Untuk Mereka yang Akan atau Sedang Berurusan dengan Skripsi: Mengenali Masalah Saintifik

Skripsi yang baik ialah skripsi yang dikerjakan.

Skripsi_Faisal Javier Anwar_Berpijar

Siapa yang tak pernah mendapatkan masalah satu hari saja dalam hidupnya? Sepertinya tidak mungkin. Pasti selalu ada saja masalah yang bisa kita jumpai dalam setiap harinya, walaupun terkesan remeh. Mulai dari yang sekadar urusan pribadi seperti sulitnya mendapatkan pacar, hingga yang dapat dirasakan secara umum, seperti AC ruang kelas yang mati.

Seorang akademisi pun harus bergelut dengan masalah ketika ia ingin menghasilkan karya-karya akademik, seperti skripsi, tesis, disertasi, ataupun sekedar makalah penelitian untuk dipresentasikan di konferensi atau dipublikasikan di jurnal. Tapi tentunya masalah yang akan mereka angkat bukan masalah yang terkesan remeh dan masuk ranah privat seperti berantem dengan pacar atau kesulitan mendapatkan pacar.

Anekdot mahasiswa yang mengerjakan skripsi “nyari masalah aja susah” menunjukkan bahwa masalah yang diangkat dalam tataran akademis bukan masalah sembarangan. Bisa saja masalah yang diangkat memang benar-benar pelik, atau sebenarnya masalah yang terkesan sederhana tetapi membutuhkan jawaban yang kompleks.

Ilmu pengetahuan pada pokoknya sendiri merupakan sebuah aktivitas penyelesaian masalah. Larry Laudan dalam bukunya Toward a Theory of Scientific Growth (1997) menyebut hal tersebut sebagai sesuatu yang sangat umum, bahkan  lebih umum dari filosofi ilmu pengetahuan.

Di dalam ilmu pengetahuan tentu juga terkandung masalah saintifik, lantas kemudian apa yang dimaksud oleh masalah saintifik tersebut? Laudan pada awalnya tidak secara eksplisit mendefinisikan apa itu masalah saintifik. Ia menekankan bahwa pada permulaannya, ia tidak percaya bahwa masalah saintifik merupakan sesuatu yang pada dasarnya berbeda dengan berbagai jenis masalah lainnya.

Sedangkan situs ilmiah LabWrite menyebut masalah saintifik sebagai “sesuatu yang tidak dapat dipahami namun untuk memahaminya dapat melalui uji coba”. Namun bagi mereka yang bergelut dengan ilmu sosial tentu beranggapan definisi tersebut tidak bisa diterapkan dalam ranah ilmu sosial mengingat fenomena yang terjadi tidak bisa diuji coba layaknya dalam ilmu pengetahuan alam.

Namun daripada sekedar meributkan definisi, tentu lebih baik mencari tahu bagaimana suatu masalah dapat dikategorikan sebagai masalah saintifik. Situs ilmiah LabWrite menyebut terdapat dua langkah sederhana untuk menentukan sebuah masalah saintifik, antara lain:

(1) Mencari topik yang menarik bagi si peneliti. Apabila kemudian topik tersebut sudah didapatkan, maka berikutnya topik tersebut harus disempitkan lagi cakupannya, sehingga dapat diketahui poin-poin khusus yang menarik bagi si peneliti; (2) Menentukan pertanyaan dari topik khusus tersebut yang ingin dijawab. Pertanyaan tersebut dapat didapatkan dari berbagai sumber, baik itu literatur maupun kuliah yang didapatkan, dan pertanyaan yang didapat tersebut dapat diselesaikan melalui sebuah ataupun banyak penelitian khusus.

Lebih lanjut lagi, untuk mengembangkan masalah saintifik yang dalam hal ini harus ditemukan jawabannya, tentu harus melalui penelitian yang terdiri dari langkah-langkah yang rigid dan sistematis. Hampir semua ilmuwan mempunyai langkah-langkah penelitian yang kurang lebih sama sistematikanya.

Flick dalam bukunya An Introduction to Qualitative Research (2009) merumuskan langkah-langkah penelitian sebagai berikut: (1) Rumuskan keseluruhan topik; (2) Spesifikasi pertanyaan penelitian; (3) Rumuskan konsep yang menarik bagi peneliti; (3) Memilih jenis penelitian yang digunakan untuk menjawab pertanyaan; (4) Memilih desain dan metode penelitian yang tepat; (5) Evaluasi dan rumuskan ulang pertanyaan yang spesifik (6) Pengumpulan data; (7) Lakukan kembali tahap nomor 6; (8) Analisis data; (9) Generalisasi dan evaluasi analisis yang dilakukan; (10) Formulasi jawaban yang ditemukan.

Jika langkah-langkah tersebut dirasa terlalu panjang dan rumit, maka terdapat langkah-langkah lain yang lebih sederhana, yang dirumuskan oleh Laura Roselle dan Sharon Spray (2012) dalam bukunya Research  and Writing in International Relations.

