Wajah Baru Politisi Muda di Senayan, Kredibilitas atau Untung-untungan?

Wajah Baru Politisi Muda di Senayan-BERPIJAR-EvioTanti

Pelantikan anggota DPR RI periode 2019-2024 yang bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila tanggal 1 Oktober lalu, memunculkan wajah-wajah politisi baru dari generasi milenial. Mereka yang berhasil melenggang ke Senayan berusia terbilang masih muda yakni berumur 25 tahun kebawah. Akan tetapi, benarkah mereka dipilih rakyat karena kredibilitasnya sebagai politisi atau hanya sekedar untung-untungan?

Di pelantikan kemarin, tercatat tujuh anak muda dari generasi milenial resmi terpilih menjadi anggota baru DPR RI. Mereka adalah Rizki Aulia Rahman Natakusumah dan Adrian Jopie Paruntu yang diketahui berumur 25 tahun, Fachri Pahlevi Konggoasa dan Arkanata Akram berumur 24 tahun. Sementara, Hillary Brigitta Lasut, Muhammad Rahul, dan Farah Puteri Nahlia merupakan yang paling muda berumur 23 tahun. Dan selama lima tahun kedepan, semua aspek yang menyangkut legislasi nasional, pelaksanaan UU, APBN dan kebijakan pemerintah di bawah pengawasan para politisi muda ini.

Benar saja, kebanyakan anak muda di usianya masih terjebak dalam rutinitas pekerjaan, mengenyam pendidikan, berkarya, hingga pencarian jati diri. Namun, mereka justru bisa menjadi contoh bagi anak muda lainnya bahwa usia muda tak jadi halangan untuk bisa berkarya di tingkat yang lebih tinggi. Apalagi jika dibarengi dengan prestasi yang memukau. Seperti yang dilakukan remaja asal Pakistan, Malala Yousafzai dimana ketika usianya masih 11 tahun, ia lantang menyuarakan pentingnya hak anak-anak perempuan diberi kesempatan mengenyam pendidikan. Berkat keberanian dan kegigihannya tersebut, ia tercatat sebagai penerima Hadiah Nobel paling muda dalam sejarah pada 2014. Di sisi lain, aktivis muda berusia 16 tahun Greta Thunberg yang baru-baru ini berhasil menjadi sorotan dunia karena kepeduliannya terhadap lingkungan. Pada 2018 ia melahirkan gerakan mogok sekolah dan menggelar aksi protes menuntut perubahan iklim. Ia kini dinominasikan raih Nobel Perdamaian.

Seorang anak remaja biasa seperti Malala Yousafzai dan Greta Thunberg saja bisa memiliki pengaruh besar dan menggerakkan orang-orang di penjuru dunia. Tentu seharusnya bukan menjadi hal sulit bagi para politisi muda kita untuk memberikan inovasi dan perubahan bagi bangsa dengan kemampuan yang mereka miliki. Lalu, benarkah para politikus muda ini dipilih karena kredibilitasnya?

Bila kita jauh lebih jauh lagi mengenai latar belakang keluarga anggota DPR muda tersebut, faktanya mereka semua berasal dari keluarga yang sudah lama berkecimpung di dunia politik. Rizki Aulia Rahman, politisi muda dari Partai Demokrat Dapil Banten I ini, tak tanggung-tanggung ia bahkan dilantik dengan ayahnya, Dimyati Natakusumah. Berbeda dengan Rizki sapaannya, ayahnya diusung Partai PKS dan telah memasuki periode ketiga sebagai anggota DPR RI. Selain itu, ia juga mantan Bupati Pandeglang dua periode. Sedangkan Ibunya, Irna Narulita juga pernah menjadi anggota DPR. Bahkan, saat ini ia menjabat sebagai Bupati Pandeglang. Sementara itu, Adrian Jopie Paruntu, merupakan politisi muda Partai Golkar dari Dapil Sulawesi Utara.

