Mengenal Pola Pikir Manichean dan Hubungannya dengan Ekstrimisme Beragama, Ulasan Islamist Terrorism and Militancy in Indonesia

Mereka yang mengikuti pola pikir manichean memiliki kemungkinan untuk menjadi fundamentalis agama dan bisa mengarah kepada kekerasan.

KR-ALI-REZA-BERPIJAR
KR-SPRINGER

Judul BukuIslamist Terrorism and Militancy in Indonesia

Penulis Kumar Ramakhrisna

Penerbit Springer Science

Tebal Bukux+269 halaman

Tahun Terbit  2015

Jenis Buku Kajian tentang Terorisme

Peresensi Reza Maulana Hikam


Rasanya tidak ada ujung dari pembahasan terorisme, fundamentalisme dan radikalisme agama, sudut pandang ekstrim dan radikalisasi. Dengan posisi Indonesia sebagai negara yang kerap menghadapi kasus terorisme, negara ini cukup longgar dalam fokusnya memberantas kelompok-kelompok penghasil pandangan ekstrim. Kebijakan keamanan tidak menjadi fokus utama, terlepas Kapolri merupakan individu yang teruji secara akademis di RSIS, Singapura. Indonesia terlalu fokus dan terus berfokus kepada permasalahan ekonomi.

Semasa pilpres pun, isu yang selalu manis untuk dibicarakan adalah ekonomi, masalah pengangguran, UMR, kemiskinan, kelaparan dan hutang negara. Tidak berimbang, permasalahan pendidikan maupun keamanan kurang menjadi sorotan baik saat debat maupun ketika liputan media. Hingga berita tentang terorisme menjadi fokus dan topik musiman saja, saat tidak ada yang meledak, maka tidak ada yang disorot oleh pemerintah, namun ketika terjadi pemboman, banyak pakar ekonomi, sosial, dan politik mendadak menjadi “pengamat terorisme”.

Di Asia Tenggara, tepatnya Singapura, menjadi tempat yang berfokus pada studi keamanan, salah satunya terorisme. Universitas seperti Nanyang Technological University memiliki sekolah pascasarjana yang memiliki perhatian khusus terhadap terorisme, bahkan tersertifikasi dibidang studi terorisme, yakni S.Rajaratnam School of International Studies yang namanya diambil dari S.Rajaratnam, Menteri Luar Negeri pertama Singapura. RSIS telah melahirkan pakar-pakar terkenal dibidang keamanan: Rohan Gunaratna, Muhammad Tito Karnavian, Shashi Jayakumar, hingga Kumar Ramakrishna, yang menjadi penulis buku ini.

Saya mengkritik para “pengamat terorisme” karena melihat fenomena ini hanya melalui media massa, media sosial, dan buku saja, namun tidak pernah secara langsung berhadapan, menemui atau mewawancarai para teroris. Kumar bukan termasuk orang-orang tersebut, karena di awal bukunya ini, beliau menceritakan tentang bagaimana ia menemui Mustaqim, Ali Imron dan Nasir Abbas untuk berdiskusi dan mewawancarai mereka. Penulis menyatakan bahwa secara personal, orang-orang tersebut tidak memiliki masalah dengan individu yang memeluk agama lain. Karena perilaku mereka yang tidak agresif dan dingin terhadap Kumar, ia mulai mempertanyakan: apakah ideologi (Salafi-Jihadisme) menjadi akar tindak kekerasan ekstrim para Islamis ataukah ada hal lain yang menjadi alasan?

Penulis menjawab bahwa tindak kekerasan yang mereka lakukan bukan karena ideologi, melainkan sifat alamiah manusia sendiri. Sifat alamiah manusia ini adalah: tendensi manusia untuk melihat pertarungan yang hanya ada dua warna, hitam dan putih, dalam dunia sosial; spiritualitas atau religiusitas internal manusia; dan kerumitan dari jejaring sosial manusia yang tidak bisa diprediksi. Adanya sudut pandang manichean yang melihat dunia ini terpecah menjadi dua: kita yang superior secara moral dan mereka yang lemah secara moral.

