Dasar Ekonomi Pembangunan di Indonesia

Pembangunan diselidiki sebagai proses multidimensional yang berkaitan dengan reorganisasi dan reorientasi sistem sosial dan ekonomi.

Reza MH Michael P Todaro_Berpijar
Michael P Todaro

Judul Buku Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga

Penulis Michael P. Todaro

Penerbit Ghalia Indonesia

Tahun Terbit 1983

Tebal Buku 494 halaman

Peresensi Reza Maulana Hikam


Michael P. Todaro, seorang begawan di bidang ekonomi dan studi pembangunan. Ia merupakan profesor di bidang ekonomi dari Universitas New York dan juga direktur dari Yayasan Rockefeller. Saat kita akan memulai perkuliahan berkenaan dengan ekonomi pembangunan pasti akan menggunakan buku pegangan yang ditulis oleh Todaro ini, bahkan banyak yang menyebut model pembangunan yang ternama adalah Harris-Todaro Model. Meskipun karyanya yang satu ini sudah termasuk usang, namun masih cocok jika berbicara mengenai problematika ekonomi yang ada di negara dunia ketiga.

Todaro membuka bukunya dengan menjelaskan perbedaan yang menjulang antara penduduk di negara maju dan berkembang. Perbedaan pendapatan yang sangat tajam dengan jumlah keluarga yang sangat berbeda dalam satu rumah. Bagaimana sejatinya keseharian dan rumah tangga yang benar-benar berbeda. Beliau menjelaskan kesenjangan ini layaknya bercerita sekaligus melakukan perbandingan antara penduduk Amerika Utara dengan Asia dan Amerika Latin.

Dari perbandingan ini, beliau mulai memunculkan 16 pertanyaan berkaitan dengan apa sebenarnya pembangunan itu? Kenapa banyak pengangguran di negara dunia ketiga yang menyebabkan kemiskinan di negara tersebut susah ditanggulangi? Mengenai sistem pendidikan, pertanian, perencanaan pembangunan dan keberadaan perusahaan multinasional juga dipertanyakan. Dari pertanyaan-pertanyaan ini muncullah pandangan Todaro mengenai ekonomi.

Bagi beliau, ekonomi merupakan sebuah ilmu sosial, maka ekonom merupakan ilmuan sosial. Dalam kegiatan ekonomi, tidak hanya untung rugi dan supply-demand, namun ada interaksi sosial, bisa berupa negosiasi atau sekedar basa-basi. Beliau berargumen bahwa teori ekonomi tradisional (neoklasik) sudah tidak relevan lagi digunakan untuk membahas perekonomian masa sekarang, terutama dalam pembangunan di negara dunia ketiga.

Pemikiran neoklasik ini masuk dari negara maju kedalam negara berkembang karena adanya impor buku daras untuk pelajaran ekonomi mikro, makro dan internasional. Beliau juga menjelaskan arti dari tiga ekonomi tersebut: ekonomi mikro berfokus pada tingkah laku dan kegiatan ekonomi yang bersifat individual, ekonomi makro melihat ekonomi cukup luas dalam kadar nasional dan secara keseluruhan kegiatan ekonomi, dan ekonomi internasional meneliti hubungan ekonomi atau dagang antar negara.

Adapun dalam buku ini, Todaro mengejawantahkan mengenai struktur dan karakteristik negara dunia ketiga yang ia panggil sebagai negara berkembang. Strukturnya ialah: besarnya ukuran negara, evolusi historisnya, bantuan fisik dan sumber daya manusia, pemerintah dan sektor swasta yang penting, bentuk struktur perindustriannya, ketergantungan terhadap kekuatan politik dan ekonomi luar negeri, dan pembagian kekuasaan serta kelembagaan di dalam negara tersebut.

Karakteristiknya sebagai berikut: tingkat kehidupan dan produktivitas rendah, pertumbuhan populasi dan tanggungan beban yang tinggi, tingkat pengangguran tinggi, ketergantungan terhadap bahan-bahan ekspor, dominasi, dependensi dan kerentanan terhadap dunia internasional. Peresensi akan menggarisbawahi karakteristik dunia ketiga yang pertama, yakni tingkat kehidupan yang rendah, dimana tingkat kehidupan ini dihitung melalui Produk Domestik Bruto (PDB), Penghasilan per Kapita, Produk Nasional Bruto, pemerataan pendapatan nasional, kemiskinan dan pendidikan pun masuk menjadi salah satu sub-karakteristiknya. Terlepas ilmuwan sosial, ekonom akan terpaut dengan angka.

Setelah menguraikan mengenai karakteristik negara dunia ketiga, Todaro bergerak kepada pemaknaan dari pembangunan itu sendiri. Ia tidak mengutarakan secara jelas dan eksplisit mengenai pembangunan, namun skala pembangunan selalu nasional dengan dampak internasional. Pembangunan diselidiki sebagai proses multidimensional yang berkaitan dengan reorganisasi dan reorientasi sistem sosial dan ekonomi.

