Giddens, Luhmann, Parsons
Anthony Giddens, Niklas Luhmann, dan Talcott Parsons
Ada persoalan yang meresahkan dalam konsepsi kekuasaan (power), yakni kurangnya kesepakatan penting dalam pemaknaannya secara spesifik dan banyaknya fitur-fitur yang harus dimasukkan dalam konsep kekuasaan itu sendiri.

Sosiologi merupakan kuliah yang mendasar mengenai hubungan antar manusia atau antar kelompok dalam masyarakat. Sederhananya, sosiologi mempelajari mengenai masyarakat. Bagi mahasiswa yang berkecimpung di bidang sosiologi, pasti mendengar nama Emile Durkheim, Max Weber dan paling tidak, Ibnu Khaldun. Mereka merupakan sosiolog klasik yang teori-teorinya masih disebutkan sebagai pengantar memahami “apa itu sosiologi?”.

Beberapa negara memiliki ciri khas masing-masing apabila mengembangkan teori sosiologinya. Perkembangan ini tidak terlepas dari budaya yang ada dalam masyarakatnya, maka dari itu pandangan tiap sosiolog pasti berbeda-beda. Seperti pandangan Anthony Giddens (Inggris), Niklas Luhmann (Jerman) dan Talcott Parsons (Amerika Serikat) pasti memiliki perbedaan yang cukup signifikan.

Anthony Giddens

Bagi dosen maupun mahasiswa yang berkuliah di Universitas Airlangga pasti mendengar nama Anthony Giddens, dosen sosiologi di London School of Economics. Beliau mencetuskan beberapa teori yang biasanya digolongkan sebagai pandangan yang centrist. Bukunya, The Third Way yang berbicara mengenai sosial-demokrasi di Inggris memberikan pandangan yang sangat mengkritik sosialisme, namun juga melawan pandangan yang terlalu kapitalistik. Menurut Giddens, keduanya harus berjalan beriringan.

Sosialisme dianggap sudah mati dan diperlukan pembaruan didalamnya, ideologi ini kalah bersaing dengan kapitalisme di dunia modern, akan tetapi sosialisme berusaha untuk membatasi ruang gerak kapitalisme agar ideologi ini dapat menjadi jinak, dan pada titik tertentu dapat dilenyapkan. Namun pada era modern ini, pertarungan antara sosialisme dan kapitalisme sudah usai dan mulailah ideologi baru saling bertarung: Sosial-Demokrasi versus Neoliberalisme. Dari kedua pandangan ini munculah Negara Kesejahteraan (Welfare State).

Ada banyak jenis negara kesejahteraan di Eropa: model Inggris yang menekankan kepada jaminan kesehatan, model Nordik dengan orientasi yang cukup luas dalam penyediaan pelayanan publik dengan harga pajak yang tinggi, model Eropa tengah (kontinental) yang menurut Giddens memiliki komitmen kecil dalam memberikan pelayanan publik yang biasanya hanya berbentuk asuransi, dan model Selatan yang sama dengan Eropa tengah namun dalam kadar yang lebih sedikit.

Terlepas sudut pandangnya yang dekat dengan kelompok sosial-demokrat seperti Partai Buruh, pada beberapa titik Giddens cukup berlawanan dengan kelompok New Left (Kiri-Baru) ini, yakni dalam memandang Globalisasi. Bisa dibilang dalam bukunya The Third Way maupun Runaway World, ia sangat terkesima dengan keberadaan globalisasi dan sangat mendukung perkembangannya. Menurut Giddens, globalisasi bukan hanya hal baru, namun juga revolusioner, istilah ini tidak hanya dekat dengan ekonomi, tapi juga teknologi, politik dan budaya.

Posisi Negara-Bangsa pun semakin lemah dihadapan globalisasi, maka dari itu, istilah ini juga membuat nasionalisme lokal bermunculan, banyak budaya lokal yang awalnya mulai tergerus oleh globalisasi, sekarang berusaha diangkat kembali dan dilestarikan. Akan tetapi, semakin hari, globalisasi akan semakin kuat. Istilah ini muncul diberbagai jurnal ilmiah, bahkan pidato kebangsaan seorang kepala negara akan kurang pantas apabila tidak menyebutkan kata globalisasi didalamnya.

Banyak yang memandang skeptis mengenai perkembangan globalisasi, namun penulis dapat menjelaskan globalisasi dan sosial-demokrasi merupakan dampak dari globalisasi itu sendiri. Yang mau disampaikan oleh Giddens, bahwa dunia ini tidak hitam-putih, ada area dimana sesuatu yang kita anggap buruk sejatinya memiliki sesuatu yang baik di dalamnya. Penulis tidak menjelaskan tentang strukturasi karena tanpa artikel ini, sudah banyak yang mengulas tentang teori itu, terutama jurnal ilmiah terindeks scopus.

Niklas Luhmann

Untuk sosiolog asal Jerman ini, masih jarang yang mengutarakannya di Indonesia. Ia mengajar sosiologi di Universitas Bielefeld, Jerman. Beliau terkenal dengan teori sistemnya dimana didalamnya juga mengulas mengenai struktural-fungsional ala Talcott Parsons. Sebelum itu, dalam ceramahnya yang berjudul Introduction to Systems Theory ia menyatakan bahwa teori sosial sedang mengalami krisis teori sekarang. Penemuan yang berkenaan dengan teori sosial bisa dihitung jari dan bahkan terkadang hanya pembaharuan dari teori sebelumnya.

