Solidaritas Sosial sebagai Wujud Kemanusiaan di Tengah Pandemi

Dalam situasi seperti ini memang solidaritas sifatnya penting. Kala tidak ada kepastian dalam penanganan Covid-19, maka sisi kemanusiaanlah yang berbicara.

Wahyu-eka-berpijar

Pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) telah merata di seluruh dunia, jika merujuk pada situs worldometers.info/coronavirus total ada 1.450.248 orang yang terdampak, dengan rincian 83.476 orang meninggal dunia dan total sembuh ada 309.336. Sementara itu negara dengan terdampak paling tinggi adalah Amerika Serikat dengan total 418.003 orang, disusul Spanyol dengan 146.690 orang dan Italia dengan 139.442 orang.

Sebelumnya, China merupakan negara terpapar pertama dan sempat menjadi nomor satu untuk jumlah orang terpapar penyakit ini, namun berangsur-angsur menurun. Walaupun masih berlanjut, namun angkanya menunjukan konsistensi penurunan. Kini mereka di rentang angka 81.802 orang positif dengan tambahan yang teinfeksi sekitar 62 orang.

Di sisi lain, Italia merupakan negara terdampak paling besar dari paparan Covid-19 ini pasca-China. Bahkan merupakan negara dengan angka kematian tertinggi, yaitu hampir menyentuh angka 17.669 orang dari total kasus 139.442 orang. Namun, berangsur-angsur mengalami penurunan dari awal mereka terkena paparan Covid-19. Ditambah juga angka kesembuhannya juga cukup tinggi yang menyentuh angka 26.491 orang.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Untuk Indonesia sendiri angka paparan Covid-19 ini masih naik turun, kadang tinggi dan terkadang rendah. Pada tanggal 5 April 2020 tambahan kasus positif yakni 103, lalu pada hari selanjutnya naik menjadi 218 orang, lalu pada tanggal 7 April 2020 bertambah menjadi 247 konfirmasi positif, dan kini mencapai 218 konfirmasi positif. Per tanggal 8 April total ada 2.956 positif Covid-19 dengan rincian 240 orang meninggal dan 222 orang sembuh.

Tentu problem Covid-19 bukan lagi sekedar dongeng buatan atau—kata penganut teori konspirasi—merupakan bikinan seseorang yang ingin menguasai dunia. Tetapi, problem Covid-19 ini merupakan kerisauan bersama. Di mana setiap negara sedang bersungguh-sungguh mengadapinya demi menyelamatkan warga negaranya.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Tentu ada kritik dalam penanganannya. Khususnya kurang cepatnya respons pemerintah di awal kasus ini muncul hingga menyebar sampai sekarang ini. Tetapi, bukan itu yang akan jadi fokus dalam pembahasan kali ini. Pembahasan kali ini akan lebih melihat apa itu solidaritas sosial sebagai respons atas kemanusiaan itu sendiri. Kkhususnya ketika negara keteteran dalam menghadapi situasi pandemi.

Solidaritas Sosial Berdasarkan Kemanusiaan

Solidaritas secara dasar dapat dipahami sebagai sebuah kesadaran akan minat, tujuan, standar simpati, dan empati bersama yang menciptakan dorongan psikologis akan kesatuan kelompok atau kelas. Secara konstruktif solidaritas sendiri menurut Putnam (dalam Regh, 2007) adalah elemen relasi manusia yang menekankan ikatan sosial yang kohesif dengan menyatukan kelompok, yang dihargai dan dipahami oleh semua anggota kelompok.

Solidaritas sendiri memiliki motif berbeda. Bagi sebagian orang dibangun atas relasi kasih sayang (humanitas) dan norma serta kepercayaan bersama, sebagai sebuah motif yang terkonstruksi. Sedangkan bagi sebagian orang, solidaritas didorong oleh pilihan rasional dan kepentingan pribadi (Woolcock dan Narayan, 2002). Tetapi, pemahaman solidaritas ini tidak tunggal, memiliki berbagai konstruksi khususnya motif dan dorongan, sampai mengapa orang melakukannya.

