Mengkaji Hizbut Tahrir Indonesia secara Akademis, Ulasan Mengenai Hizbut Tahrir Indonesia and Political Islam

RezaMH-UlasanttgHTI-Berpijar
HTIandPI-Osman

Judul Buku Hizbut Tahrir Indonesia and Political Islam

Penulis Mohamed Nawab Mohamed Osman

Penerbit Routledge

Tahun Terbit 2018

Tebal Buku xvii+220 halaman

ISBN 978-0-8153-7528-9


Kajian tentang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) secara akademis masih sangat jarang, acapkali kajian tentang kelompok “radikal” tanpa kekerasan ini memiliki agenda tersendiri dari pengkajinya. Pembahasan yang tidak obyektif ini kembali kepada latar belakang penulis buku yang acapkali berseberangan pandangan dengan HTI. Meskipun banyak ketidaksepakatan saya terhadap apa yang dibawa HTI, namun kajian tentang mereka harus mengulas selengkap mungkin.

HTI sebagai sebuah objek penelitian di-booming-kan oleh Burhanudin Muhtadi dalam jurnalnya yang berjudul The Quest for Hizbut Tahrir in Indonesia. HTI memang menarik tidak hanya bagi akademisi dalam negeri saja, melainkan akademisi asal S.Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University (NTU) di Singapura bernama Mohamed Nawab Mohamed Osman. Buku ini adalah karya ilmiah beliau mengenai organisasi Islam paling kontroversial di Indonesia.

Meskipun pernah bersentuhan beberapa kali dalam hal diskusi dengan kader HTI, saya memiliki ketertarikan tentang organisasi ini ketika menemani seorang teman yang sedang menyelesaikan tugas akhir kuliah (skripsi). Bertepatan juga saat itu ada peristiwa pembubaran HTI pada tanggal 19 Juli 2017 oleh Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan HAM (Kemenko Polhukam) yang semakin membuat saya ingin mendalami kajian tentang HTI.

Sebagai organisasi yang menawarkan alternatif sistem pemerintahan Indonesia yang berbentuk khilafah, HTI dianggap sebagai ancaman bagi legitimasi pemerintah Indonesia. Mereka pun juga aktif mengiklankan ide-ide tersebut melalui pamflet-pamflet yang disebarkan di beberapa masjid seusai sholat Jum’at. Adapun HTI sangat gencar mengikuti gerakan yang menggunakan identitas keIslaman seperti 411 dan 212 membuat pemerintah Indonesia semakin waspada.

Semangat kader HTI dalam menyebarluaskan ide tentang khilafah yang dibawa oleh Taqiyuddin an-Nabhani ternyata berbuah buruk pula di mata masyarakat. Tidak jarang mereka menjadi bahan olok-olokan dan gunjingan dalam diskusi seperti: sakit perut? Khilafah solusinya. Gunjingan semacam ini seharusnya dikurangi, karena menumbuhkan potensi kader HTI menjadi lebih “radikal” karena sakit hati.

Menurut Mohamed Nawab, HT sendiri pada awalnya menganggap daerah Asia Tenggara sebagai daerah periferi, sehingga pendirian HT di Indonesia merupakan usaha individu tanpa bantuan HT internasional. HTI awalnya dibangun oleh Abdul Rahman Al-Baghdadi, seorang keturunan Irak yang bermigrasi ke Australia dan bergabung dengan HT Australia. Ia secara aktif membangun HTI pada tahun 1982. Selain Al-Baghdadi, figur penting lainnya adalah Kyai Abdullah bin Nuh.

Hubungan diantara keduanya terbentuk ketika Abdullah bin Nuh pergi ke Sydney pada tahun 1978 untuk menemui anaknya, Raden Faisal bin Nuh. Di sana, ia memberikan ceramah yang dihadiri oleh berbagai orang, termasuk Al-Baghdadi. Keduanya sering berdiskusi dan terbentuklah sebuah kedekatan pemikiran, hingga saat bin Nuh balik ke Indonesia, ia dan Al-Baghdadi masih berkorespondensi melalui surat.

Saya menggunakan kata “figur penting”, karena Abdullah bin Nuh bukanlah anggota HTI. Namun ia memang melindungi para aktivis Islam, beliau lebih seperti patron. Anggota-anggota HTI pertama kali muncul dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang ikut dalam kelas agama yang dilaksanakan di Pesantren Al-Ghazali milik bin Nuh, di mana pengajarnya adalah Abdul Rahman Al-Baghdadi. Mahasiswa IPB ini kebanyakan adalah anggota Badan Kerohanian Islam Mahasiswa (BKIM) dan Lembaga Dakwah Kampus (LDK).

Salah satu tempat selain Pesantren Al-Ghazali yang menjadi wilayah rekrutmen adalah Masjid Al-Ghifari, yang menurut penulis, menjadi basis rekrutmen HTI. Perkembangan pesat dari pengajian dan rekrutmen HTI ialah pada tahun 1984, salah satu hasilnya adalah Muhammad Al-Khaththath. Perkembangan organisasi pendukung khilafah ini semakin besar dengan dibentuknya Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) pada tahun 1986. Salah satu jebolan FSLDK yang turut masuk dan menyebarkan pemikiran HT adalah Ismail Yusanto.

