ISIS Mengklaim Bertanggung Jawab atas Serangan Teror di Sri Lanka, Ini Maksud Mereka

SriLanka-GregBarton-Berpijar

Ketika tragedi apapun, seharusnya kita mengucapkan belasungkawa dan mengekspresikan solidaritas bagi mereka yang berduka. Dengan korban jiwa, menurut pemerintah Sri Lanka, sejumlah 250 orang, rasanya tidak sopan bagi rakyat Sri Lanka untuk membedah apa yang salah, bahkan ketika orang yang meninggal sedang dikuburkan.

Akan tetapi nyatanya bahwa kebanyakan dari nyawa tersebut tidak pantas untuk direnggut. Kita berhutang kepada mereka dan yang mereka cintai untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi dan bekerja semaksimal mungkin agar kejadian yang sama tidak terulang kembali.

Serangan saat Paskah mewakili salah satu operasi teroris yang paling serius dan berbahaya semenjak tragedi 9/11 di Amerika Serikat, di wilayah yang bukan daerah konflik. Dan terjadi di negara yang damai, di mana dalam seluruh sejarahnya mengenai perang saudara dan terorisme etno-nasionalisme dalam beberapa dekade terakhir tidak pernah bersentuhan dengan terorisme Islam radikal.

Kembali Kepada Penyerangan yang Lebih Berbahaya dan Terkoordinir

Klaim tanggungjawab, yang telah ditunggu-tunggu, atas penyerangan, telah dilakukan oleh ISIS pada Selasa (23/4/2019) malam. Hal ini bisa membantu menjelaskan bagaimana jejaring lokal dalam lingkarang keluarga ekstrimis yang sebelumnya tidak dikenal karena terorisme, dapat melaksanakan serangan masif. Serangan tersebut lebih besar ketimbang serangan menggunakan truk yang dilakukan ISIS di Suriah, Irak dan Afghanistan.

Penyerangan itu mengikuti taktik bom bunuh diri ISIS yang jarang sekali dilihat. Dengan menyasar Gereja-gereja Katolik, di mana sangat tidak berhubungan dengan konteks permasalahan sosial dalam negeri yang berkaitan dengan perang saudara Sri Lanka, sangat cocok dengan pola penyerangan ISIS terhadap umat Nasrani, bersama sesama umat Islam.

Faktanya, ada 40 lebih warga negara Sri Lanka yang pergi ke Suriah untuk berperang bersama ISIS dapat membantu menjelaskan bagaimana jejaring teroris mampu membangun jaringan personal yang vital dalam komunitas kecil di kelompok Islamis ekstrim Sri Lanka sehingga dapat membuat rencana untuk menyerang gereja. Pada titik ini, keterlibatan dari mereka yang kembali dari Suriah dan pendukung luar negeri dari ISIS dalam pengeboman, masih dalam tahap penyelidikan.

Penyerangan pada hari Paskah ini lebih terlihat seperti penyerangan yang dilakukan Al-Qaeda pada tahun 2000an, ketimbang penyerangan yang dilakukan oleh ISIS. Seperti penyerangan USS Cole (Kapal Amerika) di Yaman pada tahun 2000, Serangan September di New York dan Washington, Bom Bali 1 pada tahun 2002, Bom truk di Istanbul pada thun 2003, Pemboman kereta di Madrid pada tahun 2004, dan pengeboman di London pada tahun 2005, pemboman Sri Lanka melibatkan beberapa pelaku yang bertindak beriringan. Dengan pengecualian tragedi 9/11, semua pengeboman di atas menggunakan bom rakitan.

Pemboman di Sri Lanka ini melebihi pemboman lainnya, kecuali 9/11 perihal bahaya dan kecanggihannya, meskipun para pelakunya telah dikenal atas tindakan vandalisme.

Dalam beberapa dekade terakhir, Al-Qaeda tidak mampu melaksanakan penyerangan yang signifikan di luar daerah konflik. Organisasi tersebut telah berfokus untuk mengelola reputasinya dan lebih memilih pembunuhan massal, sekaligus memperluas afiliasi globalnya.

Kemunculan ISIS telah menunjukkan perubahan tempo dan skala dari penyerangan yang dilakukan oleh kelompok teroris. Banyak penyerangan terjadi di daerah-daerah konflik (Suriah, Irak, Libya, Yaman, Afghanistan, Pakistan, dan Filipina selatan).

Sejumlah serangan dilaksanakan diluar wilayah perang. Ada sekitar empat serangan di tahun 2014, 16 pada 2015, 22 di tahun 2016, 18 pada tahun 2017, dan 10 di tahun 2018. Mayoritas dari penyerangan ini dilakukan oleh satu orang saja (lone actors).

Kenapa ketika melaksanakan penyerangan di luar daerah-daerah konflik, baik Al-Qaeda maupun ISIS pada puncak kekuatannya memilih menggunakan metode lone actors?

Pastinya bukan karena ingin mencoba-coba. Alasannya, jika menggunakan rencana yang lebih ambisius dan lebih besar dapat tersandung oleh penyadapan yang dilakukan oleh intelijen. Apalagi dalam kasus negara-negara yang berdemokrasi stabil, termasuk tetangga Australia: Indonesia dan Malaysia.

Kenapa Sri Lanka?

Pertanyaan besar lainnya adalah bagaimana penyerangan paling mematikan dari teroris bisa terjadi di Sri Lanka?

Sri Lanka adalah target yang lunak. Semenjak mengalahkan Kelompok Pemberontak Harimau Tamil (Tamil Tiger Rebel Group) beberapa dekade yang lalu dengan jalur militer, Sri Lanka telah puas dengan apa yang ia capai. Mereka tidak melihat pentingnya untuk mengembangkan kemampuan intelijen kepolisian atau intelijen non-militer untuk menanggulangi terorisme.

Pada waktu yang bersamaan, Sri Lanka sedang berusaha mewujudkan stabilitas politik dan good governance. Sekitar enam bulan yang lalu, ia menghadapi krisis konstitusional yang besar ketika Presiden Maithripala Sirisena memecat wakilnya, Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe, dan berusaha menggantinya dengan Mahinda Rajapaksa, presiden sekaligus perdana menteri sebelumnya.

Usaha tersebut gagal, namun permusuhan berlanjut, Wickremesinghe dan para menteri yang setia padanya dijauhkan dari laporan-laporan intelijen. Lebih tepatnya, mereka menyampaikan bahwa mereka tidak tahu menahu mengenai peringatan-peringatan yang diberikan oleh Dinas Intelijen India, RAW, kepada pihak berwenang di Colombo mengenai figur-figur ekstrimis yang menjadi kunci dalam penyerangan di hari Paskah.

Meskipun ada beberapa temuan terkait bahan peledak dalam jumlah besar di lokasi-lokasi pedesaan terpencil, dan peringatan berkali-kali dari India, termasuk peringatan terakhir sebelum serangan pada hari Minggu, pemerintah dan pihak keamanan telah teralihkan dan tidak waspada.

Antara peperangan terakhir dan berperang satu sama lain, mereka menipu diri mereka sendiri bahwa tidak ada ancaman teroris lainnya.

Negara Lain Mana yang Bisa Menjadi Sasaran?

Jika serangan masif di Sri Lanka pada saat Paskah telah memperingatkan kita bahwa ISIS bukanlah kekuatan yang telah sirna, pertanyaannya adalah ke mana jejaring ini akan menyerang selanjutnya?

Semua yang telah dicapai di Sri Lanka, ISIS akan mampu membangun kehadiran yang kuat di sana. Selama pemerintah Sri Lanka dan masyarakat yang keluar dari trauma ini memiliki komitmen untuk bersatu – dan dengan pemilu pada akhir tahun, yang tidak pasti – kondisi “badai sempurna” yang dieksploitasi oleh ISIS akan dilakukan ulang.

Lalu dimana lagi ISIS mendapat peluang untuk melakukan tindakan serupa? India dan Bangladesh terus memperlihatkan peluangnya, seperti Asia Tengah. Di wilayah kami (Australia), Malaysia, Thailand dan Filipina yang harus diwaspadai.

Malaysia telah muncul lebih stabil dan kuat ketika kembali pada demoktasi tapi selalu menolak mengenai kerawanannya terhadap serangan teroris, mengecilkan pekerjaan baik yang dilakukan bertahun-tahun oleh Cawangan Khas dari Kepolisian Malaysia (intelijen).

Thailand dan Filipina berada pada taraf yang lebih rendah terkait dengan stabilitas politik, dan lebih rawan daripada yang mereka sadari. Dan keduanya cenderung menipu diri mereka sendiri dengan berpikir bahwa permasalahan dari ekstrimis di selatan tidak akan muncul dalam bentuk serangan terhadap Bangkok atau Manila.

Masyarakat Sri Lanka telah membayar dengan harga yang terlalu tinggi (nyawa mereka) dalam Serangan Paskah untuk diabaikan atau dilupakan.***


Diterjemahkan oleh Reza Maulana Hikam dari The Conversation yang tayang pada tanggal 25 April 2019 berjudul “Islamic State has claimed responsibility for the Sri Lanka terror attack. Here’s what that means” dengan seizin penulisnya / Editor: Faisal Javier Anwar.

About Author

Greg Barton

Greg Barton adalah Profesor Politik Islam Global (Global Islamic Politics) di Deakin University, Australia. Ia adalah penulis dari buku "Indonesia’s Struggle: Jemaah Islamiyah and The Soul of Islam."


Related Posts

Write a response to this post