Generalized Anxiety Disorder Menciptakan Prasangka dan Perilaku Diskriminatif terhadap Korban COVID-19

Kekacauan terjadi sebenarnya merupakan suatu bentuk kepanikan yang bisa diartikan bahwa tingkat pemahaman serta pengetahuan manusia terhadap virus ini belum tuntas.

Berpijar-akhmad-zhauqi

COVID-19 diinformasikan sebagai penyakit menular yang disebabkan oleh coronavirus. Mulanya dikabarkan oleh dr. Li Wenliang  melalui media sosial, virus dan penyakit baru ini tidak diketahui sebelum wabah dimulai di Wuhan, Cina pada bulan Desember 2019 dan masih berlangsung hingga saat ini. Bahkan pada bulan Maret,  WHO mengumumkan bahwa virus korona ini merupakan pandemi global yang harus diselesaikan bersama-sama karena sudah meluas di setiap negara. Sebanyak 209 negara telah melaporkan memiliki kasus positif COVID-19. Pemerintah di banyak negara kini juga sedang berupaya menekan laju cepat penyebaran virus korona. 

Pandemi korona bahkan membikin banyak negara maju harus berupaya ekstra keras agar jumlah kasus infeksi tidak terus melambung dan angka kematian pasien COVID-19 bisa ditekan. Hal ini pula dapat membentuk suatu perilaku bahkan memunculkan suatu gangguan kecemasan masyarakat secara sosial maupun individu. Sebabnya, tingkat pengetahuan dalam penanggulangan COVID-19 ini masih sangat minim. Akibatnya, masyarakat dapat terganggu secara psikologis hingga akhirnya memunculkan panic buying dan gangguan kecemasan.  

Gangguan kecemasan adalah rasa cemas berlebihan terhadap ancaman yang belum tentu nyata datang kepada diri individu. Gangguan kecemasan ini bisa termanifestasikan dalam bentuk gejala fisik, emosi, dan pikiran yang dampaknya sangat mengganggu aktivitas sosial individu. Lebih buruknya lagi, akan melahirkan stigma kepada lingkungan masyarakat yang dimana ia cemaskan. Di tengah-tengah pandemi yang terjadi secara nasional; bahkan global high impact terhadap sistem ekonomi, politik, kesehatan, pendidikan sangat berubah, negara harus menjadi tulang punggung untuk keselamatan nyawa manusia melebihi dari kepentingan apapun. 

Meskipun ekonomi global dapat menyusut hingga satu persen pada 2020 karena pandemi. Secara umum, kekhawatiran tentang orang lain lebih penting daripada orang yang terpapar virus. Kekacauan terjadi sebenarnya merupakan suatu bentuk kepanikan yang bisa diartikan bahwa tingkat pemahaman serta pengetahuan manusia terhadap virus ini belum tuntas. Akhirnya sikap penolakan bahkan dikucilkan bisa saja terjadi kepada pasien maupun korban.

Prejudice didefinisikan sebagai sikap yang negatif terhadap suatu individu atau kelompok sosial; yang perlu diketahui disini adalah ODP, PDP, dan korban positif. Pengetahuan individu mengenai hal yang ia curigai tanpa mempelajari serta mengetahui bisa memunculkan sikap negatif. Misalnya, di dalam lingkungan ketika batuk seperti biasa adanya rasa prasangka kepada individu yang batuk di sekitarnya. Pencegahan seharusnya terjadi, seperti batuk dengan etika yang benar ketika berada dalam lingkungan sosial. 

Adanya diskriminasi terhadap korban COVID-19 memunculkan sikap agresi karena rasa cemas yang berlebihan. Lantas, muncul lah pemikiran di masyarakat bahwa siapapun yang terjangkit virus harus dijauhi, baik dia hidup maupun dia sudah menjadi mayat. Hal ini yang akan dibahas oleh mentall illness, seperti apa penangannya dan menjadi kritik kepada pemerintah untuk mengkondisikan. 

Pemerintah sama sekali tidak memandang kasus pandemi ini dari sudut pandang psikologi. Pemerintah terlalu tendensius pada sektor ekonomi terus. Mulai dari pemberian kuota internet untuk pelajar, listrik gratis, dan potongan harga untuk watt tertentu, sampai menambah jumlah uang tunjangan untuk orang yang tidak bekerja. Apa dan mengapa bisa terjadi, serta efek kepada korban itu seperti apa, jangan sampai terjadi hal perasaan khawatir yang berlebihan serta tidak realistis di luar pengetahuan kita. Oleh karenanya, harus ditanamkan sikap altruism, yaitu sikap saling menolong  baik dalam mengedukasi tanpa ada pengucilan kepada sesama manusia.

Sampai pada bulan April 2020, presiden Indonesia menyatakan warganya masih ada yang positif korona. Sampai pada hari ini sudah mencapai ribuan korban karena COVID-19. Ketakutan baru muncul, bayangan-bayangan kegagalan modernitas muncul. Media mencetak atau menampilkan dan menggiring opini publik ke arah paranoid massal. Adanya chaos, serta memungkinkan akan munculnya prasangka, yaitu stigma—bersifat jelek/buruk di mata masyarakat (Crocker dan Major, 1989). 

Dalam fenomena yang saya jelaskan di atas, banyak orang cenderung ketakutan mendengar suara orang batuk di tempat umum. Dari kejadian tersebut, ketakutan muncul dari proses imajinasi atas elektrokimiawi atau anxiety bersumber dari media. Banyak sekali orang menimbun barang-barang karena takut terjadi kelangkaan. Ini semua dijelaskan secara ekonomi dan politik. 

Ketakutan itu pula muncul karena tekanan ekonomi dan politik. Seseorang takut ekonominya berantakan dan masyarakat takut akibat kebijakan-kebijakan yang tidak konsisten dari pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran pandemi COVID-19. Sehingga, menimbulkan kecurigaan publik terhadap pemerintah serta sangat mengganggu psikis.

Generalize Anxiety, kenapa harus panikan dan ketakutan hingga diskriminasi?

Seseorang yang menderita gangguan kecemasan umum bisa merasa cemas atau khawatir secara berlebihan terhadap berbagai hal. Mulai dari pekerjaan, kesehatan—seperti COVID-19 ini—hingga hal-hal yang sederhana, seperti berinteraksi dengan orang lain. Anxiety yang muncul akibat gangguan kecemasan umum bisa dirasakan setiap hari dan menetap hingga lebih dari 6 bulan. Akibatnya, penderita gangguan kecemasan ini akan menjadi sulit menjalani aktivitas dan pekerjaan sehari-hari.

Freud mendefinisikan kecemasan sebagai kondisi yang tidak menyenangkan, bersifat emosional dan sangat terasa kekuatannya, disertai sebuah sensasi fisik yang memperingatkan seseorang terhadap bahaya yang sedang mendekat. Kecemasan adalah respons yang tepat terhadap ancaman, tetapi kecemasan bisa menjadi abnormal bila tingkatannya tidak sesuai dengan proporsi ancaman, atau bila sepertinya datang tanpa ada penyebabnya. Dalam bentuknya yang ekstrem, kecemasan dapat mengganggu fungsi kita sehari-hari (Wiramihardja, 2017).

Batas pengetahuan kita sangat berefek pada bentuk kecemasan kita. Seperti berita dari Tirto.id yang terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan, yaitu penolakan jenazah di tempat pemakaman umum. Berawal dari warga yang menolak keras di sekitar TPU Baki Nipa-nipa, kelurahan Antang, Manggala, Makassar pada minggu  (29/2/2020). Serta di TPU Pannara dan juga di daerah Banyumas, Jawa Tengah adanya blokade dari warga ke jalan masuk desa yang berbatasan dengan desa Karangtengah. 

Menurut penuturan seorang warga, mereka resah dengan berita dengan adanya pemakaman warga yang terinfeksi COVID-19 dan melibatkan Bupati Banyumas, Ahmad Husein, untuk turun tangan demi meredam sikap agresi warga. Sedangkan di Makassar menanggapinya dengan melibatkan aparat. Hal ini diungkapkan oleh Pj. Walikota Makassar, M. Iqbal Suhaeb, saat rapat koordinasi. Ia mengungkapkan bahwa saat ini masyarakat masih belum paham benar tentang penanganan wabah virus korona bahkan sampai mendapatkan penolakan jenazah yang terjangkit. Hingga keluarga ikut dikucilkan atau ditolak tinggal di permukimannya (Putri, 2020).

Dari kecemasan secara umum, ditambah peran media yang sangat mempengaruhi psikis individu, tetapi kurangnya edukasi tentang Pandemi COVID-19, hingga anxiety yang berlebihan karena faktor lingkungan dan psikologis massa; pemerintah harus memperhatikan psikis masyarakatnya sehingga tidak membuat kekacauan dan kepanikan di ruang publik seperti ini. Adanya diskriminasi terhadap para pasien yang terjangkit positif COVID-19, yaitu adanya pengucilan baik pasien maupun keluarga pasien yang tidak secara positif terjangkit. Hal ini melahirkan stigma atau label kepada pasien hingga munculnya penolakan dimanapun berada.

Langkah pemerintah telah benar dalam menerapkan social distancing atau pembatasan sosial, menghimbau untuk mencuci tangan, memakai masker, dan mengikuti anjuran WHO. Akan tetapi, anxiety masyarakat atau psikis masyarakat harus juga diperhatikan oleh pemerintah. Tingkat pemahaman masyarakat akan pandemi COVID-19 harus diberikan edukasi serta penanganannya untuk tidak memunculkan generalize anxiety disorder dari semua aspek. Baik kesehatan, ekonomi dan politik, hingga memunculkan diskriminasi dan prasangka yang sangat berlebihan kepada sesama manusia; baik ODP, PDP, hingga pasien yang positif. 

Adanya self-fulfilling prophecy yaitu ekspektasi dan asumsi kita mengenai seseorang yang diikuti perubahan perilaku dari orang yang mengikuti ekspektasi kita yang memulai membangun asumsi dapat mempengaruhi orang lain (Madon, Lee Jussim, dan Eccles, 1997) untuk beranggapan kepada pasien yang terjangkit COVID-19 jika tanpa pemahaman  dan pengetahuan akan memberikan suatu kecemasan akan dirinya hingga melahirkan prasangka dan diskriminasi.*

Daftar Rujukan

Crocker, Jennifer & Major, Brenda. (1989). Social Stigma and Self-Esteem: The Self-Protective Properties of Stigma. Psychological Review, 96(04), 608-630.

Wiramihardja, Sutardjo A. (2017). Pengantar Psikologi Abnormal. Bandung: Aditama.

Madon, Stephanie & Lee Jussim & Eccles, Jacquelynne. (1997). In Search of the Powerful Self-Fulfilling Prophecy. Journal of personality and social psychology. 72. 791-809.