Syajarotun fil Irhab, Sejarah Teror Paling Lengkap se-Jagat

Salah satu teroris paling tua yang disebutkan dalam buku ini adalah orang-orang Assyria yang dianggap garang dan ganas karena pasukannya memang ditujukan untuk menyebarkan rasa takut di benak musuhnya.

Ku Klux Klan Holds Rally Outside South Carolina Statehouse
Terrorism A History-Randall Law

Judul Buku Terrorism: A History

Penulis Randall D. Law

Penerbit Polity Press

Tahun Terbit 2016

Tebal Buku xiv+386 halaman

Peresensi Reza Maulana Hikam


Terorisme… Kata ini telah menusukkan rasa takut kepada siapapun yang mendengarnya. Memiliki konotasi yang buruk dan destruktif, tidak ada orang yang suka disebut sebagai teroris. ISIS, Al-Qaeda, IRA, Jabhal Nusro dan sederetan kelompok teroris lainnya akan menganggap diri mereka sebagai pejuang kebebasan atau pasukan Tuhan, bukan teroris. Ulasan semacam ini sudah sering diangkat dalam berbagai buku yang meneliti tentang terorisme.

Lalu apa yang membedakan buku ini dengan buku terorisme lainnya? Ialah buku ini berfokus hanya kepada sejarah terorisme yang terjadi di dunia, mulai dari masa lalu, hingga yang terjadi sekarang. Saya akan mengulas secara singkat beberapa bab mengenai sejarah teror yang menarik dan belum pernah diulas (pastinya dengan yang masa kini juga). Simak reviewnya sebagai berikut:

Salah satu teroris paling tua yang disebutkan dalam buku ini adalah orang-orang Assyria yang dianggap garang dan ganas karena pasukannya memang ditujukan untuk menyebarkan rasa takut di benak musuhnya. Kerajaan ini melakukan penaklukkan untuk mencari sumberdaya alam, karena wilayahnya termasuk wilayah yang langka akan sumber daya alam.

Kerajaan ini dimasukkan ke dalam contoh teroris karena kebijakan rajanya yang melakukan penyiksaan dan pembunuhan musuh politiknya dengan tujuan memperingatkan musuh-musuh potensialnya. Bentuk tertua dari peperangan psikologis. Penyiksaan yang dilakukan dan diperlihatkan oleh Kerajaan Assyria sangatlah kejam sehingga nama Assyria sendiri merupakan sinonim dari kata kekejaman bagi negara-negara tetangganya.

Teroris lainnya di masa sebelum masehi berada dalam bentuk kelompok terorganisir: Sicarii. Berbeda dengan Assyria yang merupakan kerajaan teror, Sicarii adalah kelompok pemberontak terorganisir yang ingin memerdekakan Kaum Yahudi dari dekapan Romawi. Pembunuhan yang dilakukan kelompok Sicarii ini dilaksanakan di siang hari dan berdampak kepada masyarakat yang melihatnya akan merasakan ketakutan. Pembunuhan mereka ditujukan kepada orang Yahudi yang berkolaborasi dengan Pasukan Romawi.

Dalam pendanaannya, mereka juga melakukan penculikan yang meminta tebusan uang dan melakukan perampokan tempat-tempat yang pemiliknya dianggap sebagai kolaborator Romawi. Di pimpin oleh fanatik bernama Menachem, ketika ia mati dibunuh, hancur juga gerakan Sicarii.

Di abad pertengahan, penulis juga memperlihatkan beberapa tindakan teror dan pertarungan antara Gereja dan Kerajaan dalam mencari kekuasaan tertinggi di Eropa. John dari Salisbury menuliskan policraticus, sebuah buku yang mendefinisikan perbedaan antara Tiran dan Raja. Pandangan ini menjadi pembenaran terhadap tyrannicide (pembunuhan Tiran) di Eropa karena tindakan Tiran yang semena-mena terhadap rakyatnya, Randall menyebutnya sebagai Reign of Terror.

