Perkembangan Indonesia Semenjak Merdeka Hingga Repelita

Indonesia 1979_Reza MH_Berpijar
Indonesia 1979

Judul Buku Indonesia 1979 – The Records of Three Decades (Dokumen Laporan)

Penulis Guy J. Pawker

Penerbit RAND Corporation

Tahun Terbit 1980

Tebal Buku 18 halaman

Peresensi Reza Maulana Hikam


Siapa yang tak kenal RAND Corporations? Salah satu perusahaan berbasis penelitian ilmiah terbesar di Amerika Serikat. Banyak yang menyambungkan kisah perusahaan ini dengan teori konspirasi dan intelijen, namun jika dilihat lebih cermat dan cerdas, perusahaan ini memang dihuni oleh para intelektual, pakar sekaligus peneliti ternama dari Negeri Paman Sam.

Dalam perjalanannya, RAND merupakan lembaga riset yang berfokus kepada kebijakan, apapun itu. Mereka akan mengumpulkan data sekaligus menganalisis sebuah kebijakan di berbagai negara, dan menghasilkan sebuah dokumen laporan yang akan dijadikan salah satu rujukan bagi para pemangku kepentingan ataupun pembuat kebijakan. Beberapa laporannya bersifat tendensius dan memihak, namun intelektual mana yang tidak punya keberpihakan?

Dokumen laporannya yang satu ini mengulas Indonesia semenjak kemerdekaan. Di bagian awal, para pembaca akan menemukan sejarah kemerdekaan Indonesia yang berasal dari desakan para pemuda saat itu (1945) kepada Soekarno untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia karena kekalahan Jepang terhadap Sekutu. Akan tetapi, menurut Pauker, Indonesia baru secara legal menjadi negara berdaulat pada tanggal 27 Desember 1949.

Pauker menjuluki Generasi 45 sebagai generasi yang memperjuangkan Indonesia di masa muda dan menempati posisi penting ketika Orde Baru mulai naik daun. Saat generasi ini pada jabatan tingginya, populasi Indonesia yang dikala perjuangan kemerdekaan berjumlah 83 juta jiwa, berkembang hingga 148 juta jiwa dan menjadi negara terpadat kelima. Generasi 45 ini merupakan petinggi pemerintah Indonesia ketika dokumen ini dirilis (1980).

Penulis membela Indonesia yang dikritik habis-habisan oleh wartawan luar negeri karena keterbelakangannya. Menurut Pauker, sah saja apabila Indonesia masih kebingungan menata ekonomi dan politiknya, karena mereka adalah negara yang masih muda. Sikap wartawan luar ini selalu melihat kebobrokan pemerintah Indonesia dan mengabaikan pencapaiannya, sebuah sikap yang dinilai tidak adil dalam melihat negara berkembang.

Apabila sebuah pemerintahan yang masih muda diberikan kritik terus-menerus, akan kehilangan kewibawaannya di depan masyarakat dan tidak akan mampu melaksanakan tugasnya secara maksimal. Lebih parah lagi apabila masyarakat tidak lagi percaya terhadap pemerintah maka akan ada kekacauan dan pemberontakan dimana-mana akibat pemberitaan negatif yang dilakukan oleh wartawan mancanegara.

Pada era Soeharto, pemberitaan mengenai pemerintah Indonesia sangatlah tidak berimbang. Di satu sisi membesar-besarkan kegagalannya, di sisi lainnya mengabaikan keberhasilannya. Hanya segelintir lembaga yang mencermati keberhasilan Orde Baru: Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (WB). Memang benar hanya kedua lembaga tersebut, karena Indonesia banyak berhutang kepada mereka.

Penulis memberikan pandangan yang sangat mendukung Orde Baru dengan menganalisis Indonesia, sebagai negara yang masih muda, dengan analisis politik ala Amerika Serikat, dimana manusia tidaklah baik atau buruk sepenuhnya. Maka beliau berargumen bahwa orang memiliki kekuasaan yang besar harus dikontrol oleh pemerintah dan peraturan perundangan. Kontrol ini dilakukan dalam proses yang cukup lama, apalagi sebuah negara yang baru saja lahir akan hidup dibawah bayang-bayang para elit politiknya yang acapkali bertindak diluar batas.

Para elit nasionalis di Indonesia mendapatkan harta mereka melalui ekspor yang dilakukan oleh pemerintah. Hasil dari pertumbuhan ekonomi digunakan untuk mendanai pembangunan dan dampaknya akan terasa setelah beberapa tahun dari pelaksanaan pembangunan yang terencana. Akan tetapi semua cerita memiliki awalnya.

Ketidakstabilan ekonomi maupun politik Indonesia bermuara dari Demokrasi Parlementer pada tahun 1949-1959 membuat masyarakat memberikan mandat kekuasaan sepenuhnya kepada Soekarno yang justru membawa Indonesia kepada petualangan politik dan kegagalan manajemen ekonomi berimbas kepada kekacauan pada tahun 1965-1966, dimana militer akhirnya mengambil alih kekuasaan di bawah pimpinan Soeharto.

Generasi 45 di bawah Soeharto belajar akan kesalahan mereka dalam petualangan politik yang penuh retorika dan berusaha menahan diri dari tindakan serupa, sehingga Pembangunan bisa menjadi fokus dari pemerintah Indonesia. Stabilitas politik merupakan prasyarat menuju pertumbuhan ekonomi. Usaha menahan diri ini tidak terlepas dari pembunuhan anggota Partai Komunis Indonesia beserta keluarganya pada tahun 65-66. Kasus ini menghantui dan menakut-nakuti para politisi Indonesia yang ingin berpetualang layaknya PKI dan Soekarno.

Untuk membenahi perekonomian, para ekonom cemerlang dari Indonesia tidak lagi diabaikan, bahkan mereka menjadi penasehat dari pejabat militer yang sedang berkuasa. Bahkan kebijakan-kebijakan ekonomi Indonesia dibentuk oleh para ekonom ini (Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Soemitro Djojohadikusumo, Emil Salim, etc.). Keberhasilan para ekonomi ini dapat dilihat dari pemasukan ekspor yang hanya 500 juta dolar pada tahun 1966, menjadi 12 miliar dolar pada tahun 1979. Analisis ekonomi menjadi ujung tombak perekonomian Orba.

Seiring berjalannya waktu, pembangunan ekonomi yang dibayar dengan stabilitas politik telah mencapai puncaknya. Mulai banyak yang angkat bicara mengenai pergantian pemimpin, bahkan beberapa Jenderal seperti Soemitro dan A.H. Nasution pun angkat bicara. Tidak lepas pula demonstrasi yang dilakukan mahasiswa makin memperkuat wacana ganti presiden. Generasi 45, menurut Pauker, gagal dalam menenangkan anak-anaknya sendiri.

Untuk menenangkan permasalahan politik, kebijakan ekonomi menjadi senjata utama. Subsidi digencarkan oleh pemerintahan Soeharto dan kroni-kroninya untuk mengamankan kondisi internal. Kebijakan ekonomi ini didasarkan atas Rencana Pembangunan yang bertumpu pada tiga prinsip: Distribusi merata dari hasil pembangunan, Angka pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas nasional.

Secara menyeluruh, dokumen ini mengulas mengenai kisah-kisah yang ada selama Soeharto memimpin Indonesia. Kesan yang dibentuk memang memberikan apresiasi terhadap perekonomian negara berkembang semacam Indonesia, juga sedikit kritik dan saran pada pemerintah Indonesia dikala itu. Soeharto tahu bahwa dia tidak mampu mengalahkan Soekarno dalam hal retorika, maka dari itu, pencitraan dan pembangunan menjadi senjata utamanya dalam menaklukkan dunia politik Indonesia.

About Author

Reza Maulana Hikam

Reza Maulana Hikam adalah seorang mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga. Pegiat literasi yang mendirikan situs web resensi Kedai Resensi Surabaya dan Penulis Lepas Opini di Geotimes.


Related Posts

Write a response to this post