Cerita Epik Sang Pramoedya Ananta Toer dan Indonesia

CeritaEpikPram-MaxLane-Berpijar

Pramoedya Ananta Toer adalah pengarang dari tetralogi buku yang dikenal dunia internasional dengan istilah “Tetralogi Pulau Buru”. Keempatnya adalah Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Buku-buku ini pertama kali dipublikasikan di Indonesia antara tahun 1981 dan 1987, serta diterjemahkan dalam Bahasa Inggris sejak 1983.

Penguin Books tetap mencetaknya sejak 1983 hingga hari ini. Penerbit Hyperion Books di Amerika juga tak ketinggalan menerbitkannya. Selain itu, kamu juga bisa membaca kesohoran karya Pram dalam review-review yang tersebar di New York Times, The New Yorker, The Washington Post, dan banyak lagi.

Di Indonesia, konsepsi dan tulisan Pramoedya Ananta Toer serta kisah publikasinya oleh sang kawan, Joesoef Isak dan Hasyim Rachman, bukanlah cerita biasa mengenai penerbitan buku. Cerita mereka sendiri adalah sebuah drama politik, petualangan epik, dan sebuah kisah yang mendebarkan.

Pram menyusun novel-novelnya di tengah prahara politik dan budaya dalam jiwa bangsa Indonesia baru, yang tenggelam dan putus asa dalam sejarah bangsanya. Prahara ini lalu berakhir dengan pembunuhan ratusan hingga ribuan orang dan pemenjaraan puluhan ribu rakyat termasuk Pramoedya Ananta Toer, Hasyim Rachman, dan Joesoef Isak.

Dia menulis novel-novelnya, dalam sebuah kamp penjara yang terkunci, di sebuah pulau terpencil dan keras, di barak-barak yang dibangun dengan tangan kosong 14.000 tahanan laki-laki. Ia menuliskan kisah dalam novelnya menggunakan mesin tik tua pada kertas yang terbatas jumlahnya. Kemudian, bertahun-bertahun sesudahnya, tulisan-tulisan itu dibredel dan dilarang untuk dibaca.

Novel-novel ini diciptakan dalam benaknya ketika dia memberitahukan kepada kawan-kawan sesama tahanan yang menunggu panggilan absen atau ketika mereka sedang berbaring di atas tikar setelah lampu-lampu padam di pondok penjara dari tanah yang ditebangi dari hutan di pulau buru. Tidak pernah ada penulis sebelumnya yang mengetik tanpa margin atas, bawah, kiri, dan kanan.

Bebas dari penjara setelah ditahan empat belas tahun, tanpa pernah dituntut dan diadili, tiga mantan tahanan tersebut menentang kediktatoran dan menunjukkan rasa jijiknya terhadap nilai-nilai tabu yang selama empat belas tahun lamanya ditanamkan oleh propaganda gelap yang keji.

Mereka lalu mendirikan sebuah perusahaan penerbitan⎼yang mereka tahu akan berat⎼dan mulai menerbitkan buku-buku Pramoedya dimulai dari Bumi Manusia yang sampul depannya terpampang sebuah kalimat menantang: DITULIS DI PULAU BURU.

Pelecehan, interogasi, penjara, dan tentu saja diikuti oleh pelarangan, terus terjadi setiap mereka menerbitkan buku. Tapi, tak ada kata menyerah. Perusahaan penerbitan baru mereka memanfaatkan semua peluang yang ada, bekerja dengan tahanan lain, dengan pelajar, pembaca, untuk menolak setiap gerakan dari polisi dan jaksa.

Lebih dari itu semua, buku ini berbicara mengenai Indonesia yang telah kembali dari pengasingan. Ketika Bumi Manusia terbit, Joesoef Isak dan Hasyim Rachman, serta sejumlah orang lain, bertahan dari penindasan, dengan suara baru dan semangat baru, yang digerakkan oleh Indonesia dari Pulau Buru, menghadapi negara militeristik yang mengambil tak lebih dari pasar dan sumber daya alam.

Sebagai bangsa negara yang ideal untuk orang baru Indonesia, semuanya lenyap. Momentum yang diberikan pada proses embrio penemuan kembali Indonesia masih berjalan hingga saat ini, 2016 (tahun ketika tulisan ini diterbitkan, red).

Buku ini, Indonesia Return From Exile: The Buru Quartet Story (buku yang ditulis oleh Max Lane, red), akan menjadi buku pertama dalam Bahasa Inggris yang bercerita tentang kisah ini. Anehnya, meski telah dicetak 35 tahun lalu dan mendapat apresiasi luas, tidak ada satupun buku yang dipublikasikan di luar Indonesia tentang Pram dan bukunya. Meski di Indonesia, ada tulisan-tulisan tentang Pram yang terbatas pada karya mahasiswa tingkat akhir yang dicetak dalam jumlah kecil.

Indonesia Return From Exile: The Buru Quartet Story akan didasarkan pada wawancara berjam-jam, yang belum pernah ada sebelumnya dengan Pramoedya, Joesoef Isak, dan Hasyim Rachman. Lebih dari tiga dekade, dimulai pada tahun 1980, saya memahami mereka bertiga bukan hanya menerjemahkan karya Pramoedya, tapi juga anggota tim yang mengusahakan sebuah Indonesia yang kembali kepada jati dirinya.

Pengalaman personal mereka juga akan mempengaruhi kisah yang ada dalam buku ini. Dan apa yang akan dan telah dilakukan mereka untuk Indonesia, nanti dan sekarang?

Buku ini akan diikuti bersama analisis atas apa yang buku-buku itu berikan pada Indonesia, dan apa contoh yang mereka berikan, serta bagaimana indonesia belum dan telah mulai menerima “kado” ini.

Indonesia hari ini masih cacat oleh pengasingannya, masih menyangkal Pramoedya dan buku-bukunya, dan menyangkal dirinya sendiri. Penguasa masih menghindari pengajaran pada buku-buku karya Pram dalam pengajaran literasi nasional, yang artinya dihindarkan dari sekolah.

Meskipun begitu, dampak dari buku ini masih bisa dirasakan pada kelompok pembaca lain seperti Buruh Pabrik, Pelajar, dan kelompok lainnya yang menyebarkan ide-ide Pram. Namun, tetap saja, pembatasan tidak hanya terjadi karena pelarangan yang dilakukan negara, tapi juga ketidakmampuan generasi dalam mengkritik sejarahnya.

“Saya mengalami writer’s block (keadaan di mana seorang penulis tidak dapat menuangkan segala idenya ke dalam tulisan, red),” kata Pram. Mengapa?Baca sekarang dalam beragam bahasa yang ada! Bumi Manusia dan sekuelnya telah memberikan kontribusi pada dunia. Bagaimana itu terjadi dan mengapa? Dan apa yang menjadi pergulatan politik atas hadirnya Pramoedya, dan Indonesia, kepada dunia?*


Artikel ini merupakan terjemahan dari artikel aslinya yang berjudul “Writing the Epic Story of Pramoedya Ananta Toer and Indonesia” di website pribadi penulis, diunggah pada tanggal 20 Mei 2016. Diterjemahkan oleh Agung Hari Baskoro atas seizin penulis.

About Author

Max Lane

Max Lane adalah seorang pengamat, penulis, dan penerjemah karya Pramoedya Ananta Toer


Related Posts

Write a response to this post