Ketika banyak negara dihadapkan oleh krisis yang diakibatkan oleh Covid-19 ini, saat virus Sars-Cov-2 yang mengakibatkan Covid-19 ini mulai menyebar menginfeksi jutaan orang, kala pemerintah suatu negara keteteran dalam menghadapi luasnya penyebaran, sehingga mengakibatkan penuhnya rumah sakit, kurangnya peralatan hingga tidak cukupnya tenaga medis. Telah membangkitkan apa itu simpati dan empati dalam wujud solidaritas sosial.

Seperti yang dilakukan oleh Kuba, menurut Stéphanie Panichelli-Batalla,  sejak Maret 2020 mereka telah mengirimkan kurang lebih 52 dokter ke Italia untuk membantu Italia menghadapi Covid-19. Sebelumnya, Kuba yang terkenal dengan solidaritas dokternya, telah mengirimkan kurang lebih 28.000 dokter ke 59 negara bahkan sebelum pandemi Covid-19 meluas. Solidaritas Cuba merupakan salah satu wujud dari program medical internasionalism yang memang berdasarkan semangat kemanusiaan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Castro kepada Bush ketika menawarkan bantuan medis ke Amerika pasca diterjang badai Katrina di tahun 2005:

Ini bukan perang antara manusia, itu adalah perang untuk kehidupan manusia, itu adalah perang melawan penyakit, melawan bencana berulang, dan salah satu hal pertama. tempat dan fenomena jenis ini, adalah untuk bekerja sama.”

Walaupun begitu, tak jarang yang menyinyiri langkah Kuba dengan berbagai kritik sampai menarasikan bahwa apa yang dilakukan oleh mereka sebagai bagian dari upaya menutupi kasus pelanggaran HAM selama Castro berkuasa. Sebagaimana dituduhkan oleh Amerika Serikat. Hingga mengkritisi soal sistem kesehatan di Kuba yang tidak manusiawi, katanya. Tetapi, sebenarnya soal apa yang terjadi di Kuba memang tidak sempurna. Mereka bertahan dari segala kekuarangan karena embargo ekonomi oleh Amerika Serikat sebagai imbas dari perang dingin. Tetapi, mereka memiliki nilai kemanusiaan yang tinggi. Terbukti dalam keterbatasannya mereka mampu bersolidaritas untuk membantu mereka yang membutuhkan. Sebagaimana yang telah Indonesia rasakan saat Tsunami meluluhlantakkan Aceh pada tahun 2004 silam.

Di sini paling tidak kita paham tentang apa itu solidaritas dan apa itu kemanusiaan. Dalam situasi seperti ini memang solidaritas sifatnya penting. Kala tidak ada kepastian dalam penanganan Covid-19, maka sisi kemanusiaanlah yang berbicara. Di mana semangat solidaritas sendiri dibentuk melalui prinsip kemanusiaan sebagai konstruksi dari manusia adalah mahkluk sosial. Di mana rasa empati dan simpati tumbuh kala kita mampu merasakan apa itu yang namanya terdampak, seperti dalam kasus Covid-19 ini. Semua orang bangkit, saling bahu-membahu untuk menolong satu sama lainnya. Tak terkecuali apa yang dilakukan oleh Kuba.

Bahkan dalam konteks Indonesia, kala negara pada satu aspek kewalahan, baik pemerintah pusat maupun daerah. Beberapa orang mulai bergerak simultan untuk bersama-sama menghadapi pandemi ini. Artinya, mereka memiliki empati dan simpati, serta tergerak bertindak sepihak atas dasar kemanusiaan. Kala organisasi dalam skala luas tidak mampu bertindak optimal, atas dasar rasa kemanusiaan mereka mulai berhimpun dalam sebuah solidaritas. Ini juga sebagai bentuk ekspresi politik atas situasi yang ada.

