Ke mana Anarki: Kepemilikan sebagai bentuk kebebasan

Jika kebebasan dikaitkan dengan suatu bentuk negara, maka orang akan mengizinkan negara untuk menentukan batas-batas kebebasan.

Saul Newman Berpijar.co

Artikel ini adalah bagian dari seri Democracy Futures, inisiatif global bersama dengan Sydney Democracy Network. Protek ini bertujuan untuk merangsang pemikiran segar tentang berbagai tantangan yang dihadapi oleh demokrasi abad 21. Ini adalah artikel ketiga dari empat perspektif dari relevansi politik dari anarkisme dan prospeknya untuk kebebasan dunia hari ini.

Diterjemahkan dari artikel aslinya di The Conversation atas seizin penulis.


Kebebasan, istilah yang paling akrab dengan konsep-konsep dalam teori politik, kini terkesan semakin ambigu dan buram bagi kita.

Sementara kebebasan telah sejak lama menjadi lambang ideologis dari kapitalis liberal Barat, kelihatannya semakin sulit untuk mengidentifikasikannya sebagai suatu hal yang benar-benar jelas dan pasti. Maknanya telah dikacaukan oleh rasionalitas neoliberalisme, yang hanya menawarkan kepada kita gagasan kebebasan yang sempit melalui pasar sementara, seperti yang dikatakan Foucault, mengatur kita melalui kebebasan kita sendiri.

Individu yang seharusnya bebas diharuskan untuk mematuhi norma-norma dan kode perilaku tertentu, yang bertepatan dengan perintah pasar. Dengan demikian individu, atas nama kebebasan, didorong kembali pada dirinya sendiri dan sepenuhnya bertanggung jawab atas nasib ekonominya sendiri. Hal ini pada gilirannya menanamkan suatu rasa bersalah yang kekal pada dirinya sendiri ketika dia gagal memenuhi standar kesuksesan atau “ketangguhan” yang ditentukan.

Lebih jauh, kebebasan telah menjadi sangat bergantung pada ideologi keamanan yang kini hadir di berbagai segi kehidupan.

Kita dapat menambahkan pertimbangan ini pada berbagai contoh dalam kehidupan sehari-hari di mana, di negara-negara liberal (saya sekarang menggunakan istilah ini dengan bijaksana), kebebasan dihalangi dan dibatasi—misalnya, oleh para pembuat undang-undang, polisi, dan lembaga negara lainnya yang terlalu bersemangat serta oleh perusahaan swasta—belum lagi kurangnya “kebebasan” yang dialami oleh mayoritas orang yang terenggut di seluruh dunia.

Kita tergoda untuk mengatakan bahwa konsep kebebasan menemukan jalan buntu. Ketika kita berbicara tentang kebebasan hari ini, kita benar-benar tidak tahu apa yang sedang kita bicarakan.

Stirner Mengenai Kebebasan dari Dalam

Pada pertengahan abad ke-19, filsuf muda Jerman yang kurang dikenal, Max Stirner, sudah berargumen bahwa wacana kebebasan telah habis.

Masalah dengan konsep standar kebebasan adalah bahwa mereka tergantung pada kondisi dan lembaga eksternal tertentu, seperti negara liberal, atau pada pemenuhan beberapa janji emansipasi revolusioner. Mereka dengan demikian mengurangi kebebasan menjadi semacam cita-cita khayal yang selalu menyembunyikan bentuk baru dominasi.

Jika kebebasan dikaitkan dengan rezim hukum atau tipe masyarakat tertentu, atau selaras dengan cita-cita moral dan rasional yang lebih tinggi, hal ini pada hakikatnya mengasingkan kebebasan individu.

Jika kebebasan dikaitkan dengan suatu bentuk negara, maka orang akan mengizinkan negara untuk menentukan batas-batas kebebasan.

Jika kebebasan dilihat sebagai cita-cita yang harus dicapai dalam komunitas rasional dan moral yang lebih tinggi, maka seseorang akan mengejar mimpi yang mustahil, atau membiarkan kebebasan ditentukan oleh seorang pelopor revolusioner yang berusaha memaksakan visinya sendiri pada masyarakat.

Dengan kata lain, menurut Stirner, jika kondisi dan standar eksternal dilihat untuk menentukan dan menetapkan tingkat kebebasan, orang pada akhirnya akan melemahkan individu dan merampok mereka dari kapasitas mereka sendiri untuk kebebasan. Itulah batas-batas kebebasan yang dikemukakan Stirner sebagai gagasan alternatif tentang kepemilikan, yaitu dengannya ia bermaksud memahami secara radikal tentang kepemilikan diri.

