Masalah Minyak Bumi, Banyak Pihak Masih Salah Paham

Satu-satunya jalan keluar dalam masalah ini jelas dengan mengadakan eksplorasi sumber minyak baru.

Wahyu Anjuano - Masalah Minyak Bumi, Banyak Pihak Masih Salah Paham - Berpijar

Tahun 2018 Indonesia kembali mencatatkan defisit pada produksi minyak bumi. Akibatnya, sepanjang tahun 2018 total 49,1 juta ton migas diimpor untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam negeri. Sebanyak 26,6 juta ton di antara migas yang diimpor adalah minyak olahan, 16,9 juta ton adalah minyak mentah, dan 5,5 juta ton adalah gas alam. Penurunan jumlah produksi diikuti dengan kenaikan permintaan minyak dalam negeri adalah pelaku utama terjadinya defisit minyak yang berujung pada impor.

Fakta mengenai negara kita yang telah menjadi net importir minyak sudah lama diketahui secara luas sejak tahun 2003. Tetapi, alasan menurunnya produksi minyak bumi seringkali disalah pahami oleh masyarakat. Pertama, banyak yang beranggapan bahwa produksi minyak bumi di Indonesia dikendalikan oleh pihak atau perusahaan minyak luar negeri sehingga hasil yang diperoleh di dalam negeri tidak optimal. Kedua, ada anggapan yang menyatakan bahwa Indonesia tidak mampu mengolah minyak mentahnya sendiri, sehingga untuk memenuhi kebutuhan minyak harus melakukan ekspor dan impor balik ke dalam negeri. Meski tidak 100 persen salah, ada banyak hal yang perlu diluruskan mengenai anggapan umum pada perminyakan dalam negeri.

Seperti yang diketahui, dalam produksi migas dikenal dua kegiatan yang terpisah. Kegiatan pertama adalah kegiatan hulu migas dan kedua adalah kegiatan hilir migas. Keduanya berbeda dalam pekerjaan dan perannya bagi industri minyak. Kegiatan hulu migas mencakup lifting dan eksplorasi, sedangkan kegiatan hilir migas mencakup refinery, distribusi, dan perdagangan. Jadi, segala kegiatan yang berhubungan dengan produksi minyak mentah (crude oil) adalah bagian dari hulu migas dan dikategorikan dalam kegiatan pertambangan. Di sisi lain, kegiatan mengolah minyak mentah menjadi minyak olahan (refined oil) merupakan bagian dari hilir migas yang dikategorikan dalam kegiatan industri pengolahan.

Mengenai kegiatan hulu migas di Indonesia yang banyak pihak anggap dikuasai oleh perusahaan asing, ada beberapa hal yang perlu diklarifikasi. Sebagai permulaan, sejak tahun 2018 PT Pertamina milik negara menghasilkan lebih dari 20% dari total produksi lifting minyak dalam negeri dengan total capaian 160.000 barel per hari. Angkanya meningkat setelah blok minyak Mahakam dan Rokan mulai diambil alih pemerintah melalui PT Pertamina.

Walaupun jumlah produksinya masih tertinggal dari perusahaan penggalian minyak asing seperti Chevron dan Exxon Mobil, namun itu saja tidak serta-merta berarti sumber daya minyak negeri kita dikuasai oleh pihak luar. Ini karena pemegang saham mayoritas di blok-blok minyak dalam negeri tetap dipegang oleh pemerintah. Artinya, meski share produksi minyak paling banyak dihasilkan oleh pihak luar, tetapi kepemilikan lapangan minyak dan sumber daya yang dihasilkan mayoritas adalah milik pemerintah.

Jadi alasan mengapa produksi dalam negeri menjadi rendah bukanlah akibat intervensi maupun kecurangan dari pihak luar. Penyebab sebenarnya tidak lain dikarenakan menipisnya cadangan minyak dalam negeri terutama karena belum ada eksplorasi baru yang mengungkap cadangan minyak dalam jumlah raksasa belakangan. Tercatat lifting minyak pada tahun 2017 sebesar 292 juta ton (tahunan), jauh lebih sedikit dibandingkan pada tahun 1997 yang sebesar 543 ton.

Penurunan yang drastis selama 20 tahun ini sudah cukup menjadi bukti akan adanya pengurangan (depleting) pada cadangan minyak yang kita miliki sekarang. Mengingat bahwa minyak adalah sumber daya yang tidak dapat dibarukan, maka cepat atau lambat jumlahnya memang akan berkurang seiring waktu.

Satu-satunya jalan keluar dalam masalah ini jelas dengan mengadakan eksplorasi sumber minyak baru. Jika tidak, jumlah minyak yang tersisa sekarang tidak akan cukup untuk menunjang kebutuhan dalam negeri dalam jangka waktu panjang. Namun, kegiatan eksplorasi itu sendiri tidaklah murah harganya, untuk sekali kegiatan eksplorasi diperlukan setidaknya ratusan, milyaran, bahkan triliunan rupiah.

