Menghadapi China yang Sedang Naik Daun

China-Nuke-Berpijar

Fenomena China yang sedang naik daun memang menarik untuk diamati. Istilah naik daun digunakan untuk menggambarkan China yang sedang berusaha meningkatkan kapabilitas dan pengaruhnya di dunia internasional (Chung, 2010). Tidak hanya melakukan investasi besar-besaran di wilayah Afrika, Amerika Latin, maupun Asia Tenggara, namun China juga memperkuat pada aspek lainnya.

Menurut catatan akhir tahun SIPRI (Stockholm International Peace Research Institute), dalam bidang militer, China berada pada peringkat kedua setelah Amerika Serikat dalam pengeluaran belanja militer dan tentu saja negara ini tetap fokus memperbarui persenjataan nuklir. Dalam aspek sosial dan budaya, kehadiran Confucius Institute dan diaspora etnis Chinese memainkan peran penting untuk memperkenalkan budaya China. Dalam bidang teknologi, China sedang giat membangun teknologi terbaru, seperti AI (Artificial Intelligence) dan 5G.

Kebangkitan China saat ini dapat dikatakan hampir berhasil. Dahulunya China adalah negara yang terbelakang dan terisolasi dari dunia global. Namun, sejak Den Xiaoping melakukan perubahan kebijakan ekonomi yang lebih terbuka pada akhir 1970, momen tersebut mendorong China untuk lebih aktif dalam lingkup global.

Tidak hanya aktif bergabung dalam agenda internasional, China juga menyelenggarakan agenda lain seperti G20 Summit di Kota Hangzhou pada 2016 dan Beijing Olympics di 2008 sebagai usaha memperkenalkan wajah China yang baru, yakni negara yang harmonis dan menegakkan kedamaian.

Hal ini juga dibuktikan dengan keterlibatan Tentara Pembebasan China di UN Peacekeeping Operations (Suzuki, 2008) untuk membangun wajah China sebagai negara besar yang bertanggung jawab dalam perdamaian dunia pada abad ini.

Fenomena China yang sedang naik daun ternyata dipandang sebagai sebuah ancaman terutama bagi Amerika Serikat dan pemain-pemain lama saat Perang Dunia berlangsung. Istilah ancaman yang ditujukan pada China pertama kali muncul pasca Perang Dingin (Song, 2016). Hal ini dibuktikan oleh kekuatan militer China yang menciptakan nuclear power, dan memang ketika Perang Dingin berlangsung, nuklir menjadi indikator baru bagi kapabilitas suatu negara untuk disebut sebagai great power (Wagner, 1993).

Beberapa akademisi mengungkapkan bahwa kebangkitan China merupakan konsekuensi dari negara yang ingin bangun dari masa lalu yang kelam dan penuh penghinaan atas imperialisme yang dilakukan oleh negara-negara Barat dan Jepang.

Seperti yang diketahui bahwa Amerika Serikat ingin menjaga dominasi di Asia Pasifik. Namun, saat ini China berusaha menggeser posisi Amerika Serikat dengan memainkan peran penting terutama di wilayah Asia Tenggara melalui penaklukan Laut Cina Selatan dan suntikan investasi di negara-negara tersebut.

Hal ini juga diperkuat dengan terpilihnya Trump menjadi Presiden Amerika Serikat, perhatiannya terhadap Asia Tenggara menurun dibanding dengan masa kepemimpinan Obama yang mencetuskan kerja sama dalam bidang ekonomi, yaitu Trans-Pacific Partnership (TPP). Sehingga, kesempatan ini digunakan China untuk menandingi hegemoni Amerika Serikat di Asia Tenggara terlebih dahulu. Dengan demikian tepat apabila China berusaha mendominasi di kawasan Asia sebelum memperluas pengaruhnya lebih jauh di kancah global.

Selain aspek geopolitik, kebangkitan China dalam bidang teknologi juga menjadi ancaman serius bagi keamanan Amerika Serikat. Perwakilan Gedung Putih berpendapat bahwa saat ini banyak negara yang terlibat dalam perlombaan teknologi terbaru seperti hadirnya 5G yang mampu mengendalikan keamanan di dunia maya.

Hal ini dipercaya bahwa negara manapun yang memiliki dan mendominasi 5G akan lebih unggul dalam bidang ekonomi, intelijen, dan militer. Sehingga, keadaan ini dapat mengancam keamanan Amerika Serikat dimana kejadian yang ditakutkan adalah China dapat menembus “pintu belakang” melalui jaringan telekomunikasi dan komputasi yang akan memungkinkan pihak keamanan China mencegat komunikasi dalam bidang militer, pemerintah, dan perusahaan milik Amerika Serikat.

Pihak Gedung Putih meyakini bahwa beberapa kali cyber China telah berhasil menembus, bahkan oleh para peretas yang diduga bekerja atas nama Kementerian Keamanan China. (Sanger, Barnes, Zhong dan Santora, 2019).

Melalui pemaparan di atas, China terlihat ambisius dan percaya diri untuk mengejar statusnya menjadi “great power”. Kebangkitan China memang tidak dapat dipandang sebelah mata terutama bagi Amerika Serikat. Di satu sisi, kebangkitan China menjadi peristiwa yang tidak dapat dihindarkan karena dalam sistem internasional tidak hadirnya suprastruktur yang mengontrol tingkah laku negara. Sehingga posisi negara sebagai aktor dapat bertindak secara bebas seperti contohnya China yang berusaha bangkit melalui peningkatan kapabilitasnya.

