Apakah Media Memperluas atau Mempersempit Agama? (Bagian 2/2)

Kondisi yang menjadikan agama tereduksi adalah karena media menjadi aktor dan subjek utama mengendalikan agama, dan agama sendiri semata menjadi objek.

DianDJ-Berpijar-AgamaMedia-2

Baca bagian pertama tulisan ini →

Agama Memperluas Dakwah Islam?

Jika pada bagian sebelumnya saya menekankan bagaimana deskripsi yang meletakkan media yang menguras makna agama, maka di sini akan membicarakan pandangan yang menyatakan bahwa perkembangan media, terutama media internet, telah menolong Islam untuk memperluas agama, terutama melalui kemudahan mengakses dakwah-dakwah. Sebagai gambaran misalnya, pada masa-masa sebelumnya, banyak orang dapat mengikuti ceramah-ceramah dari budayawan kondang Emha Ainun Nadjib (Cak Nun).

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Cak Nun sama sekali tidak lagi tampil di acara-acara televisi. Ia melakukan “puasa media” dan lebih menggiatkan kegiatan-kegiatan pengajian rutinan yang ia asuh bernama “Maiyah”. Kegiatan bulanan tersebut selalu dilaksanakan di beberapa kota di Indonesia, mulai dari Jombang, Yogyakarta, Surabaya, dan seterusnya.

Bagi yang tidak berkesempatan untuk menghadiri pengajian Cak Nun secara langsung dan merindukan cerama-ceramah beliau, maka bisa mengaksesnya melalui video-videonya di YouTube. Tentu contoh ini dapat diperluas lagi terhadap tokoh-tokoh agama lainnya yang karena keterbatasan tidak bisa rutin mengikuti kajiannya secara langsung. Hal ini akan membuat kita berpikir bahwa perkembangan media telah membantu penyebaran Islam. Maraknya channel YouTube dan akun media sosial bercirikan dakwah Islam lainnya membuat orang sangat mudah mengakses kajian agama.

Dampak lain dari kemudahan ini juga akan membantu kebutuhan, terutama, masyarakat kelas menengah perkotaan yang menghendaki belajar agama secara instan. Karena keterbatasan waktu, maka konten kajian yang akan lebih didahulukan adalah video-video pendek. Tentu, kemasan-kemasan video-video ceramah pendek (dalam instagram, satu slide maksimal satu menit) yang didistribusikan melalui media sosial akan menjadikan suatu ceramah menjadi tidak utuh.

Apalagi untuk menambah efek guna menyentuh wilayah sentimen penonton, dibumbui lah video-video tersebut dengan iringan musik dan tampilan visual yang menarik seperti yang dilakukan dalam video-video Hanan Attaki. Akibatnya, bagi saya, sirkulasi dakwah yang berusaha menyebarkan Islam melalui media sosial akan terjatuh lagi dalam reduksi nilai agama lagi.

Agar Media Benar-benar Memperluas Islam       

Dari berbagai uraian yang telah saya sampaikan, mungkin pembaca akan menilai bahwa saya condong pada pendapat yang menyatakan bahwa media telah mempersempit agama. Nampaknya saya tidak perlu berkelit bahwa memang posisi berdiri saya demikian. Baik komodifikasi dan proses materialisme agama; bias pemberitaan media terhadap Islam; hingga kemajuan teknologi media informasi sebagai medium dakwah pada akhirnya mengarah pada berkurangnya nilai holistik Islam dalam eksistensinya di media.

Pendapat demikian mengesankan perasaan pesimis terhadap laju media dapat dimanfaatkan sebagai sarana kemajuan Islam. Paling tidak, penampakkan realitas demikian menjadi bahan evaluasi penting bagi penggelut Islam, terutama kita sebagai sesama kaum muda Muslim untuk menjalankan kiprahnya.

Namun, perlu kiranya diperjelas lagi bagaimana kondisi relasi agama dan media, dalam kondisi seperti apa media mereduksi dan menyebarkan agama. Sebagai bagian akhir dari tulisan ini, saya menawarkan pendapat bagaimana kondisi media tidak mereduksi agama. Yakni, biarkan suatu tontonan agama berbicara atas dirinya sendiri di media, bukan membiarkan media melakukan pembingkaian yang berlebihan atas suatu acara agama.

Saya berpendapat bahwa kondisi yang menjadikan agama tereduksi adalah karena media menjadi aktor dan subjek utama mengendalikan agama, dan agama sendiri semata menjadi objek.

Taruhlah semacam acara film atau sinetron dan pengajian di televisi yang melabeli dirinya sebagai acara keagamaan, maka disitu jelas media yang mengatur penuh tampilan agama. Pengajian Mama Dedeh di acara “Mama dan Aa Beraksi” misalnya, maka jelas disitu pihak stasiun televisi menjadikan agama sebagai objek kapital untuk kepentingan materialisme. Maupun ketika ada pengajian, ada bintang tamu artis cantik yang menemani ustaz yang menjadi narasumber.