Adrian sapaannya, sudah terbilang akrab dengan dunia politik lantaran statusnya sebagai putra tunggal Bupati Minahasa Selatan, Christiany Eugenia Tetty Paruntu. Ayahnya, Jopie Paruntu pernah menjadi anggota DPRD Sulut. Ibunya, Yenni Y. Tumbuan, yakni mantan Ketua DPRD Partai Golkar Minahasa Selatan. Arkana Akram, politisi muda dari Partai Nasdem di Dapil Kalimantan Utara, merupakan putra bungsu Irianto Lambrie, Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara). Selain itu, Fachry Pahlevi Konggoasa, dari Partai Amanat Nasional (PAN) ini adalah Putra Bupati Konawe, Kery Saiful Konggoasa dua periode.

Sementara itu, beberapa yang paling muda dari yang lainnya yakni Muhammad Rahul, politisi muda Partai Gerindra dari Dapil Riau I ini juga berasal dari keluarga politisi. Ayahnya, Muhammad Natsir adalah anggota komisi VII DPR RI. Diketahui, pamannya, M Nazaruddin merupakan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat yang terjerat kasus korupsi yang hingga kini masih menjalani hukuman. Satu lagi, sosok Hillary Brigitta Lasut, politisi muda Partai Nasdem ini merupakan Bupati Kepulauan Talaud, Telly Tjanggulung, pada periode masa jabatan 2008-2013 dan kini terpilih lagi di periode 2019-2024. Ayah Hillary, Elly Engelbert Lasut juga pernah menjabat Bupati Kepulauan Talaud selama dua periode 2004-2009 dan 2009-20012.

Dari ketujuh politisi muda tersebut, hanya satu nama yang bukan berlatar belakang dari keluarga politisi yakni Farah Puteri Nahlia. Namun, disisi lain ayahnya adalah jenderal bintang satu di Bareskrim Polri. Praktik nepotisme politik tampaknya mulai marak terjadi selama dua dekade terakhir di Indonesia. Bahkan di beberapa negara Asia Tenggara termasuk Filipina, kursi politik dianggap sebagai warisan yang sah. Tentunya, pada fenomena seperti ini akan membentuk sebuah pola pemusatan kekuasaan atau biasa dikenal dengan dinasti politik.

Forum Masyarakat Peduli parlemen Indonesia (Formappi) Lucius menyebut praktik dinasti politik bisa terlihat ketika proses rekrutmen di internal parpol bilamana masih memberikan kemudahan bagi para kader yang memiliki hubungan kekerabatan dengan elit politik untuk meraih kursi jabatan publik. Sehingga akan lebih mulus untuk kader yang memiliki ikatan kekerabatan dengan para pemimpin partai atau pejabat mendapatkan jabatan politik lebih cepat dan mudah. Kondisi seperti ini tentunya mengkhawatirkan, bukan saja dari segi regenerasi keluarga. Pasalnya, tak jarang pula dinasti politik melahirkan korupsi yang melibatkan keluarga.

Kerap kali kasus-kasus korupsi yang mengemuka justru terkait dengan dinasti politik, seperti halnya Ayah Politisi muda Hillary Brigitta Lasut yakni Elly Engelbert Lasut rupanya pernah tersangkut KPK di tahun 2010. Ia dituntut sembilan tahun penjara kasus dugaan korupsi surat perintah perjalanan  dinas fiktif senilai Rp9,8 miliar oleh Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara. Kasus dugaan suap yang melibatkan bapak dan anak, Asrun sebagai calon gubernur  Sulawesi Tenggara dan Putranya, Adriatma Dwi Putra yang berstatus Walikota Kendari. Tak hanya itu, di Provinsi banten, kasus Ratu Atut Chosiyah yang melibatkan adiknya, menunjukkan betapa kentalnya kekuasaan dinasti politik di Banten.

Beberapa contoh kasus tersebut menunjukkan betapa rentan dinasti politik terhadap kasus korupsi secara masif. Hal ini disebabkan proses pengambilan suatu kebijakan yang tak lepas dari lingkaran kekuasaan dimana lebih dominan dipengaruhi relasi kekeluargaan daripada sistem itu sendiri.*

About Author

Evio Tanti Nanita

Evio Tanti Nanita, lahir di Mojokerto, 21 Oktober 1994, alumni Pendidikan Bahasa Inggris di UMM. Mengawali karir sebagai Jurnalis illustrator/ seniman di @piok.art.


Related Posts

1 Comment

  • risse

    piokkk cantex

Write a response to this post