Melampaui Kerusakan: Tiga Renungan Mengenai Akibat yang Memungkinkan

Uang tidak bisa membeli vaksin yang tidak kita miliki […]. Hanya ilmu pengetahuan, hanya kerja intelektual yang dapat membeli sesuatu yang tidak ada.

Berpijar - franco berardi melampaui kerusakan

Mendadak, apa yang telah kita pikirkan selama lima puluh tahun terakhir harus dipikirkan ulang mulai dari nol. Terima kasih Tuhan (apakah Tuhan adalah virus?) bahwa kita sekarang memiliki banyak waktu luang karena bisnis-bisnis lama sedang tutup.

Saya akan berbicara mengenai tiga permasalahan yang berbeda. Pertama: akhir dari sejarah manusia, yang sebenarnya sudah terlihat secara gamblang. Kedua: emansipasi dari kapitalisme yang sedang berjalan, dan/atau bahaya yang sedang mendekat dari totalitarianisme teknologi. Ketika: kembalinya kematian (pada akhirnya) ke dalam bagian diskursus filsafat, setelah lama ditolak pada dunia modern, dan revitalisasi tubuh sebagai sebuah kehilangan (atau penghilangan).

1. Mahluk

Pertama: filsuf yang secara bagus mengantisipasi berita viral mengenai kiamat adalah Donna Haraway.

Dalam karyanya Staying with the Trouble, ia menyarankan sebuah agen perubahan yang bukan lagi manusia, subyek dari Sejarah.

Manusia telah kehilangan peran sentralnya dalam proses yang kacau ini, dan kita tidak perlu putus asa akan hal ini, seperti nostalgia yang dilakukan oleh humanisme modern. Pada waktu yang bersamaan, kita seharusnya tidak mencari kenyamanan dalam angan-angan dari perbaikan yang dilakukan teknologi, seperti yang dilakukan maniak teknologi transhumanis masa kini.

Sejarah manusia sudah usai, dan agen baru dari sejarah adalah “mahluk” dalam bahasanya Haraway. Kata “mahluk” mengacu kepada mahluk-mahluk kecil, mahluk kecil menyenangkan yang melakukan hal-hal aneh, seperti membuat mutasi. Maksudnya adalah virus.

Burroughs (mungkin mengacu kepada William S. Burroughs-pent) membicarakan virus-virus sebagai agen mutasi (perubahan-pent): mutasi secara biologis, kultural (budaya), dan linguistik.

Makhluk tidak mewujud secara individual. Mereka menyebar secara kolektif, sebagai sebuah proses pengembang-biakan.

Tahun 2020 dapat dilihat sebagai tahun di mana sejarah manusia menghilang—bukan karena manusia menghilang dari planet bernama Bumi, tapi karena planet Bumi telah lelah menghadapi arogansi mereka, mengeluarkan kampanye kecil untuk menghancurkan keinginan mereka.

Bumi memberontak melawan dunia, dan agen dari planet Bumi adalah banjir, api dan mayoritas adalah makhluk-makhluknya.

Maka dari itu, agen perubahan tidak lagi berupa manusia yang sadar, agresif dan berkemauan keras—melainkan benda-benda molekuler, arus mikro dari mahluk yang tidak dapat dikendalikan yang menyerbu ruang produksi, dan ruang diskursus, menggantikan Sejarah (History) dengan Sejarahnya (Her-story), waktu di mana akal teleologis digantikan dengan kepekaan dan kejadian sensual yang kacau.

Akhir dari subjektivitas sebagai alat dari proses sejarah menyiratkan akhir dari sebuah Sejarah menggunakan S huruf besar dan menyiratkan awal dari sebuah proses di mana teleologi kesadaran digantikan dengan banyak strategi dari pengembang-biakan.

Pengembang-biakan, penyebaran dari proses-proses molekuler, menggantikan sejarah sebagai proyek besar.

Pemikiran, seni dan poliyol tidak lagi dilihat sebagai proyek totalisasi (Totalizierung dalam istilahnya Hegel), akan tetapi sebagai proses pengembang-biakan tanpa totalitas.

2. Kegunaan

Setelah empat puluh tahun percepatan neoliberal, ras-ras dari kapitalisme finansial tiba-tiba tersendat. Satu, dua, tiga bulan dari lockdown (penguncian/pembatasan/karantina) global, sebuah gangguan panjang dari proses produksi dan perputaran global dari barang dan manusia, periode panjang pengasingan, tragedi dari sebuah pandemik … semua hal ini akan menghancurkan dinamika kapitalisme dengan cara yang tidak akan bisa diperbaiki atau dikembalikan seperti semula. Kekuatan yang mengelola kapital dunia pada tingkat finansial dan politik berusaha dengan penuh keputusasaan untuk menyelamatkan perekonomian, menyuntik sejumlah besar uang ke dalamnya. Milyaran, milyaran dari milyaran … figur-figur, sekarang justru bermakna satu hal: nihil.

Mendadak uang tidak berarti apa-apa, atau tidak terlalu berarti.

Kenapa kita memberi uang pada tubuh yang mati? Dapatkah kita menghidupkan tubuh dari ekonomi global dengan menyuntikkan uang kepadanya? Tidak, kita tidak bisa. Poinnya adalah baik di sisi permintaan maupun pasokan telah kebal terhadap rangsangan uang, karena krisis tidak terjadi karena permasalahan keuangan (seperti pada tahun 2008), tetapi karena jatuhnya tubuh manusia, dan tubuh tidak ada kaitannya dengan rangsangan.

Kita mengalami ambang batas yang mengarah ke luar dari siklus pekerjaan—uang—konsumsi.

Ketika suatu hari tubuh kita keluar dari karantina, permasalahannya bukan pada bagaimana menyeimbangkan ulang hubungan antara waktu, pekerjaan dan uang, menyeimbangkan kembali hutang dan pelunasan. Uni Eropa telah terpecah dan dilemahkan oleh obsesi mereka dengan hutang dan pemasukan, akan tetapi manusia tetap sekarat, rumah sakit mulai kekurangan ventilasi dan dokter mulai dihinggapi kelelahan, kegelisahan dan ketakutan jikalau mereka terinfeksi. Sekarang, hal ini tidak dapat diubah oleh uang, karena uang bukanlah permasalahannya. Permasalahannya adalah: Apakah kebutuhan konkrit kita? Apa kegunaan dari kehidupan manusia, untuk kolektivitas atau terapi?

Nilai guna, setelah lama dikeluarkan dari lingkup perekonomian, telah kembali dan kegunaan sekarang adalah rajanya.

Uang tidak bisa membeli vaksin yang tidak kita miliki, tidak bisa membeli masker pelindung yang tidak diproduksi, tidak bisa membeli departemen perawatan intensif yang telah dihancurkan oleh reformasi neoliberal dari sistem jaminan kesehatan Eropa. Tidak, uang tidak bisa membeli sesuatu yang tidak ada. Hanya ilmu pengetahuan, hanya kerja intelektual yang dapat membeli sesuatu yang tidak ada.

Sekarang uang menjadi impoten. Hanya solidaritas sosial dan kepandaian ilmiah yang masih hidup, dan mereka bisa menjadi sangat kuat secara politik. Ini kenapa saya beranggapan bahwa pada akhir karantina global, kita tidak akan kembali normal. Keadaan normal tidak akan kembali. Apa yang akan terjadi sesudah ini belum ditentukan juga belum diprediksi.

Kita menghadapi dua alternatif politik: apakah sistem totalitarianisme teknologi akan meluncurkan ulang ekonomi kapitalis dengan cara kekerasan, atau pembebasan aktivitas manusia dari abstraksi kapitalis dan pembentukan sebuah masyarakat molekuler yang didasarkan akan kegunaan.

Pemerintah Tiongkok sudah mulai bereksperimen pada skala massal dengan kapitalisme teknologi totalitarian. Penyelesaian dengan cara totalitarianisme teknologi, diantisipasi oleh pengawasan dari penghilangan kebebasan individu, dapat menjadi sistem dominan untuk waktu yang akan datang, seperti yang telah ditunjukkan Agamben dalam teks kontroversialnya akhir-akhir ini.

Namun apa yang dikatakan Agamben hanyalah deskripsi pasti dari kegentingan yang sekarang kita alami, dan hanyalah sebuah kemungkinan dari masa depan. Saya ingin mengutarakan sesuatu yang lebih dari sekedar kemungkinan, karena kemungkinan adalah sesuatu yang menarik bagi saya. Dan kemungkinan terkandung dalam kehancuran dari abstraksi, dan dalam kembalinya tubuh yang nyata sebagai pembawa kebutuhan yang nyata pula.

Kegunaan telah kembali pada lingkup sosial. Kegunaan, lama telah dilupakan dan ditolak oleh proses kapitalis dari kenaikan harga yang abstrak, sekarang menjadi raja dalam adegan ini.

Langit menjadi cerah dalam hari-hari karantina ini, atmosfir terbebas dari partikel-partikel polusi, ketika pabrik-pabrik tutup dan mobil tidak dapat berlalu-lalang. Akankah kita kembali mencemari ekonomi ekstraktif? Akankah kita kembali kepada kegilaan yang normal dari kehancuran atas nama akumulasi (kapital), dan peningkatan kegunaan untuk keuntungan bernama nilai tukar? Tidak, kita tetap harus maju menuju pembentukan sebuah masyarakat yang didasarkan pada produksi kegunaan.

Apa yang kita lakukan sekarang? Sekarang kita membutuhkan sebuah vaksin untuk melawan penyakit ini, kita butuh masker pelindung, dan kita membutuhkan alat pelindung diri. Dan dalam jangka panjang kita membutuhkan pangan, kita membutuhkan kasih sayang dan kesenangan. Dan sebuah budaya baru berkaitan dengan kelembutan, solidaritas dan kesederhanaan.

Apa yang tersisa dari kekuatan kapitalis akan berusaha untuk menekankan sistem totalitarian teknologi untuk menguasai masyarakat—hal ini adalah sebuah kepastian. Akan tetapi alternatifnya ada di sini sekarang: sebuah masyarakat yang bebas dari paksaan akumulasi dan perkembangan ekonomi.

3. Kesenangan

Poin ketiga yang ingin saya refleksikan adalah kembalinya mortalitas (kematian) sebagai fitur penentu dari hidup manusia. Kapitalisme telah menjadi usaha fantastik untuk mengalahkan kematian. Akumulasi dari Ersatz (penggantian) yang menggantikan kematian dengan abstraksi nilai, kelanjutan artifisial dari kehidupan di pasar.

Perubahan dari produksi industri ke pekerjaan informasi, perubahan dari konjungsi ke koneksi dalam lingkup komunikasi, adalah titik akhir dari perlombaan menuju abstraksi, yang menjadi benang utama dari evolusi kapitalisme.

Dalam sebuah pandemik, konjungsi telah dilarang—tetaplah berada di rumah, tidak perlu main ke rumah teman, tetap menjaga jarak, jangan menyentuh siapapun. Sebuah ekspansi besar dari waktu yang dihabiskan untuk berada di dunia maya telah terjadi, tidak terhindarkan dan seluruh hubungan sosial—pekerjaan, produksi dan pendidikan—telah ditelantarkan dalam sebuah ruang yang melarang konjungsi. Hubungan sosial secara offline tidak lagi memungkinkan. Apa yang akan terjadi setelah minggu dan bulan berlalu?

Mungkin, seperti apa yang diprediksi Agamben, kita akan memasuki neraka totalitarianisme dari sebuah kehidupan yang serba terhubung. Tapi skenario lain juga masih memungkinkan.

Bagaimana jika koneksi (hubungan) yang berlebihan justru menghancurkan mantra itu? Ketika pandemik sudah berlalu (dengan asumsi bahwa ia akan berlalu), ialah memungkinkan bahwa sebuah identifikasi psikologis baru akan muncul: online sama dengan sakit. Kita juga harus mengandaikan dan membuat sebuah gerakan kasih sayang yang mendorong pemuda untuk mematikan gawai mereka untuk mengingatkan mereka pada waktu-waktu yang sepi nan menakutkan. Hal ini tidak berarti bahwa kita harus kembali pada kapitalisme industri yang melelahkan tubuh; melainkan hal ini berarti kita harus mengambil keuntungan dari banyaknya waktu yang diberikan otomatisasi dari pekerjaan fisik, dan mendedikasikan waktu kita untuk kesenangan fisik maupun mental.

Persebaran masif akan kematian yang telah kita lihat dalam pandemik ini mungkin mengaktifkan kembali kepekaan kita akan waktu untuk bersenang-senang ketimbang menundanya.

Pada akhir pandemik, pada akhir periode lama untuk pengasingan ini, orang akan dapat dengan mudah jatuh kepada kehampaan abadi dari hubungan virtual, dari menjaga jarak dan integrasi totalitarianisme teknologi. Hal ini memungkinkan, sangat memungkinkan. Akan tetapi kita jangan terpatok pada sesuatu yang memungkinkan. Kita harus menemukan kemungkinan yang terselubung dari masa kini.

Mungkin setelah berbulan-bulan dari hubungan daring, orang akan keluar dari rumah dan apartemennya mencari sebuah konjungsi. Sebuah gerakan solidaritas dan kelembutan dapat bangkit, mengarahkan manusia menuju sebuah emansipasi dari kediktatoran hubungan (pelarangan untuk berhubungan secara tatap muka, menjaga jarak, dan sejenisnya-pent).

Kematian telah kembali menjadi pusat permasalahan: mortalitas yang telah lama ditolak membuat manusia semakin hidup.*


Diterjemahkan dari artikel aslinya dalam bahasa Inggris yang pertama kali terbit di e-flux conversations.

Penerjemah: Reza Maulana Hikam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *