Teknologi dan Masyarakat Kelas

Perkembangan teknologi yang baik adalah perkembangan teknologi yang tidak meninggalkan siapapun.

Berpijar-edwin-fatahuddin

Perkembangan teknologi telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia. Kemudahan, kecepatan, dan ketepatan dalam mencari informasi adalah salah satu contohnya. Saat ini, hanya dengan berbekal gawai kecil, segala informasi dari berbagai belahan dunia dapat kita peroleh. Teknologi benar-benar telah merevolusi cara hidup kita.

Sejalan dengan tuntutan pekerjaan yang semakin banyak, teknologi pun juga semakin berkembang. Hari demi hari, mesin-mesin itu semakin canggih dan sempurna. Berbagai cara dilakukan untuk menciptakan mesin yang dapat menyelesaikan segala jenis pekerjaan, baik pekerjaan sederhana maupun sulit. Salah satu jalan yang ditempuh untuk mewujudkannya adalah dengan menanamkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) pada mesin. AI dapat membuat sebuah mesin bekerja secara mandiri (otomatis). Pada perkembangan industri 4.0, AI digunakan untuk melakukan terobosan pada berbagai bidang teknologi. Mulai dari teknologi digital, bioteknologi, nanoteknologi, neuro-teknologi, dan teknologi hijau (ramah lingkungan).

Namun, perkembangan teknologi tidak hanya membawa dampak baik saja. Dalam perjalanannya, perkembangan teknologi juga memberi banyak dampak buruk. Filsuf, ekonom, sejarawan, sosiolog, dan jurnalis asal Jerman, Karl Marx pernah berpendapat bahwa dalam setiap kegiatan produksi terdapat kerangka hubungan antara proses produksi dan tenaga produktif. Hubungan ini tercipta karena adanya kebutuhan tenaga-tenaga produktif sebagai unsur kekuatan yang untuk mengolah bahan baku dari alam menjadi bahan siap pakai.

Menurut Marx, salah satu penyebab terbentuknya struktur kelas dalam masyarakat adalah adanya hubungan yang berat sebelah antara pemilik modal dengan pekerja, hubungan berat sebelah ini terbentuk dari perbedaan kepemilikan atas alat produksi. Kondisi ini semakin diperburuk karena perkembangan teknologi yang semakin cepat. Sejak awal, alat produksi merupakan hasil dari perkembangan teknologi sehingga semakin pesat perkembangan teknologi maka semakin canggih pula alat produksi yang tercipta. Peran manusia, terutama di sektor produksi semakin terkikis. Mesin yang semakin canggih tidak memerlukan manusia lagi untuk dapat beroperasi. Cukup menekan satu tombol saja, mesin dapat menyelesaikan segala jenis pekerjaan yang diberikan. Para pengusaha pun semakin senang karena mereka tidak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk membayar ratusan bahkan ribuan buruh. Mesin tidak akan mengeluh dan mogok kerja. Mesin juga tidak akan demo atau protes meski diperas dan dipaksa bekerja 24 jam/hari.

Dengan berbagai kelebihan ini maka tidak heran jika saat ini mesin mulai menggantikan kerja fisik manusia. Drone dan mobil otomatis merupakan contohnya. Toko online global asal Inggris, amazon.com mulai mempekerjakan drone untuk mengirimkan barang-barang dagangannya. Perusahaan pengembang perangkat lunak dan algoritma mobil otonom asal Singapura, nuTonomy telah meluncurkan taksi otomatis tanpa pengemudi (self-driving). Transportasi publik ini telah beroperasi di beberapa daerah dan dapat dipesan online

Beberapa contoh di atas menunjukan bahwa mesin mulai memantapkan posisinya di kancah bisnis internasional dan mengancam eksistensi manusia. Persaingan lapangan pekerjaan berubah tidak hanya melibatkan manusia, namun juga mesin dan robot. Mungkin dalam dunia industri masa depan, istilah “Ambil mesinnya, buang orangnya” akan menjadi kenyataan. McKinsey Global Institute pernah memprediksi bahwa pada 2055 lebih dari 50 persen pekerjaan akan digantikan oleh mesin. 

Namun, dalam beberapa kondisi, kemajuan teknologi juga dapat menghilangkan kelas ekonomi dalam masyarakat. Sekitar 10 tahun yang lalu penulis pernah menonton sebuah film berjudul Wall E. Film animasi karya Pixar Animation Studio dan Walt Disney Picture ini bercerita tentang kondisi manusia di masa depan. Saat itu, bumi sudah tidak layak huni karena banyak sampah yang berserakan. Manusia kemudian pindah ke luar angkasa. Mereka menggunakan pesawat ruang angkasa bernama Axiom sebagai tempat tinggal. Di dalam pesawat super canggih itu, manusia tidak perlu lagi bekerja, tidak ada lagi kelas pekerja maupun pengusaha karena segala jenis pekerjaan telah diselesaikan oleh robot. Film ini menunjukan secara gamblang bagaimana teknologi menghapus kelas ekonomi dalam masyarakat.

Pada akhirnya, perkembangan teknologi selalu menjadi permasalahan yang pelik. Di satu sisi menawarkan kemudahan. Di sisi lain juga menawarkan kesenjangan. Dampak buruk teknologi mungkin tidak bisa dihilangkan, namun masih dapat dikurangi. Perkembangan teknologi yang baik adalah perkembangan teknologi yang tidak meninggalkan siapapun.

Sering kita temui di mana perkembangan teknologi hanya menguntungkan beberapa golongan. Salah satu contohnya adalah penerapan tiket elektronik di KAI. Kebijakan ini mungkin menguntungkan bagi masyarakat kota yang telah melek teknologi, namun tidak untuk masyarakat desa. Kebijakan ini mempersulit mereka (masyarakat desa). Banyak masyarakat desa yang mengeluhkan rumitnya sistem pembelian tiket baru di KAI. Akhirnya, mereka tetap melakukan pembelian secara offline meski sering tidak kebagian tiket dengan tempat duduk.

Orang-orang terlalu fokus untuk melakukan modernisasi segala bidang, namun mereka lupa bahwa tidak semua orang dapat mengikuti perubahan tersebut. Perubahan yang baik adalah perubahan yang merata, bukan cepat. Perubahan yang terlalu cepat hanya meninggalkan luka pada banyak orang.*