Dalam penyebarannya, HTI melaksanakan halaqah, sejenis kajian yang berpegangan kepada Mafahim Da’awah Islam, sebuah buku yang merupakan intisari dari karya-karya An-Nabhani. Kajian-kajian seputar politik Islam dan khilafah diberikan dalam halaqah ini, yang nantinya memperluas persebaran HTI sampai Universitas Padjajaran dan Universitas Airlangga.

Dalam mengupas HTI, Mohamed Osman menggunakan kacamata gerakan sosial yang menekankan akan pentingnya sumberdaya, entah dalam bentuk sumberdaya manusia, sumberdaya organisasi atau sumberdaya material (pendanaan). Semua sumberdaya ini harus dialokasikan untuk mencapai tujuan organisasi. Para kader HTI akan menggunakan jejaring informal untuk merekrut anggota baru dan juga mempengaruhi orang luar untuk bersimpati kepada mereka.

Penulis mengutarakan bahwa menjadi kader HTI harus memahami pemikiran-pemikiran yang ada di dalamnya, untuk bergabung sepenuhnya dibutuhkan waktu belajar dari dua hingga enam tahun, bagi calon anggota yang potensial maka diharuskan untuk memberikan bai’at (sumpah setia). Bai’at memang menjadi salah satu komponen penting dalam HTI yang bertujuan untuk mengikat para anggotanya.

Bai’at sudah ada semenjak Nabi Muhammad S.A.W, di mana Beliau di bai’at oleh masyarakat Madinah (dulu bernama Yastrib) dan menjadikan Beliau sebagai pemimpin di kota suci tersebut. Maka dari itu, bai’at adalah kontrak sosial antara pemimpin dari sebuah kelompok Islam dengan masyarakat, di mana sang pemimpin berjanji untuk mematuhi Hukum Islam dan masyarakatnya, namun mendapatkan kesetiaan dari masyarakat tersebut.

Sebelumnya saya sudah mengutarakan bahwa HTI memperlihatkan dirinya melalui pamflet. Osman juga menyampaikan hal yang sama dalam bukunya ini, bahwa HTI melalui buletin Al-Islam, yang dibagikan seusai sholat Jum’at untuk menyebarkan pemikirannya. Selain buletin, HTI juga memiliki majalah bernama Al-Wa’ie yang diterbitkan tiap bulan semenjak tahun 2000. Saya sepakat dengan pandangan penulis yang menyampaikan bahwa isu-isu yang diangkat dalam buletin dan majalah tersebut adalah isu aktual dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami, sehingga terkadang lebih menarik ketimbang khutbah Jum’at (perkara buletin).

Osman mengutarakan, meskipun HTI dibubarkan pada tahun 2017 silam, namun sebelum tindakan tersebut, pemerintah Indonesia sangat toleran terhadap HTI, bahkan anggotanya ada yang tergabung di Majelis Ulama Indonesia (MUI). Penulis dengan tegas menyampaikan bahwa HTI bukanlah ancaman bagi Pemerintah Indonesia. Anggotanya tidak pernah terlibat dalam aksi kekerasan dan tidak melakukan penyusupan di kalangan militer.

Penulis juga membandingkan pembubaran HTI dengan pembubaran HT di Bangladesh. Studi kasus Bangladesh memperlihatkan bahwa HT pasca dibubarkan menjadi semakin agresif dalam merekrut anggota, yang bukan lagi dari kalangan pelajar, tapi militer, dan simpati publik akan menjadi semakin besar diarahkan kepada HT karena kampanye dan aksi yang mereka lakukan selalu tanpa kekerasan. Osman menyampaikan bahwa langkah pemerintah Indonesia juga bisa mengarahkan HTI kepada jalan yang sama seperti HT di Bangladesh, berkembang menjadi organisasi bawah tanah.

Buku karya Mohamed Osman ini memberikan pencerahan dan sudut pandang baru tentang Hizbut Tahrir Indonesia. Bicara tentang ancaman HTI, penulis merupakan akademisi dari RSIS, NTU yang berfokus pada permasalahan keamanan, pastinya karya ilmiah yang ditulis oleh para akademisi RSIS bukanlah karya ilmiah sembarangan, akan selalu ada pertimbangan tentang kebijakan “keamanan”.

Bagi para mahasiswa maupun dosen yang sedang mendalami politik Islam di Indonesia, saya sangat menyarankan untuk memiliki buku ini sebagai salah satu referensi tentang kelompok politik Islam di Indonesia. Jurnal Burhanudin Muhtadi terlalu singkat untuk menjelaskan posisi HTI di Indonesia dan imagined ummah adalah konsep yang terlalu imajinatif, sedangkan Osman lebih realistis dengan memperlihatkan sejenak bagaimana HTI kedepannya, meskipun telah dibubarkan. Permasalahan utama dalam buku ini adalah harganya yang cukup membuat kita merogoh kocek sangat dalam.*

About Author

Reza Maulana Hikam

Reza Maulana Hikam adalah seorang mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga. Pegiat literasi yang mendirikan situs web resensi Kedai Resensi Surabaya dan Penulis Lepas Opini di Geotimes.


Related Posts

Write a response to this post