Dalam bukunya tersebut, ia mempertanyakan usaha para sosiolog yang berusaha mendekati sistem sosial dengan hukum alam menggunakan statistik. Model penelitian semacam itu tidak akan berhasil karena memang sudah kodratnya ilmu sosiologi berbeda dengan ilmu eksakta. Pertanyaan berkaitan dengan identitas dari sebuah sistem dalam sosiologi harus dijawab dalam sistem itu sendiri, dengan kata lain, para sosiolog harus mengetahui seluk-beluk dari sistem sosial yang ia teliti.

Beliau menjelaskan mengenai kata maintenance yang juga digunakan Parsons dengan kata stable agar interaksi sosial tetap berkelanjutan. Ia menganggap pada dasawarsa 40-50an Teori Sistem dianggap tidak penting bahkan seharusnya sudah hilang, maka dari itu muncul teori maintenance functionalism sebagai pembaharuan dari teori sistem. Kegagalan perkembangan Teori Sistem karena adanya pemisahan ilmu sosial (contoh: Ilmu politik, Sosiologi, dll).

Tidak hanya berbicara mengenai kemurnian sosiologi, Luhmann juga mengulas mengenai Kepercayaan dan Kekuasaan dalam bukunya yang berjudul Trust and Power. Disana ia menjelaskan bahwa Trust merupakan sesuatu yang diberikan kepada seseorang, kita dapat memilih untuk memberikannya atau tidak memberikannya sama sekali. Istilah ini erat hubungannya dengan ekspektasi seseorang. Tanpa trust, hidup seseorang akan dipenuhi kecurigaan dan kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar, yang pastinya, tidak enak.

Luhmann tidak memberikan penjelasan tentang makna dari kekuasaan, namun bagi beliau, semua konsep dan definisi mengenai kekuasaan selalu melibatkan hasil yang dimana usaha untuk mencapai hasil tersebut selalu ada perlawanan. Teori sosiologi yang dekat dengan pembahasan kekuasaan adalah societal, dimana ada diferensiasi sosial yang membagi masyarakat kedalam sub-kelas dan strata.

Antara Giddens, Luhmann, dan Parsons_Berpijar

Talcott Parsons

Dalam tulisannya ini Parsons hendak mengeksplorasi lebih dalam konsepsi tentang sistem sosial. Pertama, konsep interpenetrasi menyiratkan bahwa sistem sosial secara empiris dipahami sebagai sistem terbuka, terlibat dalam proses pertukaran yang rumit dengan sistem di sekitarnya/di lingkungannya. Konsep sistem terbuka yang saling bertukar dengan sistem lingkungan juga menyiratkan batasan dan pemeliharaannya. “Batasan” secara sederhana hanya berarti bahwa perbedaan yang secara teoritis dan empiris signifikan antara struktur dan proses internal ke sistem, dan yang eksternal, itu ada dan cenderung dipertahankan.

Agar dapat mengkonstitusikan sebuah sistem yang relevan secara teoritis, penting untuk membedakan seperangkat fenomena yang tidak dimaksudkan atau tidak berhubungan dari sistem yang sebenarnya. Ada dua mode analisis untuk mencapai tujuan ini, yaitu Mode analisis struktural dan fungsional, dan Mode analisis “dinamis”.

Bagi sosiologi, konsep penting dalam interaksi sosial adalah peran. Parsons memperlakukan konsep ini sebagai istilah “dasar” dari serangkaian kategori struktural, dimana istilah-istilah lainnya, di urutan yang semakin meningkat, adalah: kolektivitas, norma, dan nilai. Titik permulaan pentingnya adalah konsepsi antara dua (atau lebih) individu yang berinteraksi dalam suatu cara untuk membentuk suatu sistem yang interdependen. Permasalahannya sekarang, bagaimana interaksi antar-dua individu ini dapat dikatakan sebagai interaksi yang stabil—dimana salah satu individu tidak meninggalkan individu lainnya dalam keadaan frustasi dan menjadikan sistem terputus.

Ada persoalan yang meresahkan dalam konsepsi kekuasaan (power), yakni kurangnya kesepakatan penting dalam pemaknaannya secara spesifik dan banyaknya fitur-fitur yang harus dimasukkan dalam konsep kekuasaan itu sendiri. Tulisan Parsons ini bertujuan untuk mencoba mengklarifikasi arti dan relasi kekuasaan yang kompleks dengan meletakkan konsep kekuasaan dalam sebuah skema umum untuk dianalisis dalam sistem sosial yang kompleks dan berskala besar.

Ada tiga konteks penting dimana menurutnya kerumitan konsep kekuasaan tercermin, di berbagai literatur. Pertama, menyangkut kekritisan konseptual, menyangkut tendensi, dalam tradisi Hobbes, untuk memperlakukan kekuasaan secara sederhana sebagai kapasitas umum untuk mencapai akhir atau tujuan dalam hubungan sosial, terlepas dari media yang digunakan atau status “otorisasi” untuk membuat keputusan atau memaksakan kewajiban.

Giddens, Anthony. 1999. The Third Way: The Renewal of Social Democracy. London: Polity.

Giddens, Anthony. 1999. Runaway World: How Globalisation is Reshaping Our Lives. London: Profile.

Luhmann, Niklas. 2013. Introduction to Systems Theory. London: Polity

Luhmann, Niklas. 2017. Trust and Power. London: Polity

Parsons, Talcott et al. 1961. Theories of Society. New York: Simon & Schuster.

Parsons, Talcott. 1963. On The Concept of Political Power. Proceedings of the American Philosophical Society. Vol. 107, No. 3, hal. 232-262

TENTANG PENULIS

Reza Maulana Hikam adalah mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di FISIP, Universitas Airlangga.

A Faricha Mantika adalah mahasiswa S1 Ilmu Politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga

BACA JUGA

Tags: , , , , ,

Bagaimana menurut pembaca?