Sistematika penelitian yang diajukan memang dikhususkan untuk metode penelitian Ilmu Hubungan Internasional, namun sejatinya juga dapat diterapkan dalam ilmu sosial lainnya.  Sistematika tersebut terdiri dari: (1) Pemilihan topik; (2) Rumuskan pertanyaan terkait topik tersebut; (3) Penentuan variabel untuk memfokuskan situasi dan hasil yang akan diamati; (4) Pendalaman variabel dependen (topik yang dipilih) untuk mendapatkan bahan penelitian yang sesuai.

Contoh: Topik penelitian “pengaruh motivasi Mario Teguh terhadap prestasi mahasiswa”. Bertindak sebagai variabel dependen ialah prestasi mahasiswa, maka yang harus diperdalam ialah konsep prestasi mahasiswa

Sedangkan Larry Laudan tidak menyederhanakan bagaimana suatu masalah saintifik dapat diselesaikan. Secara sederhananya menurut Laudan, apabila masalah merupakan poin utama dalam pemikiran saintifik, maka hasil akhirnya ialah teori. Apabila masalah membentuk pertanyaan yang harus dijawab, maka teori yang kemudian menghasilkan jawabannya.

Tetapi Laudan juga menekankan bahwa yang terpenting bukanlah seberapa benar teori menjawab masalah yang muncul ataupun seberapa banyak masalah yang dapat diselesaikan dengan berbagai teori yang ada, namun apakah cukup solutif teori-teori yang ada untuk menjawab berbagai masalah yang signifikan.

Sehingga yang sangat ditekankan oleh Laudan ialah bobot kualitas dari masalah yang muncul untuk kemudian diselesaikan dengan berbagai teori yang ada, bukan seberapa banyak masalah yang ingin diselesaikan.

Kemudian yang tak kalah penting, apakah berbagai teori yang ada cukup mampu untuk menjawab berbagai masalah signifikan tersebut dan bagaimana sifat dasar teori-teori tersebut dan hubungan mereka dengan berbagai masalah yang memunculkan teori-teori tersebut sebagai jawabannya.

Salah satu masalah yang dapat diselesaikan melalui teori saintifik ialah masalah empiris. Bagi Laudan, masalah empiris lebih mudah untuk digambarkan daripada dijelaskan. Ia kemudian mengambil contoh bahwa kita mengamati bahwa tubuh yang berat dapat jatuh ke bumi dengan keteraturan yang mengagumkan.

Tugas peneliti ialah untuk menyelesaikan masalah empiris tersebut dengan melakukan penyelidikan bagaimana dan mengapa tubuh yang berat tersebut dapat jatuh dengan keteraturan yang sempurna. Sehingga agar masalah empiris dapat terselesaikan, maka tugas kita ialah mencari penjelasan mengapa hal tersebut dapat terjadi.

Namun Laudan menambahkan bahwa sesuatu dapat diamati sebagai masalah empiris apabila kita merasa bahwa masalah tersebut mempunyai nilai lebih yang melegitimasi urgensi penyelidikan. Seperti contoh, merupakan sebuah fakta turun-temurun bahwa beberapa obat-obatan dapat mendorong halusinasi, namun ia menjadi sebuah masalah empiris ketika terdapat teori psikologi yang berusaha menyelidiki mengapa hal tersebut dapat terjadi.

Kemudian Uwe Flick menyarankan agar  suatu masalah dapat dikonseptualisasikan dalam rangka memperluas spektrum proses penelitian yang akan dilakukan. Roselle dan Spray (2012) menambahkan bahwa konseptualisasi berguna apabila topik penelitian yang akan dipilih dirasa terlalu sempit.

Oleh karena itu yang perlu dilakukan oleh si peneliti ialah menyederhanakan topik yang dipilih dalam bentuk konsep-konsep, bukan didasari pada suatu peristiwa yang terjadi, agar spektrum permasalahan menjadi lebih luas. Seperti contoh ialah pemilihan topik tentang konsep konflik sektarian lebih membantu memperluas spektrum suatu masalah, dibandingkan menyempitkannya pada suatu peristiwa, semisal konflik Poso.

Sehingga masalah saintifik pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan masalah-masalah lainnya, yang membedakannya ialah bahwa masalah saintifik ini hanya dapat diatasi melalui penelitian. Masalah saintifik ini tidak terlepas dari ketertarikan sang peneliti dalam mengamati suatu fenomena, sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa keterlibatan peneliti sebagai subjek sangat dibutuhkan untuk menangkap masalah saintifik secara empiris.

Suatu masalah hanyalah menjadi fakta apabila kemudian tidak ada ketertarikan dari seorang peneliti untuk menemukan jawaban mengapa hal tersebut dapat terjadi. Jadi buat kalian yang akan atau sedang bergelut dengan skripsi, percuma kalian capek-capek mencari masalah, kalau skripsinya dibiarkan tak terurus. Ingat pepatah turun temurun: “Skripsi yang baik ialah skripsi yang dikerjakan”.

Write a response to this post