Sifat alamiah tersebut apabila berbenturan satu dengan yang lain maka akan menciptakan kegundahan akan identitas kedirian seseorang. Kecemasan ini adalah awalan dari munculnya ketakutan atas marjinalisasi dalam suatu kelompok, bahkan ketakutan mengenai kepunahan sebuah kelompok yang mendorong munculnya tindak kekerasan yang dilakukan oleh kelompok tersebut.

Dalam perkembangan pola pikir manichean ini juga ditumbuhkan mitos terhadap individu tertentu, sebuah metode yang kita kenal dengan “pengkultusan”. Ada pola-pola dan bahaya yang berbentuk penipuan, yang memunculkan takhayul terhadap kelompok atau individu. Di dalam studi psikologi, kepercayaan, takhayul dan magis dianggap dapat menghilangkan kegundahan dan memunculkan kesehatan fisik maupun mental. Selain itu, mereka yang kerap melakukan praktik-praktik takhayul dan magis, seperti dukun atau kepercayaan seperti agamawan selalu mendapatkan status sosial yang tinggi. Status ini di Indonesia dibuktikan pula dengan pengikut. Semakin banyak pengikut maka semakin besar status sosialnya.

Mereka yang mengikuti pola pikir manichean memiliki kemungkinan untuk menjadi fundamentalis agama dan bisa mengarah kepada kekerasan. Banyak pemikir yang dikutip oleh Kumar untuk mendefinisikan fundamentalisme yang pada era 1980-an lekat dengan Kristen. Namun pemaknaan paling mudah diutarakan oleh Karen Armstrong: here to stay. Agama bertujuan untuk menjaga tradisi dan pengikutnya acapkali di cap sebagai neo-fundamentalis yang menekankan kepada ritus sehubungan dengan kehidupan sehari-hari.

Saya sangat sepakat dengan dua pandangan penulis bahwa sekularisme dengan perkembangannya seperti apapun, tidak akan mampu menghilangkan religiusitas yang sudah menjadi sifat alamiah manusia. Kedua, sistem keagamaan memang membelah dunia menjadi dua: baik dan buruk, namun secara esensi tidak mengadvokasi terjadinya kekerasan. Ketakutan kelompok beragama bahwa mereka akan hilang dan punah lah yang menjadi alasan individu atau kelompok mengambil jalan kekerasan melawan sekularisme dan menapaki jalur fundamentalisme.

Studi kasus dari Kumar adalah pemberontakan agama di masa kemerdekaan: Darul Islam, ia menyebutnya sebagai Darul Islam Charismatic Group (DICG). Penambahan istilah charismatic group oleh Kumar mengacu kepada kesamaan anggota Darul Islam yang memeluk agama tertentu, yakni Islam. Istilah CG pertama kali dibawa oleh Marc Galanter. DICG memang panggilan baru terhadap kelompok pemberontak di bawah Kartosoewiryo tersebut, namun penggunaan tersebut tidak lazim, sehingga memberikan multi-tafsir kepada para pembaca buku ini.

Mereka yang membaca DICG akan merasa bahwa DI merupakan kumpulan orang berkharisma. Semenjak berdiri hingga melemahnya DI/TII di tahun 2000an, hanya S.M. Kartosoewiryo dan Abdul Kahar Muzakkar yang mampu menarik banyak pengikut melalui kharismanya. Pada dekade 90an, dimana Abdullah Sungkar menyatakan keluar dari DI adalah karena kelompok ini dianggap tidak lagi murni mempraktekkan Syariah Islam dan masih percaya takhayul (Contohnya: Ajengan Masduki dianggap memiliki Ilmu Laduni).