Untuk menghadapi China yang sedang naik daun, terutama bagi Amerika Serikat yang menganggap China sebagai ancaman potensial, adalah berusaha menghadapinya bahwa hal ini yang terjadi di tatanan global pada abad ini (Yu, 2019).

Bagaikan roda berputar, China memang secara progresif menjadi negara dengan perekonomian dan militer yang kuat di abad ini. Lebih penting lagi, aktor lain sepatutnya mampu membaca karakter China saat ini karena China ingin dipandang dalam konteks menjaga kedamaian dan stabilitas di dunia internasional (Callahan, 2005). Sehingga, bagaimana negara lain memperlakukan China juga menjadi catatan penting.

Peristiwa China yang sedang naik daun sebenarnya bukan ancaman yang sangat menakutkan. Bahkan, Oliver Turner melihat kebangkitan China sebagai hasil konstruksi ketakutan masyarakat Amerika Serikat. Dalam sisi China, sebenarnya ingin meminimalkan anggapan dirinya sebagai sebuah ancaman (Cheng, 2013).

Terlebih pasca Perang Dingin, negara-negara yang tidak menerapkan sistem demokrasi dianggap sebagai negara yang “jahat” dalam keanggotaan masyarakat internasional (Suzuki, 2008). Agar dapat diterima dalam keanggotaan global dan status sebagai “great power” dapat diakui, China hingga sampai saat ini berusaha keras membingkainya melalui nilai-nilai harmonis dan memelihara kerukunan.

Baiknya langkah yang diambil oleh Amerika Serikat dan pemain-pemain lama seperti Inggris, Jerman, Prancis, Jepang, dan Rusia adalah menjaga hubugan baik dengan China dan tidak membuat ancaman sebagai suatu kondisi yang dramatis (Schake, 2016). Terlebih, hubungan China dan Amerika Serikat masih memanas menghadapi perang dagang, agar segera menentukan keputusan tanpa merugikan kedua belah pihak. Untuk negara-negara dengan less power, sepatutnya memiliki posisi yang jelas dalam menghadapi kebangkitan China seperti investasi yang digulirkan apakah telah sesuai dengan kepentingan nasional. Sehingga tetap bersikap fleksibel untuk merespon China yang sedang naik daun karena dalam benak China ingin dianggap sebagai partner, bukan kompetitor.

REFERENSI

Callahan, William A. “How to Understand China: The Dangers and Opportunities of Being a Rising Power.” Review of International Studies, Vol. 31, No. 4 (Cambridge University Press), Oct., 2005: 701-714.

Cheng, Joseph Y.S. “China’s Regional Strategy and Challenges in East Asia” China Perspectives, No. 2 (94) (French Centre for Research on Contemporary China), 2013: pp. 53-65.

Chung, Jae Ho. “East Asia Responds to the Rise of China: Patterns and Variations.” Pacific Affairs, Vol. 82, No. 4 (Pacific Affairs, University of British Columbia), Winter, 2009/2010: 657-675.

Sanger, David E., Julian E. Barnes, Raymond Zhong and Marc Santora, “In 5G Race With China, U.S. Pushes Allies to Fight Huawei.” NY Times, 26 Januari 2019, https://www.nytimes.com/2019/01/26/us/politics/huawei-china-us-5g-technology.html (diakses pada 29 Januari 2019).

Schake, Kori and Anja Manuel. “How to Manage a Rising Power—or Two: What America can learn from 19th-century Britain.” The Atlantic, 24 Mei 2016, https://www.theatlantic.com/international/archive/2016/05/china-india-rising-powers/484106/ (diakses pada 5 Februari 2019).

Smith, Dan. “SIPRI Yearbook 2018: Armaments, Disarmament, International Security Summary” SIPRI, https://www.sipri.org/sites/default/files/2018-06/yb_18_summary_en_0.pdf (diakses pada 4 Februari 2019).

Song, Weiqing. “Securitization of the “China Threat” Discourse: A Poststructuralist Account.” China Review, Vol. 15, No. 1 (Chinese University Press), Spring 2015: 145-169.

Suzuki, Shogo. “Seeking ‘Legitimate’ Great Power Status in Post-Cold War International Society: China’s and Japan’s Participation in UNPKO.” International Relations (Sage Publications, Ltd.), 2008; 22; 45.

Turner, Oliver. “’Threatening’ China and US security: the international politics of identity.” Review of International Studies, Vol. 39, No. 4 (Cambridge University Press), October, 2013: 903-924.

Wagner, R. Harrison. “What was Bipolarity?” International Organization, Vol. 47, No. 1 (The MIT Press), Winter, 1993: 77-106.

Yu, P.H. “America Must Face Reality on China.” Project Syndicate, 17 Januari 2019,  https://www.project-syndicate.org/commentary/america-must-accommodate-china-rise-by-p-h-yu-2019-01 (diakses pada 5 Februari 2019).

About Author

Nuke Ramli

Nuke Ramli adalah Mahasiswa S2 International Affairs & Global Governance, Zhejiang University.


Related Posts

Write a response to this post