Logika bisnis media tentu tidak lepas dari kepentingan laba komersil dari acara-acara keagamaan. Maupun ketika ada sebuah postingan dakwah dari ustaz tertentu tertentu di media sosial sebagai bahan upload, maka di situ reduksi bisa pula terjadi. Makanya, ketika membicarakan tentang video ceramah yang bertebaran di media sosial, saya sepakat agar tidak ada pemenggalan. Khawatirnya, nanti ada pesan yang tidak bisa tersampaikan secara tuntas.

Intinya, bagaimana kemudian agama bisa berbicara sendiri melalui media. Media sekedar medium untuk menyampaikan agama tanpa banyak hiasan-hiasan yang berlebihan. Contoh yang telah saya kemukakan nampaknya relevan untuk saya angkat kembali. Cak Nun sudah tidak berkenan kembali untuk tampil dakwah di televisi, namun ia mempersilahkan stasiun televisi lokal untuk mengambil videonya tanpa perjanjian komersil. Penjelasan ini sering dikemukakan Can Nun dalam banyak kesempatan. Mungkin, Cak Nun sadar bahwa ketika dakwah dilaksanakan di media, maka akan ada seperangkat aturan tertentu sesuai dengan semangat industri kapitalisme yang cenderung membatasi. Bagi saya, sikap Cak Nun tersebut menunjukkan bagaimana acara agama berbicara tentang dirinya sendiri tanpa didikte oleh media tertentu.

Dengan demikian, saya menyarankan tiga prasyarat untuk menjadikan media dalam kapasitasnya menyebarkan agama tanpa mereduksi. Pertama, acara keagamaan harus menjadi subjek dan media sebagai objek. Kedua, tidak ada pemenggalan yang begitu besar dalam acara keagamaan, terutama konten-konten pengajian. Dan terakhir, tidak ada bumbu yang berlebihan atas sebuah tayangan keagamaan di media.

Karakteristik demikian secara otomatis akan mengeliminasi acara semacam sinetron atau pengajian yang seakan-akan bernafaskan Islam dan menyebarkan agama, padahal sebenarnya mempersempit nilai dan mengurangi sakralitas agama itu sendiri. Mereka saya letakkan tidak lebih dari sekedar acara hiburan seperti reality show semata.

Penutup   

Salah satu diskusi kunci terkait media dan agama, lebih spesifik lagi di sini Islam, adalah pertanyaan: apakah media memperluas agama atau mempersempit agama? Pandangan semacam komodifikasi agama, materialisme spiritual serta bias pemberitaan Islam di media massa akan cenderung beranggapan bahwa media telah mereduksi nilai Islam.

Di sisi lain, perkembangan teknologi media, yang ditandai dengan kemudahan akses informasi, menimbulkan perasaan optimis bahwa media menjadi sarana menyebarkan nilai Islam. Meskipun tidak jarang akan jatuh kembali pada reduksi agama kembali.

Tiga kondisi prasyarat untuk menyatakan bahwa media memang benar-benar menyebarkan agama tanpa pengucilan nilai tertentu adalah: pertama, tayangan agama harus menjadi subjek. Kedua, tidak ada pemenggalan berlebihan pada acara keagamaan. Ketiga, tidak ada penambahan kemasan yang berlebihan menyertai tayangan agama di media.    

Referensi

Fealy, Greg. 2008. “Consuming Islam: Commodified Religion and Aspirational Pietism in Contemporary Indonesia” dalam Greg Fealy & Sally White (Ed). Expressing Islam: Religious Life and Politics in Indonesia. Pasir Panjang, Singapura: ISEAS Publishing.

Jayanto, Dian Dwi. 2018. “Menjadi Cantik dengan Berjilbab, Eksploitasi Spiritualisme di Media Online” dalam Antara Hijrah, Pesantren, dan Pembekuan Identitas. Malang: Ae Publishing.  

Said, Edward W. 2002. Covering Islam: Bias Liputan Barat atas Dunia Islam. Yogyakarta: Ikon Teralitera.

Utama, Wildan Sera. 2015. “Incorporating Spirituality and Market: Islamic Sharia Business and Religious Life in Post-New Order in Indonesia” dalam Masyarakat: Jurnal Sosiologi, Vol. 20, No. 2, Juli 2015: h. 113-137.  

Yusuf, Muhamad Fahruddin. 2016. Komodifikasi: Cermin Retak Agama di Televisi: Perspektif Ekonomi Politik Media dalam Interdisciplinary Journal of Communication, Vol. 1, No.1, Juni 2016: h. 25-42. Zamzami, Ahmad. 2016. “Kapitalisasi Agama pada Tayangan Televisi (Tinjauan Teori Ekonomi Politik Media)” dalam Oeconomicus Journal of Economics, Vol. 1, No.1, Desember 2016: h. 49-70.

Write a response to this post