Apa itu kepemilikan? Berbeda dengan mistifikasi kebebasan, pencarian yang telah menjadi permainan kosong (hal yang sama dapat dikatakan tentang demokrasi), kepemilikan adalah pengalaman yang jauh lebih nyata. Saya memahaminya sebagai kebebasan ontologis: kebebasan yang selalu dimiliki seseorang.

Apa artinya ini? Pertama, ini adalah bentuk kebebasan tunggal, yang diserahkan kepada individu untuk mencipta bagi dirinya sendiri, daripada menyesuaikan diri dengan cita-cita universal atau yang didefinisikan secara institusional.

Juga bukan masalah emansipasi, karena sederhananya ini hanya mengambil risiko bentuk dominasi lain—kita telah melihat ini dalam banyak revolusi yang bertujuan untuk “membebaskan” orang-orang yang ditaklukkan. Sebaliknya, hal itu tergantung pada individu itu sendiri, mengukuhkan diri mereka sendiri dan ketidakpedulian mereka sendiri terhadap berbagai bentuk kekuasaan.

Meskipun ini mungkin kedengarannya seperti sebentuk angan-angan—ini adalah klaim Marx dan Engels terhadap Stirner—ini mengingatkan kita pada apa yang dilihat La Boétie sebagai penghambaan dan kepatuhan sukarela yang menopang semua bentuk dominasi. Sisi buruk dari hal ini adalah ketidaktaatan yang disengaja dan reklamasi kekuatan diri sendiri.

Mungkin kita dapat mengatakan bahwa kepemilikan adalah pengalaman pengukuhan diri dan pemberdayaan yang secara ontologis mendahului semua tindakan pembebasan. Mari kita ambil contoh dari Stirner tentang budak. Ketika budak memiliki sedikit atau bahkan tak ada kebebasan sama sekali  dalam belenggu dirinya, ia tetap memiliki rasa memiliki, kepemilikan diri. Ini adalah satu hal yang tidak dapat diambil tuannya dari dirinya:

Bahwa saya kemudian menjadi bebas darinya dan cambuknya hanyalah konsekuensi dari egoisme saya sebelumnya.

Dalam situasi ini, kebebasan, baik liberal atau republik, apakah dipahami sebagai tanpa campur tangan atau tanpa dominasi, tidak bisa menjelaskan perasaan otonomi budak, pemahamannya tentang dirinya sebagai miliknya sendiri dan bukan milik orang lain.

Pelajaran untuk Hari Ini

Pelajaran apa yang ada bagi kita hari ini? Dalam beberapa tahun terakhir kita telah menyaksikan kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya dan krisis legitimasi di lembaga-lembaga politik perwakilan kita.

Di tangan elite politik kita, semua cita-cita kebebasan, hak, dan demokrasi ini tidak lagi berarti apapun; mereka telah dikaitkan dengan kemunafikan dan pelanggaran yang paling buruk.

Di waktu yang sama, kita telah belajar—dengan sepatutnya—untuk waspada terhadap janji revolusioner pembebasan dan bentuk-bentuk alternatif tatanan sosial sebagai penangkal situasi saat ini. Masalah kebebasan saat ini terletak di celah antara lembaga-lembaga yang hancur dan kemunduran dari cakrawala yang utopis.

Menanggapi kebuntuan ini, kita telah melihat bentuk-bentuk baru dari eksperimen politik, di mana orang berusaha mendefinisikan kehidupan mereka sendiri dan hubungan mereka dengan orang lain dengan cara yang otonom dari mode dominan organisasi politik dan ekonomi.

Berbagai institusi tidak dimusnahkan—apa gunanya pembicaraan ini jika tidak mengarah ke jenis baru pelembagaan? Sebaliknya mereka dicemari; digunakan tanpa mengidentifikasi atau berinvestasi di dalamnya.

Kita mulai berpikir dan bertindak seolah-olah kekuasaan tidak ada lagi. Ini bukan kebebasan subjek neoliberal, mengorbankan dirinya kepada God of the Market, tetapi penentuan nasib sendiri pemilik yang berinvestasi dalam diri mereka sendiri, dan melalui diri mereka sendiri, pada orang lain.*


Penerjemah: A. Faricha Mantika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *