikus. Ditambah dengan rakyat, lengkap sudah “senjata” untuk melawan Mubarak.

Politikus sebagai komunikator politik diperankan oleh tokoh-tokoh dari partai oposisi seperti Partai Wafd dan tokoh-tokoh dari Ikhwanul Muslimin yang terjun dalam bidang politik. Mereka tentu saja menginginkan agar tampuk kekuasaan bergeser kepada partai oposisi. Pesan mereka mewakili tuntutan-tuntutan dari pendukung masing-masing partai.

Profesional adalah mereka yang bergantung kepada komunikasi sebagai sumber penghasilan mereka. Contohnya adalah para jurnalis yang meliput aksi dari oknum polisi maupun demonstran saat terjadi bentrokan, membuka “aib” dari penguasa sehingga diketahui oleh masyarakat, dan sebagai watchdog bagi pemerintah.

Jurnalis dalam konteks komunikator politik merupakan penghubung antara penguasa dan rakyat karena tugas mereka untuk melaporkan kebijakan pemerintah kepada rakyat.

Kemudian ada kalangan aktivis yang tidak bercita-cita untuk menduduki jabatan tertentu dan tidak bergantung pada komunikasi untuk memperoleh pendapatan. Akan tetapi, mereka menyampaikan pendapat kelompok yang mereka wakili–sebagaimana politikus–dan melaporkan keputusan atau kebijakan pemerintah kepada anggota mereka–sebagaimana jurnalis.

Revolusi di Mesir melibatkan banyak aktivis online yang berperan besar dalam mengorganisir demonstrasi. Selain itu, internet juga memberikan jalan bagi mereka untuk mengkritik pemerintah sepuasnya.

Aktivis online ini tentu saja merupakan pengguna media sosial. Pada awalnya, warganet Mesir dibuat berang dengan aksi oknum polisi yang dikabarkan menganiaya seorang pebisnis berusia 28 tahun bernama Khalid Said pada Juni 2011 (nytimes.com). Video yang menampilkan Khalid dihabisi sampai terbunuh oleh dua orang polisi ini menjadi viral di Facebook dan Youtube. Perlakuan polisi tersebut–menurut advokat HAM–dikarenakan Khalid memiliki bukti oknum polisi yang terlibat korupsi.

Akhirnya, lahirlah sebuah laman di Facebook bernama “We Are All Khalid Said” yang menampilkan foto-foto dan video-video perlakuan bengis oknum polisi terhadap Khalid. Laman ini bekerja layaknya media massa yang menyebarkan berita-berita kepada masyarakat umum. Diskusi-diskusi tentang ketidakadilan dan kondisi sosial-masyarakat menemukan tempatnya di media sosial yang terus dipelopori oleh aktivis HAM online.

“Revolusi (Mesir) ada banyak katalisnya” kata Ahmad Zidane, seorang aktivis online yang ikut serta dalam demonstrasi di Tahrir Square. “Yang pertama adalah pembunuhan yang kejam atas Khalid Said.”

Oleh karena itu, muncullah bentuk ancaman baru terhadap pemerintah karena kehadiran internet. Mereka adalah para aktivis yang mengadakan diskusi-diskusi dalam dunia maya kemudian mengundang warganet untuk menghadiri demonstrasi.

 

Diskusi dengan media sosial bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja asalkan terhubung dengan internet. Cara ini sungguh efektif sehingga membuat pemerintah Mesir memutus jaringan internet negara tersebut selama lima hari penuh. Apakah cara tersebut berhasil?

Dibungkamnya hak mengekspresikan pendapat secara online justru membuat mereka lebih berbondong-bondong mendatangi tempat-tempat protes seperti Suez, Alexandria, dan yang paling banyak massanya tepat sebelum turunnya Mubarak, Tahrir Square.

Aljazeera and Agencies. “Timeline: Egypt’s Revolution” Aljazeera. (diakses 19 September 2018)

Jennifer, Preston. “Movement Began With Outrage and a Facebook Page That Gave It an Outlet”. (diakses 17 September 2018)

Olukotun, Deji & Micek, Peter. “Five years later: the internet shutdown that rocked Egypt”. (diakses 18 September 2018)

Nimmo, Dan (1993). “Komunikasi Politik”. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

The Editors of Encyclopedia Britannica. “Egypt Uprising of 2011”. (diakses 16 Sepetember 2018)

TENTANG PENULIS

A Ghulam Zaki adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi di FISIP, Universitas Airlangga.

BACA JUGA

Write a response to this post