Kemunculan Terorisme dan Politik Identitas Muslim di Inggris

TheLondonBombings-Reza-Berpijar

Judul Buku The London Bombings

Penulis Marc Sageman

Penerbit University of Pennsylvania Press

Tebal Buku 299 Halaman

Tahun Terbit 2019

ISBN 9780812251180


Inggris Raya, negara dengan julukan Matahari yang Tak Pernah Terbenam merupakan sebuah negeri yang subur akan tanah jajahan dan sekarang berubah menjadi “persemakmuran” (commonwealth). Negara ini pernah menjadi negara adidaya penguasa yang memiliki “koloni” di berbagai benua: Amerika Serikat, India, Hong Kong, Malaysia dan Singapura. Dengan banyaknya koloni tersebut, migrasi dari wilayah koloni adalah sesuatu yang tidak terelakkan. Banyak keturunan dari negara persemakmurannya yang memilih untuk mencari peruntungan di Inggris Raya. Mereka memilih hidup di sana dengan mimpi mendapatkan hidup yang lebih baik. Beberapa mendapatkannya, namun juga banyak yang mendapatkan sebaliknya.

Buku ini diawali dengan mereka yang mendapatkan sebaliknya. Pada tahun 1951, sensus penduduk di Inggris memperlihatkan ada sebanyak 600,000 orang yang merupakan migrasi dari daerah Asia Selatan tempat jajahan Inggris dan berkembang menjadi 2,900,000 jiwa pada tahun 2010. Jumlah yang cukup besar bagi penduduk asli Inggris yang masih merasa dirinya lebih tinggi dibandingkan orang-orang keturunan Asia Selatan. Tingkah laku orang Inggris seperti ini yang memunculkan identitas keIslaman yang kental di kalangan imigran. Generasi kedua imigran di Inggris yang ingin dianggap sebagai warga negara Inggris merasa didiskriminasi oleh penduduk asli karena mereka bukan “kulit putih”. Sifat rasialisme semacam ini merupakan bentuk diskriminasi yang berbahaya, yang pada akhirnya memunculkan perlawanan dari generasi kedua para imigran.

Generasi kedua imigran ini yang melakukan perlawanan terhadap diskriminasi dan rasialisme yang dilakukan penduduk asli Inggris dan sekarang, bahkan rasialisme ini tidak hanya masyarakat sipil yang melakukan, bahkan aparat kepolisian juga. Sering terjadi gesekan antar geng yang merepresentasikan pemuda-pemuda muslim yang menganggap bahwa lingkungannya tidak mendukung mereka dengan para pemuda rasis anti-Islam sehingga pemerintah Inggris dengan generasi pertama imigran harus membentuk dewan-dewan yang menggunakan nama bernuansa Islam untuk menghentikan gesekan tersebut. Namun dewan-dewan ini lebih bersifat politis ketimbang agamis.

Kasus penulisan Ayat-Ayat Setan oleh Salman Rushdie juga makin memperkuat identitas keIslaman umat muslim di Inggris. Ayatollah Khomeini yang memberi fatwa mati dikritik oleh pendukung kebebasan berpendapat lalu mereka mengutuk intoleransi para Islamis. Kritikan ini dianggap sebagai serangan terhadap Islam dan mulai memunculkan rasa simpati terhadap Islam itu sendiri. Kasus ini memperkuat identitas keIslaman umat muslim di Inggris dan menandai kebangkitan nasional umat Islam di negeri tersebut. Bahkan banyak pemuda yang tidak religius merasa tersudutkan dengan kritikan yang dilontarkan kepada Khomeini sehingga mereka pun memilih untuk membela agama mereka. Ada sense of belonging yang terbentuk dalam Rushdie Affair ini.

Karena tidak menemukan jawaban terhadap rasialisme etnik dan diskriminasi dengan pandangan-pandangan sekuler, banyak pemuda yang kembali kepada Islam dengan bergabung dengan Hizbut Tahrir, sebuah organisasi, yang menurut Sageman, menggunakan kosakata agama Islam untuk tujuan yang bersifat politis. Penulis bahkan menyebutkan bahwa Hizbut Tahrir adalah organisasi radikal. Radikal maksudnya adalah mereka menafsirkan dunia melalui sudut pandangnya sendiri tanpa menghiraukan pandangan dari masyarakat sekitarnya. Pandangan Sageman ini merupakan pandangan pada umumnya, sepertinya Pemerintah Indonesia juga menganut sudut pandang ini dengan membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia pada 2016 silam. Satu kata yang bisa mengilustrasikan HT adalah keras kepala.

Namun pencetak identitas sosial umat Islam di Inggris yang sebenarnya adalah Perang Bosnia, terutama di kalangan mahasiswa. Perang ini memperlihatkan bagaimana kebrutalan rezim Serbia dalam membunuh umat Islam di Bosnia dan banyak mahasiswa yang menjadi sukarelawan kemanusiaan ke Bosnia yang nantinya akan masuk ke dalam gerakan Jihad. Peperangan ini yang membentuk protes politik dan komunitas yang membawa pemikiran radikal.

Pada bab-bab selanjutnya, Sageman lebih menitikberatkan kisah-kisah tentang mereka yang bergabung dengan kelompok radikal yang ada di Inggris (tidak hanya Hizbut Tahrir). Salah satunya adalah cerita mengenai Toko Buku Iqra, yang menjadi tempat berkumpulnya para pemuda religius. Toko buku ini menjual buku-buku bertemakan Islam, termasuk tentang genosida terhadap umat Islam di Bosnia. Salah satu pengunjungnya juga mendapatkan video tentang pembersihan umat Islam di Chechnya. Metode dengan menggunakan video ini sangatlah terkenal, banyak radikalisasi yang terjadi di Indonesia juga menggunakan modus operandi yang sama.

Tema video selalu menunjukkan betapa kejamnya non-muslim dalam menghabisi umat Islam seperti di Bosnia, Palestina, Afghanistan dan daerah konflik lainnya.Kasus pengeboman London ini menjadi salah satu contoh terorisme yang masuk ke berita global selain 9/11, Bali, dan Madrid. Bahkan dua minggu setelah pengeboman di London, ada usaha untuk melakukan pengeboman lain di Inggris. Usaha ini gagal tetapi memperlihatkan bahwa Inggris tidak terlepas dari terorisme berkedok agama.

Buku ini menjadi pembuka untuk mereka yang ingin mendalami kasus terorisme di Barat. Buku lain dengan tema yang sama adalah Terror in France yang ditulis oleh Gilles Kepel, namun perbedaannya terletak pada gaya penulisannya, di mana karya Sageman ini memang terlihat seperti tulisan seorang praktisi (Marc Sageman adalah mantan agen CIA) sedangkan karya Kepel lebih bernuansa seperti karya tulis ilmiah.***

About Author

Reza Maulana Hikam

Reza Maulana Hikam adalah seorang mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga. Pegiat literasi yang mendirikan situs web resensi Kedai Resensi Surabaya dan Penulis Lepas Opini di Geotimes.


Related Posts

Write a response to this post