Solidaritas sebagai Bentuk Gerakan Sosial

Pada banyak negara di dunia, solidaritas dilakukan dalam berbagai bentuk. Seperti yang tejadi di Inggris. Ketika pemerintah Inggris yang kewalahan dalam menangani pandemi ini karena sikap Boris Johnson yang menyepelekan Covid-19 dengan dukungan partai konservatif, menyatakan skema herd immunity dengan keyakinan penuh serta tak menghiraukan pandangan dari beberapa ilmuwan.

Kala sebaran pandemi semakin meluas, hingga mengakibatkan 55.242 orang terpapar dan sekitar 6.159 orang meninggal dunia. Pemerintah inggris baru sadar tentang pilihannya itu salah, sehingga mereka melakukan berbagai upaya untuk mitigasi implikasi Covid-19. Salah satu yang dilakukan pemerintah yakni membuka pos relawan, di luar dugaan yang menyatakan bergabung dan menyediakan waktu luangnya sebanyak 500.000 orang lebih, dari target awal sekitar 250.000. Solidaritas yang dilakukan di Inggris adalah menawarkan dirinya untuk membantu pemerintah dalam mitigasi Covid-19, sebagai relawan.

Tidak hanya itu saja, di Inggris juga banyak toko yang menyediakan waktu khusus bagi lansia untuk berbelanja guna mengurangi resiko terpapar Covid-19. Di Skotlandia bahkan salah satu toko di sudut Stenhousemuir membagikan perlengkapan perlindungan gratis kepada lansia. Tidak berhenti di situ saja, lebih dari 28.000 orang di Inggris mendaftar untuk mengadopsi kakek dan nenek di 16 rumah perawatan di Surrey, Inggris. Tentu masih banyak solidaritas yang dilakukan dengan bentuk berbeda, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan gerakan.

Sebagaimana yang terjadi di Italia, dari Kota Turin di Italia Utara menuju ke Sisilia di Italia Selatan, mengorganisir diri satu sama lain untuk melakukan flash mob dan bernyanyi di balkon mereka secara beriringan sebagai bentuk dukungan satu sama lain. Di Spanyol saat pemerintah melalui Perdana Menteri Pedro Sanchez dari Partai Sosialis mengumumkan karantina wilayah (lockdown), warga Spanyol sontak meresponsnya dengan membuka jendela rumahnya, dan mengucapkan viva los medicos atau hidup dokter, sebagai bentuk dukungan mereka kepada para dokter yang berjuang untuk menangani pandemi ini.

Kondisi ini juga terjadi di Indonesia, di mana banyak kelompok masyarakat dari berbagai elemen melakukan solidaritas sosial. Seperti membuka donasi publik untuk membantu masyarakat yang terkena dampak dari pandemi ini, baik disumbangkan ke rumah sakit yang kekurangan dana untuk membeli peralatan medis. Hingga sumbangan dalam bentuk barang alat perlindungan diri kepada para dokter dan perawat di rumah sakit yang kekurangan. Selain itu banyak juga yang melakukan aksi bagi-bagi masker, hand sanitizer hingga pangan kepada mereka yang terdampak.

Seperti yang dilakukan oleh Walhi Jatim dan Aliansi Medis Jalanan yang membagikan hand sanitizer dan masker kepada warga korban Lapindo Sidoarjo yang tidak memiliki alat perlindungan diri kala pandemi meluas. Mayoritas warga berprofesi sebagai tukang ojek, petani kecil, buruh tani dan buruh pabrik, yang mana mereka tidak mendapatkan alat perlengkapan diri tersebut, baik karena harga yang mahal akibat permainan broker, habis karena panic buying, dan perusahaan bersangkutan pada konteks buruh tidak menyediakan alat perlindungan diri.

