Di Balik Tiket Pilpres Jokowi

TiketPilpresJkw-Berpijar-FairuzAAP

Proses evaluasi politik dalam bentuk pemilihan umum serentak 2019 untuk memilih legislatif dan eksekutif telah selesai dilaksanakan kemarin tepatnya pada 17 April 2019. Tepat pada tanggal 21 Mei 2019, KPU (Komisi Pemilihan Umum) memberikan pengumuman besar bahwasanya pemenang dari pemilu serentak 2019 untuk menduduki kursi kepresidenan adalah pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin, meskipun masih banyak publik yang menilai kemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin diperoleh bukan dari jalan yang jujur alias dinilai curang. Dibuktikan dengan aksi People Power yang sempat melejit pada tanggal 22 Mei 2019 di depan kantor Bawaslu (Badan Pengawas Pemilihan Umum) Pusat di Jakarta yang menuntut sebuah keadilan akan pemilu yang lebih jujur.

Pasangan Prabowo-Sandi sebagai pihak oposisi dari pada pasangan Jokowi- Ma’ruf Amin juga merasa ada sebuah kejanggalan dengan pelaksanaan pemilu serentak 2019 dan mereka sudah mencoba membawanya ke jalur yang lebih konstitusional yaitu ke hadapan MK (Mahkamah Konstitusi), untuk kelanjutannya mari kita tunggu bagaimana hasil putusan MK mengenai gugatan sengketa yang diajukan oleh pihak Prabowo-Sandi.

Sementara itu sosok Jokowi yang dinilai sebagai seorang yang kelewat ‘bejo’ dalam setiap proses elektoral yang pernah diikutinya, pria dengan tubuh relatif kurus ini mengawali karirnya sebagai seorang politisi PDI-P di jenjang Pilwalkot Solo (Pemilihan Wali Kota Solo) dengan memenangkanya. Jenjangnya terus berlanjut sebagai seorang Gubernur DKI Jakarta pada saat itu dengan ditemani Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai wakilnya. Belum genap dua tahun memimpin Jakarta, Jokowi sudah ditawari tiket untuk melesat sebagai calon presiden. Beruntungnya, dia maju sebagai pemenang dan menduduki kursi kepresidenan pada pilpres 2014. Yang terbaru adalah baru kemarin dengan pemilu serentak 2019 KPU mengumumkan bahwa Jokowi keluar sebagai pemenang pada pemilu serentak 2019 (meskipun proses sengketa belum selesai dari MK).

Dengan semua rangkaian karir Jokowi dalam persaingan politik elektoral, maka Jokowi dinilai sebagai “Manusia Setengah Dewa” karena mampu mengalahkan elite-elite politik yang sudah berkecimpung di dunia politik semenjak lama. Jokowi bukanlah keturunan darah biru politisi dan Jokowi bukanlah keturunan Militer (yang sebagaimana sering masuk ke dalam urusan politik). Jokowi tidak punya siapa-siapa dan apa-apa kecuali raut wajah yang nampak sederhana itu.

Namun kendati demikian, banyak pertanyaan publik yang muncul mengenai keputusan Megawati sebagai ketua umum partai PDI-P yang sudah lama menaungi karir Jokowi di kancah politik. Layaknya seorang ketua umum parpol maka seyogyanya mereka akan mencoba untuk menjadi tokoh “sentris” dalam kancah politik elektoral untuk merebut kursi kepresidenan. Lihat saja bagaimana ada SBY di balik partai Demokrat dan ada Prabowo di balik partai Gerindra, dan rata-rata semua ketua umum partai politik sudah mencicipi tiket menuju pertarungan pilpres hingga menghabiskan kesempatan masa jabatannya (2 periode).

Namun berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Megawati. Semenjak pilpres 2014, Megawati telah memberikan tiket ke ajang pertarungan pilpres kepada Jokowi sebagai bentuk penghargaan terhadap kadernya di PDI-P. Hal ini merupakan sebuah hal yang sangat jarang terlihat dalam fenomena perpolitikan tanah air. Megawati mencoba untuk memotong oligarki politik di Partai PDI-P agar aktor politik yang muncul selalu mengalami regenerasi, hal ini juga nampak ditunjukan pada Pilkada 2018, PDI-P menyuguhkan kader-kadernya yang masih baru dan belum terlihat di permukaan. Selain itu Megawati juga mencoba menunjukan kepada publik bahwa PDI-P bukanlah partai untuk golongan keluarga Soekarno saja, melainkan PDI-P adalah partai untuk semua masyarakat Indonesia.