Tidak hanya Eropa, pada abad pertengahan, terutama abad ketujuh, penulis juga mengulas tentang peradaban Islam pasca meninggalnya Nabi Muhammad S.A.W. Ada salah satu kelompok yang dijauhi dan melakukan pembunuhan terhadap Khalifah terakhir: Ali bin Abi Thalib, yakni kelompok Kharijites (Khawarij). Bagi Khawarij, pembunuhan terhadap individu tertentu diperbolehkan, bahkan dianjurkan.

Namun bukan Khawarij yang menjadikan ilustrasi terorisme di peradaban Islam terkenal, melainkan Assassin. Sekte ini didirikan oleh Hassan-i-Sabbah di Persia pada tahun 1090 dibawah kekuasaan kelompok Syiah. Mereka berdomisili di Alamut, di dekat Laut Kaspia. Kelompok ini kerap melakukan pembunuhan untuk menebar rasa takut kepada siapapun yang mendengarnya dan memperkuat reputasi mereka. Anggota Assassin tidak takut mati dan sangat patuh terhadap pimpinannya.

Assassin juga menjadi kelompok yang membantu Nizar (salah satu kandidat Imam di Dinasti Fatimiyah di Mesir) dan pengikutnya berkembang. Para loyalis Nizar ini yang selalu menekankan pembunuhan sebagai alat untuk mendapatkan pengaruh di publik. Mereka mengarahkan pembunuhan ini kepada musuh umat Syiah, yakni Sunni. Banyak gubernur dan pangeran dari Kerajaan Abbasiyah dan Seljuk (yang keduanya Sunni), yang menjadi target pembunuhan mereka.

Bab lainnya yang menandai awal kemodernan Eropa masih dilingkupi dengan pembahasan terorisme yang membosankan, yakni Tyrannicide yang berulang-ulang terjadi di benua ini.

Mungkin yang lebih menarik adalah masuknya revolusi dan hubungannya dengan terorisme. Pasca Revolusi Prancis yang penuh glorifikasi, sebenarnya ada kelompok yang nantinya membangun The Reign of Terror pasca keruntuhan Monarki Perancis. Kelompok ini adalah Jacobins yang sangat radikal dan fanatik dengan revolusinya (memegang teguh pandangan Jean-Jacques Rousseau) sehingga mereka malah membentuk kediktatoran baru yang dipimpin oleh Maximilien Robespierre. Pada era inilah semua orang yang melawan pandangan Revolusi Prancis akan diburu dan dieksekusi. Pembunuhan dilakukan oleh Pasukan Revolusi.

Bergerak ke arah Eropa Timur, yakni Russia. Randall mengulas mengenai terorisme yang berkembang di saat Russia masih berbentuk kerajaan dan dipimpin oleh seorang Tsar. Ideologi yang pertama berkembang adalah Narodniki atau populisme. Para pengikut ideologi ini nantinya akan berpindah haluan ke Sosial-Demokrasi dan Anarkisme. Pada bagian anarkisme lah, perlawanan penuh teror dimulai.

Anarkis Russia dipelopori (bukan diketuai) oleh Mikhail Bakunin. Si Bakunin inilah yang menggunakan para kriminal sebagai alat untuk melakukan teror, ia menyebutnya sebagai revolutionary terrorist atau teroris yang revolusioner. Mereka yang mengikuti jejak Bakunin adalah yang tertarik dengan Political Violence atau kekerasan bermotif politik.

Kelompok anarkis, selain dipelopori oleh Bakunin, ada juga Sergei Nechaev yang bahkan mem-propagandakan untuk menghilangkan etika selama revolusi, karena negara juga tidak menggunakan etika ketika menekan masyarakatnya. Etika hanya digunakan apabila mendukung tujuan-tujuan revolusi. Ia menekankan pentingnya pengorbanan untuk mengajak masyarakat agar mau berjuang bersama kelompok revolusioner. Pasukan revolusioner yang sempurna, menurut Nechaev, harus memutuskan segala macam tali persaudaraan atau kekeluargaan dan berfokus kepada revolusi itu sendiri, ia harus bebas dari emosi yang dinamakan cinta.

Propaganda of the deed, sebuah istilah yang digunakan kaum anarkis untuk mengilustrasikan tindakan-tindakan teror mereka yang nantinya menjadi pemaknaan buruk yang melekat pada kata “anarkis” sebagai kekerasan. Menurut anarkis bernama Carlo Pisacane, hanya tindakan (deeds) yang mampu mengedukasi masyarakat, maka dari itu penekanan atas tindakan (bisa mengandung unsur kekerasan) sangatlah didukung oleh kelompok anarkis yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintah otoriter. Tindakan balasan dari pemerintah akan mengubah pemberontak menjadi pahlawan.

Selain di Rusia, Eropa pada zaman yang sama juga menghadapi bahaya terorisme dalam bentuk usaha pembunuhan terhadap raja/ratu/bangsawan. Usaha pembunuhan ini selalu dikaitkan dengan kelompok kiri seperti Anarkis, Sosial-Demokrat, Sosialis dan Komunis. Penjelasan serupa juga diberikan Benedict Anderson dalam bukunya Di Bawah Tiga Bendera yang diterbitkan Marjin Kiri. Baik dari karya Randall maupun Ben sama-sama mengulas mengenai usaha pembunuhan kalangan atas yang dicap sebagai teroris, namun Ben menekankan kepada kasus-kasus kelompok anarkis.

Tidak hanya Rusia, Eropa dan Timur Tengah; Amerika Serikat juga pernah menjadi salah satu tempat berkembangnya terorisme. Bentuk terorisme di Amerika Serikat berawal dari pergolakan buruh di Pennsylvania, dimana kehidupan buruh disana keras dan penuh penindasan, para buruh ini membentuk organisasi yang bernama Molly Maguires. Asosiasi ini yang menebarkan kericuhan dan diduga menjadi dalang pembunuhan 16 pemilik tambang di wilayah pertambangan Pennsylvania pada tahun 1860-an.

Di tahun 1870-an mulai berkembang pemikiran anarkisme di Amerika Serikat yang menerbitkan buku pedoman berjudul The Science of Revolutionary Warfare (Ilmu mengenai teknik perang revolusioner). Buku ini berisikan tentang hasutan-hasutan untuk melakukan kekerasan, bahkan sampai pada titik mengumbar teror dan berperang. Mengajak para pembacanya untuk menggunakan dinamit dalam melakukan perlawanannya.

Memanasnya Amerika diikuti dengan Haymarket Riot (kerusuhan Haymarket) pada tahun 1886, dimana kelompok anarkis bertarung dengan polisi yang menyebabkan matinya satu personel kepolisian karena ada seseorang yang melemparkan bom ke arah kerumunan kepolisian. Karena kerusuhan ini, Chicago langsung menggunakan hukum perang (martial law), dengan melarang penggunaan warna merah dalam periklanan yang dianggap menyulut kerusuhan.

Pembunuhan yang dilakukan oleh kelompok anarkis ini memunculkan gaya terorisme yang disebut anarcho-terrorism. Salah satu keberhasilannya adalah pembunuhan Presiden AS, William McKinley oleh sang anarkis, Leon Czolgosz di tahun 1901. Dampak dari pembunuhan ini adalah pelarangan masuknya imigran dengan paham anarkis dan kelompok radikal lainnya ke Amerika Serikat, padahal Leon Czolgosz lahir dan besar di Amerika Serikat. Apa yang dia lakukan menghasilkan kebijakan irasional karena rasa takut pemerintah AS.

Kelompok teror lainnya yang berkembang di AS adalah Klu Klux Klan (KKK) yang lahir di Tennesse pada tahun 1865. Dibentuk oleh veteran Perang Saudara AS yang menginginkan supremasi kulit putih dan mendukung perbudakan kulit hitam. KKK bukanlah organisasi konspiratif, mereka benar-benar ada dan melakukan tindakan untuk mengintimidasi publik agar tidak mendukung kebebasan kulit hitam. Mereka bahkan memberi ancaman mati kepada Gubernur Louisiana, Henry Clay Warmoth. Banyak pembunuhan pada tahun 1867-1868 yang didalangi oleh kelompok ini, dan pihak berwenang ada yang mendukung ataupun takut terhadap tindakan mereka sehingga tidak ada aksi nyata dari pemerintah AS dalam membasmi KKK.

Dari Amerika, Randall bergerak menuju Irlandia, tempat kelahiran terorisme berbasis etnis-nasionalisme. Pada abad ketujuh belas sampai delapan belas, Inggris yang menjadi pemimpin turut memimpin Irlandia memerintahkan beberapa koloninya untuk bermukim di Irlandia Utara, parahnya lagi, para penduduk asli yang minggat beragama Katolik Roma, sedangkan penduduk baru ini beragama Protestan.

Permasalahan ini semakin kompleks ketika United Kingdom of England and Scotland menarik Irlandia ke dalam Union (kesatuan) ini. Ajakan ini membuat Irlandia terpecah menjadi dua, para unionis yang mendukung bergabungnya Irlandia dengan UK untuk melindungi ke-Protestan-an mereka, dan kelompok republikan yang ingin Irlandia berdiri diatas kakinya sendiri alias merdeka. Kekerasan digunakan oleh pemberontak untuk mendapatkan kemerdekaan Irlandia.

Gerakan teroris di Irlandia ini semakin menjadi dengan terbentuknya Irish Republican Army / IRA (Tentara Republikan Irlandia) yang merupakan dalang pembunuhan beberapa pejabat Irlandia yang berkolaborasi dengan Kerajaan Inggris. Taktik penyerangan ala teroris yang dilakukan oleh IRA secara terus-menerus bertujuan untuk mengganggu berjalannya pemerintah reguler di Irlandia, dan terselenggaranya pemerintah dengan basis militer untuk keamanan akan memakan dana yang banyak sehingga mengharuskan Inggris untuk menarik semua kuasanya di Irlandia.

Terorisme berdasar etnisitas dan nasionalisme juga terjadi di India (dalam bentuk koran bernama Jugantar dan Hindustan Socialist Republican Association – HSRA), Austro-Hungaria (dalam bentuk The Black Hand) yang kebanyakan terorisnya berasal dari etnis Serbia dan berhasil membunuh Franz Ferdinand pada tahun 1914, lalu Macedonia (The Internal Macedonia Revolutionary Organization), dimana IMRO bertujuan membangun Macedonia sebagai negara merdeka, bukan menjadi bagian Yunani, Bulgaria atau Serbia.

Jenis terorisme lainnya yang turut masuk dalam pembahasan Randall adalah terorisme negara yang dimulai dengan kemenangan Bolsyewik di Rusia dan berdirinya Uni Soviet dengan Stalin sebagai pimpinannya, diikuti dengan kemunculan Italia dan Jerman sebagai negara fasis. Italia yang awalnya tidak ada permasalahan, mulai menghadapi hantu sosialisme yang direspon oleh Benito Mussolini dengan membentuk Blackshirts (tentara fasis) yang akan melawan gerakan-gerakan kelompok buruh berhalauan sosialisme.

Pada Oktober 1922, Mussolini dengan pasukan fasisnya melakukan perjalanan ke Roma dan Raja Victor Emmanuel ketiga menjadikan Benito Mussolini seorang Perdana Menteri Italia karena dianggap lebih bisa dikendalikan ketimbang kelompok sosialis. Jikalau Rusia menghadapi negaranya, Fasis Italia menghancurkan musuh-musuh politiknya.

Selain Italia dan Rusia, negara lain yang pernah mengidap state terrorism adalah Jerman dibawah kepemimpinan Adolf Hitler dan partainya, Nazi. Mereka naik daun karena menggunakan nasionalisme yang menganggap perjanjian Versailles pasca Perang Dunia Pertama sangat mempermalukan Jerman dan bagaimana Yahudi dan Komunis adalah ancaman dalam negeri Jerman. Mereka sangat konfrontatif kepada komunisme dan menjadi momok bagi kelompok kiri.

Hitler menjadi Kanselir Jerman yang ditunjuk oleh Presiden Paul von Hindenburg pada Januari 1933. Posis Hitler ini akan semakin memperkuat Reich Ketiga (panggilan Jerman dibawah Nazi). Setahun kemudian, 1934, Nazi melakukan eksekusi terhadap musuh-musuh politiknya yang dianggap mengganggu kestabilan politik Jerman, terutama KPD (Partai Komunis Jerman). Partai-partai oposisi dilarang dan musuh rasial dari Jerman, seperti Kaum Yahudi, dicopot seluruh hak kewarganegaraannya.

Kemunculan dua terorisme negara dari Eropa ini: Benito Mussolini (Italia) & Adolf Hitler (Jerman) ditambah dengan Tojo (Jepang) yang berusaha menguasai Asia-Pasifik menandai Bab baru dalam dunia ini yang disebut dengan Perang Dunia Kedua. Terorisme yang hingga sekarang menelan jutaan nyawa dari komunis dan Yahudi Jerman dan berbagai korban sipil lainnya.

Terorisme atas dasar etnisitas dan nasionalisme tidak hanya diulas di Eropa, namun negara-negara Dunia Ketiga yang sedang mengalami dekolonisasi. Namun contoh besar yang dibawa oleh Randall adalah Zionisme. Dalam buku ini Zionisme bukanlah sebuah konspirasi, melainkan teror yang didukung oleh Nasionalisme-Yahudi untuk menempati “tanah yang dijanjikan” yakni Palestina. Dimulailah peperangan Israel-Palestina.

Pelarian Kaum Yahudi ini dikarenakan pembasmian yang terjadi di Eropa pada dekade 1930-an. Namun perpindahan mereka ke Palestina juga menghadapi perlawanan, sehingga mereka membuat kelompok teroris bernama Irgun yang ketuanya ingin membunuh etnis Arab layaknya membunuh segerombolan tikus. Tindakan-tindakan Irgun ini nantinya akan dipelajari oleh kelompok teroris lainnya seperti penggunaan senjata portable, dan submachine gun “Tommy”. Irgun nantinya akan membantu lahirnya “Negara” Israel.

Beberapa negara dan terorisme lainnya yang turut disebutkan oleh penulis adalah Malaysia, Kenya, Mau-Mau, Aljazair, dan Frantz Fanon beserta pandangan kekerasan anti-kolonialnya. Sampai pada titik bahasan terorisme paling baru: Al-Qaeda dan kawan-kawannya yang sudah sering diulas dalam beberapa buku lain bertemakan terorisme.

Buku ini adalah buku yang paling banyak memuat kelompok terorisme di berbagai benua dan negara yang di dalamnya juga terbersit bagaimana melakukan konter terhadapnya. Dibandingkan dengan buku Gus Martin Understanding Terrorism, buku ini lebih santai karena naratif, sedangkan karya Gus Martin tersebut sangatlah argumentatif dan menekankan kepada kebijakan untuk menanggulangi terorisme. Namun penjelasan mengenai definisi terorisme lebih aplikatif milik Gus Martin ketimbang karya Randall ini.

Untuk mengenal macam-macam jenis terorisme, buku Randall ini tepat untuk dibeli dan dibaca, namun bagi kalian yang ingin mencari policy implication dari sebuah tindak terorisme, buku ini adalah rujukan untuk mengetahui asal muasal terorisme dan perkembangannya. Untuk policy implication, buku yang disunting oleh Rafael Reuveny dan William R. Thompson berjudul Coping with Terrorism akan lebih tepat karena memuat juga cara-cara mereaksi tindakan terorisme.

Karya Randall D. Law ini tepat bagi mereka yang ingin mempelajari terorisme hingga ke akarnya, sangat cocok bagi pelajar atau staf pengajar di bidang terorisme. Bagi para pecinta sejarah, terutama sejarah ide (gagasan) akan tertarik untuk membaca buku ini. Namun bagi pembuat kebijakan akan merasa bahwa penjelasannya terlalu filosofis dan kurang aplikatif, walaupun tercantum juga cara-cara beberapa negara dalam menanggulangi terorisme. Buku ini adalah salah satu masterpiece yang mengulas terorisme secara lengkap dan komprehensif.

Write a response to this post