Beliau mengejawantahkan dua pendekatan Ekonomi Pembangunan: Model bertingkat yang tenar di dekade 50-60an, salah satu penulisnya yang terkenal adalah Walt Whitman Rostow dengan bukunya The Stages of Economic Growth yang menjelaskan tahapan pertumbuhan ekonomi dari masyarakat tradisional hingga konsumsi massa, dan juga ada Harrod-Domar Model (masih dalam model bertingkat) dimana setiap usaha ekonomi harus menyematkan proporsi tertentu dari pendapatan nasionalnya untuk mengganti barang-barang yang rusak (model ini memiliki banyak rumusan yang dapat dibaca dalam buku ini); Model Strukturalis Internasional yang memiliki dua pandangan: model dependensi neo-kolonial yang dekat dengan pandangan ekonomi marxis, lahir dari pandangan Andre Gunder Frank dan Theotonio Dos Santos dimana kondisi keterbelakangan dari negara dunia ketiga dipelihara agar tetap dapat dieksploitasi dan keterbelakangan ini adalah akibat dari perkembangan kapitalisme dan kapitalisasi perekonomian dunia, pendekatan yang kedua adalah paradigma tiruan palsu yang berargumen bahwa kegagalan dunia ketiga adalah kesalahan nasehat yang diberikan kepada mereka.

Guna memahami teori pembangunan, para mahasiswa pun harus memahami konsep dualisme sosial atau masyarakat ganda. Michael Todaro mengutarakan ada tiga sasaran pembangunan: (1) meningkatkan persediaan dan memperluas pemerataan bahan-bahan pokok yang dibutuhkan untuk bisa hidup, (2) Meningkatkan taraf hidup, termasuk penghasilan, penyediaan lapangan kerja yang memadai, pendidikan yang lebih baik dan perhatian terhadap nilai-nilai budaya untuk mengangkat kesadaran dan martabat individual maupun nasional dan (3) memperluas jangkauan pilihan ekonomi dan sosial bagi individu maupun nasional dengan cara membebaskan dari perbudakan dan ketergantungan.

Ada skema-skema yang turut membantu kita dalam memahami buku ini apabila tulisan kurang begitu memuaskan atau sekedar untuk mempercepat pemahaman para pembaca. Pertumbuhan ekonomi turut dijelaskan pula dalam buku ini, dimana hal itu memiliki tiga faktor: akumulasi modal (dalam maupun luar negeri), pertumbuhan penduduk (yang disertai dengan angkatan kerja) dan perkembangan teknologi. Todaro, mengutip Kuznets mengenai tiga komponen pertumbuhan ekonomi modern: peningkatan output yang berkelanjutan dan terpelihara, kemajuan teknologi, harus ada penyesuaian tingkah laku dan kelembagaan terhadap ideologi yang dianut.

Di dalam tiga komponen tersebut didapati enam karakteristik pertumbuhan ekonomi modern: tingginya tingkat perkembangan output, tingginya tingkat penambahan jumlah faktor produktivitas, tingginya tingkat perubahan struktural ekonomi, tingginya tingkat transformasi sosial dan ideologi, kecenderungan negara maju untuk berpetualang mencari bahan baku, dan pertumbuhan ekonomi hanya terbatas pada sepertiga populasi penduduk dunia.

Dalam pertumbuhan ekonomi ada pembangunan ekonomi modern yang didalamnya membutuhkan hal-hal sebagai berikut: persediaan sumberdaya fisik maupun tenaga manusia dan pendapatan per kapita dan tingkat PNB, iklim, jumlah populasi dan distribusi serta pertumbuhannya, peranan historis mengenai migrasi, keuntungan perdagangan internasional, ilmu pengetahuan dasar, dan stabilitas lembaga politik.

Michael P. Todaro pun mengulas secara singkat problema kebijakan pembangunan di negara dunia ketiga. Namun pemaksaan kebijakan dari lembaga internasional terhadap kebijakan dalam negeri negara dunia ketiga dianggap turut menghambat pertumbuhan dan pembangunan ekonomi negara terkait, karena rata-rata, saran kebijakan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai dan kebudayaan yang ada di negara dunia ketiga.

Desa pun menjadi salah satu fokus teori Todaro dalam bukunya, ia menganggap bahwa migrasi dari desa ke perkotaan turut menghambat pertumbuhan ekonomi, maka negara dunia ketiga harus mengeluarkan kebijakan yang memiliki implikasi sebagai berikut: mengurangi atau menghilangkan ketidakseimbangan lapangan pekerjaan di perkotaan dan pedesaan, penciptaan lapangan kerja tidaklah penyelesaian terhadap permasalahan pengangguran, dan program pembangunan desa terpadu harus digalakkan.

Di negara-negara dunia ketiga pastinya penting peranan desa sebagai salah satu penghasil sumber daya alam maupun manusia, maka dari itu diperlukan kebijakan-kebijakan pembangunan yang berusaha untuk mensejahterakan penduduk desa pula. Dalam pembangunan, manusia adalah subjek utamanya, begitu pula objek, maka dari itu, setiap pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi, harus disertai dengan pemerataan kesejahteraan penduduk negara dunia ketiga.

Write a response to this post