Hal yang sangat disayangkan adalah niat baik Megawati itu sudah terlanjur diberi label buruk oleh masyarakat luas. Banyak yang menganggap bahwa Jokowi hanyalah presiden boneka milik Megawati dan ada juga yang mengatakan bahwa Jokowi tidak lebih dari seorang petugas partai saja. Hal ini tidak terlepas oleh apa yang telah dilakukan oleh Megawati kepada Jokowi yang memang acap kali memberi diksi kata ‘rendahan’ kepada Jokowi dalam setiap pidatonya. Hal ini akan membuat Jokowi dicap sebagai bawahan megawati sepanjang hidupnya, mengabdi untuk PDI-P dan Megawati saja.

Padahal secara pemerintahan, Jokowi adalah pemilik posisi tertinggi dibanding Megawati. Melihat bagaimana Puan Maharani sangat santai memenuhi panggilan Jokowi dengan menggunakan mobil golf saja sudah menandakan bahwa Jokowi ternyata tidak berdaya di hadapan anak buahnya. Jokowi memang presiden yang paling lemah di antara presiden lainnya pasca pemilu tahun 2004. Jokowi seakan sedang berdiri di antara dua jurang yang sangat dalam dan Jokowi sedang berdiri tegak kebingungan ingin bersiap jatuh kemana.

Di satu sisi Jokowi harus menjaga nama baiknya di hadapan internal partai, khususnya Megawati agar Jokowi mampu mengantongi beberapa kesempatan yang muncul dari internal partai politik. Tak lupa, PDI-P lah yang telah membantunya sampai jenjang saat ini. Kendati demikian Jokowi harus bersiap untuk ditinggal masyarakat karena sudah banyak fenomena “Jokowi YES, PDI-P NO.” Masyarakat banyak menilai PDI-P, khususnya Megawati, sudah keterlaluan terhadap Jokowi sendiri dan Jokowi sudah terlalu sering mementingkan urusan internal parpol dibanding masyarakat. Sehingga hal ini sangat perlu diperhatikan oleh Jokowi. 

Di lain sisi juga Jokowi harus terus memelihara kepercayaan masyarakat terhadapnya dengan meningkatkan perhatiannya kepada masyarakat. Menjadi presiden yang ‘merdeka’ secara seutuhnya adalah kunci Jokowi untuk memperoleh hati masyarakat. Kendati demikian, Jokowi harus bersiap kehilangan beberapa posisi penting dari internal parpol jika melakukan hal tersebut. Namun inilah cara terbaik yang bisa dilakukan Jokowi, setidaknya jika karir politiknya sudah selesai sampai disini maka Jokowi akan dikenal sebagai seorang negarawan, bukan seorang petugas partai ataupun boneka. 

Jokowi sebagai kepala negara masih saja terlihat lemah ketika detik-detik terakhir penentuan siapa yang akan mendampinginya sebagai calon wakil presiden di pemilu 2019. Nama Mahfud MD sudah digadang-gadang sebagai nama yang akan digandeng Jokowi sebagai wakilnya. Selain santri, Mahfud MD juga dikenal sebagai seorang intelektual yang cerdik dan memiliki integritas tinggi di hadapan masyarakat. Namun nasib berkata lain, dalam detik terakhir pengumuman cawapres, Jokowi mengumumkan bahwa Ma’ruf Amin yang akan maju sebagai cawapres Jokowi.

Tentu ini bukan karena sebab. Tekanan para elite partai politik kepada Jokowi menjadi penyebabnya. Banyak elite politik di pihak Jokowi yang takut jika Mahfud MD menjadi ancaman di Pilpres 2024 mendatang. Sehingga, akibatnya Jokowi tidak bisa menentukan pilihan wakilnya sendiri dan membiarkan mekanisme oligarki partai berjalan untuk memilih Ma’ruf Amin sebagai wakil Jokowi.

Kemenangan Jokowi di tahun 2014 harus menjadi pembelajaran penting bagi Jokowi sendiri. Pasalnya, Jokowi telah banyak dihujani prasangka buruk oleh masyarakat luas. Mengingat Jokowi memenangkan pilpres 2019, maka pembelajaran pilpres periode lalu bisa menjadi bahan evaluasi bagaimana seharusnya Jokowi bertindak sebagai kepala Negara.***

About Author

Fairuz Arta Abhi Praya

Fairuz Arta Abhi Praya adalah mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.


Related Posts

Write a response to this post