Game of Throne Sejati: Permainan Politik Perubahan Kekuasaan dan Pemerintahan pada Taraf Dunia, Ulasan Buku Toppling Foreign Governments

Toppling Foreign Government

Judul Buku Toppling Foreign Governments

Penulis Melissa Willard-Foster

Penerbit University of Pennsylvania Press

Tahun Terbit 2019

Tebal Buku 332 halaman

ISBN-13 978-0812251043


Jarum jam menunjuk angka tujuh malam, ada sebuah mobil mengantarkan paket yang berasalkan dari Philadelphia, Amerika Serikat. Di bagian depan tertera nama saya, sudah hampir satu bulan saya menunggu paket tersebut. Isinya adalah buku terbitan terbaru asal University of Pennsylvania mengenai perubahan rezim. Buku ini mungkin tergolong kajian hubungan internasional di Indonesia.

Pembukaan buku ini pun menjelaskan permasalahan yang tidak kalah jauh (dalam hal jarak) dengan tempat di mana buku ini berasal. Lembar awal mengulas terkait permasalahan NATO yang tak kunjung selesai menyerang Libya untuk menggulingkan pemerintahnya. Dua nama yang disebut dalam bagian awal buku ini: Muammar Qaddafi dan Saddam Husein. Dua nama itu memang pernah tenar dan dinobatkan sebagai “diktator”.

Hal yang menarik dalam buku ini ialah memperlihatkan bahwa perubahan rezim (saya menggunakan perubahan karena ada unsur tekanan dalam kalimat tersebut ketimbang pergantian rezim) merupakan kebijakan luar negeri suatu negara, seperti Amerika Serikat. Hubungan dan kebijakan luar negeri suatu negara bergantung kepada gaya kepemimpinan kepala negara/pemerintahannya yang berdampak kepada rezim yang sedang berdiri di negara tersebut.

Sebuah pemerintah ingin menurunkan pemimpin di negara lainnya karena ingin menaruh sebuah pemimpin yang memiliki pandangan yang sama sehingga tidak perlu melakukan tawar-menawar kebijakan dan kerjasama dalam jangka waktu yang panjang.

Melissa juga menggunakan istilah Foreign Imposed Regime Change/FIRC (perubahan rezim yang didalangi kekuatan asing). Ia mengartikan FIRC sebagai keputusan suatu negara untuk meninggalkan penawarannya kepada negara lain dan berusaha mengganti lembaga / pemimpin politik negara yang ditinggal dengan tujuan mengembalikan kedaulatannya.

Ada dua kondisi yang harus dipenuhi oleh kekuatan asing untuk mencapai tujuannya dalam meja penawaran dan tidak memilih perubahan rezim: pertama, kekuatan asing tersebut harus memberikan alasan untuk mengalah bagi sasarannya dengan membuktikkan bahwa ancaman luar negeri lebih berbahaya ketimbang ancaman dalam negeri (domestik). Kedua, setelah perjanjian ditandatangani, kekuatan asing harus memberikan alasan kepada pemimpin negara sasaran yang menandatangani perjanjian dengan kekuatan asing untuk melaksanakan dan menaati perjanjian tersebut.

Jumlah biaya yang harus dikeluarkan oleh kekuatan asing untuk mendapatkan penawaran yang berkelanjutan juga bergantung kepada kekuatan oposisi dari negara yang menjadi sasaran. Asumsi ini akan terlaksana dengan kondisi oposisi tersebut mau diajak bekerjasama dengan kekuatan asing. Ketika menghadapi negara dengan pemimpin yang lemah secara politik, kekuatan asing tidak hanya memaksakan perjanjian, tapi juga mempersiapkan oposisi dalam negeri sasaran sebagai partner alternatif untuk penawarannya.

Negara yang kuat akan memilih untuk melakukan tindakan yang berdampak perubahan rezim secara sepenuhnya, dengan menaruh lembaga politik yang sepenuhnya baru di suatu negara. Akan tetapi, menaruh rezim baru akan sangat mahal karena tidak bisa dilakukan oleh kelompok oposisi internal sepenuhnya, maka perubahan rezim sepenuhnya memerlukan kekuatan asing untuk menginvasi atau membantu pemberontak untuk mencapai kemenangan secara militer untuk menggulingkan pemimpin negara yang menjadi sasaran.

Penulis membagi oposisi menjadi dua: oposisi internal yang berpotensi melawan pemimpin negara dari dalam parlemen atau kabinet yang dapat berupa ketua partai oposisi atau politisi oposisi, lalu ada oposisi eksternal yang melawan pemimpin negara dari luar lembaga pemerintah negara, biasanya dalam bentuk pemberontak. Saat oposisi eksternal gagal untuk menggulingkan pemimpin negara, maka kekuatan asing akan berpindah-haluan ke oposisi internal untuk merubah rezim secara parsial. Caranya dengan menghilangkan atau menurunkan kepala negara atau pembuat kebijakan utama di negara sasaran dengan kudeta atau pengunduran diri pemimpin negara sasaran.

Semenjak menjadi negara yang kuat di tahun 1898 (kemenangan atas Spanyol), Amerika Serikat telah mencoba untuk mengubah 38 rezim di berbagai negara. Namun kita akan menemukan bahwa FIRC masih jarang membentuk rezim yang demokratis karena kondisi dalam negeri yang tidak stabil pasca perubahan rezim yang menghambat demokratisasi terjadi di negara sasaran.

Perubahan rezim yang terjadi di berbagai belahan dunia memiliki tiga ciri yang sama: pembuat kebijakan di negara-negara kuat yang akan melakukan perubahan rezim untuk negara lainnya telah meninggalkan jalur negosiasi yang akan membuat pemimpin negara sasaran masih memiliki kekuasaan politik, negara kuat tersebut telah melaksanakan kebijakan-kebijakan yang memungkinkan perubahan rezim, dan pembuat kebijakan di negara kuat tersebut menyerang negara yang berdaulat dengan andil untuk mengembalikan kedaulatan negara sasaran.

Penulis juga memberikan contoh peristiwa penggulingan kepala pemerintahan di negara seperti Argentina, Iran, Bosnia. Sekaligus usaha untuk merubah rezim seperti yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Indonesia pada tahun 1957 dengan mendanai Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Permasalahan Indonesia ini pernah diulas juga oleh George McTurnan Kahin dan Audrey Kahin dalam bukunya yang berjudul Subversion as Foreign Politics, di mana permainan Eisenhower (Presiden Amerika saat itu) dan John Foster Dulles (Sekretaris Negara Amerika kala itu) untuk menggulingkan Soekarno melalui PRRI.

Buku ini termasuk dalam kajian Hubungan Internasional yang melihat bagaimana negara yang kuat selalu berusaha untuk menekan negara yang lemah agar mengikuti alur kebijakan luar negeri dari negara kuat tersebut. Cara-caranya dijelaskan dengan sangat rinci akan tetapi penggunaan bahasanya masih kurang luwes sehingga lebih tepatnya dibaca oleh para akademisi (mahasiswa atau dosen) yang mendalami permasalahan perubahan rezim dan dalang dibaliknya. Dari buku ini kita akan melihat bahwa perundingan, pemberontakan dan kudeta layaknya permainan catur yang berbahaya.*


Foto: Flickr/Marco Verch

About Author

Reza Maulana Hikam

Reza Maulana Hikam adalah seorang mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga. Pegiat literasi yang mendirikan situs web resensi Kedai Resensi Surabaya dan Penulis Lepas Opini di Geotimes.


Related Posts

Write a response to this post