Sebaliknya, tidak ada jaminan bahwa kegiatan eksplorasi tersebut akan sukses menemukan sumur minyak. Jika dari hasil eksplorasi yang ditemukan ternyata adalah dry hole jelas akan menimbulkan kerugian. Diperparah lagi, karena seringkali tidak memiliki teknologi yang memadai Indonesia perlu menjalin kerja sama dengan kontraktor luar negeri untuk kegiatan eksplorasi minyak, sedangkan kontraktor sekarang tidak banyak yang ingin berinvestasi di Indonesia dikarenakan iklim investasi yang kurang kondusif hingga harga minyak internasional yang belakangan turun. Semua hal inilah yang menjadi permasalahan di kegiatan hulu migas nasional.

Beralih ke hilir migas, perlu diketahui bahwa Indonesia memiliki kilang-kilang refinery dengan kapasitas yang besar untuk proses pengolahan minyak dalam negeri. Dengan pengecualian bahwa semua kilang minyak dalam negeri dikelola secara tunggal oleh Pertamina, produksi yang dihasilkan tidaklah sedikit. Sebut saja kilang minyak Cilacap yang berkapasitas lebih dari 300.000 barel per hari, kemudian ada kilang minyak Balikpapan dengan kapasitas 250.000 barel per hari.

Meski kapasitas kilang yang ada sekarang masih berada di bawah konsumsi harian bahan bakar masyarakat (sekitar 1,8 juta barel per hari tercatat pada tahun 2018), tetapi jumlah minyak jadi yang mampu diproduksi terus meningkat setiap tahunnya. Jadi, anggapan yang menyatakan bahwa Indonesia tidak mampu mengolah minyak jadi seperti pertamax, premium, dan solar adalah salah besar.

Selain kapasitas kilang yang belum dapat mencukupi tingkat konsumsi bahan bakar dalam negeri, masalah lainnya adalah yang disebut product variety dan processing cost. Yang dimaksud di sini adalah tidak semua jenis bahan bakar dapat diproduksi di kilang minyak dalam negeri dan tidak semua minyak mentah (crude oil) yang dimiliki dapat diolah. Dengan demikian, memang ada beberapa jenis bahan bakar yang harus didatangkan dari luar atau minyak mentah yang cocok untuk memproduksi olahan tertentu hanya bisa didapatkan dari produsen minyak bumi luar negeri. Jika tetap bersikeras ingin memproduksi di dalam negeri, pemerintah harus siap merogoh kocek untuk membangun atau setidaknya melakukan revitalisasi kilang minyak yang ada sekarang. Jelas harganya tidaklah murah.

Itulah juga yang ikut menjadi pertimbangan pemerintah dalam melakukan impor. Bergantung pada situasi dan kondisi, kadang pilihan untuk mengimpor bahan bakar secara masif namun murah menjadi lebih ekonomis ketimbang untuk memproduksi sendiri dalam negeri. Walau dalam kacamata keuangan hal itu dapat dipahami, ditakutkan ini akan menjadi bumerang sendiri bagi produksi minyak Indonesia.

Setelah penjelasan panjang lebar di atas, beberapa kesimpulan dapat ditarik. Yang jelas, produksi minyak dalam negeri tidaklah yang seperti apa yang publik bayangkan. Kepemilikan serta kegiatan produksi minyak bumi di tanah air adalah seluruhnya di bawah kendali pemerintah. Tentunya dengan memberlakukan aturan yang absolut dan sah, tidak ada pihak yang bermain tanpa hukum di lini ini.

Kemudian mengenai cadangan minyak bumi di Indonesia, tidak salah lagi bahwa jumlah yang tersedia sekarang telah menurun drastis dari tahun tahun lalu. Fokus pada eksplorasi sumur minyak yang baru, juga pengembangan kilang minyak yang sudah ada, dengan mengerahkan investasi yang memadai pada lini perminyakan akan menjadi solusi yang sustainable untuk masalah ini.

Selain itu, baik para stakeholder sebagai pemegang keputusan maupun masyarakat sebagai pengguna harus memiliki mindset untuk mandiri dan mantap dalam kondisi yang ada dalam negeri. Jangan hanya karena merasa untung sedikit sekarang lantas mengabaikan pembangunan berkelanjutan di masa depan. Hanya dengan itulah baru pembangunan yang sustainable mampu dicapai di sektor migas.

Jika satuan pemerintah beserta segenap rakyat dapat mengambil peran dalam pengembangan produksi minyak di Indonesia, bukan tidak mungkin negeri kita dapat kembali melimpah seperti dahulu. Tentunya akan diperlukan kerja sama dari semua pihak dan usaha yang besar kemudian tinggal menunggu waktu yang akan memperlihatkan sendiri bagaimana akan terjadi selanjutnya.*