Selain itu, warga di RT 06 RW 02 Desa Panggreh, Jabon, Sidoarjo yang berjumlah kurang lebih 31 Kepala Keluarga (KK), mereka mayoritas merupakan korban eksklusi Lapindo juga melakukan penyemprotan disinfektan secara mandiri. Mereka juga membagikan hand sanitizer gratis hasil donasi dari Walhi Jatim dan Aliansi Medis Jalanan, hingga menerapkan kontrol atas warga dengan mekanisme laporan ke RT dan saling mengingatkan satu sama lain, ketika ada orang luar atau keluarga dari luar kota zona merah untuk melakukan pemeriksaan ke puskesmas terdekat dan isolasi diri selama 14 hari.

Donasi serupa juga dilakukan oleh Alumni Psikologi Universitas Airlangga yang diinisiasi oleh angkatan 2010. Mereka menggalang donasi secara kolektif lintas angkatan guna membeli alat perlindungan diri yang akan didonasikan ke salah satu rumah sakit dan puskesmas di Surabaya. Sebagai bentuk keprihatinan atas langkanya alat perlindungan diri di fasilitas kesehatan yang tengah bertarung melawan Covid-19, serta bagian dari solidaritas sosial yang dilandasi oleh kemanusiaan dan dukungan moril kepada para tenaga medis yang tengah berjuang untuk menyelamatkan nyawa manusia.

Bahkan di elemen organisasi mahasiswa juga melakukan hal serupa, salah satunya LAMRI Surabaya. Mereka juga menggalang donasi publik untuk membeli alat perlindungan diri seperti masker dan hand sanitizer yang akan disumbangkan ke pedagang kaki lima, ojek online, dan tukang becak. Karena di tengah situasi pandemi seperti ini, sektor informal menjadi kelompok yang rentan terpapar Covid-19. Mereka harus tetap bekerja di tengah digalakannya working from home sebagai implementasi physical distancing dan social distancing.

Gerakan ini sendiri muncul sebagai respons atas ketidakjelasan negara dalam menangani pandemi ini. Di satu sisi memunculkan narasi pembatasan sosial masif hingga wacana karantina wilayah, tetapi di sisi lainnya kehidupan pekerja sektor informal terencam karena tidak ada jaminan sosial. Solidaritas berdasarkan rasa prihatin atas kemanusiaan dan sebagai kritik atas tindakan pemerintah yang dinilai belum maksimal.

Solidaritas ini juga meluas berbentuk gerakan sosial politik, seperti yang dilakukan oleh elemen buruh dan gerakan masyarakat sipil yang tergabung dalam Gerakan Tolak Omnibus Law Jawa Timur (Getol Jatim). Mereka melakukan kritik konstruktif dan melakukan advokasi kepada buruh yang tidak mendapatkan jaminan kesehatan saat bekerja sebelum pandemi ini meluas, hingga karantina wilayah untuk meminimalisir sebaran penyakit agar tidak semakin meluas.

Tidak hanya itu saja mereka juga fokus pada pemenuhan hak buruh, seperti upah layak selama karantina, jaminan sosial dari pemerintah hingga soal ketahanan pangan. Ini dilakukan sebagai bentuk keprihatinan mereka karena dalam situasi genting dan himbauan mengurangi aktivitas, tetapi para buruh masih bekerja. Bahkan di sisi lain mereka juga menyoroti terkait banyaknya PHK dengan dalih pandemi. Sampai pada keputusan pemerintah tentang pembahasan Omnibus Law dan aneka kebijakan yang dianggap tidak memihak kebanyakan masyarakat, juga menjadi fokus gerakan ini.

Solidaritas ini terbangun berdasarkan prinsip kemanusiaan dan sebagai gerakan kontrol atas pemerintah, dengan berbasis pemenuhan hak dan pengakselerasian keadilan sosial yang termaktub dalam konstitusi Republik Indonesia, yakni UUD RI 1945.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *