Bagi orang seperti Ba’asyir, lebih baik ditahan di penjara ketimbang bebas dengan menjual kepercayaannya.

Nama Abu Bakar Ba’asyir kerap menyita perhatian khalayak umum di Indonesia. Akhir-akhir ini namanya terangkat lagi karena terdengar kabar akan dibebaskan dengan syarat mau memberikan sumpah setia kepada NKRI. Pakar setingkat Yusril Ihza Mahendra yang ahli dibidang Hukum Tata Negara pun turun tangan mengajak Ustad Abu untuk tanda tangan. Hanya saja, Abu Bakar masih idealis dan tidak mau tunduk terhadap ajakan tersebut, lebih baik dibui ketimbang bebas di bawah bendera thaghut.

Semenjak kasus Bom Bali 1, beliau kerap disebut-sebut menjadi sumber pendanaan kasus-kasus terorisme di Indonesia, bahkan jejaringnya sampai se-Asia Tenggara. Ba’asyir terkena pidana terkait hubungannya dengan kamp pelatihan militer di Jantho, Aceh dan mendapatkan 15 tahun penjara sebagai hukuman yang digedok pada tahun 2011.

Ia juga disebut-sebut sebagai driving force dibalik Jamaah Islamiyah (JI) dan Majelis Mujahidin Indonesia. Meskipun JI dibentuk oleh Abdullah Sungkar di Malaysia pada tahun 1985, Abu Bakar Ba’asyir adalah kawan yang turut menemani selalu jalan Da’I yang dianggap radikal itu. Mereka juga memiliki hubungan dengan Haji Ismail Pranoto, salah satu tokoh Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII), organisasi pemberontakan atas nama agama Islam tertua di Indonesia yang didirikan oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo guna mendirikan Negara Islam Indonesia.

Pemberontakan bernuansa agama yang dibawa oleh Kartosoewiryo, yang didirikan pada tahun 1949, dengan cepat meraup dukungan di Jawa Barat dan Jawa Tengah, bahkan lintas provinsi seperti, dimana Aceh dan Sulawesi juga turut bergabung karena alasan ketimpangan antara pusat dan daerah. Pemberontakan ini begitu mengganggu sehingga Soekarno harus memerintahkan TNI untuk segera menumpasnya dan jika ingin tahu bagaimana perseteruan antara DI/TII dengan pemerintah Indonesia, Pram mengilustrasikan dengan cukup baik dalam novelnya Sekali Peristiwa di Banten Selatan.

Pemberontakan yang diangkat oleh Kartosoewiryo pun melemah ketika ia ditangkap dan dieksekusi mati pada tahun 1962. Kematiannya membuat kekuatan DI/TII melemah dan kebingungan mencari pemimpin, walaupun Abdul Kahar Muzakkar di Sulawesi masih melakukan pemberontakan dan terbunuh pada tahun 1965. Banyaknya tokoh DI/TII yang tertangkap ataupun terbunuh membuat pemberontakan ini padam dengan cepat dan menjadi gerakan klandestin.

Karena gejolak dengan PKI memuncak pada akhir 1965an, Ali Moertopo mendekati para pimpinan PRRI dan Darul Islam yang dipenjara dan akan membebaskan mereka apabila membantu penumpasan PKI dan berdirinya Orde Baru dibawah Soeharto. Mantan petinggi dan anggota DI dijadikan sebagai motor politik untuk mencari suara bagi Golkar, dan pada akhirnya DI mengadopsi nama baru yakni Komando Jihad. Nama ini akan sering kita dengar apabila membaca sejarah radikalisme di Indonesia di zaman Orba.

Menurut penuturan Ken Conboy dalam bukunya The Second Front: Inside Asia’s Most Dangerous Terrorist Network bahwa Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir pada awalnya tidak ada hubungan sama sekali dengan Darul Islam, keduanya hanyalah penceramah. Namun Abdullah Sungkar lah yang lebih sering terlihat di publik, sedangkan Abu Bakar Ba’asyir, seorang alumni Pondok Pesantren Gontor, lebih akademis. Pada tahun 1967, keduanya mendirikan Radio Dakwah Islamiyah Surakarta (Radis).

Beberapa tahun kemudian, tepatnya kisaran 1971/1972, Sungkar dan Ba’asyir mendirikan Pesantren Al-Mukmin, atau lebih dikenal sebagai Ponpes Ngruki. Salah satu ponpes yang selalu disinyalir sebagai tempat persebaran radikalisme. Pandangan ini sangatlah menyesatkan. Mark Woodward dkk dalam jurnalnya berjudul Muslim Education, Celebrating Islam and Having Fun as Counter-Radicalization Strategies in Indonesia mengutarakan bahwa pengajaran pemikiran ekstrim tidak ada dalam kurikulumnya, persebaran pemikiran semacam itu terjadi dalam pengajian-pengajian tertutup di luar Pesantren Ngruki.

Menurut Conboy, relasi Ba’asyir dengan Darul Islam sebenarnya terbentuk secara tidak langsung, dimana pada tahun 1976, Abdullah Sungkar mengundang Abu Bakar Ba’asyir dan Haji Ismail Pranoto (wakil komandan dari Komando Jihad) ke rumahnya di Solo dan merencanakan untuk membentuk Jamaah Islamiyah, sebuah kelompok pengajian yang berfokus untuk mengembalikan kaidah umat Islam hanya bertumpu pada Al-Qur’an dan Hadis. Kelompok ini ditujukan untuk menjauhi norma-norma sekuler yang berkembang semasa Orba.

Pada awal 1985, Ba’asyir melarikan diri ke Malaysia untuk menghindari penangkapan oleh pemerintah Indonesia. Pada tahun yang sama pula, Ba’asyir dan Sungkar menjalin hubungan dengan Abdullah Azzam (pemimpin Maktab Al-Khidmat, embrio Al-Qaeda) dengan mengirimkan petarung ke Afghanistan. Keuntungannya, selain menunaikan Jihad, para petarung ini juga mendapat pelatihan militer yang dianggap penting oleh keduanya. Dua orang pertama yang mereka kirimkan adalah Sumarsono dan Laode Agus Salim.

Solahudin dalam bukunya NII sampai JI: Salafy-Jihadisme di Indonesia menyatakan bahwa, baik Darul Islam dibawah Ajengan Masduki dan Abdullah Sungkar bergabung menjadi satu di tahun 1987, dimana ketuanya adalah Ajengan Abdullah Masduki, Abdullah Sungkar sebagai Menteri Luar Negeri dan Abu Bakar Ba’asyir menjadi Menteri Kehakiman. Dimana akan ada perpecahan yang terjadi akibat perbedaan pandangan dan menjadi alasan kelahiran Jamaah Islamiyah secara resmi.

Sungkar menganggap para pengikut DI mulai tersesat dengan mengikuti jalur Thareqat, beberapa dituding tidak memahami Islam, karena pandangan ini, Sungkar dianggap membangkang kepada DI beserta pimpinannya, Ajengan Masduki. Pada akhirnya ia keluar dan Ba’asyir pun ikut keluar dari Darul Islam pada tahun 1992 dan mendirikan Jamaah Islamiyah di Malaysia di tahun 1993. Menurut Ba’asyir dalam bukunya Solahudin bahwa nama Jamaah Islamiyah terinspirasi dari organisasi yang sama yang berada di Mesir.

ABB-HMI-LK2-BOGOR-REZA-BERPIJAR
Abu Bakar Ba'asyir di LK 2, Kota Bogor, Tahun 2009

Pelatihan militer JI sendiri berada di Mindanao, Filipina Selatan dimana Ali Gufron, Noordin M. Top, Dr. Azahari Husein, dan Ali Fauzi diberi pelatihan. Selain itu anggota Darul Islam di Afghanistan seperti Imam Samudra pada akhirnya memilih bergabung dengan Jamaah Islamiyah. JI menjadi salah satu jejaring mujahidin terbesar di Asia Tenggara yang dibentuk oleh Abdullah Sungkar dan didukung oleh Abu Bakar Ba’asyir.

Tidak hanya berkarir di Jamaah Islamiyah, Abu Bakar Ba’asyir juga pemimpin Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) di tahun 2002, jauh sebelum ia meniti karir sebagai orang yang dianggap radikal di masyarakat Indonesia, Abu Bakar Ba’asyir pernah mengikuti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) saat berkuliah di Universitas Al-Irsyad, Solo dan aktif di Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI). Bahkan pernah mengisi Latihan Kader 2 Himpunan Mahasiswa Islam di Bandung pada tahun 2009.

Beliau dijatuhi hukuman 15 tahun penjara pada 16 Juni 2011 karena dianggap menjadi dalang dibalik kamp pelatihan di Jantho, Aceh dan tindakan tersebut mendukung terorisme. Hubungan paling nyata. Tidak hanya di MMI, ia juga menjadi amir Jamaah Anshorut Tauhid, penjelmaan yang lebih lunak dari Jamaah Islamiyah pasca tertangkapnya anggota-anggota JI yang terlibat kasus terorisme semenjak tahun 2002 (Bom Bali 1).

Karena perpecahan di tubuh MMI, Abu Bakar Ba’asyir mendirikan JAT dan menjadi amirnya seperti penjelasan di paragraf sebelumnya. Kasus penangkapan Abu Bakar Ba’asyir bermuara dari Sofyan Tsauri yang meminta pendanaan kepada Abu Bakar Ba’asyir terkait kamp pelatihan di Jalin, Jantho, Aceh Besar yang tidak ada hubungannya dengan GAM karena GAM telah bubar di tahun 2005, sedangkan kamp tersebut berkembang pada tahun 2009. Salah satu yang terserat dalam tindakan Sofyan Tsauri dalam kamp pelatihan adalah Abu Tholut dan Khairul Ghazali.

Kasus ini yang menjadi latar belakang dipenjarakannya Abu Bakar Ba’asyir. Ketika dalam penjara, di tahun 2014, ia berkenalan dengan Abu Sulaiman Aman Abdurrahman dan berbaiat kepada amir ISIS. Ba’asyir juga menginstruksikan seluruh anggota JAT untuk melakukan hal yang sama dan jika tidak maka harus keluar dari JAT. Kedua anaknya, Iim Ba’asyir & Rosyid Ba’asyir membentuk Jamaah Asharusy Syariah (JAS) yang tidak dikategorikan sebagai kelompok teroris dan masih berdiri hingga sekarang.

Keinginan Abu Bakar Ba’asyir untuk bebas adalah manusiawi, siapa orang yang ingin dipenjara. Akan tetapi bila pemerintah tidak ingin membebaskannya bersikaplah tegas dari awal untuk tidak membebaskannya, jangan dipaksa menandatangani surat janji setia kepada NKRI. Apakah kecintaan terhadap tanah air harus dipaksakan? Coba lihat saja bagian komentar dari tulisan-tulisan yang mengulas tentang Abu Bakar Ba’asyir yang perkataannya lebih brutal ketimbang kelompok radikal.  Bagi orang seperti Ba’asyir, lebih baik ditahan di penjara ketimbang bebas dengan menjual kepercayaannya. Pandangan Ba’asyir ini adalah dampak dari dibukanya ruang demokrasi, namun diikuti dengan kegagalan konsolidasi demokrasi yang baik dari elit. Demokrasi hanya sebatas pemilu.

TENTANG PENULIS

Reza Maulana Hikam adalah mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di FISIP Universitas Airlangga

BACA JUGA

Tags: , ,

Bagaimana menurut pembaca?