Apakah Media Memperluas atau Mempersempit Agama? (Bagian 1/2)

Pada gilirannya nanti, media akan mempersempit atau memadatkan agama dalam tampilannya fisiknya.

DianDJ-Berpijar-AgamaMedia

Salah satu pertanyaan utama tentang topik keterkaitan agama dan media adalah: apakah media memperluas atau mempersempit agama? Perbedaan pandangan tentang hal ini yang menjadi latar belakang tulisan ini hadir.

Saya akan lebih dahulu menjelaskan pandangan dominan yang melihat bahwa media membuat agama tereduksi maknanya. Selanjutnya pendapat berlawanan yang menyatakan bahwa media memperluas agama. Pada bagian selanjutnya, saya akan berusaha menjelaskan bagaimana agar perkembangan Islam melalui media tidak jatuh pada penyempitan makna agama.    

Perlu kiranya saya tegaskan, agama di sini merujuk pada pemahaman esensi, nilai, dan sakralitas yang terkandung di dalam makna spiritualitas dan ajaran agama. Di sisi lain, media, baik media konvensional (televisi, radio, koran) maupun media kontemporer (internet), memiliki konstruksi pembingkain tertentu atas suatu gambaran yang hendak ditampilkan secara fisik.

Ringkasnya, agama merupakan sesuatu yang bersifat sakral dan non-material, sedangkan tampilan media menghendaki adanya bentuk material (bentuk visual maupun nonvisual) ketika berusaha menampilkan muatan agama. Sehingga, pada gilirannya nanti, media akan mempersempit atau memadatkan agama dalam tampilannya fisiknya. Maka, nilai-nilai semacam pemahaman agama, sakralitas dan seterusnya akan turut luntur dalam tampilan media.    

Komodifikasi Agama dan Bias Media Atas Islam

Penjelasan Greg Fealy (2008) tentang komodifikasi agama dapat membantu kita untuk memahami bagaimana fenomena media menggerus agama bisa terjadi. Ia menyatakan, komodifikasi Islam yang terjadi tidak lepas dari perkembangan teknologi media baru, percepatan informasi yang ditopang faktor urbanisasi dan pertumbuhan ekonomi membuat bentuk anyar dari bagaimana seseorang mengekspresikan keimanannya dengan berbagai komoditas berlabel agama.

Lebih jauh Fealy menyatakan, komodifikasi Islam pada beberapa dekade belakangan ini lah yang pada gilirannya membuat dinamika sosial-ekonomi, teknologi dan kebudayaan memproduksi simbol-simbol kesalehan dan identitas keagamaan. Identitas keagamaan yang dilekatkan pada berbagai bentuk produksi, baik sektor keuangan seperti perbankan syariat maupun sektor non keuangan seperti pakaian modern muslimah, buku dan novel berbau agama dan seterusnya, adalah perwujudan nyata bagaimana trend Islam diterima karena kesuksesan komersialisasi agama.

Di tempat lain, saya pernah memberi contoh bagaimana pemaknaan baru bagi kecantikan perempuan karena berjilbab dengan menampilkannya di media sosial sebagai bentuk eksploitasi spiritualisme (Jayanto, 2018). Tampil cantik dengan mengunggah foto-foto berjilbab di media sosial, sebagian dilengkapi dengan quotes-quotes dakwah menutup aurat, menjadikan agama dan jilbab yang awalnya bernilai keagamaan menjadi sangat bersifat material (kecantikan). Acara Muslimah Beauty (2011) juga bisa menjadi contoh sejenis.

Contoh lain bagaimana media melakukan dekonstruksi terhadap Islam dapat dijumpai misalnya dalam acara-acara televisi, baik sinetron religi (seperti “Tukang Bubur Naik Haji” di RCTI dan “Cermin Kehidupan” di Trans TV) maupun tayangan-tayangan ceramah keagamaan (“Mama dan AA Beraksi” di Indosiar dan “Islam Itu Indah” di Trans TV) dan lain-lain (Yusuf, 2016; Zamzami, 2016).   

Pada akhirnya, praktek-praktek komodifikasi agama telah menjadikan Islam hanya sekedar menjadi bernuansa “material” dan semakin menjauh dari unsur-unsur “prosesi spiritual” (Utama, 2015). Pendekatan-pendekatan semacam inilah, terutama dari sudut pandang komodifikasi dan materialisme agama, menjadikan suatu asumsi kuat yang meletakkan bahwa media telah mempersempit agama.

Perkembangan media telah membuat agama menjadi kering. Ketika sesuatu bersifat rohani terserap habis dalam wilayah yang keseluruhan bersifat material, maka nilai dari spiritualitas keagamaan akan turut surut bahkan bisa jadi tidak lagi bermakna. Agama akan bersifat kering dan tanpa makna.

Contoh lain bagaimana media membatasi agama adalah terkait pengurangan perspektif tentang pemahaman tentang ajaran Islam. Menguatnya aksi terorisme atas nama Islam menjadikan tampilan media atas image Islam begitu terpuruk. Menonjolkan aksi terorisme dengan mengaitkannya dengan identitas keagamaan pelaku akan menjadikan Islam agama yang mengajarkan teror, atau agama yang mengajarkan ideologi kekerasan (violent ideology). Akhirnya muncul phobia masyarakat Barat dan belahan dunia lainnya terhadap Islam yang berlebihan. Tentu hal demikian menjadikan pemahaman nilai-nilai Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, cinta damai dan seterusnya menjadi tersingkir.

Sebenarnya, jauh sebelum rentetan aksi terorisme begitu mengemuka, pembelokkan terhadap pemahaman ajaran Islam di media massa telah lama terjadi. Edward Said, seorang pemikir orientalis ternama, melalui bukunya berjudul “Covering Islam: Bias Liputan Barat atas Dunia Islam” (2002, terbit pertama tahun 1981) telah menunjukkan bagaimana media-media di Barat melakukan distorsi terhadap Islam. Sebagaimana ia menjelaskan Islam dalam berita bercirikan haus akan monopoli minyak, terorisme hingga suka menumpahkan darah.

Secara keseluruhan, pembelokkan wajah Islam dalam media menjadikan tergerusnya pemahaman Islam sesuai pembingkaian yang dikehendaki pembuat konten sebagaimana yang sudah disinggung pada awal tulisan.

Dua contoh yang telah saya paparkan, baik soal modifikasi Islam yang menghancurkan sakralitas keagamaan maupun rusaknya citra Islam yang menghilangkan pemahaman ajaran Islam, menguatkan premis bahwa perkembangan media telah menjadi faktor yang menyebabkan tereduksi atau menyempitnya agama.

Kecenderungan pandangan di atas meletakkan bahwa perkembangan media tidak berkorelasi positif terhadap Islam itu sendiri, baik pembentukan dari luar maupun ekspresi Islam yang ditampilkan dari dalam sendiri.

Write a response to this post