Munculnya pemecahan antara “kita” dan “mereka” menjadikan manusia bertindak secara egois dan menganggap bahwa “mereka” adalah musuh yang lebih lemah. Alam pikir semacam ini yang mendasari terjadinya tindak terorisme, bukan ideologi. Dari pemecahan di atas, muncul lah in-group dan out-group. Para anggota in-group akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengalahkan dan menyerang orang-orang out-group.

Kasus terorisme dan pemberontakan di Indonesia ini dilihat dari kacamata perkembangan psikis manusia, dimana sifat alamiah manusia menjadi faktor utama yang membuat pemikiran ekstrim menjadi-jadi di alam pikir seseorang. Ideologi seperti Salafi, menurut Kumar, hanyalah enabler, hanya memberikan jalan yang lebih luas bagi seseorang untuk melaksanakan tindak terorisme. Pandangan ini berbeda dengan sudut pandang Tito Karnavian dalam melihat perkembangan insurgensi dan konflik sektarian di Poso.

Tito dalam disertasinya Explaining Islamist Insurgencies menganggap bahwa teori Louis Richardson: disaffected person (orang yang terkena musibah), enabling group (kelompok pemberdayaan), dan legitimising ideology (ideologi yang melegitimasi tindakan terorisme) adalah alasan terjadinya radikalisasi di daerah Poso yang sedang dilanda konflik selama tahun 2000-2007. Ada peranan penting ideologi Salafi-Jihadisme yang digunakan sebagai pembenaran terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Mujahidin Tanah Runtuh buatan JI di Poso.

Ideologi tidak hanya membuka jalan atau pemberdaya saja, namun menjadi sumber utama tindakan terorisme dan alat justifikasi terhadap tindak tersebut. Akan tetapi Kumar beranggapan bahwa sifat alamiah manusia yakni religiusitas, kompleksitas dan binaritas (perpecahan) menjadi alasan banyak individu terseret kepada terorisme. Lalu mana yang benar? Dalam konteks masa kini, pandangan Tito akan lebih kuat untuk digunakan melawan terorisme di Indonesia dengan policy implication nya. Sedangkan milik Kumar adalah usaha memahami terorisme dalam tahapan yang lebih rumit. Para psikolog yang terjun untuk melakukan deradikalisasi seharusnya membaca karya beliau untuk memahami pola pikir para teroris.

Di akhir buku, Prof. Kumar menawarkan sejajaran cara untuk memperlemah pola pikir manichean yang menjadi bahan bakar dari militansi dan terorisme kelompok Islamis di Indonesia. Caranya adalah dengan melakukan imunisasi kepada khalayak umum terhadap pandangan dan pola pikir yang dibawa oleh kelompok garis keras seperti DICG, Membentengi masyarakat dari pandangan Wahabi yang melihat dunia hitam dan putih saja, dan membentuk lingkungan yang semakin memperlemah seseorang untuk membentuk watak yang kasar dan keras.

Diperlukan pemahaman mendalam terhadap psikologi manusia guna memahami buku ini, sangat cocok bagi para psikolog maupun psikiater yang bertugas atau menggeluti bidang deradikalisasi. Konseling menjadi salah satu jalan untuk melakukan rehabilitasi teroris, pada titik itu lah para psikiater atau psikolog harus memahami pola pikir para teroris ini, agar memahami pula cara menanggulanginya.

Springer memang menerbitkan karya-karya ilmiah, maka dari itu, penggunaan bahasa dalam buku ini tidak menggunakan kosakata yang biasa dipakai dalam Bahasa Inggris sehari-hari. Beberapa kalimatnya pun akan susah dipahami untuk pembaca pada umumnya. Walaupun begitu, bagi mereka yang ingin mendalami dan memang mendalami permasalahan terorisme, sudah seharusnya memasukkan karya Kumar Ramakrishna ini sebagai daftar bacaan wajibnya.

Write a response to this post